
"Iya deh aku jujur, sebenarnya aku dari tadi sudah tau kalau setelah kalian membaca mantra itu kondisi alam di sekitar sini langsung berubah drastis,
nah kalau jarak pandang kalian tidak terhalang oleh kabut pasti saat ini kalian bisa melihat kalau yang tertutup kabut dan hujan campur angin itu hanya
disekitar sini saja, tempat dimana kita berada" Yanti mencoba menjelaskan apa yang dia tahu.
"Jadi kita sepemikiran Yanti, pasti ada yang tidak beres lagi, kita harus siap dengan apapun yang nanti akan terjadi, yang penting kita jangan sampai
terpisah dan harus saling melindungi satu sama lain, jangan sampai ada yang menjauh" Gilang memperingatkan teman-temannya agar kejadian
kemarin-kemarin tidak terulang kembali nantinya.
Yanti mengangguk dan teman-teman Gilang juga mengangguk, mereka menyetujui ucapan Gilang tapi membuat mereka semakin merinding. Siap tidak
siap sebenarnya mereka harus tetap siap karena bahaya bisa datang dan menyerang kapan saja.
"Lalu Yan, apa yang kamu tahu tentang buku ini sehingga bisa membuat alam langsung berubah seperti ini" Anton yang kali ini bertanya.
"Sebenarnya itu buku milik seseorang orang mengikuti ilmu hitam, seperti sekte begitu, nah gunanya buku itu adalah memanggil roh jahat
sesembahan mereka, niat mereka biasanya ingin memiliki ilmu hitam atau memiliki suatu hajat. Nah untuk memenuhi hajat itu dia harus melakukan ritual dan ritual beserta caranya ada di buku itu, dan mantra yang kalian baca itu adalah mantra pemanggil roh jahat, dan sepertinya mereka mendengar mantra itu mangkanya alam langsung berubah" Yanti menjelaskan semua yang dia tahu
tentang buku itu.
Tiba-tiba petir menyambar dengan sangat kencang bahkan bukan cuma satu kali tapi sebanyak tiga kali secara beruntun, mereka semua langsung kaget
saat mendengarnya.
Tidak ada yang mengerti, apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi mereka tetap waspada dan melihat ke segala arah untuk berjaga-jaga.
Gilang semakin menajamkan pendengarannya, dia takut akan ada sesuatu yang mendekat kearah mereka, jadi dia akan lebih waspada lagi.
__ADS_1
"Lalu apakah ada efek dari mantra itu, dan apa itu artinya kita sudah memanggil mereka dan menjadi bagian dari mereka" tanya Heni penasaran.
"Tidak, asal kalian tidak memenuhi persyaratan dan tidak membawa media untuk penyembahan itu artinya kalian tidak melakukan penyembahan dan
seharusnya mantra itu tidak akan bekerja, tapi entah kenapa alam langsung berubah seperti ini, mungkin
mereka hanya mendengar tapi tidak bisa hadir karena tidak ada media untuk kehadiran mereka" Yanti kembali menjelaskan.
Mereka hanya mengangguk, Gilang punya pikiran untuk membuka lagi tas carrier milik hantu pendaki itu dan siapa tau dia menemukan petunjuk, mumpung sekarang lagi hujan dan mereka sedang berhenti jadi dia punya banyak waktu untuk melihat-lihat isi tas itu.
Saat membuka Carrier itu dan mencoba mencari barang yang bisa dipakai untuk menjadi petunjuk, Gilang seperti menemukan foto di dalam tas carrier itu, dia langsung mengambilnya dan melihat foto itu dengan seksama.
Dia mengamati foto itu, dan terlihat jelas itu foto sudah lama sekali karena sudah mulai agak memudar tapi masih sangat jelas sekali wajah-wajah mereka di dalam foto itu.
"Apa ini foto hantu pendaki itu ya" Gilang memberikan foto itu kepada teman-temannya lalu mereka semua sama-sama melihat foto itu dari dekat.
"Iya betul, tidak salah lagi itu foto mereka, tapi di foto ini mereka berlima sedangkan yang menghantui kita selama ini mereka hanya berempat" Andi dengan
Dia yakin betul kalau itu adalah foto hantu pendaki, walaupun wajah mereka agak sedikit berbeda waktu masih hidup, hanya saja sekarang mereka lebih pucat dan terlihat murung, sedangkan di dalam foto itu mereka terlihat sangat ceria dan bahagia.
Daarrr
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari buku yang tadi mereka baca, buku yang Yanti bilang adalah buku milik aliran sesat yang ingin melakukan pemujaan di gunung larangan ini. Gilang dan teman-temannya yang mendengar suara itu langsung kaget bahkan ada yang hampir berlari secara spontan.
"Apa itu, suara ledakan apa tadi" Sasa celingukan mencari sumber suara ledakan tadi.
"Buku itu meledak" Gilang masih dengan wajah tegangnya sambil melihat teman-temannya.
"Apa?, Kok bisa buku itu meledak secara tiba-tiba, kenapa bisa jadi seperti itu." Anton masih kebingungan.
"Ssstt" Yanti menaruh jari ke mulut dan itu artinya dia menyuruh mereka semua untuk diam.
__ADS_1
Dan tanpa banyak bicara Yanti langsung menarik tangan mereka untuk pergi dari goa itu dan bersembunyi di balik pohon yang cukup besar, mereka yang masih kebingungan hanya diam dan menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Yanti.
"Kenapa sih Yan, ini masih hujan di goa itu kita sudabh aman malah kamu ngajakin keluar" Andi berhenti sejenak.
Yanti langsung mengarahkan jarinya ke mulut agar Andi diam, dia juga menatap Andi dengan amarah, lalu Andi yang melihat itu langsung diam.
Mereka langsung bersembunyi di balik pohon yang sangat besar, disana masih banyak sekali kabut yang
mengganggu jarak pandang mereka saat ini, hari juga sudah mulai malam, dan sudah waktunya mereka semua untuk beristirabhat.
"Ada apa sih Yan sebenarnya" Gilang bertanya kepada Yanti dengan nada yang sangat rendah karena dia sadar dari tadi Yanti menyuruh mereka semua untuk diam.
"Itu kalian semua lihat kesana, tapi ingat jangan berisik" Yanti menunjuk goa yang tadi mereka tempati untuk berteduh sejenak.
"Loh, itu mereka siapa Yan" wajah mereka semua langsung berubah menjadi pucat pa Saat melihat kearah goa tadi ternyata mereka semua melihat banyak sekali makhluk yang mengerikan, mereka semua masuk kedalam goa tempat dimana tadi mereka berteduh.
Makhluk itu berwajah rata, mereka tidak memiliki mata, hidung, ataupun mulut, mereka berwarna pucat seperti mayat hidup tapi tanpa ekspresi karena wajah mereka semua rata, pakaian mereka serba hitam dan mereka semua sangat menakutkan, pantas saja Gilang dan teman-temannya langsung berubah menjadi pucat saat melihat itu.
Makhluk berwajah rata itu juga membawa keranda kosong, entah apa tujuan mereka.
"Kalian perhatikan deh mereka baik-baik, mereka mengambil buku yang tadi kita temukan dan mereka juga membawanya, dan setelah itu mereka
mencari ke sekeliling dan apa yang sebenarnya mereka cari" Anton memperhatikan gerak-gerik makhluk berwajah rata itu sambil terus berdoa dalam hati.
"Apa jangan-jangan mereka semua itu adalah sesembahan hantu pendaki itu ya, apa mereka menyembah makhluk aneh itu di gunung larangan ini, tapi apa tujuan mereka melakukan itu" Gilang menimpali.
"Kalau di perhatikan lagi, setelah buku itu meledak mereka semua tidak berselang lama langsung datang, dan setelah itu mereka mengambil buku itu
lalu mencari ke sekeliling, apa jangan-jangan mereka mencari keberadaan kita" Andi juga masih
kebingungan dengan kehadiran makhluk aneh itu.
__ADS_1
Yanti terus memperhatikan mereka, dan mungkin saja sekarang Yanti sedang memikirkan sesuatu saat melihat makhluk berwajah mengerikan ini.