Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 24


__ADS_3

Lanjutan...


"Anton itu anaknya kuat dia pasti bisa jaga diri, Lo gak ingat dia itu ketua pencinta alam di sekolah kita, dia pasti bisa bertahan di alam bebas, kan dia sudah biasa mendaki gunung bukan pertama kalinya" Sasa terus berusaha membuat hati ku tenang agar aku tidak kepikiran Anton terus.


"Tapi ini beda Sasa, gunung ini tidak aman, kita aja di kejar-kejar terus sama hantu pendaki itu, mereka terus mengejar kita bagaimana kalau Anton sampai ketangkap" aku semakin khawatir.


"Kita doakan saja semoga mereka baik-baik saja, dan semoga mimpi kamu itu salah dan hanya bunga tidur" Sasa kembali menenangkan aku semakin kalut.


Ya pikiran ku semakin kalut aku tau anton sedang tidak baik-baik saja, pasti sekarang Anton sedang dalam masalah, apa mungkin Anton terpisah dari Gilang dan Heni, apa ini juga ulah para hantu pendaki itu yang sengaja memisahkan mereka, berarti gunung ini benar-benar tidak aman.


"Lo inget gak yang dikatakan hantu pendaki itu tadi malam" aku bertanya pada Sasa.


"Yang mana" tanya Sasa.


"Kan semalam mereka bilang mereka sengaja membuat kita terpisah biar lebih gampang untuk menangkap kita" sambil mengingat kejadian semalam.


Sasa terlihat mencerna omongan ku dan seperti sangat berfikir, mungkin dia memikirkan omonganku dan apa dia juga berfikir sama seperti apa yang aku


fikirkan.


"Lalu kita harus gimana sekarang" tanya Sasa.


"Kita lanjutin perjalanan sekarang, kita harus cari Anton sampai ketemu, kaki lo udah sembuh kan" tanyaku sambil melihat kaki Sasa.


"Udah kok, udah enakan mungkin juga udah bisa buat jalan" ucap nya terlihat baik-baik saja.


"Lo setuju kan kalau kita lanjut perjalanan sekarang" tanyaku.


"Iya, bentar gue beres-beres dulu" dia menaruh ikan yang sudah di bakar tadi ke dalam tas ranselnya.


"Udah selesai" tanyaku


"Udah, ayo kita jalan sekarang" lanjutnya.


Kita langsung meninggalkan tempat ini dan melanjutkan perjalanan untuk mencari Anton dan teman-teman ku yang lain, aku berharap malam ini aku bisa bertemu dengan mereka dan kita bisa sama-sama cari jalan keluar dari gunung ini.


Sampai saat ini masih aman-aman saja, kita belum menemukan gangguan apapun tapi aku belum bisa bernafas lega karena hantu pendaki masih terus mengincar kita, jadi aku harus terus waspada dan berhati-hati agar kalau ada mereka aku bisa segera lari, kaki Sasa juga sudah sembuh dan sudah tidak sakit lagi jadi sudah bisa berlari.

__ADS_1


Malam ini suasana sangat mencekam, kemarin kita tidak berjalan di malam hari karena hantu pendaki itu


sudah mencium keberadaan kita, jadi kemarin kita putuskan untuk istirahat dan tidur, tadi pagi kita baru


melanjutkan perjalanan dan malah di kejar-kejar oleh hantu pendaki sampai-sampai kaki Sasa kesleo jadi


sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi kali ini aku tidak boleh lengah karena mereka bisa ada di mana saja, bahkan di tempat yang tersembunyi sekalipun.


Malam ini tidak ada kabut yang menggangu perjalanan kami, sampai satu jam perjalanan kami masih aman dan belum terlihat rombongan hantu


pendaki itu.


Dari kejauhan kami melihat seperti ada seorang perempuan sedang duduk di bawah pohon.


"Kamu lihat itu gak" tanyaku pada Sasa.


"Lihat apa" dia malah kembali bertanya.


"Itu ada cewek yang duduk dibawah pohon masak kamu gak lihat sih" tanganku sambil menunjuk salah satu pohon tempat cewek itu duduk.


"Apa jangan-jangan itu Heni" aku dan Sasa saling tatap.


"Masak sih, tapi itu bukan baju yang Heni pakai" Sasa juga kebingungan.


"Apa kita kesana aja ya untuk memastikan apakah itu si Heni atau bukan" usul ku.


"Tapi aku takut kalau itu bukan Heni gimana, terus kalau bukan Heni berarti itu hantu penunggu gunung ini dong" Sasa tidak menyetujui usulan ku.


"Ya gimana kita bisa tau itu Heni atau hantu kalau kita tidak memastikan kebenaran nya" ucapku.


"Ya udah ayo kita lihat dulu" jawabnya kurang yakin.


"Kalau itu beneran Heni kan kasian kalau malah kita tinggal sendiri" tambah ku.


"Ya udah ayo kita kesana sekarang, tapi lo yang di depan ya gue takut" dia langsung ke belakang ku dan memegang erat tangan ku.


"Jangan kencang-kencang pegang nya sakit nih tanganku" aku melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Udah deh lo diam saja, cepat jalan ke sana" perintah nya.


Aku menurut dengan omongan Sasa aku langsung berjalan di depan sedangkan Sasa di belakangku dan terus memegang erat tangan dan juga ranselku, terlihat sekali kalau dia sedang ketakutan, wajahnya terlihat sangat lucu kalau dia sedang ketakutan seperti itu, mulutku rasanya gatel pengen menggoda dia tapi ini bukan waktu yang tepat untuk kita berantem.


Kita semakin dekat dengan sosok itu dan semakin erat pula pegangan Sasa, sebenarnya juga jantung ku berdebar kencang aku juga takut kalau itu Sasa, aku


malah takut kalau itu kuntilanak merah yang kemarin mengejar ku, apa mungkin dia masih dendamn sama aku.


"Kamu panggil gih, kan dia tenman mu" perintah ku pada Sasa.


"Gak mau lah, Heni kan juga teman kamu, kamu aja yang panggil atau kamu colek aja badannya ntar juga dia madep sini" dia malah melotot ke arah ku.


"Ya udah gue aja yang manggil" tanganku gemetaran karena ketakutan.


"Perasaan gue gak enak" tambah Sasa.


"Heni, itu elo kan mana yang lain kenapa lo sendirian'" tanyaku


Sosok itu langsung menengok ke arah ku dan langsung menyeringai dengan tatapan yang sangat


menakutkan.


"Aaaaa" aku dan Sasa berteriak secara bersamaan karena sama-sama kaget dengan apa yang kita lihat.


"Lari Sasa" aku langsung menarik tangan Sasa dan mengajak nya untuk berlari.


"Hihihi kenapa lari" sosok itu langsung berbalik badan dan hendak mengejar kita.


Ya ternyata itu bukan Heni tapi itu kuntilanak yang kemarin aku lihat, cuma bedanya sekarang dia memakai baju putih dan menjadi kuntilanak putih


sedangkan kemarin dia pakai baju merah dan jadi kuntilanak merah, apa kuntilanak juga punya seragam ya Jadi bisa Gonta ganti baju, dan mereka juga tau kalau mereka sekarang sedang ada di Indonesia jadi seragamnya merah dan juga putih, pinter juga ya mereka.


"Lari terus Sasa, kita harus lari sejauh mungkin biar dia tidak bisa menangkap kita" aku terus berlari sambil menarik tangan Sasa.


"Capek tau" keluhnya


"Sama gue juga capek, ya dari pada kita ketangkap terus di makan sama si kuntilanak gimana" aku menakut-nakuti Sasa agar dia mau terus berlari.

__ADS_1


__ADS_2