
Gilang mencoba untuk mengetuk pintu rumah nek Ngah, tapi ketukan pertama itu tidak berhasil karena nek Ngah belum juga membuka pintu rumahnya.
"Coba lagi aja, siapa tahu memang nek Ngah gak denger," usul Heni.
Tok tok tok
Gilang mengetuk pintu kedua kalinya, dan ternyata masih saja belum ada jawaban dari nek Ngah.
Mereka melihat ke sekitar rumah nek Ngah, benar-benar sepi dan tidak ada orang sama sekali, bahkan dari pertama kali mereka masuk ke desa itu
sampai saat ini mereka tidak bertemu dengan satu pun manusia sama sekali.
Bahkan desa itu terlihat seperti desa, Gilang mencoba untuk mengetuk pintu rumah nek Ngah, tapi ketukan pertama itu tidak berhasil karena nek
Ngah belum juga membuka pintu rumahnya.
"Nek, nek Ngah. Ini Gilang cucu nenek, nek Gilang sudah pulang dan Gilang Sudah kembali dengan selamat nek," Gilang berteriak di depan rumah nek
Ngah agar sang nenek bisa mendengar Beberapa menit, masih sangat sepi sekali dan tidak ada jawaban sama sekali, mereka semakin kebingungan dengan semua itu, apa memang desa ini
memang sangat sepi.
"Apa mungkin desa ini sudabh tidak ada penghuninya sama sekali, karena dari awal kita masuk ke pemukiman warga sampai sekarang ini kita belum
menemukan satu pun manusia di sekitar sini, apa mungkin mereka semnua sudah pindah." Andi membicarakan apa yang ada di fikirannya.
"Gak mungkin sih menurutku, karena mata pencaharian mereka semua ya ada di desa ini. Jadi tidak mungkin mereka meninggalkan semua ini begitu saja apalagi mereka disini sudah puluhan tahun lamanya, " Gilang membantah ucapan Andi.
"Siapa tahu memang sudah ada korban lagi mangkanya mereka takut lalu pindah, atau mungkin si Rio sama keluarganya sudah berbuat ulah," Sasa
juga punya pikiran sendiri.
Mereka lalu duduk di teras rumah nek Ngah sambil beristirahat sejenak, mereka pasti sangat lelah sekali setelah berjalan cukup jauh bahkan berjam-jam
lamanya sejak pagi.
Mungkin mereka akan menunggu sampai nek Ngah kembali atau mungkin ada kabar tentang nek Ngah dan penduduk lainnya.
Lama sekali mereka menunggu sampai mereka ketiduran di teras rumah nek Ngah, mereka semua terlihat sangat lelah sekali setelah menempuh
__ADS_1
perjalanan yang cukup jauh untuk mereka.
Kruk
Terdengar suara perut mereka saling bersahutan, itu artinya mereka semua sudah merasa lapar. Dari pagi
mereka belum makan sama sekali dan hanya makan malam saja. Jadi pantasnkalau mereka semua sekarang sedang lapar.
"Laper banget deh, perut rasanya kayak perih gitu," Heni memegang tangannya.
"Iya nih sama, aku juga laper banget ," Sasa juga merasakan hal yang sama.
Mereka terbangun karena merasa sangat lapar sekali, padahal mereka sudah turun dari gunung larangan tapi mereka mnasih saja merasa kelaparan.
Mereka sudah ingin hidup bebas dan bahagia seperti dulu lagi, ini di perkampungan tapi masih sangat sepi
sama seperti di gunung larangan.
Tidak ada manusia sama selkali disana, jam terus berjalan dengan cepat sampai hari berubah menjadi sore hari, dan mereka masih saja bertahan di rumah nek Ngah.
Bahkan sama sekali tidak ada kehidupan disana, mereka mulai lelah dan perut mereka sudah sangat
"Kalau masih ada Yanti pasti kita semua tidak akan pernah kelaparan," kata Sasa mengingat Yanti.
"Iya betul, tapi mau bagaimana lagi Yanti kan sedang menyelesaikan masalah di gunung larangan agar gunung itu aman untuk manusia dan semua orang
bisa menikmati keindahan alamnya," mereka sudah hampir putus asa.
Hari menjelang Sore, desa ini seperti desa mati saat itu karena tidak ada manusia sama sekali disana.
"Astaghfirullah,"
Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengucapkan istighfar sangat keras, lalu Gilang dan teman-temannya sangat kaget mendengar ucapan itu, serentak mereka langsung menoleh kearah suaranya.
"Nek Ngah," ucap mereka bersamaan.
Mereka semua langsung berdiri, tapi melihat mereka berdiri nek Ngah langsung berlari dengan kencang, Gilang dan teman-temannya berusaha untuk
memanggil nek Ngah tapi tidak dipedulikan sama sekali oleh nek Ngah.
__ADS_1
"Kok nek Ngah melihat kita seperti dia melihat hantu sih, padahal kan kita manusia bukan hantu," Sasa terlihat kesal.
"Gimana nih, apa kita kejar saja Nek Ngah biar dia tahu kalau kita ini manusia dan kita juga masih hidup," ucap Andi ingin mengejar Nek Ngah.
Saat mereka ingin mengejar Nek Ngah tiba-tiba banyak sekali warga yang datang ke rumah nek Ngah, dan wajah mereka terlihat sangat ketakutan saat melihat Gilang dan teman-temannya, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka saat ini karena mereka melihat Gilang dan teman-temannya seperti
ketakutan.
"Kok malah banyak Orang ya disini, ada apa sih sebenarnya," mereka semua sama-sama kebingungan.
"Iya ih, emang ada apa kok banyak Orang di rumah nek Ngah, dan kemana nek Ngah ya," Gilang celingukan mencari neneknya yang tadi lari kencang.
Mereka memandang semua warga dengan wajah bingung, dan makin lama warga yang berdatangan semakin banyak membuat mnereka berlima semakin kebingungan.
"Gimana ini, beneran ada arwah gentayangan di rumah nek Ngah. bagaimana kita mengusirnya," kata salah satu warga desa.
"Bagaimana kita Mbah Kliwon, mereka ini hantu pendaki yang waktu itu tersesat di gunung larangan, dan sekarang mereka malah ada di rumah nek Ngah" kata salah satu warga lagi.
Gilang dan teman-temannya saling pandang, bagaimana mungkin mereka sudah di anggap meninggal sedangkan belum ada 2 Minggu mereka tersesat di gunung larangan.
Karena biasanya kalau belum ada 1 bulan pasti akan masih di cari dan belum di nyatakan meninggal
dunia.
"Kita ini masih hidup, masak di bilang hantu sih," Gilang mencoba meyakinkan mereka.
"Gilang, kamu kembali lah ke alam kamu nak, nenek dan orangtua kamu sudah ikhlas kalau kamu pergi untuk selamanya, sekarang kamu ajak teman-teman kamu itu untuk kembali ya," nek Ngah berkata seakan mereka ini sudah meninggal.
"Nek, Gilang masih hidup. Ini Gilang nek," Gilang masih mencoba meyakinkan.
"Wahai jin qorin, cepat kembali ke alam mu dan jangan kembali lagi ke tempat ini, sekarang alam kita sudah berbeda," kata Mbah Kliwon.
Wajah Gilang dan teman-temannya terlihat sangat pucat, jadi mereka sama persis seperti hantu yang sedang gentayangan di sore hari.
"Gilang nenek sudah ikhlas, dan kita juga sudah melakukan upacara pelepasan kamu 1 tahun yang lalu, jadi kamu harus kembali ke alam kamu ya
nak," Nek Ngah menangis.
Gilang mendekat ke arah nek Ngah dan itu membuat semua warga disana ketakutan bahkan ada yang ingin berlari menjauh, Gilang semakin mendekat dan
__ADS_1
dia memeluk nek Ngah begitu saja.