
POV Andi
Bukannya aku ragu dengan perkataan yanti, tapi aku hanya ingin memastikan saja apakah perkataannya
itu benar aku hanya takut kecewa, aku takut kalau aku tidak bisa menemukan keberadaan teman-teman ku.
"Aku yakin kok, dan aku sangat yakin percaya deh sama omonganku, aku tidak mungkin membohongi kamu sayang" dia semakin mendekat ke arahku dan aku menyingkirkannya karena aku risib.
"Apaan sih kamu, jangan dekat-dekat sana jauh-jauh gak malu apa dilihat si Sasa nanti kamu di katain
lagi terus kalian berantem lagi" ucapku agar Yanti segera menjauh dariku.
"Bodo amat sama dia kan yang paling penting itu kita, aku dan kamu" dia menunjuk dirinya lalu berganti menunjukku.
Kesal juga sih sebenarnya karena si Yanti terus saja berusaha untuk mendekati ku, ya kalaupun dia manusia sih aku masih bisa maklumi dan aku
masih bisa terima, la ini dia kan kuntilanak bukan manusia masak kuntilanak suka sama manusia sih.
"Gak jelas banget sih kamu, sekarang kita harus fokus jangan bercanda terus deh nanti kita malah
akan lebih lama lagi buat nemuin yang lain" aku mulai kesal dengan sikap Yanti.
"lya sayang, aku pasti nurut kok apapun yang kamu katakan, percaya deh sama aku" ucapnya manja dan makin membuatku tidak nyaman.
Sasa dari tadi terus melihat ke arah kami tapi dia hanya diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun mungkin saja dia malas berkomentar karena itu akan membuat mereka kembali ribut lagi seperti yang sudah-sudah.
"Masih jauh gak Yanti tempatnya" tanya Sasa.
"Masih lah, kalian itu terpisah cukup jauh dari ujung ke ujung ya pastinya masih jauh lah kan hutan ini
sangat luas" jawab Yanti ketus.
"Awas ya kalau sampai kamu salah dan aku tidak bisa menemukan keberadaan teman-teman ku" ancam Sasa.
__ADS_1
"Kalau kamu gak percaya ya udah kamu diam saja disini gak usah ngikutin kita, biar kamu ditangkap sama hantu pendaki gunung larangan ini dan kamu
akan menjadi orang pertama yang dijadikan tumbal" Yanti menakut-nakuti Sasa.
Wajah Sasa terlihat pias mungkin sebenarnya dia tidak menyukai Yanti karena mereka terus saja bertengkar, tapi memang tidak ada pilihan lain lagi
karena hanya Yanti yang bisa membantu kita untuk menemukan teman-teman kita, karena Yanti bukan manusia dan dia memiliki kemampuan untuk
menerawang jadi hanya dia yang bisa membantu kami.
Yanti juga sudah sangat baik kepada kami, sampai detik ini dia selalu membantu kami bahkan tanpa kami minta sekalipun dia akan dengan senang
hati akan membantu aku dan Sasa.
"'Yanti aku boleh minta tolong gak sama kamu" tanyaku pada Yanti.
"Pasti dengan senang hati dong sayang, apapun yang kamu minta pasti akan aku berikan semampuku, aku akan melakukan apapun demi kamu" dia tersenyum sambil melihat ke arah ku.
"Heh bilang aja kalau kamu itu cemburu dengan kita berdua, gak usah pura-pura deh, kamu pasti iri kan
melihat kemesraan kita berdua" Yanti menggenggam tangan ku.
"Hahaha ya gak mungkin lah gue cemburu, buat apa coba gue cemburu yang ada gue nek pengen muntah
mendengar ucapan Lo tadi" Sasa tersenyum mengejek.
Lagi-lagi mereka berantem terus, di pisahkan juga percuma dan galk ada gunanya, mereka sama-sama keras kepala dan mereka sama-sama gak ada yang mau mengalah satupun, aku bisa pusing kalau begini terus setiap hari.
"Udah dong gak usah berantem terus, masak iya setiap menit aku harus dengerin kalian berdua berantem sih" aku menengahi mereka lagi dan lagi
terus saja seperti ini.
"Udah sayang, kita gak perlu dengerin ucapan teman kamu yang gak banget ini yang penting kan kita berdua bukan dia" ucap Yanti sambil melirik ke
__ADS_1
arah Sasa.
"Ngomong apa Lo barusan, ngajak berantem apa gimana" Sasa berkacak pinggang.
Sasa memang sering ikut latihan karate, mangkanya dia berani menantang si Yanti, sasa pasti menang
kalau berantem dengan sesama manusia karena dia memang jago karate tapi dia belum tentu menang melawan Yanti karena Yanti bukan manusia seperti kami, dia punya ilmu sedangkan kita tidak.
Berani sekali Sasa menantang Yanti padahal dia belum tau kekuatan asli dari si kuntilanak Yanti, bisa saja dia dibawa terbang sama Yanti terus dijatuhkan ke bawah, bahkan bisa lebih parah lagi, jadi sebelum mereka jadi berantem beneran lebih baik aku memisah mereka berdua sekarang juga.
"Udah ya, Sa, Yan kalian berdua jangan berantem lagi kan kita sekarang sudah jadi tim kita harus bekerja sama dalam hal apapun jadwal kajian gak perlu berantem lagi ya, kan kalian berdua sekarang sudah menjadi teman" aku menasihati mereka berdua entah di dengarkan atau tidalk yang penting aku sudah memberitalhu mereka agar mereka tidak bertengkar lagi.
Aku tau mereka mendengarkan ucapan ku hanyalah sesaat sebentar lagi pasti mereka akan bertengkar lagi entah apa lagi nanti yang akan mereka perdebatkan aku memang tidak paham.
"Oh iya Yanti gimana sama omonganku tadi, apa kamu bisa membantuku kali ini aku mau minta
tolong sama kamu ini serius" aku bertanya dengan wajah serius agar Yanti tidak bercanda terus.
"Pastilah, kan tadi aku juga sudah bilang aku akan melakukan apapun untuk membantu kamu, katakan saja apa yang harus aku lakukan" dia mengedipkan mata manja dan aku hanya menghela nafas panjang karena kali ini aku memang sangat membutuhkan bantuannya.
"Tolong kamu Carikan kita sesuatu yang bisa dimakan ya, kamu bisa gak karena aku sudah lemas banget nih kan aku belum makan dari tadi, aku takut
nanti aku akan pingsan karena kelelahanbdan kelaparan" aku memasang wajah melas agar dia mau membantu ku.
Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah Sasa pasti sekarang dia sudah merasa lapar, kasian dia kalau sampai kelaparan kan kemarin dia pingsan gara-gara kecapekan aku takut itu terulang kembali, aku tidak mau Sasa sakit lagi seperti kemarin dia harus sehat
terus sampai aku bisa mengantarkan dia untuk pulang ke rumah dengan selamat.
"Itu satu permintaan yang sangat gampang untuk aku kabulkan, aku akan mencarikan kamu makan dan aku tidak mau kalau kamu sampai sakit, kanbkasian kamu nanti siapa yang buat aku tersenyum kalau kamu sakit" dia tersenyum menatapku dan
mengabulkan permintaanku.
"Terimakasih ya Yanti kamu memang teman yang sangat baik dan kamu benar-benar bisa di andalkan aku bersyukur bisa bertemu kamu saat kami sedang kesusahan seperti ini kamu selalu tulus buat nolongin kami" aku tersenyum ke arahnya.
__ADS_1