Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 129


__ADS_3

"Ini seperti buku diary, apa mungkin ini adalah buku diary milik salah satu dari mereka, kalaupun iya


berarti pemilik carrier ini adalah orang yang memiliki buku sekte itu," Gilang menyimpulkan.


"Kita baca saja dulu, siapa tau ada petunjuk baru di dalamnya dan kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Yanti.


25 Oktober 2012


Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba puisi itu, dan ternyata aku adalah juara satu sedangkan teman-teman ku hanya masuk kedalam


sepuluh besar, mereka sepertinya marah kepadaku.


Padahal aku sudah membuat puisi sebagus mungkin untuk mereka semua, tapi entah kenapa puisi milikku yang mendapatkan juara satu.


Lalu mereka kembali membuka halaman ketiga dari buku diary itu.


26 Oktober 2012


Hari ini disekolah mereka malah seperti menghindari aku, apa mungkin mereka masih marah karena puisinya tidak ada yang mendapatkan juara satu,


dua, ataupun tiga.


Tapi menurutku masuk sepuluh besar itu sudah sangat luar biasa karena mengingat pesertanya sampai ratusan siswa.


Mereka membuka lagi halaman ke empat.


26 Oktober 2012


Hari ini mereka kembali bersikap baik kepadaku, lalu mereka meminta tolong kepada ku untuk mengerjakan tugas sekolah mereka, karena memang


diantara kami aku yang lumayan pintar.


Aku mengerjakan tugas mereka sedangkan mereka malah asyik bercanda dan menonton televisi.


1 November 2012


Hatiku sangat sakit hari ini, karena aku tidak sengaja mendengar teman-teman ku bilang kalau mereka


mau berteman dengan ku hanya untuk memanfaatkan aku.


Mereka hanya membutuhkan aku untuk mnengerjakan semua tugas sekolah mereka karena memang aku pintar.


Aku sangat sakit hati, aku marah dan aku juga kecewa kepada mereka.

__ADS_1


3 November 2012


Hari ini aku menceritakan semuanya kepada orangtuaku yang ada dikampung, ya aku disini memang ngekos dan jauh dari orangtua.


Dan mereka juga sakit hati saat mendengar ucapan ku, ibuku tidak terima kalau mereka hanya


memanfaatkan aku, lalu ibuku memberikan aku ide untuk membalaskan sakit hatiku kepada mereka.


Gilang dan teman-temannya lalu saling memandang, sekarang mereka mulai faham dan mengerti dengan isi dari buku diary ini dan siapa kemungkinan besar pemilik buku diary dan tas carrier itu.


"Kalau dilihat dari isinya, sepertinya buku ini milik teman dari hantu pendaki itu, dan entah kenapa aku malah mencurigai dia sengaja melakukan ini semua," kata Sasa dengan pikirannya.


Yang lain juga sepertinya sepemikiran dengan Sasa kali ini, mereka juga jadi curiga dengan pemilik


diary ini sepertinya memang saling berhubungan.


"Aku sepertinya juga sepemikiran dengan Sasa, bisa jadi dia itu sakit hati dengan teman-temannya lalu dia


mengajak semua temannya ini untuk naik ke gunung larangan agar mereka semua tersesat dan tidak bisa keluar," kata Yanti yang juga memiliki pikiran


yang sama dengan Sasa.


"Iya, aku yakin memang seperti itu, dan saat dia akan pergi dari gunung larangan ini tas carrier milik dia malah tertinggal, mungkin dia memang buru-buru dan takut kalau keempat temannya memergoki dia," Gilang juga mengungkapkan apa yang ada dalam


Sepertinya misteri ini sudah sedikit terbuka, dan memang pelaku utamanya mengarah kepada teman dari hantu pendaki itu sendiri. Tapi mereka belum


tahu tentang buku sekte yang waktu itu mereka temukan, dan apa hubungan pemilik tas carrier ini dengan buku itu.


Dan itu masih menjadi misteri bagi mereka, dan juga belum ada pembuktian tentang buku itu, karena makhluk berwajah rata itu telah membawa buku


itu pergi bersama mereka karena buku itu memang sangat berbahaya bagi mereka.


"Oke, jadi sekarang sudah terungkap kalau sahabat hantu pendaki itu memang sengaja mengajak mereka kesini untuk balas dendam karena dia


sakit hati selama ini hanya di manfaatkan oleh hantu pendaki, dan dia juga sengaja pergi meninggalkan mereka" Gilang menatap teman-temannya dengan serius.


"Lalu siapa orangtua pria itu, aku yakin nek Ngah pasti mengenal orangtuanya pria itu," kata Anton


menimpali.


"Itu akan menjadi tugas kita selanjutnya, yang terpenting kita sudah tahu inti dari permasalahannya dan kita juga sudah tahu siapa pelakunya, jadi


setelah kita berhasil turun dari gunung larangan ini kita akan memberitahu semua orang tentang rahasia besar ini agar orang itu bisa segera di tangkap dan

__ADS_1


tidak lagi menumbalkan orang lain," Gilang yakin Masalah yang mereka hadapi satu persatu akan selesai.


Setelah mereka tahu tentang isi dari buku diary itu Gilang langsung menutupnya, mereka memang belum membaca semuanya tapi memang saat ini mereka harus segera melanjutkan pencarian mayat hantu pendaki.


Setelah mayat itu sudah ketemu semuanya baru mereka akan menyelesaikan masalah itu satu persatu dan tidak bisa kalau langsung semuanya


karena memang membutuhkan banyak sekali waktu.


Tapi tidak sulit juga bagi mereka untuk menangkap orang itu karena tas carrier dan buku diary ini sudah cukup untuk dijadikan barang bukti kalau memang dia benar-benar bersalah dan pantas untuk di hukum.


Tapi sayang sekali buku sekte itu telah hilang padahal itu juga bisa menjadi bukti kalau dia juga ternyata menganut ilmu hitam, dan dia memang


memiliki niat yang sangat jahat dalam hidupnya.


"Oh iya, dari tahun yang tertulis di dalam buku diary itu sepertinya kejadian ini sudah terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, jadi kalau waktu itu mereka umur 20 an berarti sekarang mereka baru berumur 30 tahunan," Heni mencoba menebak.


"Ya, dan pria itu juga masih terbilang muda karena mungkin umurnya baru sekitar 30 tahunan, tapi


dia sudah mampu berbuat sekeji itu terhadap sesama manusia," Sasa menimpali.


Setelah itu mereka langsung membereskan sisa makanan mereka dan juga memasukkan sisa ikan ke dalam tas carrier mereka masing-masing, setiap


orang membawa satu ikan yang cukup besar, jadi itu bisa mereka gunakan untuk makan siang dan malam nanti.


Mereka hanya berharap semoga mayat hantu pendaki itu segera ketemu dan mereka juga bisa segera keluar dari gunung larangan ini tanpa beban lagi.


Yanti yang sadar kalau waktu dia bersama Gilang dan teman-temannya sudah semakin sedikit terlihat sangat murung, dia tidak seceria biasanya, tapi


Yanti hanya diam dan tidak bercerita apapun tentang isi hatinya.


"Kita cari kearah mana Yanti," tanya Gilang.


Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari mulut Yanti, dia hanya diam saja.


"Yanti," Anton lalu menepuk pundak Yanti agar dia mendengarkan ucapan Gilang.


"Eh iya ada apa," Yanti terlihat gugup.


"Kita mau cari mereka di sebelah mana lagi Yan, kamu lagian diajak ngomong malah ngelamun sih," kata Gilang kesal.


"Eh iya maaf, tadi aku gak dengar kalian ngomong apa. Kita cari di sebelah sana lagi, karena kemarin kan jasad teman mereka ada disebelah sana, jadi


aku yakin mereka yang masih hidup waktu itu pasti akan berjalan lurus dan kembali mencari jalan keluar," Yanti menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2