
Mereka semua menuruti ucapan Yanti dan mengikuti Yanti dari belakang, perjalanan kali ini agak sulit karena tanah yang mereka pijak cukup becek karena kemarin sore hujan, jadi cukup becek.
Mereka harus berhati-hati agar tidak terpeleset saat melewati jalannya, Yanti yang bukan manusia dan memang sudah terbiasa dia berjalan sangat cepat
sekali dan hampir meninggalkan Gilang dan teman-temannya.
"Yanti, tungguin kita dong, jangan cepet-cepet kalau jalan, gimana sih kamu ini," kata Sasa dengan kesal.
"Lagian kalian jalan gitu aja lemot banget udah kaya siput, cepat dikit dong biar cepat sampai," Yanti malah meledek mereka.
Mereka yang sudah merasa lelah tidak peduli lagi dengan ucapan Yanti, kaki mereka sudah sangat lelah dan sudah waktunya mereka berhenti sejenak karena mereka sudah berjalan cukup jauh dan belum berhenti sama sekali.
"Kita istirahat sebentar saja, aku capek banget sumpah, kita jalan udah lumayan jauh," sambil mengatur nafas yang masih tersengal-sengal.
"Iya nih, capek banget, istirahat bentar ya sambil minum terus 10 menit lagi kita jalan lagi," Anton memberikan masukan.
Yanti yang menyadari kalau mereka memang sudah sangat lelah akhirnya menuruti ucapan mereka dan berhenti sejenak di bawah pohon yang rindang
karena hari ini cuacanya lumayan panas.
Mereka berteduh di bawah pohon agar tidak kepanasan karena panas matahari sangat terik membuat mereka semakin cepat merasa lelah.
Seperti biasa merelka berhenti lalu minum air agar tidak dehidrasi sambil bercanda ringan untuk menghidupkan suasana agar mereka tidak mudah jenuh, Yanti hanya diam saja dan memperhatikan mereka bercanda.
Mungkin dia membayangkan kalau nantinya dia pasti akan sangat merindukan saat-saat seperti ini, dia
juga pasti akan sangat merindukan canda tawa dari Gilang dan teman-temannya.
"Udah nih, kita lanjut lagi ya biar kita bisa segera mnenemukan mayat dari hantu pendaki itu," kata Heru sambil memasukkan kenmbali botol minumnya.
"Iya aku juga sudah tidak terlalu lelah lagi," Heni menimpali.
Setelah itu mereka langsung melanjutkan perjalanan, di sepanjang perjalanan mereka selalu memperhatikan sekeliling siapa tahu ada mayat hantu pendaki disana, mereka juga terus memperhatikan jurang, siapa tahu mayatnya ada di dalam jurang.
__ADS_1
"Kita cari lagi sampai ketemu, pokoknya planning kita hari ini harus sudah ketemu keempat mayat pendaki itu, jadi malam ini kita harus sudah mengubur semua mayatnya," kata Gilang dengan serius.
"Iya kamu benar Lang, ayo kita lebih semangat lagi untuk mencari mayat-mayat itu Sampai ketemu," kata
Yanti dengan semangat.
Walaupun Yanti sangat berat melepaskan mereka tapi Yanti juga ingin mereka segera keluar dari gunung larangan ini, karena kasihan jika mereka terus berada di tempat ini, keluarganya pasti saat ini sangat khawatir dengan keadaan mereka.
Srak srak srak
Tiba-tiba terdengar suara burung gagak yang berterbangan tidak jauh dari tempat mereka, lalu mereka yang melihat itu langsung ketakutan karena
mereka takut kalau itu adalah pertanda akan adanya bahaya yang mengintai mereka.
"Ada burung gagak, jangan-jangan ada jin jahat yang akan menyerang kita lagi," Heni terlihat ketakutan.
"Iya aku juga takut kalau jin jahat yang kemarin itu datang lagi," Sasa pun sama.
sebuah goa yang cukup kecil, itu membuat Gilang dan teman-temannya menjadi curiga.
"Kok mereka malah kesana, apa itu ya mereka bukan ingin menyerang kita tapi mereka hanya lewat saja," Anton berargumen.
"Sepertinya memang iya, oh iya kalian tahu kan mitos tentang burung gagak, bukannya burung gagak itu bisa mencium bau mayat ya, apa jangan-jangan burung gagak itu mencium mayat mangkanya mereka pergi kesana," Gilang mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Bisa jadi seperti itu, lebih baik sekarang kita ikuti saja mereka siapa tau memang benar mereka mencium mayat dan itu mayat salah satu dari hantu
pendaki," kata Andii sambil menunjuk burung-burung gagak itu.
Mereka lalu mengikuti burung gagak itu sampai ke goa yang mereka tuju, tapi mereka bingung bagaimana caranya untuk mengusir semua burung itu agar mereka bisa melihat apa yang ada di dalam goa itu.
"Gimana caranya kita ngusir burung-burung itu biar cepat pergi ya," mereka sama-sama berpikir.
"Kalau cuma ngusir burung-burung jelek itu sih gampang banget, serahkan semuanya sama aku pokoknya kalian cuma tau beres, dan kalian sembunyi dulu di balik pohon itu biar kalian gak di
__ADS_1
kejar burung itu," Yanti langsung menuju goa itu dan mengusir semua burungnya.
Mereka yang melihat Yanti berhasil mengusir semua burungnya langsung tersenyum lega, sekarang tugas Yanti hanya melihat apa yang ada di dalam goa itu untuk memastikan apakah itu mayat salah satu hantu pendaki.
Yanti masuk kedalam goa itu, dan ternyata benar Yanti melihat mayat hantu pendaki itu yang sedang meringkuk di atas batu yang cukup besar, dan
sepertinya dia meninggal karena kelaparan.
"Oh iya, waktu itu aku mengejar dia dan membuntuti dia sampai disana, bisa jadi waktu aku mengejarnya dia sembunyi di goa ini dan dia tidak berani untuk keluar lagi, jadi dia mati kelaparan dan ketakutan di goa ini, ini memang salahku, andai waktu itu
aku tidak jahat kepada mereka," Yanti kembali menyesali semua perbuatannya di masalalu.
Gilang dan teman-temannya yang sudah penasaran langsung mendekati goa itu dan mereka ingin melihat secara langsung apa yang ada di dalam goa itu sampai Yanti tidak kunjung keluar dari goa itu.
"Ayo kita masuk kedalam dan kita akan memastikan sendiri apa yang ada di dalam sini," mereka lalu masuk ke goa itu.
Saat melihat ke dalam goa itu mereka melihat Yanti sedang menangis di depan mayat seorang perempuan, tapi mereka belum bisa memastikan siapa perempuan itu, lalu mereka mendekat kearah Yanti untuk memastikan ada apa sebenarnya sampai Yanti menangis seperti itu.
"Yann, kenapa kamu menangis seperti itu, dan apa ini mayat dari hantu pendaki itu," tanya Anton.
Lalu Yanti mengangguk tapi dia masih terus saja menangis dan mungkin dia belum bisa bicara karena masih sesenggukan.
"Gue baru tau kalau kuntilanak bisa nangis sampai sesenggukan, biasanya kan yang gue tahu kuntilanak tertawa terus dalam kondisi apapun," Andi berbisik.
"Gila Lo, tapi emang iya sih gue juga baru tahu kali ini," jawab Gilang yang mendengar ucapan Andi.
Mereka langsung tertawa walaupun pelan, mereka heran kenapa ada kuntilanak yang bisa nangis
sesenggukan seperti itu, tapi mereka sadar pasti ada hal yang mengganggu pikiran Yanti sampai dia menangis seperti itu karena sebelumnya mereka belum pernah melihat Yanti seperti itu.
"Kenapa Yan, kenapa kamu menangis seperti itu dan kenapa mayat hantu pendaki itu ada disini," tanya
Gilang sambil memegang pundak Yanti yang masih terus menangis.
__ADS_1