
Ditempat lain raja jin sedang sangat marah babhkan dia menghancurkan apapun yang ada di depannya, dia murka karena Gilang dan teman-temannya sudah berhasil membebaskan keempat hantu pendaki
yang sudah sepuluh tahun menjadi budaknya.
"Sialan, dasar manusia tidak tahu diri berani sekali mereka melakukan ini semua padaku, aku tidak akan tinggal diam," sambil melempar apapun yang
ada di depannya.
"Mungkin besok mereka akan turun dari gunung larangan ini, karena mereka sudah menguburkan mayat keempat hantu pendaki itu," anak buahnya
melaporkan apa yang dia tahu.
"Apa si kuntilanak merah itu masih terus membantu mereka sampai saat ini " tanya penguasa gunung larangan.
"Betul, sampai saat ini dia yang telah membantu mereka, dan kakek tua itu juga terus menjaga cucunya, jadi tidak mudah untuk kita bisa menghabisi anak itu, kakek tua itu pasti akan terus
melindungi cucunya dan dia juga pasti punya kekuatan yang sangat besar seperti penguasa gunung ini yang dulu," sambil menundukkan kepalanya, dia takut akan menjadi bahan amukan raja jin.
Dia terlihat semakin marah, tapi dia tidak akan menyerah sampai disini apapun akan dia lakukan untuk mengalahkan Gilang dạn teman-temannya.
"Aku tidak pernah takut dengan kakek tua itu, bukankah aku telah mengalahkan rajanya sampai mati dan sekarang lihatlah, aku berhasil merebut
kekuasaan di gunung ini," sambil melihat dirinya sendiri.
Dia mengusir anak buahnya, dan pasti dia sekarang sedang memikirkan cara untuk menghadang Gilang dan yang lainnya agar tidak bisa keluar dari gunung larangan itu.
"Pintu itu harus dijaga dengan sangat ketat agar mereka tidak bisa keluar dengan mudah, aku akan
mengirim pasukan lebih banyak lagi agar mereka kuwalahan," iblis itu tersenyum licik.
Di dalam mimpinya Gilang bertemu dengan kakek buyutnya lagi, dan sekarang kakek buyutnya itu tersenyum menatap Gilang bahkan wajahnya terlihat
lebih cerah daripada biasanya.
"Cu, apa kamu masih sehat dan baik-baik saja," kakek tua itu bertanya kepada Gilang
"Alhamdulillah Heru sangat sehat kek, kakek kemana saja kenapa sudah lama tidak menemui Gilang lagi," tanya Gilang sambil mencium takzim tangan sang kakek.
"Kakek selalu ada untuk kamu, dan kakek juga selalu ada di samping kamu walaupun kamu tidak bisa melihat kakek " dia tersenyum.
Gilang yang melihat itu agak heran, tidak biasanya kakeknya terus tersenyum seperti itu, tapi dia juga tidak banyak bertanya karena setiap kakeknya
datang pasti ada hal penting yang akan beliau sampaikan kepada dirinya.
"Ada apa kek, pasti ada sesuatu yang ingin kakek katakan kepada Gilang," tanya Gilang dengan sangat sopan.
"Kakek ingin memberitahu kamu, kalau kelemahan raja jin ada di jantungnya, dan kamu harus mencari
bambu kuning lalu kamu runcingkan," kakek tidak menjelaskan secara jelas.
"Maksud kakek, Gilang harus mencari bambu kuning dan meruncingkannya untuk mengalahkan penguasa gunung larangan itu, apa Gilang harus menusuk jantungnya menggunakan bambu kuning itu kek,"
__ADS_1
Gilang kembali bertanya.
Kakek tersenyum sambil memberilkan sesuatu kepada Gilang, terlihat sebuah bungkusan dan Gilang
terlihat semakin bingung.
"Kamu lemparkan bubuk itu kewajah dia agar dia kehilangan keseimbangan dan setelah itu kamu
gunakan kesempatan itu untuk menusuk Jantungnya menggunakan bambu kuning itu," akhirnya kakek menjelaskan.
Seperti biasa kakek tua itu tiba-tiba pergi begitu saja padabhal Gilang masih ingin banyak bertanya kepada dia, dan setelah si kakek pergi Gilang langsung terbangun dari tidurnya, dia sadar kalau
ternyata hari sudah berganti pagi, dan itu artinya dia harus segera pulang karena keluarganya pasti sedang menunggu dirinya.
"Kok kakek tiba-tiba pergi aja sih padahal alku masih ingin bertanya lagi, dan setiap dia menghilang pasti hari langsung berganti pagi," Gilang mendengus kesal.
Tetapi saat dia bangun, dia melihat bungkusan yang tadi kakek buyutnya berikan kepada dirinya untuk
mengalahkan penguasa gunung larangan, dia membuka bungkusan itu.
"Loh ini kan bungkusan yang tadi kakek buyut berikan, kok ada beneran disini sih, terus bambu kuning," dia kembali mengingat kembali mimpi yang
tadi dia alami.
"Oh iya kan tadi kakek buyut bilang kalau aku harus mencari bambu kuning untuk membunuh penguasa gunung larangan, dan hanya dengan itu dia bisa
dikalahkan," Gilang teringat ucapan sang kakek.
seperti orang linglung.
"Kamu kenapa bangun-bangun langsung aneh seperti itu," tanya Yanti.
"Kebetulan sekali ada kamu Yan, aku mau bilang sama kamu kalau tadi aku tuh mimpi dan bertemu dengan kakek buyut ku, dan dia bilang kalau
penguasa gunung larangan akan bisa dikalahkan dengan bambu kuning yang diruncingkan lalu bambu itu kita tancapkan ke jantungnya," Gilang menjelaskan tentang mimpinya.
Yanti yang mendengar itu langsung kaget, dia tidak menyangka Gilang bisa tahu tentang kelemahan penguasa gunung larangan yang selama ini paling
di takuti oleh penghuni gunung larangan.
"Kamu tahu dari kakek buyut kamu, kok bisa kakek buyut kamu tahu," tanya Yanti.
Dan setelah itu Gilang menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir tentang awal mula dia bertemu dengan kakek buyutnya dan siapa sebenarnya
kakek buyut Gilang bahkan dia juga menjelaskan tentang dirinya yang bisa berubah menjadi macan putih dan darimana dia mendapatkan kekuatan itu.
Yanti yang mendengar itu tidak begitu heran karena dia juga bisa melihat aura Gilang yang sangat berbeda dari pada temannya yang lain.
"Kalau memang itu benar, aku akan mencari bambu kuning itu sampai ketemu, kamu tunggu saja disini aku akan segera kembali," Yanti langsung terbang dan mencari bambu kuning itu.
"Semoga saja Yanti cepat kembali agar kita semua bisa segera keluar dari gunung larangan ini," kata Gilang berdoa.
__ADS_1
Gilang langsung membangunkan teman-temannya agar mereka bisa bersiap-siap karena setelah ini mereka akan langsung turun dan Gilang juga tahu
kalau penguasa gunung larangan pasti sudah menanti mereka semua, dan mungkin dia juga sudah menyiapkan banyak pasukan untuk melawan mereka.
Setelah mereka bangun mereka langsung mencuci mukanya dengan air yang ada didekat tempat itu, mereka kemudian memandang kuburan keempat hantu pendaki itu dan mereka langsung menghampirinya.
"Sebelum kita pergi dari sini lebih baik kita mendoakan mereka dulu agar mereka bisa tenang di alamnya dan mereka bisa bahagia disana," Gilang memimpin doa untuk arwah hantu pendaki itu.
Dan tidak lama setelah itu Yanti datang sambil membawa bambu kuning bahkan sudah berbentuk runcing, entah bagaimana cara Sari mengambilnya.
"Hah, bambu kuning itu untuk apa, bukankah itu penangkal makhluk gaib," tanya Anton.
"Udah nanti aku jelaskan, sekarang kita pergi dari sini dan kita turun sekarang juga," Gilang mengambil bambu itu dari Yanti.
"Apa perjalanan kita akan jauh Yan," tanya Andi.
"Nanti siang kalian akan sampai di bawah," kata Yanti.
Mereka berjalan mengikuti Yanti di belakang, perjalanan yang mereka lalui cukup jauh karena mereka harus berjalan setengah hari baru mereka akan sampai di bawah, belum lagi gangguan yang akan mereka hadapi setelah ini.
Selama perjalanan ternyata mereka tidak ada yang mengganggu sama sekalı, tapi itu justru membuat mereka curiga jangan-jangan memang semua sudah
menunggu mereka di pintu keluar.
Saat mereka mendekati pintu keluar benar saja sudah banyak pasukan dari penguasa gunung larangan yang menghadang mereka semua.
"Sasa dan Heni kalian menjauh dulu, dan kalian semua bantu Yanti untuk menghadapi mereka," Gilang memberikan perintah.
Dan tiba-tiba kakek buyut Gilang datang dan mengejutkan mereka semua, tapi tidak ada waktu lagi untuk bertanya.
Dan akhirnya pertarungan kedua kembali di mulai, dan ternyata tidak banyak pasukan dari penguasa gunung larangan karena pasukannya sudah banyak yang mati saat mereka melawan Heru di alam gaib.
Gilang melawan penguasa gunung larangan dengan mnenggunakan kekuatan penuh, dia berubah menjadi harimau putih yang sangat besar, dengan kekuatan penuh dia menyerang penguasa gunung larangan dan dia menuruti perintah dari kakek buyutnya, ketika hantu pendaki itu lengabh dia
langsung melempar bubuk yang kakek berikan.
Dan penguasa gunung larangan itu menggelepar dan kesakitan, Gilang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menusukkan bambu kuning ke
jantungnya, dan setelah itu Gilang berubah lagi menjadi manusia.
"Kalian semua cepat keluar, karena nanti malam adalah gerhana bulan, bawa teman-teman kamu pergi biar kakek dan Yanti yang membereskan
semua ini," teriak kakek.
"Yantii ," Sasa menangis memandang Yanti.
"Cepat keluar setelah semuanya selesai aku akan menemui kalian lagi, kalian tunggu di bawah," kata Yanti.
Tanpa banyak bicara lagi mereka langsung lari dan keluar dari pintu gaib gunung larangan.
Mereka semua menangis haru karena akhirnya mereka bisa keluar dari gunung larangan dengan selamat tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1