Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 139


__ADS_3

Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak yang pernah mereka lalui sebelumya, tapi jalan yang mereka lalui kini sudah berbeda sangat jauh daripada


sebelumnya, tempat yang kemarin masih di jamah manusia sekarang malahbterlihat sepi dan sepertinya tidak ada manusia yang melewatinya lagi.


Bahkan tempat duduk yang pernah mereka singgahi terlibat sudah penuh dengan semak belukar, dan itu artinya memang sudah lama tempat itu tidak di


jamah manusia lagi.


"Padahal biasanya ditempat ini masih ada orang yang menjamah dan biasanya mereka mencari pakan


ternaknya disini, tapi kenapa sekarang tempat ini terlihat sangat sepi dan bahkan banyak sekali semak belukar yang sangat tinggi," Gilang juga terlihat


kebingungan.


"Iya nih, kaya waktu kita di dalam hutan, kalau hutan itu kan memang tidak pernah di jamah oleh manusia lagi jadi wajar kalau tepatnya rimbun, lah kalau disini kan biasanya masih ada orangnya ya," mereka semua sama-sama kebingungan.


Walaupun mereka terlihat bingung tapi itu tetap tidak mengurangi rasa senang di hati mereka, dan bahkan


mereka terlihat tetap senang dan bercanda di setiap jalannya. Sepertinya beban di hati mereka benar-benar sudah terlepas dan sekarang hanya rasa


bahagia yang tersisa.


Saat mendekati pemukiman warga mereka melihat rumah yang sama, yaitu rumah yang waktu itu mereka titipkan mobilnya, mereka mengamati rumah itu dan terlihat sangat sepi sekali, tapi yang membuat Gilang makin bingung adalah mobilnya sudah tidak berada di rumah itu.


Mereka semua kebingungan karena mobil sudah tidak ada, sedangkan mereka tidak mungkin pulang dengan berjalan kaki sampai di kota, sedangkan


desa ini sangat jauh dari jalan raya besar, jadi tidak mungkin ada bis atau apapun yang lewat disana.


"Loh, kok mobilnya tidak ada sih," Gilang terlihat kebingungan.


"Iya, ini kan rumah si Rio sama ibunya yang waktu itu kita menitipkan mobil Gilang," Andi celingukan mencari orang di rumah itu.


"Gimana, apa ada orang di dalamnya," tanya Sasa.


"Tiidak ada, bahkan sangat sepi sekali, apa jangan-jangan mereka sudah pindah." mereka bertanya-tanya.


Gilang yang kesal karena mobilnya sudah tidak ada langsung mendekati pintu rumah itu dan mengetuknya dengan keras, tapi sayang sekali tidak


ada jawaban apapun dan tidak ada yang membuka pintu rumahnya.


"Sepertinya mereka memang benar-benar sudah pindah dari sini, lihat saja rumah ini terlihat tidak terawat sama sekali kan," mereka lalu melihat ke sekeliling.

__ADS_1


Banyak sekali semak belukar yang tumbuh mengitari rumah itu, terlihat seperti rumah kosong yang sudah


ditinggal pergi oleh pemiliknya.


"Sial, kita terlambat," Anton begitu kesal.


"Sekarang lebih baik kita pergi ke rumah nek Ngah dulu, kita ceritakan semuanya kepada nek Ngah dan aku yakin nelk Ngah pasti akan meminta bantuan kepada warga sini untuk mencari mereka," kata Gilang memberikan masukan.


"Iya, sepertinya apa yang dikatakan oleh Gilang benar, kita sekarang pergi ke rumah nek Ngah terlebih dahulu dan setelah itu kita diskusikan semuanya disana. Kita juga harus mengabari


keluarga kita kalau kita sudah turun dari gunung larangan, mereka pasti sangat mencemaskan kita semua," Andi berpikiran sama seperti Gilang.


Dan mereka semua langsung setuju dengan ucapan Gilang dan Andi, mereka berjalan lagi walaupun jarak tempat rumah Rio dengan nek Ngah cukup jauh


tapi mereka akan menempuhnya.


Saat tersesat di gunung larangan mereka semua sudah terbiasa berjalan dengan jarak yang jauh tanpa istirahat, jadi kalau hanya untuk menuju rumah


nek Ngah mereka pasti tidak akan terlalu lelah.


"Ayo deh kita jalan, lagian kita cuma tinggal lurus saja kan, dan setelah itu kita akan menemukan rumah para warga," mereka sangat bersemangat karena alkhirnya mereka bisa kembali ke rumah nek Ngah.


Mereka membayangkan bagaimana reaksi nek Ngah saat melihat mereka berlima, dan pastinya nek Ngah akan sangat marah kepada mereka terutama


"Eh gimana ya nanti reaksi nek Ngah kalau kita sampai di rumahnya, pasti dia akan marah besar sama kita kan karena kita sudah tidak mendengarkan ucapannya walktu itu," Andi membayangkan reaksi nek Ngah.


"Iyalah, kalian ingat sendiri kan waktu kita bicara sama nek Ngah kalau kita akan pergi ke air terjun merah. Aku masih ingat betul betapa marahnya nek


Ngah waktu itu, apalagi sekarang dia tahu kalau kita berbohong dan sudah menerima akibatnya," Gilang mengingat wajah neneknya.


Mereka lalu saling diam dengan pikiran masing-masing, dan mereka juga pasti sedang menyiapkan mental dan jawaban atas semua pertanyaan yang akan di lontarkan oleh nek Ngah kepada mereka semua.


Mereka memang bersalah dan telah mendapatkan akibat dari kebohongan mereka sendiri, jadi sekarang mereka semua juga harus siap di marahi oleh


nek Ngah karena ulah mereka sendiri yang telah berbohong untuk pulang padahal mereka tetap melanjutkan perjalanan mendaki di gunung larangan.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai juga di perkampungan warga, pertama desa itu


terlihat sangat sepi sekali bahkan tidak ada satu orangpun yang ada di luar rumah.


Sepertinya memang desa ini sangat sepi sekali, dari awal mereka masuk ke desa ini memang terlihat sangat sepi sekali, berbeda jauh dengan di kota yang

__ADS_1


sampai malam masih sangat ramai sekali.


"Kok sepi banget ya disini, bahkan tidak ada satu orangpun yang ada di luar rumah," Heni sambil memperhatikan rumah-rumah warga desa.


"Sudah biasa kalau itu, memang disini kalau siang sangat sepi karena semua warga desa ada di sawah dan kebun mereka masing-masing, jadi memang begini kondisi di siang hari," Gilang menjelaskan.


"Beda ya kalau di kota, emang kebun mereka jauh ya dari sini, karena tidak ada suara manusia sama sekali di sekitar sini," tanya Sasa penasaran.


"Iya, kebun mereka memang cukup jauh dari sini, mereka sekarang pasti sedang berkumpul di ladang semua,"Gilang menjelaskan lagi.


Mereka yang mendengar itu langsung manggut-manggut dan mengerti dengan ucapan Gilang, rumah nek Ngah memang berada di paling


ujung dari rumah warga lainnya, jadi cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


Sepanjang perjalanan mereka bercanda untuk menghangatkan suasana, agar mereka tidak gampang lelah jadi mereka memutuskan untuk


bercanda bersama seperti biasanya. Setelah rumah nek Ngah sudah semakin dekat mereka berjalan lebih


lambat, mungkin mereka takut akan reaksi dari nek Ngah, tapi karena memang mereka salah jadi mereka harus menerimanya.


"Sudah, kita tidak perlu takut lebih baik sekarang kita segera masuk ke rumah nek Ngah dan memberitahu dia tentang semua yang terjadi ketika kita tersesat di gunung larangan dan tentang Rio yang menjadi pengikut penguasa gunung larangan" Gilang menjelaskan kepada mereka agar tidak terlalu ragu.


Keraguan mereka sekarang tidak ada gunanya karena mereka sudah terlanjur berbuat salah.


Sesampainya di rumah nek Ngah mereka saling pandang karena rumah nek Ngah juga terlihat sangat sepi sekali, mereka takut kalau nek Ngah juga tidak


ada di rumah sama seperti penduduk yang lainnya.


"Rumah nek Ngah sepi banget, apa nek Ngah juga di kebun kaya warga yang lainnya," tanya Andi.


"Gak lah, nenek gue kan udah tua jadi gak akan ke kebun lagi," jawab Gilang yakin.


Dia memang sudah lama tidak main ke rumah neneknya, tapi dia tahu betul kalau sang nenek sudah tidak pernah lagi pergi ke kebunnya. Dan sudah


menyuruh orang lain untuk menggarapnya.


"Terus kenapa rumahnya sepi banget, apa kita coba buat ketuk pintu dulu untuk memastikan apakah nek


Ngah memang tidak ada di rumah atau bagaimana," tanya Sasa sedikit bingung.


"Gimana ya, kita ketuk aja dulu siapa tahu nek Ngah ada di dalam dan memang sengaja tidak membuka

__ADS_1


pintunya sama sekali," jawab Gilang menyetujui usulan Sasa.


Ya udah sana ketuk, kan Lo cucunya" kata Andi.


__ADS_2