Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 146


__ADS_3

Lalu mereka pergi ke meja makan dan melibat banyak sekali makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, mereka tinggal memilih apa yang akan


mereka makan.


Dan Nek Ngah datang ke meja makan dengan membawa beberapa piring untuk Gilang dan teman-temannya, mereka masih tercengang melihat


banyak sekali makanan karena selama di hutan mereka hanya bisa makan ikan dan buah, itu saja tidak pernah pakai nasi ataupun bumbu lainnya.


"Banyak sekali makannya nek, ini nek Ngah semua yang masak," tanya Andi sambil melihat semua makanan itu satu persatu.


"Iya, ini untuk kalian semua. Jadi kalian bisa makan sepuasnya pokoknya ini semua untuk kalian," nek Ngah menyiapkan piring untuk mereka.


"Kenapa sebanyak ini nek, mana mungkin kita bisa menghabiskan makanan sebanyak ini," Gilang sedikit


protes.


"Kan bisa kalian makan nanti sore lagi, sudah sekarang kalian langsung makan saja jangan banyak bicara, nenek mau beres-beres dulu soalnya nanti pasti Mbah kliwon dan yang lainnya akan kesini lagi," lalu pergi meninggalkan mereka berlima makan dengan lahap seperti orang yang sudah lama


tidak makan, kemarin sore mereka memang sudah makan tapi tidak sebanyak itu, dan sekarang mereka


tinggal pilih mau makan pakai apa, itu membuat mereka semua senang, mereka makan cukup lama sampai perut mereka benar-benar kenyang.


Wajar saja mereka seperti itu karena di gunung mereka tidak bisa makan enak seperti sekarang.


"Enak banget ya masakan nek Ngah, jadi nagih gitu," Andi terus menguap nasi ke mulutnya.


"Kalau makan itu tidak boleh sambil bicara nanti keselek, udah habisin saja dulu makanannya," Sasa mengingatkan.


Setelah selesai makan mereka langsung membawa piring kotornya ke dapur, kali ini mereka tidak mau lagi menyusahkan nek Ngah karena nek Ngah pasti sudah capek.


"Kita bagi tugas, kalian berdua cuci piring, sedangkan kita yang laki-laki membereskan meja makan, dan sisa makanan kita taruh kulkas biar nanti sore tinggal di angetin lagi," kata Gilang membagi tugas.


Yang lain setuju saja dengan ucapan Gilang itu lalu mereka mengerjakan tugas masing-masing. Setelah semuanya selesai Gilang dan yang lain menemui NekbNgah karena merelka ingin menceritakan


apa yang tadi malam mereka semua alami.

__ADS_1


"Nek, kok kita tadi malam masih dengar suara-suara aneh seperti di gunung ya, padahal kita kan sudah tidak berada di gunung larangan," tanya Gilang.


Mereka berharap nek Ngah kali ini bisa membantu masalah yang mereka alami dan mereka bisa segera hidup normal seperti dulu lagi.


"Ya wajar saja lah kalian masih mendengar suara-suara aneh itu, kalian tersesat bukan hanya satu atau dua hari, tapi kalian tersesat sudah satu tahun. Jadi wajar saja kalian merasakan itu


semua. Mangkanya nanti Mbah Kliwon akan datang kesini untuk membersihkan tubuh kalian biar kalian tidak di ganggu lagi," jawab Nek Ngah menjelaskan.


Mereka kini mengerti kenapa masih merasa seperti di atas gunung karena mereka belum membersihkan tubuh mereka menggunakan adat yang ada.


Dan Mbah kliwon akan melakukan ritual adat dan membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa jin jahat yang menempel pada tubuh mereka semua.


"Memang Mbah Kliwon kapan kesininya Nek," tanya Gilang.


"Mungkin setelah ini dia akan kesini, karena mereka semua sudah sepakat nanti sore akan ke rumah Rio dan ibunya untuk menangkap mereka, jadi setelah ini kalian akan di bersihkan dulu "jawabnya.


Mereka sedikit lega karena nanti Rio akan di tangkap dan dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada orang-orang yang telah dia jadikan tumbal selama ini.


Dan ternyata bukan hanya hantu pendaki yang menjadi korbannya, tapi juga banyak pendaki yang sudah menjadi korban Rio, entah sudah berapa


manusia yang telah dia jadikan tumbal untuk penguasa gunung larangan.


"Nek, apa Rio dan ibunya sudah tahu kalau warga desa sudah tahu tentang perbuatan mereka berdua.'


tanya Gilang penasaran.


Dia hanya takut kalau Rio tahu pasti dia akan melarikan diri dan tidak akan bisa tertangkap, karena kakek buyut Gilang juga berpesan agar mereka


segera di tangkap.


"Mereka tidak akan tahu karena kabar ini memang belum tersebar ke seluruh desa, hanya orang-orang


tertentu saja yang tahu karena mereka takut kalau Rio dan Ibunya akan kabur," Nek Ngah kembali menjelaskan.


Mereka lega karena Rio ternyata belum tahu, jadi itu akan memudahkan mereka untuk menangkap Rio dan ibunya secepatnya.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar pintu rumah nek Ngah diketuk, lalu mereka melihat siapa yang datang.


"Mbah Kliwon, silahkan masuk ke dalam, itu mereka semua sudah menunggu," nek Ngah mempersilahkan


Mbah kliwon untuk masuk kedalam.


"Bagaimana kondisi kalian saat ini, apa kalian sudah baik-baik saja," tanya Mbah Kliwon.


"Sudah Mbah, kita sudah semakin baik dan sudah tidak lemas lagi, " lalu mereka menceritakan apa yang tadi malam mereka rasakan.


"'Saya sudah menduga itu pasti akan terjadi karena kalian belum membersihkan tubuh kalian dari aura


jahat yang kalian bawa dari gunung larangan," Mbah Kliwon sudah tahu ternyata.


Lalu dia mengambil peralatan yang dia bawa dari rumah, dia mengambil sesajin dan tidak lupa kembang tujuh rupa yang akan mereka gunalkan untuk mandi nantinya.


Mbah Kliwon juga membawa ayam hitam untuk nanti dia sembelih saat melakukan ritual pembuangan aura jahat di tubuh Gilang dan teman-temannya. Agar mereka terbebas dari gangguan di gunung larangan.


"Nek Ngah tolong bantu saya menyiapkan semuanya, saya akan menyalakan sesajen ini dan kalian duduk dengan cara bersila, pokoknya kalian tinggal ikuti saja arahan dari saya, lakukan apapun yang saya suruh agar kalian benar-benar bersih," ucapnya.


Gilang dan yang lain menuruti ucapan Mbah kliwon, mereka lalu duduk bersila dan memejamkan mata seperti arahan dari Mbabh Kliwon.


Lalu Mbah Kliwon membacakan mantra yang entah apa isinya, dia membaca dengan serius lalu dia


memandikan mereka dengan bunga tujuh rupa secara bergantian, tidak lupa mantra selalu di bacakan.


Setelah ritual mandi bunga tujuh rupa selesai Mbah Kliwon menyalakan dupa, dia duduk dan bersila di depan dupa itu sambil membaca mantra.


Gilang dan yang lain masih memejamkan mata karena Mbah Kliwon belum mengizinkan mereka untuk membuka matanya.


Mereka masih menutup mata Danbmendengarkan Mbah Kliwon membaca mantranya, nek Ngah hanya diam saja sambil melihat apa yang mereka lakukan.


Lalu setelah itu Mbah Kliwon menyuruh mereka untuk membuka mata mereka secara perlahan dan mereka menurutinya.

__ADS_1


"Ritual pertama sudah berhasil dilakukan, dengan kalian mandi bunga tujuh rupa itu bisa membersihkan tubuh kalian dari energi jahat yang ada di gunung larangan," ucap Mbah Kliwon.


"Lalu apa yang harus mereka lakukan lagi setelah ini Mbah," tanya Nek Ngah kepada Mbah Kliwon karena dia ingin cucunya segera bisa hidup normal lagi.


__ADS_2