Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 41


__ADS_3

Lanjutan...


"Ayo Hen kita harus semangat jangan sampai kita menyerah begitu saja, ingat keluarga kita di rumah dan ingat cita-cita kita yang harus kita gapai" aku


terus menyemangati Heni agar dia tidak terpuruk dan kembali bangkit.


"Iya kamu benar, kita tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan" ucapnya langsung berdiri.


"Ayo kita lari lagi, semangat buat keselamatan kita" ucapku lagi.


Aku dan Heni kembali berlari dengan kencang sekuat tenaga kita, sambil kita terus melihat ke belakang


untuk memastikan posisi mereka semakin mendekat atau tidak, ternyata jarak mereka dengan aku dan Heni tidak terlalu jauh jadi kita harus berusaha lari


sekencang mungkin agar mereka tertinggal jauh.


Aku masih melihat ke arah sekitar, mencari tempat untuk bersembunyi di sekitar sini, tapi selama berlari aku tidak melihat tempat yang aman untuk kita


bersembunyi, disekitar sini hanya ada pohon kecil yang mengelilingi hutan ini tidak cukup untuk kita bersembunyi karena kita pasti terlihat oleh mereka


kalau sembunyi di balik pohon yangbkecil.


Kami tidak mengenal rasa lelah lagi karena ini masalah nyawa, biarpun kami merasa sangat lelah, letih, badan sudah basah kuyup oleh keringat tapi kita tetap berlari walaupun kita berlari tanpa arah


kita hanya berlari lurus mencari jalan yang bisa kita lewati.


Rumput panjang, ilalang, kami lewati begitu saja walaupun kulit terasa agak perih karena terkena goresan dari ilalang yang tumbuh sangat tinggi, tapi


aku dan Heni tidak bisa mengeluh untuk saat ini semua rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa takut kita kalau sampai kita tertangkap oleh mereka.


Apapun kita terjang dan kita lewati sampai kaki dan tangan terasa perih karena goresan, kita terus menengok ke belakang berharap mereka sudah pergi


dan tidak mengejar kita lagi, tapi sayangnya kali ini nasib baik tidak berpihak pada kita, hantu pendaki itu


masih terus berusaha mengejar kita.

__ADS_1


"Mereka masih terus mengejar kita sampai sini, gimana dong" Heni bertanya padaku setelah melihat ke belakang.


Aku sebenarnya sudah tau kalau mereka akan terus mengejar kita dan tidak akan melepaskan kita begitu saja, apalagi mereka tau kalau tempat ini tidak ada tempat persembunyian yang aman untuk kita, karena ukuran pohonnya kecil dan tidak muat alau untuk bersembunyi, ilalang pun bisa dengan gampang mereka tebas memastikan kalau kita tidak bersembunyi di sana.


"Tidak ada pilihan lain, kita harus terus berlari dengan tenaga yang tersisa, kita sama sekali tidak bisa bersembunyi di tempat ini sangat tidak aman sekali"


ucapku pada Heni.


"Kenapa tidak ada tempat untuk bersembunyi sama sekali sih, aku udah benar-benar capek banget pengen istirahat sebentar" Heni terlihat sangat


lelah.


"Ini bukan saatnya Hen kita harus terus berlari, pastidi depan sana kita bisa bertemu tempat untuk bersembunyi dan kita bisa istirahat disana, sekarang


kamu tahan dulu ya" kataku pada Heni yang terlihat sangat kelelahan.


Kita memang telah berlari cukup jauh, mungkin sudah ada satu kilometer kita berlari tapi para hantu pendaki gunung larangan ini terus mengalir kita


tanpa lelah dan tanpa henti, jadi wajar saja kalau Heni merasa sangat lelah saat ini karena jarak yang kita tempuh sudah cukup jauh.


"Iya aku paham, aku akan berusaha sebisaku lagi" ucapnya penuh semangat.


Aku berharap mereka segera menjauh karena jujur aku sangat kasian melihat kondisi Heni yang terlihat


sangat lelah itu, aku takut dia akan sakit lagi seperti kemarin padahal demamnya baru sembuh dan kakinya yang keseleo juga baru saja sembuh.


Aku terus saja memperhatikan sekeliling berharap akan ada tempat untuk kita bersembunyi dan beristirahat untuk meregangkan otot-otot yang


tegang.


"Gimana, apa tetap gak ada tempat untuk kita bersembunyi dari kejaran hantu pendaki itu" Heni kembali bertanya.


"Tidak Hen, lihatlah sekeliling kita sama sekali tidak ada tempat persembunyian yang aman untuk kita


saat ini" jawabku lesu.

__ADS_1


Aku sendiri sudah sangat lelah, tubuhku sudah terasa panas saat berlari, aku juga merasakan haus di tenggorokan dan aku juga sudah merasakan lapar


karena ini memang sudah siang hari, mungkin karena terus berlari mangkanya aku cepat merasa lapar.


Kakiku rasanya sudah sangat sakit, sangat lelah ingin istirahat tapi tidak mungkin, tersiksa sekali rasanya.


Aku kembali melihat ke belakang ternyata para hantu pendaki itu sudah semakin mendekat, jarak kami tidak terlalu jauh kalau kita berhenti sebentar saja sudah pasti mereka akan dengan mudah menangkap kita berdua.


"Mereka sudah semakin mendekat lang gimana dong" tanya Heni.


"Udah jangan lihat ke belakang lagi, kita fokus saja untuk berlari dan terus berlari, kalau kita melihat ke belakang terus konsentrasi kita bisa buyar" aku


menasihati Heni agar tidak terus melihat ke belakang.


Memang mereka berempat sudah semakin dekat jaraknya dengan kita, tapi aku tidak patalh semangat aku akan terus berlari sekuat mungkin, aku akan


terus berusaha agar jarak kami semakin menjauh dari mereka berempat.


Aku melilhat ke belakang lagi untuk memastikan posisi mereka, sekilas aku melihat senyum yang mengembang di wajah mereka, senyum yang sekilas


mirip dengan seringai.


Mungkin mereka sangat yakin kalau akan segera bisa menangkap aku dan Heni, karena jarak kami tidak terlalu jauh dari mereka berempat.


Aku terus saja berdoa dalam hati berharap ada keajaiban atau ada orang yang bisa menolong kita dari kejaran hantu pendaki itu, dan semoga saja kita


bisa selamat dan terbebas dari kejaran mereka.


Tapi aku sangat sadar kalau itu hampir tidak mungkin karena mengingat jarak kami sudah semakin mendekat dan kondisiku dan Heni kita sudah sangat kelelahan, sekarang aku hanya bisa pasrah apapun yang terjadi yang penting kita sudah berusaha untuk menyelamatkan diri, tentang nasib kita aku pasrah kan semuanya pada yang maha kuasa, aku sudah benar-benar pasrah dengan keadaan, aku sudah sangat lelah apalagi Heni pasti dia juga merasakan hal yang sama dengan apa


yang aku rasakan.


"Ayo Hen, semangat" aku menyemangati Heni yang masih terus berlari.


"Iya lang, kamu juga harus terus semangat" Heni juga kembali menyemangati ku.

__ADS_1


Sebenarnya aku juga ingin menyerah tapi begitu melibat semangat dari Heni aku tidak boleh kalah, Heni saja semangat masak aku gak bisa, aku harus bisa lebih semangat lagi maka rasa lelah ini akan terbayar saat kita berhasil keluar dari gunung ini dengan selamat.


__ADS_2