Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 86 POV Gilang


__ADS_3

"Hey, Gilang cepat bangun jangan lemah seperti ini dong, gue tau Lo denger semua yang kita omongin tapi kenapa Lo gak mau jawab bahkan cuma diam saja, ayo lah Lang" kata Andi sambil mengguncang tubuhku.


"Udah Ndi, kasihan Gilang mungkin dia lemas dan lelah, lebih baik sekarang kita biarkan Gilang tidur dulu, kita jangan ganggu dia dulu, mungkin setelah


bangun dia akan kembali sehat seperti semula" ucap Sasa.


"Iya biarkan Gilang tidur saja, sambil kita menunggu Yanti karena sampai sekarang Yanti belum juga kembali, aku jadi kepikiran kalau Yanti kenapa-napa"


Andi terlihat sedih memikirkan nasib Yanti yang belum jelas dimana keberadaannya.


"Iya ya, dimana ya Yantii sekarang kenapa dia tidak juga kembali, bagaimana pun kita berhutang budi


sama si Yanti, kalau tidak ada dia mungkin kita juga tidak akan bisa berkumpul seperti ini" Sasa juga khawatir dengan keadaan Yanti.


"'Yanti, siapa Yanti, apa ada pendaki lain yang tersesat di gunung larangan ini seperti kita" tanya Heni bingung.


"Oh iya kamu belum pernah bertemu dengan Yanti ya, nanti aku kenalin dia sama kamu, dan Yanti itu bukan pendaki seperti kita" Sasa menjelaskan.


"Lalu, kenapa dia bisa berada di gunung larangan ini" Heni terlihat penasaran.


"Dia bukan manusia, tapi dia salah satu penghuni gunung larangan ini, tapi dia sangat baik dia berbeda dari jin yang lain, berkat dia aku dan Andi bisa


menemukan kalian berdua" Sasa menjelaskan lagi.


Aku masih bisa mendengar ucapan mereka dengan sangat jelas, tapi aku masih belum bisa menguasai tubuhku.


"Jadi kalian berteman dengan hantu, haduh kok bisa sih kalian malah berteman dengan hantu, bagaimana


kalau dia hanya pura-pura baik, dan dia justru punya niat jahat terhadap kita, masak kalian gak mikir sampai ke situ sih" Heni Usna dengan nada menggebu.


"Kamu tenang saja Hen, Yanti itu baik kok, dia benar-benar baik bahkan dia yang selalu membantu aku dan Andi, dia juga memberitahu kita tentang


keberadaan kalian berdua, kalau tidak ada Yanti belum tentu kita bisa berkumpul saat ini, percayalah sama aku dan Andi, Yanti itu baik" Sasa meyakinkan


Heni, tapi sepertinya Heni masih tetap dengan pemikirannya.


"Kenapa kalian bisa percaya begitu saja, sebaik-baiknya dia tetap saja dia itu jin penunggu gunung larangan ini, apa kalian lupa dengan ucapan nek Ngah waktu itu, dia bilang penunggu gunung

__ADS_1


larangan ini tidak ada yang baik sama sekali, lalu kenapa kalian malah percaya dengan dia" Heni terus membantah ucapan Sasa, ternyata dia masih belum


bisa percaya dengan Yanti.


"Dia baik Hen, asal kamu tahu ya tadi aku hampir saja mati karena Sukma ku akan di ambil oleh kuntilanak jahat penunggu gunung larangan ini, aku sudah tidak sadar bahkan aku sudah kerasukan, tapi Yanti membantu aku dia telah menyelamatkan nyawaku, sebelum aku masuk ke jurang atas tipu daya mereka" Sasa terus saja membela Yanti.


"Dan satu lagi, dia rela menggotong badanku saat aku tidak sadar, kalau memang Yanti berniat jahat bisa saja dia menjatuhkan aku bahkan membunuhku" tambahnya.


"Tidak Hen, kamu harus percaya Yanti itu kuntilanak merah tapi dia sangat baik tidak seperti kuntilanak merah yang lain, jadi kamu tidak perlu mencurigai


dia lagi, nanti kalau dia kembali aku akan memperkenalkan kamu sama dia, buktinya Gilang saja yang pertama kali bertemu dengan Yanti dia langsung percaya dengan Yanti" tambah Andi.


Aku memang awalnya tidak mempercayai Yanti dan aku juga tidak yakin kalau Yanti memang benar-benar


baik kepada kami, tapi setelah Gilang dan Sasa meyakinkan aku kalau Yanti itu baik maka mau tidak mau aku harus mempercayainya, karena tadi aku juga buru-buru karena akan menyelamatkan Heni.


Tidak enak sekali rasanya melihat mereka beradu argument seperti itu, ingin rasanya aku menengahi mereka tapi apa daya aku tidak bisa apa-apa saat


ini, karena tubuhku masih lemas.


Mungkin aku masih butuh beberapa waktu lagi untuk membuat tubuhku sehat lagi, karena tadi waktu aku


Mungkin apa yang dikatakan oleh mereka ada benarnya, aku akan tidur sampai tenagaku kembali seperti semula agar aku bisa menggerakkan tubuhku


lagi, aku juga berniat untuk bertanya kepada kakek buyut ku kenapa tadi aku tiba-tiba bisa berubah seperti itu, dan aku tau kakek pasti tau jawabannya,


tidak mungkin kalau kakek tidak tau.


Semoga aku bisa bertemu lagi dengan kakek buyut ku agar aku bisa meminta penjelasan kepadanya.


"Semoga mereka bertiga bisa menyudahi perdebatan ini agar aku bisa segera tidur dengan nyenyak untuk


mengumpulkan tenaga ku lagi" ucapku dalam hati.


"Ingat ya aku tidak akan percaya begitu saja dengan kuntilanak merah itu, aku akan tetap mengawasi dia, apapun yang dia lakukan aku akan mencurigainya" ucap Heni.


Setelah itu aku sudah tidak mendengar suara mereka lagi, mungkin mereka sudah capek beradu argument

__ADS_1


atau mungkin mereka tau kalau aku akan beristirahat sejenak.


Dan setelah aku tidak lagi mendengar suara mereka aku langsung bisa tidur dengan nyenyak malam ini,


mungkin pagi aku baru akan bangun.


"Apakah kamu baik-baik saja cucuku" aku mendengar suara kakek.


Dan saat aku membuka mata ternyata aku sudah bisa menggerakkan tubuhku, tapi sebelum itu aku


merasakan kalau kakek memegangi tubuhku dari kepala sampai kaki dan setelah itu aku langsung bisa


menggerakkan tubuhku lagi, dan mungkin kakek yang telah menyembuhkan aku.


"Kakek, Alhamdulillah kakek juga selamat, terimakasih ya kek karena telah menyelamatkan aku dari kuntilanak itu kalau tidak mungkin aku sudah dibawa oleh dia dan tidak alkan bertemu dengan


teman-teman ku" ucapku sambil mengecup takzimn tangan si kakek.


"Wahai cucuku, apakah kamu sudah lupa kalau kakek sudah berjanji akan selalu melindungi kamu, jadi kakek akan selalu menepati janji kakek kepada


kamu" aku melihat wajah Kakek tersenyum, dan senyumannya bisa memenangkan hatiku.


"Aku berhutang budi kepada kakek, apakah mungkin aku bisa membalas semua kebaikan yang kakek lakukan kepada ku" tanyaku.


"Kamu anak baik, pasti kamu bisa mengakhiri semua kejahatan yang ada di gunung larangan ini, kakek harap kamu bisa mengetahui semua misteri yang ada di gunung ini dan membuat gunung ini di gemari oleh banyak orang seperti dulu" kakek mengelus rambutku.


"Aku tidak bisa kek, tujuanku hanya satu aku ingin segera keluar dari gunung larangan ini bersama teman-teman ku, dan setelah itu aku tidak akan mau lagi menginjakkan kakilku di gunung larangan ini" ucapku serius sambil menatap si kakek.


Saat aku melihat matanya, aku melihat kakek seperti sedang menyimpan sesuatu, wajahnya terlihat


murung, apa mungkin kakek sangat kecewa karena aku tidak menuruti ucapannya.


"Maaf sekali lagi kek, bukannya Gilang tidak mau, tapi Gilang memang tidak bisa kek, Gilang takut kalau ini akan membahayakan nyawa teman-teman


Gilang, mereka sudah sangat lelah dan terluka kek" ucapku memelas.


"Kakek mengerti nak, ya sudah kalau kamu tidak bersedia" ucap kakek datar.

__ADS_1


"Tapi kek" belum selesai aku berbicara kakek sudah memotongnya.


__ADS_2