
POV Andi
"Sepertinya air kita udah mau habis, dimana ya ada mata air atau sungai gitu" ucapku.
"Ya mana gue tau, kan gue juga gak pernah kesini" jawabnya singkat.
"Ngeselin banget sih Lo" aku menjitak tangannya.
"Lo mau tunggu sini gak, biar gue cari air" tanyaku pada nya.
"Gak gue gak berani" tolaknya.
"Kan kaki lo lagi sakit, mending lo tunggu disini dulu biar gue cari air nanti gue kembali lagi ke sini" usul ku kepada Sasa.
"Gak mau, gue gak berani, nanti kalau hantu pendaki itu muncul lagi gimana, gue kan gak bisa lari" dia
memelas Iya juga sih, kan kakinya lagi sakit nanti kalau hantu pendaki itu datang bisa tertangkap dia, kasian juga sih cewek cantik ini nanti di bawa ke alam mereka dan gak bisa kembali lagi.
Aku berfikir sejenak mencari jalan keluar gimana caranya biar cepat dapet air sedangkan dia masih mengeluh kalau kakinya sakit.
"Terus gimana dong" aku mulai bingung.
"Gue juga gak tau, kaki gue juga masih sakit banget nih, gak bisa jalan cepat apalagi lari" dia mengelus kakinya yang kesleo.
Aku masih berfikir keras bagaimana jalan keluarnya agar kita bisa cepat menemukan air.
"Ya udah, ayo kita jalan kayak tadi aja, lo gue papah lama-lama pasti kita nemuin air buat minum" usul ku,
memang tidak ada pilihan lain selain mengajak Sasa kemanapun aku pergi, kasian kalau dia aku tinggal sendiri.
"Tapi pasti lama jalannya, kan kita juga sering berhenti karena capek" Sasa manyun dan seperti tidak yakin dengan saran ku.
"Ya mau gimana lagi, kan Lo gak mau gue tinggal sendirian" ucapku pada Sasa.
__ADS_1
"Ya udah deh, ayo kita berangkat sekarang biar cepat dapet air dan makanan" Sasa langsung mencoba berdiri sendiri tapi kembali terjatuh.
"Jangan banyak gaya, kaki lo masih sakit, belum bisa berdiri gak usah di paksain, lagian gue masih kuat buat ngangkat tubuh Lo kok" ucapku sambil memapah tubuh Sasa yang berat itu.
"Hehe, siapa tau kaki gue tiba-tiba bisa sembuh kayak ada keajaiban gitu" dia malah tertawa.
"Kalaupun kaki Lo sembuh, itu bukan karena keajaiban tapi karena tadi udah gue urut" ucapku kesal.
Aku terus memapah Sasa walaupun sebenarnya tubuh ku sudah sangat lelah, tapi tetap aku paksa agar tetap kuat menopang tubuh Sasa yang cukup berat itu, masih sama seperti tadi kita sering berhenti untuk melepaskan rasa lelah dan minum sedikit air untuk mengisi tenaga, kita harus menghemat air agar
tidak kehabisan, karena kita bisa kehausan nantinya.
Kita masih belum tau apakah sumber air masih jauh atau sudah dekat, jadi harus menghemat air sebisa
mungkin, kita hanya berhenti sebentar lalu kembali berjalan lagi.
Saat berjalan tiba-tiba tubuh ku terasa sempoyongan tapi masih aku tahan agar tidak ambruk, mataku tiba-tiba kunang-kunang dan badanku tiba-tiba terasa lemas, dan aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku.
Aku makin oleh dan "bruukk" tiba-tiba tubuh ku jatuh ke tanah, aku masih mendengar suara Sasa yang
kehilangan kesadaran dan sudah tidak bisa melihat dan mengingat apa-apa lagi saat ini.
Mungkin aku pingsan cukup lama, karena saat terbangun tiba-tiba sudah siang hari karena panas matahari yang sangat menyengat, saat alku membuka mata dan aku melihat ke sekeliling aku sama sekali tidak menemukan Sasa.
"Dimana Sasa, kok dia gak ada disini, dan tempat ini sepertinya tadi aku tidak berada di sini, kenapa aku bisa pindah ke sini apa Sasa yang memindahkan ku lalu dimana sekarang dia berada" aku bertanya-tanya karena masih bingung, bangun-bangun sudah berpindah tempat dan Sasa sekarang tidak ada di
samping ku.
Saat bangun aku sudah berada di bawah pohon dan tempatnya cukup tersembunyi karena banyak sekali semak belukar yang cukup tinggi, sehingga tidak akan ada yang tau keberadaan ku, kini aku mengkhawatirkan keadaan Sasa, dimana dia sekarang kenapa dia malah meninggalkan aku di tempat ini, aku takut Sasa dalam bahaya karena hantu pendaki itu selalu mengintai dimana
pun kita berada.
"Apa aku cari Sasa aja ya" pikirku
__ADS_1
"Tapi nanti kalau dia kembali ke sini dan mencari ku bagaimana, pasti kita malah terpisah, lebih baik aku
menunggu Sasa disini saja, dan semoga Sasa cepat kembali dengan selamat.
Aku masih belum tenang, karena hampir setengah jam aku menunggu tapi Sasa belum juga kembali, aku merasa was-was takut terjadi apa-apa dengan
Sasa, kakinya juga belum sembubh pasti jalannya juga masih pincang, kenapa dia bisa pergi sendiri, kenapa dia tidak menunggu ku sadar dan kita bisa pergi sama-Sama.
Dalam kegelisahan aku tiba-tiba merasakan kepala ku kembali pusing bahkan sangat sakit, perut ku juga terasa sangat lapar sekali, rasanya aku sudabh
tidak lagi.
"Apa mungkin hidup ku akan berakhir di tempat ini" aku meratapi nasibku yang malang ini.
"Kenapa aku jadi lemah begini sih, kenapa penyakit ini datang tidak tepat pada waktunya, harus nya aku tidak boleh sakit, dasar lemah" aku memukuli kepalaku sendiri.
"'Srek srek" aku seperti mendengar suara langkah kalki seseorang, aku berfikir apa mungkin itu Sasa, atau malah gerombolan hantu pendaki yang selalu
mengejar kita.
Aku berfikir kalaupun itu yang datang para hantu pendaki aku sudah pasrah, kepalaku sangat sakit, aku lelah, lapar dan haus menjadi satu, tidak memungkinkan sama sekali aku untuk berlari.
Aku hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi nantinya, memang badanku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Srek srek" suara itu sudah semakin mendekat dan semakin dengan sehingga hanya berjarak sangat dekat, aku hanya diam dan merem karena saking takutnya.
"Ndi, lo gak papa" seperti suara Sasa dan aku langsung membuka mata.
Dan ternyata benar, itu Sasa dan bukan hantu pendaki yang terus mengganggu kami, aku sedikit lega karena Sasa sudah kembali dengan selamat.
"Lo kenapa sih ninggalin gue disini, tega banget sih" aku cemberut dan sedikit marah.
"Habisnya gue khawatir dengan keadaan lo yang tiba-tiba pingsan, jadi gue inisiatif untuk mencari air agar kamu bisa minum dan tidak kehausan, gue juga cari makanan untuk menambah kekuatan lo lagi biar tidak lemas" Sasa berjalan masih pincang.
__ADS_1
"Kok lo berani banget sih, pergi sendiri, lo gak sadar kalau kaki lo itu masih sakit, gue khawatir tau, gue takut lo di kejar-kejar sama rombongan hantu pendaki tadi, kan kaki lo masih sakit dan lo gak mungkin bisa lari" aku memarabhinya karena sudah berani pergi sendiri.