Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 134


__ADS_3

Mereka semua langsung tertawa dengan bahagia, karena sebentar lagi tugas mereka akan selesai, tapi hari sudah semakin sore, dan perkiraan ini


sudah jam 5 sore, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Memang jaraknya cukup jauh, tapi mereka juga tidak bisa terbang seperti Yanti jadi mau tidak mau mereka harus berjalan.


"Kita kan dari tadi siang belum makan ya, pantes aja udah berasa lapar," Andi sambil mengelus perutnya.


Dan sekarang tugas Yanti sudah hampir selesai, sekarang tugas dia hanya mengantarkan Gilng dan


teman-temannya untuk turun daribgunung larangan ini dan keluar dari gunung larangan ini.


Tapi sekarang dia harus membantu mereka untuk menguburkan keempat jasad hantu pendaki, dia juga ingin memastikan kalau hantu pendaki bisa segera bebas dari jeratan hukum penguasa gunung larangan.


Sekarang Yanti melihat kalau mereka berempat sedang di siksa dan dipaksa untuk bekerja keras di alam jin, bahkan jika mereka melakukan kesalahan maka tubuh mereka akan penuh dengan luka, bahkan mereka tidak akan mendapatkan waktu untuk beristirahat walaupun hanya sebentar saja dan itu sangat kejam, mereka tidak melakukan kesalahan kepada dia tapi dia dengan seenaknya menahan roh


manusia itu agar tidak bisa kembali ke alamnya dan menjadikan mereka budak dan pelayannya.


Yanti lalu terbang dan membawa jasad itu, lalu dia menurunkan jasad itu di depan Gilang dan teman-temannya, lalu mereka semua memandang mayat itu, dan betapa senangnya mereka saat


melihat mayat itu karena itu memang benar-benar mayat dari hantu pendaki.


Anton yang tidak begitu paham dengan semua ini lama kelamaan menjadi paham karena dia jarang sekali mendapatkan gangguan saat berada di


alam gaib, dia bahkan hanya melihatbhantu pendaki saat mereka pertama kali naik ke gunung larangan.


"Wah Yan, ini memang benar-benar mayat dari hantu pendaki itu, dan sekarang kita sudah berhasil


menemukan keempat mayat itu," mereka semua bersyukur karena tugas mereka sekarang sudah selesai.


"Iya benar, aku hafal betul dengan wajah-wajah mereka semua walaupun mayatnya sedikit berbeda karena ada luka, tapi masih sangat jelas kalau itu


memang mayat dari hantu pendaki, " Gilanv juga tersenyum bahagia.


"Iya, dan sekarang tugas kalian tinggal memakamkan jenazah mereka," sambil tersenyum menatap mereka


semua.


"Terus sekarang gimana Yan, kamu akan terbang dan membawa mayat ini sedangkan kita kan gak tahu jalan menuju tempat kamu menyembunyikan


mayat mereka semua," wajah merekabterlihat kebingungan.

__ADS_1


Tenang saja, aku kan cuma sebentar saja terbangnya, nanti kalau sudah sampai aku akan langsung kembali kesini dan menemui kalian


semua, lalu aku akan berjalan bersama kalian untuk menunjukkan letak mayat mereka semua," Yanti menjelaskan.


Mereka semua langsung tertawa dengan bahagia, karena sebentar lagi tugas mereka akan selesai, tapi hari sudah semakin sore, dan perkiraan ini sudah jam 5 sore, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Memang jaraknya cukup jauh, tapi mereka juga tidak bisa terbang seperti Yanti jadi mau tidak mau mereka harus berjalan.


"Kita kan dari tadi siang belum makan ya, pantes aja udah berasa lapar," Andi sambil mengelus perutnya.


"Iya, tapi kita makan nanti saja kalau semuanya sudah selesai, jadi kita bisa menikmati makanan kita karena tugas kita kan sudah selesai," Gilang ingin


semuanya segera selesai.


Mereka melanjutkan perjalanan sambil menunggu Yanti, memang mereka sengaja jalan sendiri dulu karena kalau menunggu Yanti malah akan memakan


waktu, jadi lebih cepat mereka berjalan dulu karena Yanti juga sudah mengarahkan kemana mereka harus berjalan.


Lama di perjalanan tapi Yanti belum juga datang, tapi mereka terus melanjutkan perjalanannya.


"Yan, kamu kemana sih kok lama banget kembalinya, kita kira kamu lupa kalau kita udah jalan dulu," Andi malah cemberut.


"Kangen ya kamu sama aku," lalu mereka semua tertawa karena ucapan Yanti.


Mereka berjalan lagi, kali ini sedikit gangguan yang menghalangi mereka semua, tiba-tiba saja ada ular yang sangat besar di hadapan mereka, dan pastinya mereka langsung terkejut karena kemunculan ular itu yang tiba-tiba.


Mereka para cowok berusaha untuk mengusir ular itu, tapi sayangnya ular itu malah terus saja melawan mereka bahkan sangat membahayakan keselamatan mereka.


"Tunggu, sepertinya itu bukan ular biasa jadi kalian tidak akan bisa mengusirnya begitu saja," Yanti


mengingatkan mereka bertiga.


"Maksud kamu itu ular apa Yan, apa itu jin yang sedang menyamar menjadi ular," tanya Andi kebingungan.


"Iya, itu memang bukan ular biasa dan ular itu sangat berbahaya untuk kalian," Yanti kembali mengingatkan.


"Lalu kita harus bagaimana," tanya Gilang.


"Kalian semua mundur saja biar aku yang menghadapi ular itu, kalian lanjutkan saja perjalanannya, ikuti terus jalan itu jangan berbelok kemana-mana biar kalian bisa cepat sampai, setelah ular ini beres aku akan menyusul kalian," perintah Yanti.


Mereka langsung mengerti dengan ucapan Yanti, karena tujuan ular itu memang untuk menghambat perjalanan mereka, jadi lebih baik mereka langsung

__ADS_1


melanjutkan perjalanannya.


"Kamu hati-hati ya Yan, kita pergi dulu dan kamu jangan lama-lama," kata Gilang sambil berpamitan.


"Oke, kamu juga harus hati-hati dan jaga terus teman-teman kamu itu. Sepertinya akan ada yang terus menghalangi niat kita," Yanti kembali mengingatkan.


Gilang hanya mengangguk lalu dia mengajak teman-temannya untuk berjalan lagi, mengikuti perintah Yanti agar mereka segera sampai. Dan benar saja di sepanjang perjalanan ada saja


gangguan yang datang, banyak suara aneh yang mengikuti perjalanan mereka.


Bahkan banyak sekali penampakan yang mengganggu mereka, tapi mereka hanya menampakkan wujudnya dan tidak menyentuh ataupun menyerang mereka semua, walaupun itu cukup membuat mereka takut dan bulu kuduk


mereka langsung berdiri.


Mereka tidak menyerah begitu saja, mereka hanya fokus menatap ke bawah untuk melihat jalan agar mata mereka tidak menangkap para hantu yang


seperti sedang mengerubungi mereka


"Sialan, jelek banget sih mereka semua, ganggu pemandangan aja," Andimengumnpat karena kesal.


"Iya nih, padahal gunung ini sangat indah tapi sayang sekali mereka malahbmengganggu pemandangan kita," Gilang juga merasakan hal yang sama.


"Udah sih kalian gak usah banyak bacot, nanti kalau mereka dengar bisa gawat tau," Heni mengingatkan.


Mereka langsung diam dan hanya melihat kebawah, tapi mereka saling memegang carrier masing-masing agar tidak terpisah lagi seperti dulu.


Makhluk itu terus saja mengawasi mereka semua dengan mata merah menyala membuat mereka semakin ketakutan. Sedangkan Yanti belum juga


kembali sampai saat ini.


"Kita lari aja yuk biar cepat sampai," Usul Anton.


"Betul itu, tapi ingat tetap berpegangan tas depannya


masing-masing biar kita tidak terpisah lagi, oke," Gilang mengingatkan.


Mendengar aba-aba dari Gilang mereka langsung lari dan tetap memegang tas carrier di depan mereka


masing-masing, lalu setelah cukup jauh mereka berhenti.


Nafas mereka langsung tersengal-sengal, mereka mulai merasa lelah apalagi mereka belum makan dan

__ADS_1


hanya makan tadi pagi saja, sekarang mereka mulai merasakan rasa lapar yang sangat mengganggu.


__ADS_2