Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 82 POV Gilang


__ADS_3

Apa yang makhluk ini katakan tadi, aku bukan manusia biasa apa di kira aku ini Spiderman atau Hulk gitu, masa iya aku bukan manusia biasa.


Dia semakin mendekat, badanku sudah gemetaran tidak karuan gara-gara makhluk ini yang semakin mendekat ke arahku mana mulutnya bau banget lagi


membuat aku jadi pengen muntah gara-gara ini hantu.


"Aku akan membawa kamu pergi dari tempat ini, aku akan menikmati tubuhmu yang harum ini, ayo kamu ikut aku" hantu ini mencengkeram tangan ku dengan sangat kuat dan kencang.


Aku yang kaget langsung berusaha untuk melepaskan tangannya, aku berusaha sekuat tenaga tapi masih saja tidak bisa karena kekuatan makhluk ini sangat luar biasa, tenagaku tidak ada


dibandingkan dengan tenaganya.


"Lepaskan aku makhluk jelek, pergi kamu dari sini, jangan kamu terus menggangguku karena aku sama sekali tidak mengganggu mu" ucapku sambil


berteriak.


"Apanya yang tidak mengganggu, dengan kamu datang ke gunung larangan ini saja berarti kamu sudah mengganggu ketenangan kami para


penghuni gunung larangan ini, kamu tau selama ini tidak pernah ada manusia yang berani datang kesini, tapi kamu dengan sukarela malah menyerahkan


nyawamu untuk kami" makhluk itu langsung tertawa cekikikan dengan keras membuat gendang telingaku terasa sangat sakit sekali.


"Berhenti, pergi kamu" aku menutupi sebelah telingaku karena dia memegang satu tanganku.


"Tidak akan, ayo kamu ikut aku sekarang juga, aku akan menikmati tubuhmu yang sangat wangi ini, lebih baik kamu ikut aku daripada kamu tertangkap oleh hantu pendaki itu yang akan menjadikan kamu tumbal" dia kembali tertawa.


Aku hanya bisa diam sambil menutup mata, aku benar-benar tidak kuat melihat wajah makhluk ini yang sangat mengerikan bagiku, wajahnya


rusak bahkan masih mengeluarkan darah segar dan aroma amis yang sangat menyengat.


Rasanya aku sudah ingin pingsan, tapi aku menahan tubuhku agar tidak roboh karena kalau sampai itu terjadi dia akan dengan mudah membawaku


dan aku bisa mati di tangannya, walaupun rasa takut sedang menguasai ku tapi aku tetap berusaha untuk


melepaskan diri.


Aku menarik tanganku dengan kuat agar bisa terlepas dari genggaman makhluk ini, tapi sepertinya usahaku hanya menjadi sia-sia karena makhluk


ini sangatlah kuat dia bukan tandingan ku bahkan aku tidak bisa melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Ya Allah apa ini adalah akhir dari hidupku, tolong selamatkan aku ya Allah kalau misalnya aku harus berakhir di tangan iblis ini aku mohon selamatkan lah semua teman-temanku dan semoga mereka semua selalu dalam lindunganmu ya Tuhanku" aku berdoa


dalam hati sambil memejamkan mata.


Sekarang aku sudah pasrah karena berteriak pun akan percuma tidak akan ada yang mendengarkan teriakan ku saat ini, karena di hutan ini tidak ada manusia sama sekali dan aku hanya memejamkan mata sambil terus berusaha untuk berdiri.


Melepaskan diri pun percuma tenaga setan ini sangatlah kuat, jadi tidak mungkin aku bisa terlepas dari dia.


Padahal aku baru saja terbebas dari tangan hantu pendaki yang kejam itu, tapi sekarang aku malah berhadapan dengan sosok yang menyerupai


kuntilanak tapi dia sangat menyeramkan, mungkin ini sudah takdirku.


Ketika aku sudah benar-benar menyerah dengan keadaan ini tiba-tiba aku seperti mendengar suara kakek buyut ku.


"Cepat pergi cu, biar dia menjadi urusanku" ucap kakek.


"Baik kek, terimakasih" jawabku.


"Pergilah ke selatan disana teman-teman kamu berada, semoga setelah ini tidak ada lagi yang


menghalangi jalanmu" ucap kakek lagi.


sekencang mungkin walaupun berkali-kali aku terjatuh dan tersandung tapi aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu karena yang aku harapkan sekarang hanyalah bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan teman-teman ku.


"Aku sudah berlari cukup jauh, sekarang aku harus kemana lagi" aku mulai kebingungan.


Tapi aku terus saja berlari berharap bisa segera bertemu dengan teman-teman ku.


"Aaaaa" tanpa sengaja aku menyandung batu lalu aku terjatuh dan setelah itu aku sama sekali tidak


mengingat apapun.


Tapi saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat yang berbeda karena seingatku alku tadi terjatuh di tempat yang lapang tapi ini aku di


kelilingi oleh Bayu yang cukup besar.


"Aku dimana ini, kenapa aku bisa pindah di sini, apa mungkin aku sudah tertangkap oleh hantu pendaki itu" aku masih memegangi kepalaku yang terasa


pusing.

__ADS_1


"Gilang, kamu sudah sadar" aku seperti mendengar suara Sasa.


Dan saat aku sudah benar-benar sadar ternyata benar yang ada di depanku sekarang ini adalah Sasa dan Andi.


"Saaa, Andii apa bener ini kalian,aku gak sedang mimpi kan, ini beneran kalian dan bukan hantu pendaki yang sedang menyamar kan" aku menggoyangkan tubuh Sasa dan Andi karena aku masih trauma takut kalau ini bukan mereka yang asli.


"Iya ini gue Andi sama Sasa, ini beneran kita dan bukan hantu" Andi langsung memeluk aku.


Dan saat itu juga aku langsung menangis sesenggukan, aku sangat bahagia dan aku juga sangat terbaru bisa bertemu dengan Sasa dan juga Andi, ini masih seperti mimpi bagiku.


"Ya Allah akhirnya aku benar-benar bisa bertemu dengan kalian, susah payah aku menemukan kalian tapi akhirnya aku bisa menemukan kalian juga" aku masih nangis di depan mereka.


Begitupun juga dengan Andi dan Sasa mereka juga menangis, kita bertiga saling berpelukan dan menangis begitu saja, sudah banyak sekali masalah yang kita hadapi saat berada di gunung larangan ini, dan saat bertemu dengan mereka aku langsung mengeluarkan semua rasa sedih yang aku simpan saat ini, aku begitu lega saat bertemu dengan


mereka Ini adalah harapan baru untuk aku.


setelah kita berkumpul lagi pasti kita akan bisa menghadapi semuanya dengan mudah, karena sekarang kekuatan kita sudah bersatu kembali.


"Oh ya lang, dimana heni kenapa kamu sendirian" Sasa bertanya tentang Heni.


"Maafin gue ya, ini semua salahku seandainya aku bisa menjaga Heni dengan baik pasti ini tidak akan terjadi" aku menundukkan wajahku.


"Maksud kamu apa Lang, dimana Heni sekarang, ngomong dong jangan bertele-tele" Sasa terlihat sangat marah padaku.


"Heni tertangkap oleh hantu pendaki, dia sekarang di sekap di tempat mereka" ucapku tanpa menatap mereka berdua, sungguh aku sangat merasa


bersalah kepada mereka karena aku telah gagal menjaga Heni.


Sasa terlihat sangat marah bahkan dia memukulku dengan keras, lalu dia menangis sejadinya.


"Kamu gila Lang, kenapa kamu gak bisa jaga Heni, kenapa Lang, oh atau jangan-jangan kamu sengaja ninggalin Heni mangkanya dia sampai tertangkap,


iya kan" Sasa membentakku.


Aku hanya menunduk tanpa berani melihat ke arah mereka, aku tau aku salah besar jadi aku membiarkan Sasa melampiaskan kemarahannya kepadaku karena aku pantas menerima semua ini.


"Udah Sa udah, jangan seperti ini kasian Gilang dia juga tidak mau ini semua terjadi" Andi berusaha untuk menenangkan Sasa yang terus saja menangis.


"Kenapa kamu membela Gilang jelas-jelas dia salah Andii, buka mata kamu dia membiarkan hantu pendaki yang gila itu menangkap Heni, dan gara-gara dia juga kita bisa terjebak di sarang setan ini bahkan sekarang nyawa heni dalam bahaya, bukan cuma Heni tapi nyawa kita semua dalam bahaya dan itu gara-gara dia" Sasa menunjukku.

__ADS_1


__ADS_2