Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 84 POV Gilang


__ADS_3

Dan atas izin Allah dalam hitungan ke tiga kita berhasil mengangkat batu itu, dan aku langsung menyuruh Sasa untuk mengambil kuncinya sedangkan aku dan Andi menahan batu itu agar tidak jatuh kembali.


"Cepat Sa kamu ambil kunci itu dan kamu bebaskan Heni" dengan gerakan cepat Sasa langsung berhasil


mengambil kunci itu.


Setelah kunci itu berhasil di ambil aku dan Andi langsung melepaskan batu itu kembali.


"Ayo cepat Sa, aku takut mereka datang lagi aku tidak mau disini terus aku mau pulang" Heni kembali


menangis.


"Iya sabar Hen sekarang kita akan keluar dari sini" Sasa berusaha untuk memutar kunci agar bisa terbuka.


"Srek srelk" aku seperti mendengar suara langkah kaki.


"Suara apa itu Ndi, Lo dengar gak seperti ada suara langkah kaki" ucapku.


"Iya aku juga mendengarnya, apa itu para hantu pendaki itu dan mereka sudah kembali" Andi juga terlihat ketakutan.


"Cepat Sa itu mereka sudah kembali, ayo cepat buka pintunya sebelum mereka datang kesini" teriakku.


"Bentar ini susah sekali" Sasa terlihat sangat panik sedangkan Heni sudah menangis karena ketakutan.


"Fokus Sa fokus" teriak Andi.


"'Suara apa itu" terdengar ada suara teriakan.


"Jangan-jangan mereka sudah kesini ayo cepat kita cek" ucap hantu pendaki itu lalu suara mereka terdengar sangat dekat.


"Alhamdulillah, sudah bisa" aku yang melihat itu langsung menarik tangan Heni dan Sasa lalu aku mengajak mereka untuk bersembunyi, dan Andi


mengikuti aku dari belakang.


"Sialan mereka berhasil kabur, kemana si Riska kenapa dia malah tidak ada, di suruh menjaga wanita itu malah dia pergi, sialan" hantu pendaki itu terlihat sangat marah saat melihat Heni sudah tidak ada lagi di dalam penjara mereka.


"Mereka pasti sudah kesini dan membebaskan wanita itu" geramnya.


"Lihat pintunya sudah terbuka pasti dia sudah berhasil kabur dengan teman-temannya" ucap temannya.


"Kita cari mereka atau kita cari Riska dulu" lalu mereka berunding.


"Kita cari si Riska dulu, kemana dia sampai-sampai dia meninggalkan wanita itu sendirian, aku yakin pasti ada yang tidak beres karena Riska tidak mungkin meninggalkan tempat ini tanpa alasan"


sepertinya hantu pendaki yang suka marah-marah itu adalah reader mereka karena dia yang selalu memberikan perintah dan dia juga yang selalu


mengambil keputusan.


Mereka langsung pergi mungkin mencari teman mereka yang tadi berjaga disini, aku sedikit lega karena mereka tidak berhasil menemukan kami di


tempat ini.


"Untuk saat ini kita aman ya, tapi kita harus lebih berhati-hati lagi" ucapku.

__ADS_1


"Hen kamu gak papa kan, kamu tidak ada yang luka kan, aku khawatir banget loh sama kamu" Sasa memeluk Henu dengan erat.


"Aku tidak apa-apa kok Sa, terimakasih ya kalian sudah datang dan menyelamatkan aku" heni membalas pelukan Sasa.


"Gue boleh ikut meluk kalian gak, kan kita sama-sama senang" ucap Andii.


"Ngapain sih Lo, awas ya kalau berani peluk sembarangan, gue jitak kepala Lo nanti" ancam Sasa.


"Kan gue juga seneng terus pengen peluk kalian juga, suka cita gitu" Andi memanyunkan mulutnya.


"Cabul banget sih pikiran Lo" aku menertawakan sikap Andi.


"Aku senang karena sekarang kita berempat sudah bisa berkumpul lagi, tidak ada yang luka kan, aku khawatir banget loh sama kamu" Sasa memeluk


Heni dengan erat.


"Aku tidak apa-apa kok Sa, terimakasih ya kalian sudah datang dan menyelamatkan aku" Heni membalas pelukan Sasa.


"Oh iya kalian tau tidak dimana keberadaan Anton" aku menanyakan Anton kepada mereka.


"Kata Yanti sekarang ini Anton sedang berada di alam mereka, anton tersesat disana dan yang bisa menyelamatkan Anton hanya kamu Lang" Andi menatapku dengan serius.


"Aku, apa mungkin aku bisa menyelamatkan Anton, tapi bagaimana caranya karena aku tidak mengerti sama sekali" aku bingung dengan ucapan Andi.


"Udah, sekarang lebih baik kita pergi dari tempat ini, dan kita kembali ke tempat tadi karena kata Yanti tempat tadi aman untuk kita bersembunyi" Andi


memberikan saran.


"Tapi aku takut, aku takut nanti kita dikejar nereka dan kita akan terpisah lagi, aku tidak mau itu terjadi lagi" Heni menangis karena dia ketakutan.


"Tenang Hen, kita tidak akan terpisah lagi kita akan selalu bersama sampai kapanpun" ucapku


menenangkan Heni.


"Gini aja, kita saling pegang ransel masing-masing jadi kalau ada apa-apa kita sama-sama lari dan ingat, jangan sampai pegangan kalian terlepas dan


ingat, kita harus saling menjaga satu sama lain jangan sampai mengambil keputusan sendiri" ucapku mengingatkan mereka.


"Oke, aku akan di depan dan Heni di belakangku, lalu Sasa dan Andi di barisan paling belakang, ingat saling pegang ransel masing-masing" tambah ku.


"Kamu yakin ini akan berhasil, tapi aku takut kalau mereka tiba-tiba datang dan mengejar kita" ucap Sasa.


"Aku yakin kita akan bisa melewati ini semua kalau kita selalu bersama, tidak akan ada yang bisa menyakiti kita asal kita masih bersama" aku


meyakinkan mereka semua.


Kita mulai berjalan agak cepat tapi tidak berlari, mataku awas melihat ke segala arah dan memastikan kalau hantu pendaki itu tidak ada di sekitar sini.


"Kita harus sama-sama waspada ya" Ucap Andi


Kita sudah berjalan cukup jauh, dan sampai saat ini kita masih aman-aman saja.


"Berhenti kalian" terdengar suara yang sangat berat di belakang kami.

__ADS_1


Lalu kami serempak menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya kami ternyata para hantu pendaki itu sudah berada di belakang kami.


"Lari" kita berlari dan sesuai kesepakatan kita akan tetap berpegangan.


"Tolong" aku mendengar suara Andi.


"Andi" ternyata mereka berhasil menangkap Andi.


Aku melihat Heni dan Sasa sedang menangis, pasti mereka sangat ketakutan saat ini.


"Kalian berdua tunggu disini, ingat kalian jangan kemana-mana tetap disini" Heni dan Sasa mengangguk.


Aku mendekat kearah hantu pendaki itu, dan mencoba untuk melepaskan Andi.


Tanpa aba-aba aku langsung menyerang mereka dan mereka membalas serangan ku, satu orang


memegangi Andi dan yang dua menyerang ku, untung saja aku mempunyai ilmu beladiri yang cukup


mumpuni jadi bisa aku gunakan saat aku dalam keadaan mendesak seperti ini.


Hantu pendaki itu memukul ulu hatiku yang membuat aku langsung jatuh terkapar, tubuhku sudah sakit


semua, dan saat itu aku langsung mendengar hantu pendaki itu tertawa dengan sangat puas saat melihat


keadaan ku.


"Gilang, bangun lang, Lo pasti bisa jangan menyerah bangun Lang" aku mendengar teriakkan Andi, tapi


sayangnya tubuhku ini sudah terasa sangat sakit bahkan untuk berdiri saja aku tidak bisa.


Aku merasakan sakit yang luar biasa saat hantu pendaki itu menginjak kakiku, tapi aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena semakin aku melawan maka mereka akan semakin menyiksaku dan aku tidak mau berakhir disini, karena aku belum bisa membebaskan teman-teman ku dari gunung larangan ini.


Aku melihat ke arah Heni dan Sasa mereka terlihat sangat ketakutan, bahkan Heni sudah menangis


sesenggukan pasti dia takut kalau hantu pendaki itu akan kembali menangkap dia seperti tadi.


"Hahaha, anak ingusan mau melawan kita rasakan itu bahkanbsekarang kamu berdiri pun sudah tidak


bisa, kamu tangkap kedua wanita itu dan seret mereka kesini jangan beri ampun" perintahnya.


"Lari Hen, Sa cepat kalian lari karena kalian harus selamat cepat lari" aku berteriak saat hantu pendaki itu mendekat kearah Heni dan Sasa.


"Tidak, aku tidak mau ikut kalian lepaskan tanganku" aku masih bisa mendengar Heni dan Sasa menangis.


"Sakit, tolong lepaskan, sakit" aku melihat ternyata dia benar-benar menyeret Heni dan Sasa dengan kasar, yang dia pegang adalah rambut mereka


lalu menyeretnya. Aku yang melihat kedua sahabatku di seret dan diperlakukan seperti binatang


benar-benar tidak terima amarahku benar-benar memuncak.


"Setan sialan, akan aku bunuh kamu karena telah berani menyentuh sahabatku" entah kekuatan dari mana aku langsung berdiri, tiba-tiba tubuhku


memerah aku mengerang seperti harimau, dan dengan perlahan aku berubah menjadi harimau yang sangat besar.

__ADS_1


__ADS_2