
POV Gilang.
Aku senang melihat Heni makan dengan lahap kayaknya dia juga lapar karena tadi malam kita cuma makan buah jadi pasti jadi cepat lapar.
"Gimana kaki kamu sudah sembuh apa belum" tanyaku pada Heni.
"Udah baikan kok, kan tadi malam sudah kamu urut jadi ya sudah agak enakan" jawabnya.
"Terus buat jalan masih sakit gak" tanyaku lagi.
"Ya sedikit sih" jawabnya
Kita makan mie instan itu sampai ludes tidak tersisa sangat nikmat sekali rasanya, aku bersyukur karena hari ini aku masih bisa makan sampai kenyang
aku tidak tau nasib kami kedepannya akan seperti apa.
"Alhamdulillah deh kalau gitu, aku lega kalau kamu sudah sembuh" ucapku
"Terus gimana rencana kamu selanjutnya apa kita akan melanjutkan perjalanan sekarang" Heni bertanya pada ku.
"Ya tergantung kamu kalau kaki kamu sudah sembuh dan badan kamu udah gak demam lagi ya kita bisa
melanjutkan perjalanan sekarang" jawabku.
"Kaki aku sudah sembuh kok, kita lanjutin perjalanan sekarang aja gak papa" ucap Heni.
"Kamu beneran sudah sembuh kaki kamu juga sudah kuat buat jalan" tanyaku memastikan
Aku tidak mau memaksakan Heni untuk melanjutkan perjalanan karena takutnya nanti di jalan dia sakit lagi dan akan lebih parah dari ini, nanti kita juga
yang akan susah apalagi kita masih di intai oleh hantu pendaki yang dari kemarin terus mengejar kita.
"Kalau kamu masih mau istirahat tidak apa-apa kok Hen, aku akan nungguin kamu sampai kamu
benar-benar sembuh" aku mengelus rambut Heni.
"Aku yakin kok Lang, aku sudah tidak kenapa-napa aku sudah benar-benar sehat lagi, kamu lihat saja
__ADS_1
aku sudah tidak lemas seperti kemarin kan" Heni terus meyakinkan aku
"Baik kalau itu yang kamu mau dan kamu sudah benar-benar yakin kalau kamu sudah sembuh dan kaki kamu sudah tidak sakit lagi, kita alkan
melanjutkan perjalanan sekarang" ucapku pada Heni.
"Iya lang, aku juga khawatir dengan keadaan Andi, Sasa, dan juga Anton, aku takut mereka kenapa-napa jadi kita harus segera mencari mereka" ucap Heni bersemangat.
"Ya udah kita beresin dulu barang-barang kita habis ini kita langsung berangkat ya" ucapku pada Heni.
"Oke" Heni langsung membereskan semua barang-barang nya begitu juga dengan ku.
Aku langsung membereskan peralatan untuk memasak dan aku juga membuang bungkus mie instan yang tadi habis aku buat aku juga membereskan sisa kulit buah yang tadi malam aku dan Heni makan, setelah semuanya beres aku dan Heni bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.
"Kamu minum obat ini dulu biar demam kamu gak kambuh lagi, kan bahaya kalau nanti kamu tiba-tiba
demam lagi" aku memberinya obat penurun panas.
"Iya biar aku minum dulu" Heni meminumnya.
"Gak ada yang ketinggalan kan" tanyaku.
"Masih aman kok, kan tadi malam aku baru ambil minum dan kita cuma meminumnya sedikit karena tadi malam kan kita langsung tidur nyenyak jadi kita
tidak minum" jawabku.
"Sip kalau begitu jadi kita sudah siap buat melanjutkan perjalanan" ucap Heni dengan semangat.
Aku senang melihat semangat Heni, kita memang harus terus semangat dan kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, mereka tidak boleh mendapatkan kita sebagai tumbalnya kita harus yakin kalau kita akan selamat.
Tepat pukul 7 kita keluar dari gua ini dan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri hutan dan melewati jalan yang cukup terjal, kami juga harus lebih berhati-hati takut kalau hantu pendaki
itu tiba-tiba datang dan menangkap kami jadi kami harus lebih berhati-hati lagi.
Dalam perjalanan saat ini masih aman-aman saja belum ada gangguan sama sekali tapi kami tidak boleh terkecoh karena mereka bisa melakukan
tipu daya apapun agar kita bisa lengah dan tertipu oleh mereka.
__ADS_1
"Tetap waspada Hen, kita tidak boleh lengah sedikit pun kita harus menajamkan mata dan telinga agar kita bisa mendengar gerak gerik mereka kalau mereka mau mendekat ke arah kita" ucapku pada Heni agar tetap waspad.
"Iya kamu benar mereka bisa ada dimana saja saat ini dan kita harus lebih waspada ucapnya.
"'Sebenarnya hutan ini sangat indah ya, tempatnya bersih dan pemandangan cukup indah, hawanya sejuk banget tapi sayang gak ada pendaki lain yang bisa menikmati indahnya alam di gunung ini" Heni terus melihat hutan ini sambil senyum-senyum mungkin dia terpesona dengan keindahan alam nya yang sangat cantik.
"Hutan ini bersih kan karena memang tidak ada manusia yang berani kesini, coba aja gunung ini bisa di nikmati oleh semua orang pasti tempat ini juga akan kotor karena banyak sekali manusia yang suka membuang sampah sembarangan, bilangnya pecinta alam tapi kalau di alam bebas malah tidak bisa menjaga alam malah membuang sampah bekas makanan sembarangan" ucapku sambil melihat ke arah Heni
"Sangat betul sekali ucapan kamu, dan aku sangat setuju" jawab Heni sambil memberikan dua jempol nya ke arahku.
Memang tidak semua manusia suka merusak alam sebagian dari mereka memang benar-benar mencintai alam dan selalu menjaganya, banyak juga
yang menanam pohon di hutan yang sudah gundul karena ulah manusia, ya itulah sifat manusia ada yang suka merusak tapi banyak juga yang suka
memperbaiki.
"Kamu udah capek belum, kalau kamu sudah capek ngomong aja biar kita istirahat dulu" aku bertanya pada heni.
"Belum kok, kita kan jalannya pelan-pelan jadi gak cepat capelk" jawabnya.
"Ya pokonya kalau kamu udah capek langsung saja ngomong ya dan kita akan langsung istirahat" ucapku mengingatkan Heni.
Aku masih khawatir dengan keadaan Heni karena dia baru saja sembuh dari demamnya nanti kalau di
paksakan aku takut kalau dia akan demam lagi seperti tadi malam.
"Kamu yakin ini jalannya sudah benar" Heni bertanya pada ku.
"Ya aku juga gak tau jalannya, kita ikuti aja jalannya semoga kita bisa menemukan teman-teman kita" jawabku.
Sebenarnya aku juga tidak tau jalan yang kita lewati ini sudah benar atau belum karena kan ini juga baru pertama kalinya aku naik ke gunung ini, jadi aku hanya mengikuti jalan lurus saja, entah ini jalan yang benar atau malah jalan yang salah dan yang paling penting kita sudah berusaha untuk mencari jalan
keluar.
"Semoga saja jalan yang kita pilih ini jalan yang benar agar kita bisa menemukan mereka secepatnya" kata
Heni.
__ADS_1
"Anton dimana ya, apa dia di tempat kemarin saat kita terpisah" tanyaku pada Heni.
"Ya mana aku tau, tapi bisa juga sih dia kembali ke tempat kemarin dan menunggu kita disana" jawab Heni.