
"Tidak bisa dibiarkan mereka ini, susah banget sih di bangunin, udah kaya batu aja" Yanti mendengus kesal.
Gilang yang mendengar Yanti marah-marah mulai membuka mata, dia melihat kearah Yanti yang masih terlihat kesal.
"Ada apa sih Yan, pagi-pagi kok udah marah-marah kenapa sih kamu" Gilang yang baru saja membuka mata bingung karena tiba-tiba Yanti sudah marah.
Yanti yang melihat Gilang merasa lega karena akhirnya ada yang mau bangun juga.
"Bangunin tuh teman-teman kamu yang lain, lihat ini sudah pagi dan kalian aku bangunkan dari tadi malah gak mau bangun, padahal kita harus segera berangkat agar nanti tidak kemalaman" Yanti menjelaskan kepada Gilang.
Gilang langsung menepuk jidat, sadar kalau dia dan teman-temannya sudah tidur cukup lama dan sekarang waktunya bangun untuk mencari jasad
dari hantu pendaki.
"Iya deh Yan, aku bangunkan mereka sekarang, tapi kan kita harus cari makan dulu biar nanti waktu di
jalan kita tidak lemas dan gak mudah lelah" kata Gilang.
"Udah soal makan tenang saja, aku akan mencarikan kalian makan, pokoknya kamu bangunin dulu mereka
dan aku akan mencari makan untuk kalian" tanpa banyak bicara Yanti langsung terbang untuk mencari
makanan.
Dalam hati Gilang sangat bersyukur karena mereka dipertemukan dengan Yanti, karena sampai saat ini yanti sudah sangat membantu mereka disaat mereka
semua kesusahan.
Dia sangat bersyukur karena disaat kesusahan banyak sekali bantuan yang datang, Gilang sadar setiap pertolongan datangnya dari Allah, jadi dia
menitikkan air mata karena dia sendiri selama ini jarang mengingat Tuhannya.
"Albamdulillah ternyata Yanti memang sangat baik" sambil tersenyum.
Mereka semua akhirnya bangun dan mencuci muka dengan air yang ada di botol mereka, karena memang tidak jauh dari mereka ada mata air jadi
mereka nanti bisa mengisinya lagi.
Yanti yang dari tadi mencari makan juga akhirnya sudah datang, dia membawa makanan yang bisa dimakan oleh Gilang dan teman-temannya.
"Nih kalian makan dulu biar kuat jalannya, habis ini kita harus langsung berangkat untuk mencari jasad para hantu pendaki, kasian sekali mereka sekarang sudah ditangkap oleh raja jin karena mereka dianggap gagal untuk menjalankan tugas, dan mereka sekarang disiksa oleh para jin jahat itu,
bahkan mereka dijadikan budaknya" Yanti menjelaskan.
Gilang dan teman-temannya yang mendengar itu merasa sangat kasihan, walaupun hantu pendaki itu sudah jahat tapi mereka melakukan itu semua
dengan terpaksa.
Setelah makan akhirnya mereka berangkat, Yanti agak ingat tempat waktu mereka meninggal di gunung larangan ini.
__ADS_1
"Jauh gak Yan" tanya Andi yang penasaran.
"Ya masalahnya, mereka berempat itu matinya tidak di satu tempat, ada beberapa titik di gunung ini tempat mereka meninggal" ucap Yanti mengingat
kejadian dulu.
"Apa, jadi mereka matinya berpencar gitu maksud kamu" Heni yang mendengar itu langsung kaget.
"Iya, seingat aku itu satu orang dulu yang meninggal, terus ditinggal sama yang tiga karena mereka masih terus mencari jalan keluar, dan begitu terus sampai mereka meninggal semuanya di gunung larangan ini" Yanti kembali menjelaskan.
"Gak kebayang deh jadi mereka, melihat sahabatnya meninggal satu persatu, pasti sedih banget mereka,
apalagi kita yang sudah jelas-jelas tau kalau kita tidak menolong mereka pasti kita akan menyesal seumur hidup" Andi menimpali.
Sekarang mereka semua tidak ada yang terpaksa untuk menolong hantu pendaki, karena sebenarnya mereka semua adalah anak-anak yang baik, pasti
tidak akan tega dengan sesama manusia.
Jalan yang mereka lewati sangat terjal, jadi agak sulit untuk mereka bergerak cepat, sedangkan kabut sudah mulai datang dengan sangat tebal dan lumayan mengganggu penglihatan mereka.
"Gimana nih, kabut sudah mulai datang dan cukup tebal, kita berhenti atau lanjut" tanya Anton.
"Lanjut saja, karena aku yakin ini adalah salah satu usaha jin jahat itu untuk menghalau niat baik kita ini" ucap Yanti dengan sangat yakin sekali.
Tanpa bertanya lagi mereka langsung melanjutkan perjalanan sesuai apa yang Yanti katakan, dia tau pasti mereka yang sudah berniat jahat tidak
Wuusss
Suara angin yang sangat kencang menerpa tubuh mereka semua, dan pasti mereka akan sangat kedinginan.
"Dingin banget sih disini, aku gak kuat sama dinginnya" Sasa merasa tubuhnya sangat kedinginan.
"Sabar Sa, kita harus tetap lanjut dan jangan sampai kita berpisah lagi" Gilang mengingatkan.
Angin kencang tiba-tiba datang, dan mereka langsung berhenti karena kedinginan, apalagi kabut itu belum juga menghilang, mereka pasti akan terus di ganggu oleh para penghuni gunung larangan.
"Aaaaaa' Heni yang berada di paling pinggir saat mereka berhenti langsung di seret oleh sesosok makhluk yang sangat menakutkan, dia menarik
kaki Heni masuk kedalam semak.
"Heniiiii" Sasa yang melihat itu langsung berteriak histeris dan teman-teman dia yang lain langsung
mengejar Heni.
Mereka terus berteriak memanggil Heni, dan mereka terus mencari keberadaan Heni saat ini, sebelum
makhluk itu membawa Heni lebih jauh lagi dan mereka akan kehilangan jejak.
"Heniii" mereka terus berteriak.
__ADS_1
"Oke, kalian bertiga tunggu saja disini jangan sampai kalian berpencar, ingat apapun yang terjadi kalian harus tetap ditempat ini jangan bergerak sedikitpun" kata Yanti.
"Aku dan Gilang kita akan mencari Heni, aku akan mengajak Gilang terbang agar kita bisa cepat bertemu dengan Heni" tambahnya.
Mereka hanya diam dan terlihat sangat ketakutan sekali, apalagi mereka melihat sendiri Heni yang diseret seperti itu.
"Oh iya, ini kalian pegang kalung ini agar tidak ada yang bisa menyentuh kalian, yang penting kalian harus ingat apapun yang terjadi kalian harus tetap
disini" Gilang melepaskan kalung dari kakek buyutnya.
Setelah mereka bertiga mengerti Yanti langsung mengajak Gilang terbang untuk mencari Heni, mereka berkeliling kemanapun untuk mencari Heni, dan akhirnya mereka melihat Heni yang masih diseret oleh makhluk tinggi besar dan bertanduk, dan Yanti langsung turun kebawah untuk menolong Heni.
Saat turun terlihat Heni masih meronta dan makhluk itu tidak menghiraukan sama sekali.
"Berhenti dan lepaskan temanku" tanpa banyak bicara Gilang langsung menyerang makhluk itu, sedangkan Yanti langsung membawa Heni untuk terbang dan mengantarkan dia ke tempat temannya yang lain.
Tidak lama setelah itu Yanti langsung kembali dan membantu Gilang melawan makhluk itu, wajahnya memang sangat menakutkan, dia sangat besar tubuhnya berwarna hijau, terlihat sangat
mengerikan.
Gilang terus melawan dia tanpa ampun karena dia telah berani menyentuh temannya, Gilang menggunakan kekuatannya dan memukul makhluk itu terus menerus, dan ternyata makhluk itu bukan
tandingan Gilang karena dia langsung mati ditangan Gilang tanpa membutuhkan waktu yang lama.
"Sudah ayo kita pergi dari sini, dia sudah mati jadi tidak akan mengganggu kalian lagi" ucap Yanti dan mereka langsung terbang lagi.
Dan saat dalam perjalanan mereka seperti melihat tubuh manusia dari kejauhan, dan karena rasa penasaran, mereka langsung turun untuk memastikan.
"Yann. ini benar-benar mayat manusia dan wajahnya mirip sekali dengan salah satu hantu pendaki wanita
itu" Gilang langsung ingat dengan wajah hantu pendaki itu.
"Oke, kita kumpulkan mayat mereka ke tempat yang aman, dan setelah semuanya sudah terkumpul kita
langsung kuburkan mereka dengan layak" Yanti memberikan masukan dan Gilang langsung mengangguk.
Mereka langsung terbang kembali ke tempat teman-teman Gilang.
"Aku sudah menemukan salah satu mayat hantu pendaki itu" Gilang memberitahu mereka.
"Ini akan menjadi urusanku, aku akan membawa mayat itu ke tempat yang aman, lalu kita akan menguburkan jenazah mereka secara bersamaan" kata Yanti.
Mereka semua setuju dengan ucapan Yanti karena memang tidak ada cara lain, mereka harus dimakamkan
secara berdampingan karena mereka adalah sahabat sejati dan tidak boleh dipisahkan.
"Sekarang kita cari lagi mayat yang lain, pasti mereka semua juga tidak jauh dari sini" ucap Gilang dengan
bersemangat.
__ADS_1