Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 133


__ADS_3

Setelah itu salah satu dari mereka jatuh sakit karena kelaparan, kelelahan, dan kehausan. Dan pada akhirnya dia meninggal di dalam goa itu, temannya


yang mengetahui itu langsung panik dan nangis dia tidak tahu harus bagaimana lagi sedangkan ketiga temannya sudah meninggal di gunung itu.


Dan dia memutuskan untuk pergi dari goa itu, dia tidak mau mati karena kelaparan seperti teman-teman dia yang lain.


Dan sampai sekarang belum diketahui dimana jasad dari hantu pendaki yang terakhir, karena Gilang dan


teman-temannya masih terus mencari jasadnya.


"Kita harus cari kemana lagi ini Yan, hari juga sudah mau sore dan kita belum juga menemukan satu mayat lagi, apa mungkin dia mati berhari-hari


setelah teman-temannya yang lain mangkanya jarak dia sangat jauh dari jasad teman-teman dia yang lain," Heni sudah terlihat kelelahan.


"'Sepertinya memang begitu tapi kita tidak boleh menyerah dan kita harus tetap menemukannya, kan


kasihan dia kalau sampai jasadnya tidak ketemu sedangkan teman-teman dia yang lain sudah ketemu jasadnya," Yanti mengingatkan.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan mengikuti kemana Yanti berjalan, mereka berjalan perlahan dan tidak terlalu buru-buru karena mereka


pasti akan sangat lelah.


Mereka melihat seperti air terjun di kejauhan, karena penasaran mereka langsung berlari untuk mendekati air terjun itu, Yanti ingin bicara sesuatu tapi tidak di dengarkan oleh mereka, malah mereka langsung lari karena saking penasarannya dengan air terjun itu.


"Wah, itu ada air terjun disana ayo kita coba lihat dulu, sepertinya sangat bagus sekali tempatnya," Heni menunjuk air terjun itu.


Dan setelah berlari akhirnya mereka sampai juga di air terjun itu, mereka sangat kagum saat pertama kali


melihatnya karena pemandangan disana sangat bagus dan cantik membuat siapapun pasti akan kagum saat melihatnya.


Mereka mendekati air terjun itu, tapi saat mereka semakin dekat mereka sangat kaget dan juga bingung karena air yang ada di air terjun itu berbeda karena berwarna merah.


"Loh, kok airnya merah ya, tapi sumpah indah banget tahu tempat ini, udah seperti surga dunia beneran dan gue belum pernah melihat air terjun sekeren dan sebagus ini," Anton sangat kagum dengan keindahannya.


"Eh tunggu deh, sepertinya air terjun ini adalah air terjun yang akan kita datangi waktu itu, dan ini adalah air terjun yang membuat kita sampai


tersesat karena kita ingin sekali melihatnya, dan ternyata memang benar air terjun ini sangat indah sekali," Gilang tersenyum senang karena mereka bisa


menikmati keindahan air terjun merah yang menjadi tujuan utama mereka di gunung larangan ini.

__ADS_1


"Ini adalah air terjun merah yang terkenal keindahannya itu, dan ini biang kerok kebandelan kita dan kita naik ke gunung larangan karena ingin melihat ini," mereka langsung tertawa bersama.


Memang itu tujuan mereka dan akhirnya mereka sekarang tahu seperti apa air terjun merah itu, dan memang benar airnya berwarna merah seperti


darah.


Makanya air terjun itu di beri nama air terjun merah karena memang airnya berwarna merah, waktu itu nek Ngah juga sudabh menjelaskan kepada mereka


asal mula air terjun merah.


"Heh tunggu, kalian ini mau apa sih kesini. Dari tadi aku panggil kalian tapi kalian malah tidak peduli, ini itu tempat yang berbahaya untuk kalian ngapain


kalian malah disini, ayo kita pergi dari sini sebelum penjaganya datang dan akan menyerang kalian," Yanti mengingatkan.


"Bentar dong Yan, ini kita kepo banget sama air terjun ini, apalagi tempatnya sangat indah sekali dan kita


senang sekali bisa kesini dan mengetahui keindahan alamnya," sambil tersenyum melihat air terjun merah.


"Oke kalau begitu kalian boleh bermain-main dulu disini tapi janji ya kalau kalian akan sebentar saja disini," Yanti mengingatkan mereka untuk berhati-hati.


Karena memang air terjun merah adalah tempat yang sangat berbahaya untuk Gilqng dan teman-temannya


karena air terjun merah adalah tempat penguasa gunung larangan dan para jin jahat mengambil tumbal dan mengadakan upacara sesembahan agar


Tapi untung sekali saat itu air terjun merah sangat sepi sekali dan tidak ada yang menjaga sama sekali, jadi mereka semua masih aman.


"Dasar mereka semua ini memang masih kecil, badannya aja yang gede tapi otaknya masih kayak anak kecil, lihat air udah pengen nyebur aja," Yanti tertawa melihat tingkah Gilang dan teman-temannya.


Biar bagaimanapun mereka memang baru berumur belasan tahun, jadi mereka masih seperti anak-anak


dan masih ingin menikmati masa remajanya.


Saat Yanri melihat mereka seperti itu dia malah teringat dengan masa dulu saat gunung ini masih aman dan tentram, dulu dia sering sekali main di


air terjun merah karena banyak manusia disana yang juga ingin menikmati keindahannya.


Saat mereka asyik bercanda dan menikmati keindahan alam dari air terjun merah itu, mereka seperti melihat sesuatu di air terjun itu, jadi mereka


memutuskan untuk melihat lebih dekat lagi agar mereka bisa memastikan apa yang ada disana.

__ADS_1


"Itu apa ya disana," sambil menunjuk kearah benda itu.


"Kita lihat saja dulu lebih dekat," kata Aldi.


Mereka semakin mendekat, dan benda itu terlihat seperti manusia dan saat mereka melihat dengan jarak sangat dekat ternyata benar itu memang tubuh


manusia, dan sepertinya sudah meninggal.


Mereka memutuskan untuk memanggil Yanti agar Yanti melihatnya lagi, siapa tahu itu adalah mayat dari hantu pendaki.


Kalau memang iya, itu artinya mereka sudah menemukan keempat mayat hantu pendaki dan mereka akan bisa segera menguburkan mayat-mayat


itu dengan layak, tapi mereka belum bisa memastikan apakah benar itu mayat dari hantu pendaki atau tidak.


"Yan, coba deh kamu lihat disana sepertinya ada mayat manusia yang mengapung, tapi kita belum bisa memastikan apakah itu benar mayat pendaki atau tidak," mereka terlihat buru-buru.


Yanti yang mendengar itu langsung mendekati Gilang dan teman-temannya lalu melihat apa yang mereka tunjuk, Yanti juga melihat seperti ada tubuh


manusia di tempat itu tapi Yanti juga belum bisa memastikan apakah benar itu adalah mayat dari hantu pendaki, dia akhirnya memutuskan untuk terbang dan melihat langsung secara dekat


apakah benar itu mayat dari hantu pendaki.


"Bentar ya aku lihat dulu, kalau memang iya itu adalah mayat dari hantu pendaki yang kita cari berarti kita akan menguburkan mayat mereka hari ini


juga," kata Yanti sambil tersenyum.


Mereka juga berharap kalau itu adalah mayat dari hantu pendaki yang mereka cari agar mereka bisa segera menguburkan mayat mereka semua.


"Sepertinya dia tenggelam di dalam air terjun merah ini, tapi kondisi mayatnya masih utuh," lalu Yanti


memegang air itu.


"Airnya sedingin es, mangkanya mayat ini masih utuh dan bahkan semua pakaian yang dia pakai masih utuh seperti yang waktu itu aku lihat," Yanti mendekat kearah mayat itu.


"Iya benar, mayatnya masih utuh dan ini memang benar-benar mayat dari hantu pendaki itu, dia yang waktu itu menjadi reader dari rombongan mereka


sewaktu temannya sudah meninggalkan mereka," lalu Yanti berusaha untuk mengangkat tubuh yang sudah kaku itu.


"Dia merasa kasihan karena nasib mereka semua bisa seburuk itu, dan tenang saja, aku kan cuma

__ADS_1


sebentar saja terbangnya, nanti kalau sudah sampai aku akan langsung kembali kesini dan menemui kalian semua, lalu aku akan berjalan bersama


kalian untuk menunjukkan letak mayat mereka semua," Yanti menjelaskan.


__ADS_2