
POV Gilang
"Sialan itu hantu, ganggu aja biasanya capek banget gue lari-larian terus" nafasku masih belum beraturan karena sangat lelah habis berlari.
Aku langsung duduk selonjoran agar kakiku tidak sakit, tubuhku sangat lelah rasanya lemas Ingin tidur tapi kondisi tidak memungkinkan karena aku merasa belum aman dari hantu di gunung larangan ini.
Setelah agak enakan aku baru sadar kalau aku hanya sendirian disini.
"Loh, kemana Heni sama Anton kok mereka gak ada, apa tadi kita terpisah saat lari dari makhluk menyeramkan itu" aku masih celingukan mencari mereka siapa tau mereka hanya tertinggal di belakang.
Aku masih terdiam menunggu mereka dan berharap mereka akan segera menyusul, tapi setelah lama menunggu mereka belum juga datang bahkan suara mereka pun tidak terdengar sama sekali.
"Kita beneran terpisah, haduh bahaya ini padahal dari awal aku sudah bilang jangan sampai terpisah, apa tadi mereka tidak mengikuti langkah ku karena sangking takutnya, aku harus segera mencari mereka sebelum jauh" aku langsung berdiri dan mencari Anton dan Heni.
Sebenarnya yang aku khawatir kan adalah Heni karena dia itu penakut dan gampang nangis bagaimana nasib nya kalau dia sendirian di hutan ini pasti dia sangat ketakutan.
"Semoga saja saat ini Anton bersama Heni kasian kalau dia sendirian disini" ucapku sambil terus berjalan.
"Heni, Antoonnn kalian dimana" aku terus berteriak memanggil Heni dan Anton.
"Heni lo dimana" suaraku semakin kencang.
"Dimana sih kalian" entah kemana tujuan ku saat ini aku berjalan tanpa arah sambil terus memanggil nama Anton dan Heni berharap mereka mendengar
teriakkan ku.
Ya Allah kemana mereka berdua, apa kita terpisah cukup jauh sehingga mereka tidak mendengarkan suaraku.
"Aku kembali duduk karena merasa lelah" kemana lagi aku harus mencari mereka.
Aku terdiam dan merenung andai saja aku mendengar ucapan nenek, pasti semua ini tidak akan terjadi, belum juga menemukan Andi dan Sasa sekarang aku juga terpisah dari Anton dan Heni, kenapa semua ini harus terjadi.
"Apa yang dikatakan nenek waktu itu benar, apa memang gunung ini adalah gunung larangan yang tidak boleh dimasuki sembarangan orang" aku terus menyesali keputusan ku dan tidak mendengarkan nasihat nenek.
__ADS_1
Padahal nenek hanya khawatir dengan ku, tapi kenapa aku tidak mempercayainya padahal dari kecil aku selalu mendengarkan ucapannya apapun yang nenek katakan pasti aku lakukan, kenapa sekarang aku begitu bodoh, naik gunung yang asing bahkan tidak pernah tau seluk beluknya.
"Bodoh aku memang bodoh" aku berteriak sambil memukul kepala ku sendiri.
"Andai aku tidak sebodoh ini, andai aku tidak memaksakan kehendak ku dan andai saja aku tidak sok tau pasti semua ini tidak akan pernah terjadi" aku terus menyesali perbuatan ku, tapi mau gimana lagi semua sudah terjadi.
"'Seperti ada suara langkah kaki" aku terus menajamkan pendengaran ku.
"Tapi sepertinya bukan cuma satu orang" aku terus mengawasi keadaan sekitar dan tetap waspada.
Suara itu semakin mendekat dan sudah terlihat walau masih samar, mereka seperti para hantu pendaki yang tadi aku lihat.
"Aku harus sembunyi" tanpa pikir panjang aku langsung bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan, kenapa aku selalu bertemu dengan mereka" aku terus bertanya-tanya.
"Kalian cari disebelah kanan kita dibsebelah kiri" kata salah satu hantu pendaki itu.
Aku terus mendengarkan omongan mereka dan terus memperhatikan mereka karena aku belum tau apa yang di cari oleh hantu pendaki itu.
"Apa yang mereka cari, dan siapa yang akan mereka tangkap dan temannya yang lolos, apa mereka akan menangkap aku dan teman-teman ku, kalau iya berarti kita dalam bahaya sekarang" aku bicara dengan diri sendiri.
"Aku harus pergi dari sini dan mencari teman-teman ku yang lain, tempat ini tidak aman buat kita" aku langsung berlari ke segala arah ingin mencari Heni dan Anton.
"Itu dia, jangan sampai lolos kejar dia" ucap mereka.
"Sial mereka melihat ku, aku harus lebih cepat lagi agar mereka tidak menangkap ku" aku terus berlari tanpa peduli rasa lelah karena keselamatan aku dan teman-teman ku lebih penting.
"Tangkap dia" mereka malah berubah menjadi sosok yang menyeramkan seperti yang aku lihat tadi
saat masih bersama Heni dan Anton.
Aku terus berlari tanpa arah dan terus menerobos gelapnya malam dan dinginnya angin hutan.
__ADS_1
Setelah aku merasa lelah aku berhenti sejenak dan mencari tempat persembunyian yang aman, setelah mereka pergi aku akan lanjut mencari Anton dan Heni.
"Itu dia ada pohon yang sangat besar, lebih baik aku sembunyi di sana mereka pasti tidak akan bisa menembusku" aku segera berlari ke belakang pohon besar itu sebelum mereka melihat keberadaan ku.
Aku sembunyi agar tidak tertangkap oleh mereka dan harus bisa lolos dari kejaran hantu pendaki.
"Kemana larinya manusia sialan itu" para hantu pendaki itu terlihat marah karena tidak menemukanku.
"Kita pasti akan menemukan nya cepat atau lambat, karena mereka tidak akan pernah bisa keluar dari gunung ini" ucap pendaki itu dan disambut gelak tawa oleh teman-temannya.
"Mungkin sekarang kau lolos, tapi lain kali kita pasti bisa menangkap kamu dan teman-temanmu itu' para hantu pendaki itu langsung pergi.
Sreekk
"Sial kakiku malah menginjak ranting kering" gumam ku merutuki kebodohan ku.
"'Suara apa itu" mereka serempak menoleh ke arah pohon tempat ku bersembunyi.
"Biar aku lihat" salah satu dari mereka langsung menuju kearah ku.
Jantung ku rasanya ingin copot, badanku gemetar hebat aku sangat ketakutan baru kali ini aku di buat spot jantung oleh hantu pendaki sialan ini.
"Jangan sampai mereka tau aku di sini" aku terus berdoa dalam hati membaca surat apapun yang aku bisa.
Dia semakin mendekat kearah ku hanya pohon ini yang memisahkan jarak kami, aku semakin ketakutan dan saat dia mau mengintip di balik pohon tiba-tiba temannya memanggilnya.
"Sudah ayo kita pergi, paling suara ranting jatuh, kita harus cari mereka sekarang juga jangan buang-buang waktu untuk melihat ranting jatuh" ucap seseorang yang mungkin dia adalah leader dari para hantu pendaki.
"Ya ayo kita pergi dari sini dan lanjut mencari anak-anak sialan itu, agar kita bisa mengambil sukmanya dan menjadikan mereka salah satu dari kita" jawabnya yang cukup membuat ku kaget.
"Alhamdulillah" aku langsung mengucapkan hamdalah setelah mereka pergi menjauh.
Aku sedikit lega karena mereka sudah pergi jauh dan aku bisa lolos.
__ADS_1