
POV Andi.
"Iya aku memang bisa terbang dan itu benar Sa tapi aku mana mungkin terbang sambil bawa kalian berdua yang ada kita jatuh sama-sama terus kalian
bisa mati dong kalo jatuh dari ketinggian" Yanti menjelaskan pada Sasa.
Benar juga yang dikatakan oleh Yanti mana kuat dia ngangkat aku dan Sasa keatas yang ada kita jatuh, kan gak lucu tiba-tiba kita jatuh dari ketinggian,
bisa-bisa tubuh jatuh terus nyawa yang melayang.
"Betul yang dikatakan sama si Yanti, masak iya tubuh segede ini diangkat terbang sama Yanti yang ada kita jatuh barengan, iya kalau kita selamat kalo nyawa kita melayang terus kita bisa terbang kayak Yanti gimana, bukan senang malah jadi tambah susah yang ada" aku membenarkan ucapan Yanti.
Sasa terlihat cemberut, mungkin dia kecewa karena Yanti tidak bisa membawa kita terbang dengan cepat.
"Jadi kita harus jalan kaki untuk menemukan mereka, dan itu akan memakan waktu yang sangat lama,
gimana kalau terjadi sesuatu kepada Heni, gimana kalau ternyata Heni dan Gilang mereka juga terpisah, pastinya kan kasian Heni sendirian di hutan ini, terus
kalau dia kelaparan juga gimana aku takut terjadi sesuatu kepada Heni aku gak mau itu sampai terjadi" Sasa kembali menangis dia terus saja meracau
membuat aku dan Yanti kebingungan dengan kelakuan Sasa saat ini.
Tadi sebenarnya Sasa sudah tenang tapi sekarang dia malah menangis lagi, aku hanya diam dan membiarkan dia terus mengeluarkan emosinya dengan cara menangis toh aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku suruh berhenti dia juga tidak akan mau diam sebelum dia capek sendiri baru dia akan berhenti.
Dan saat aku melihat kearah Yanti dia juga diam saja, sepertinya dia juga mempunyai pikiran sepertiku
membiarkan Sasa menumpahkan air matanya agar dia merasa lega dan setelah itu otomatis dia akan tenang dengan sendirinya.
__ADS_1
"Udah dong Sa kamu jangan nangis terus, kamu itu membuang tenaga kamu sia-sia, kamu tau tidak kalau menangis itu hanya akan menguras tenaga kamu, emang kamu mau nanti tenaga kamu habis terus kamu kehabisan tenaga dan gak bisa jalan buat mencari teman-teman kamu, kan itu hanya akan
membuat kamu semakin lama menemukan mereka" Yanti mulai bicara mungkin saja dia tidak tega melihat Sasa terus menangis.
"Tuh dengerin ucapan si Yanti, kamu tidak boleh menguras tenaga kamu dengan sia-sia, nanti kamu malah gak kuat jalan, kamu kan mau kita cepat-cepat menemukan Heni dan Gilang jadi kamu harus menyimpan tenaga kamu untuk nanti kita jalan, dan kamu kan juga tau kalau perjalanan kita itu masih sangat jauh sekali dan itu butuh banyak sekali tenaga, kamu ngerti kan" aku yang mulai pusing mendengar Sasa terus menangis akhirnya ikut berbicara.
Sasa menatap aku dan Yanti dengan tatapan sendu, mungkin dia juga sudah lelah untuk menangis dan dia langsung menghapus air mata yang ada di pipinya dan dia langsung tersenyum kearah aku dan juga Yanti mungkin dia menguatkan dirinya agar tidak menangis lagi seperti tadi.
"Benar juga apa yang kalian berdua katakan, gak seharusnya aku membuang tenagaku untuk menangis padahal selama apapun aku menangis tidak akan bisa membuat kita bertemu dengan
Heni dan Gilang seharusnya aku tidak cengeng seperti ini" Sasa tersenyum kearah ku
"Dan kamu Ndi, aku minta maaf ya padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi tapi sekarang aku malah mengingkarinya, aku malah menangis dan pasti membuat kamu bingung" Sasa memegang tanganku.
Aku tersenyum dan membalas tatapan dari Sasa, aku senang dia sudah berhenti menangis dan akhirnya dia menyadari kesalahannya.
yang akan bisa menyelamatkan kita semua, jadi kita harus pintar-pintar untuk bertahan hidup jangan cengeng apalagi berpikiran untuk menyerah, itu
tidak boleh ada dalam pikiran kita kamu harus tau itu" aku menceramahi Sasa dengan panjang lebar berharap Sasa bisa mengerti dengan apa yang aku katakan.
Aku tidak bermaksud untuk menggurui atau bahkan memarahi Sasa, aku hanya berniat untuk menjadi dia
untuk bisa menjadi perempuan yang kuat dan hebat, kita ada di dalam hutan tempat yang berbahaya dan apapun bisa terjadi tanpa kami tau lebih dahulu,
kalau kita cengeng dan terus menangis itu sama saja kita sudah menyerah dengan keadaan dan itu tidak boleh terjadi.
"Iya Ndi aku tau kalau aku memang salah dan tidak seharusnya aku terus menangis, tapi mulai sekarang aku akan berusaha untuk tegar dan apapun yang
__ADS_1
akan terjadi kedepannya aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi dan aku justru akan berpikir bagaimana caranya memecahkan masalah yang kita
hadapi saat ini" Sasa terlihat lebih tegar daripada tadi.
"Nah gitu dong, itu baru Sasa yang aku kenal Sasa yang kuat dan Sasa yang selalu ceria salah satu sahabat terbaik yang pernah aku miliki" aku memeluk
Sasa dan Sasa juga membalas pelukanku.
"Terimakasih ya Ndi selama ini kamu selalu ada untukku dan kamu selalu saja tulus untuk membantu setiap masalah yang aku hadapi, bahkan saat disekolah kamu selalu membelaku dan selalu ada
di baris terdepan saat ada laki-laki yang menyakiti hati ku, walaupun setelah ini kita akan menjalani hidup masing-masing tapi aku tidak akan pernah melupakan kamu dan yang lainnya sampai kapanpun" Sasa memeluk ku dengan erat.
Dan aku dibuat kaget saat Yanti tiba-tiba juga memeluk aku dan Sasa, di ternyata juga ikut terhanyut dengan ucapan aku dan Sasa.
"Terus bagaimana denganku apakah setelah kalian keluar dari gunung ini kalian akan langsung melupakan aku karena kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi sampai kapanpun karena kan kalian tidak akan mungkin kesini lagi" Yanti menatap aku dan Sasa dengan wajah serius.
"Kamu ini ngomong apa sih Yan? sampai kapanpun kita tidak akan pernah melupakan kamu apalagi jasa yang kamu berikan untuk kami, bahkan kami
tidak tau lagi gimana nasib kami kalau tidak bertemu sama kamu" aku juga memeluk Yanti.
Kita bertiga berpelukan dan hanyut dalam pikiran masing-masing, aku senang memiliki teman baru walaupun dengan cara yang tidak pernah aku
kehendaki.
"Janji ya setelah ini kalian tidak akan pernah melupakan aku karena kalian satu-satunya sahabat yang aku miliki saat ini, aku sendirian disini tar
kalian" Yanti terlihat sedih
__ADS_1