
Masih di tempat istirahat Andi dan Sasa.
****
Saat aku berusaha untuk memejamkan mata seperti ada yang mengganggu pikiranku, entah apa itu sebenarnya aku juga tidak tau, hatiku merasa sangat gelisah tapi aku bingung ada apa sebenarnya.
"Ada apa ya kenapa aku belum juga bisa tidur dengan nyenyak, kenapa pikiranku sangat terganggu sekali ada apa sebenarnya" aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Aku melihat ke arah Sasa dia terlihat sudah tidur dengan sangat pulas, senyum manis merekah dari bibirku aku senang melihat Sasa tertidur dengan pulas tapi aku tau pasti Sasa tidur dengan keadaan perut yang lapar karena kita sama sekali belum makan apapun dari tadi pagi.
"Kemana sih si Yanti kok sampai sekarang dia belum juga datang, lama banget sih dia cari makan doang" aku merasa kesal karena Yanti belum juga kembali padahal aku dan Sasa sudah sangat lama menunggunya untuk mengambil makanan.
"Apa mungkin dia gak dapat makanan ya, atau bahkan dia meninggalkan aku dan Sasa disini sedangkan dia tidak kembali lagi" lagi-lagi pikiran jelek ini datang padahal itu tidak mungkin terjadi karena Yanti adalah kuntilanak yang sangat baik hati,
dia selalu membantu aku dan Sasa.
"Haduh ini semua karena aku kelamaan berada di gunung ini, jadi pikiranku selalu memikirkan hal yang
buruk, kapan ya aku bisa segera keluar dari gunung ini dan kembali berkumpul dengan keluarga ku, aku juga masih punya cita-cita yang harus aku capai lalu
setelah itu aku mau membuat menjadi milikku seutuhnya" aku tersenyum membayangkan jika Sasa
benar-benar bisa menjadi milikku pasti hidupku akan terasa sangat sempurna dan bahagia.
Matahari sudah semakin terik dan panasnya sangat menyengat tubuh itu tandanya sekarang sudah siang hari tapi aku tidak tau pasti sekarang jam berapa
karena aku tidak membawa jam sama sekali, handphone juga tertinggal di mobil.
__ADS_1
Memang kita sangat bodoh, kami meninggalkan handphone di dalam mobil milik Gilang saat itu kami berpikir agar tidak ada yang mengganggu perjalanan kami untuk menikmati keindahan gunung ini dan air terjun merah, karena kami takut kalau nek Ngah menghubungi orang tua Gilang lalu orang tua Gilang menghubungi kami, jadi daripada orang tua kita menyuruh kita untuk cepat-cepat pulang lebih baik kita meninggalkan handphone kami di mobil.
"Ndi, Lo gak tidur ya kok bengong gitu sih" Sasa tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Eh Sa kok Lo udah bangun sih, keganggu ya atau kenapa" aku bertanya pada Sasa karena tiba-tiba dia bangun.
"Gak tau tiba-tiba gue bangun aja padahal tidak ada suara yang menggangu sama sekali, mungkin gue
udah puas tidur kali" Sasa mengucek matanya lalu melihat ke sekeliling.
Sasa langsung menutup matanya mungkin saja dia silau dengan cahaya matahari yang memang sangat terik itu, memang sangat menggangu penglihatan
karena cahayanya yang sangat menyilaukan mata.
"Kenapa kamu nutupin mata gitu, silau ya lihat kegantengan wajah aku" aku bertanya pura-pura tidak tahu sambil menggoda si Sasa.
"Pede banget sih, silau tuh lihat cahaya matahari kalau lihat wajah kamu bukannya silau tapi sakit mata tau gak" Sasa malah mengejekku.
hiburan, kan Sasa dan Yanti juga menganggap pertengkaran mereka sebuah hiburan semata.
"Hahaha, kan gue udah sering bilang sama elo kalau gue gak akan pernah suka sama elo sampai kapanpun, Lo gak nyadar diri pacaran aja gak pernah" Sasa menatap sinis kearahku dia merasa paling benar belum tau saja dia sebentar lagi dia juga akan tergila-gila sama aku.
"Jangan ngomong gitu dulu, siapa tau kan kita jodoh, tidak ada yang tau karena jodoh itu ditangan yang maha kuasa, kamu tau itu kan" aku mengedipkan mata kepada Sasa dan dia terlihat ogah-ogahan.
Tapi tidak apa-apa kok, karena aku yakin cepat atau lambat Sasa pasti akan suka sama aku, karena aku tau betul seperti apa pria yang di harapkan oleh Sasa setelah dia sering di khianati oleh mantannya.
"Gak akan, gue bakalan berdoa setiap hari biar jodoh ku bukan kamu" Sasa menjulurkan lidahnya dan itu justru membuatku semakin membuat ku jatuh cinta.
__ADS_1
Aku terlena melindungi kecantikannya yang alami, dia tidak seperti perempuan lain yang gemar memakai berbagai macam pemutih wajah, Sasa perempuan yang simpel dia tidak pernah banyak gaya ataupun
neko-neko, riasannya yang alami dan kulitnya yang putih dan mulus membuat aku semakin terpesona, lihat saja sudah tiga hari kami disini bahkan dia tidak
mandi sama sekali tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.
"Ngapain Lo lihat gue terus dari tadi, jangan bilang Lo udah mulai naksir sama gue ya, karena itu hanya akan menjadikan angan-angan semata tau gak" Sasa menatap tajam kearahku, tapi aku sama sekali tidak getar.
"Udah, gak usah kepedean Lo itu bukan tipe gue sama sekali, tapi ingat jangan terlalu benci karena nanti bisa jadi cinta" aku tersenyum manis kearah
Sasa membuat dia salah tingkah, aku tau dia sebenarnya juga selalu merhatiin aku.
"Terserah aku males ribut sama kamu terus, lebih baik sekarang aku kembali tidur daripada lihat muka kamu yang bikin males itu" Sasa memalingkan
wajahnya menatap kearah lain mungkin dia salah tingkah atau bahkan dia tersenyum sambil membuang muka agar aku tidak mengetahuinya.
"Kamu tau kan kalau orang yang mengucapkan selamat malam akan kalah dengan yang selalu menyebut namanya di sepertiga malam" aku mencolek pipi Sasa dengan gemasnya dia langsung melihat ke arah ku karena kaget.
"Maksudnya apa coba gak jelas banget sih kamu jadi cowok, gak usah terlalu berharap deh" Sasa sepertinya pura-pura marah dihadapan ku buktinya
dia masih senyum walaupun sedikit.
"Gak usah pura-pura gak tau deh, mangkanya jangan terlalu benci karena benci itu bisa berubah menjadi cinta, kamu pasti tau itu kan karena kadang orang yang suka berantemn justru mereka bisa menjadi jodoh suatu saat nanti" aku mengedipkan mata dengan sangat genit.
Ya mumpung tidak ada si Yanti jadi aku bisa dengan bebas untuk menggoda Sasa karena kalau ada Yanti jangankan menggoda Sasa mendekati Sasa saja
langsung tanganku ditarik sama si Yanti dan dia selalu bergelayut manja di tanganku seperti monyet saja, aku sedikit risih sih, tapi karena si Yanti sudah
__ADS_1
sangat baik jadi ya aku sabar saja dulu toh gak selamanya dia akan menggangguku.
"Kemana ya si Yanti kok lama banget sih" Sasa celingukan mencari keberadaan Yanti