I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kita Seri


__ADS_3

"Jadi, dr. Raya sekarang ada di mana?" tanya walikota Darwis.


"Oh, itu. Dr. Raya sedang sakit, Pak. Beliau pendarahan dan dirawat di rumah sakit Siaga Medika" jawab dokter kepala departemen anak.


"Pendarahan? Apa dr. Raya hamil?" tanya walikota Darwis tercengang.


"Ya, sepertinya begitu. Professor Ayyub sendiri yang memberitahu dan memberi dr. Raya untuk ijin sakit," jawab dokter kepala itu lagi.


"Oh, begitu? Tapi sudah berapa lama?"


"Baru 5 hari sih, Pak. Baru 5 hari ini dr. Raya sakit. Tapi kita juga tidak tau kapan dr. Raya bisa masuk lagi. Soalnya yang saya dengar kandungannya lemah."


Walikota Darwis terlihat manggut- manggut. Waridi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memprovokasi keadaan.


"Wah, bagaimana sebaiknya, Pak Darwis? Saya cukup prihatin akan kondisi kesehatan dr. Raya dan dia juga pasti tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kalau dibiarkan kursi dokter kepala kosong, maka akan sedikit terjadi kekacauan dia rumah sakit ini. Mengingat departemen Obgyn adalah departemen paling sibuk dan paling banyak pasien. Jika posisi dokter kepala kosong, pasti sedikit banyak akan mempengaruhi progress rumah sakit ini. Apalagi rumah sakit ini baru dibuka."


Walikota Darwis sedikit memanyunkan bibirnya dan terlihat berpikir sejenak. Sepertinya penjelasan wakil walikota Waridi sangat masuk di akalnya.


"Lalu sebaiknya apa yang harus kita lakukan?" tanyanya pada Waridi.


Waridi pura- pura berpikir padahal tanpa berpikir sekarang pun dia sudah punya rencana terhadap Raya.


"Kita tunggu beberapa hari lagi, sampai dr. Raya pulih dulu. Setelah itu baru bisa kita lihat kondisinya siap atau tidak melanjutkan posisi ini kembali." jawab Waridi.


Walikota Darwis lagi- lagi mengangguk-angguk tanda setuju akan pendapat Waridi.


"Baiklah. Mari menunggu selama 2 atau 3 hari lagi, setelah itu kita bisa diskusikan ini lagi bersama- sama," jawabnya.


Waridi tersenyum. Sepertinya semua akan berjalan sebagaimana yang diinginkannya.


Dr. Raya, kemarin saat kau menerima jabatan ini, kau sungguh percaya diri akan menanggungjawabi semua ini kan? Pegang kata- katamu! batin Waridi.


\*\*\*\*\*\*


Aku baru pulang dari rumah sakit dan menemui Raya sedang asyik dengan ponselnya di kamar. Segera aku mengecup pipi dan bibirnya.


"Bagaimana harinya? Si kecil rewel nggak?" tanyaku.


Raya tertawa ringan.


"Apa yang perlu diceritakan, sayang? Seharian di tempat tidur seperti ini memangnya akan ada cerita menarik apa?" jawabnya ketus.


"Rasakan! Ini memang maumu kan? Nikmatilah." kataku mengoloknya


"Ck!!!" Raya berdecak jengkel padaku. "Kamu ini sepertinya senang banget menikmati ketersiksaan istrimu yang nggak bisa kemana- mana yee kan?" sungutnya kesal.


"Ya, aku sangat- sangat menikmatinya. Tidak ada hukuman yang lebih ampuh selain membuat dr. Raya terpasung seperti ini di kamar selama sembilan bulan lebih." kataku terkekeh.


Raya memicingkan matanya menatapku.


"Oh, jadi kamu merasa senang menghukumku nggak bisa kemana- mana?" tanyanya kesal.


Lalu dalam satu kali hentakan, Raya menarik lenganku hingga aku hampir terjerembab di atas tubuhnya. Dengan nakalnya, dia menatapku dengan pandangan menggodanya. Dan membuka kancing bajuku paling atas. Dan menelusupkan tangannya ke dalam balik bajuku.


"Jangan senang dulu, sayangku. Kamu juga akan puasa panjang sampai kurang lebih 10 bulan ke depan," katanya sambil meraba- raba tubuhku.


"Kita seri," bisiknya lirih dan meniup telingaku.


Darahku langsung berdesir hebat mendapat perlakuan seperti itu. Telah beberapa hari aku tidak bisa menyalurkan hasratku, dan sekarang Raya sepertinya ingin memancing- mancingku. Keterlaluan!

__ADS_1


"Kau jangan keterlaluan Raya, jangan memancing- mancingku. Atau kau akan menyesal nanti," ancamku dengan geram.


Bagaimana tidak geram, dia membuatku merinding sampai ke ubun- ubunku. Dan sekarang rasanya aku ingin melepaskan apa yang harusnya kulepaskan.


"Memangnya Ayah bisa apa?" godanya.


Dan lihatlah tangannya semakin tidak bisa dikendalikan.


"Hentikan Raya! Aku bisa khilaf nanti dan tidak akan melepaskanmu sampai besok subuh."


Sumpah! Aku baru sadar kalau semenjak hamil ini sepertinya sifat Raya agak menyebalkan. Dia terlihat barbar sekali.


"Coba, aku mau lihat khilafnya kayak apa?" godanya terus tanpa menghentikan aksinya.


Aku mencengkram tangannya kuat.


"Kamu tanggung jawab ya?! Kamu kira aku nggak bisa mendapatkan hakku hanya karena kamu hamil? Ingat! Aku cuma disuruh puasa untuk satu bagian tubuhmu saja, bagian yang lain tidak boleh dibiarkan menganggurkan?" balasku sembari melirik dan menyentuh bagian- bagian tubuhnya. "Di sini, di sini, di sini. Aku rasa dr. Gayatri tidak akan bisa melarang ku melakukannya. Bagaimana, sayang?"


Raya membelalakkan matanya padaku. Rasakan kamu, Ray! Siapa suruh kamu mancing- mancing hasratku seperti ini. Kamu kira enak, dipancing kayak gitu terus ditinggalin? Sakiiit, batinku gemas.


Ehmmm, aku melirik ke arahnya. Ekspresi macam apa itu? Dia menghela napasnya kasar lalu membuangnya. Perlahan- lahan dia menarik tangannya dari tubuhku.


"Ya sudah. Kamu mandi sana!" suruhnya.


Huffft... Untunglah, aku tidak bisa membayangkan kalau Raya terus memancingku seperti. Bisa- bisa aku kalap dan tak ingat lagi kalau kandungannya sedang lemah.


Segera aku meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Aku agak berlama- lama di kamar mandi untuk mengademkan sesuatu yang sedang dalam tegangan tinggi. Raya ini memang .... Membuat kerjaanku nambah, deh. Untung dia istriku, untung aku sayang, kalau nggak habis kamu, Ray ....


Sambil mandi aku juga menyempatkan diri menyikat lantai kamar mandi. Aku tidak mau kalau sampai Raya terpeleset di sini karena lantai kamar mandi yang licin. Selesai mandi aku segera keluar dengan memakai handuk yang kulilitkan di pinggangku. Dengan memakai handuk yang lain aku mulai mengeringkan badanku dan setelahnya aku berjalan ke meja rias Raya untuk memakai dedorant. Dari pantulan cermin aku melihat Raya memandang ke arahku. Pandangan kami pun bertemu, dan Raya seketika membuang mukanya karena tertangkap basah sedang memandangiku. Aku membalikkan badanku dan melihat padanya.


"Kamu kenapa?" tanyaku heran.


"Kalau ada yang kamu inginkan, bilang, Ray," kataku sambil tersenyum.


"Ingin apaan? Aku nggak mau apa- apa kok," jawabnya masih tak mau melihatku.


"Ahh, yang bener nggak mau apa- apa? Ini mau nggak?"


Aku segera menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Memberinya ciuman dan belaian lembut di seluruh tubuhnya. Tak ada penolakan. Hmmm aku paham sekarang. Raya bukannya ingin mengerjai aku tadi. Tapi dia ingin menyalurkan hasratnya. Seperti yang Kutau libido wanita umumnya meningkat saat dia hamil. Mungkin itulah yang terjadi pada Raya sekarang. Tapi karena dia terlalu gengsi meminta, jadilah perbuatannya jadi aneh dan membuatku geleng- geleng kepala.


"Fud, kita nggak boleh ...."


Raya mencoba mengingatkan saat aku ingin mengeksplore seluruh tubuhnya. Sejenak aku berhenti dan menatapnya.


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya untukmu dan baby kita. Jangan khawatir," kataku sambil mencoba menenangkannya.


Dan hingga kegiatan itu selesai, dan akhirnya aku dan Raya pun terkulai lemas di ranjang.


"Kamu kalau ingin bilang, Ray!" kataku mengingatkannya lagi.


"Siapa yang ingin, coba?" katanya. Wajahnya kembali merona merah.


Ah, susah memang punya istri pemaluan plus gengsian.


"Kita udah nikah hampir setahun, kok kadang masih suka malu- malu gitu sih soal beginian? Pake gengsi segala sih. Padahal suka ...." godaku.


"Apaan sih? Aku nggak suka tau!" katanya jutek


"Oh, nggak suka. Hmmm padahal tadi aku lihat ekspresimu, sangat menikmati sekali lho," godaku lagi.

__ADS_1


Sekalian kamu ngomel, pikirku geli.


"Ihhh, apa sih! Nyebelin banget! Itu handuk digantung donk! Basah- basah tau di kasur!" omelnya uring- uringan.


Nah, nah benar kan. Aku tertawa geli melihatnya mulai marah- marah. Sampai bawa- bawah handuk lagi.


Segera aku memeluknya, agar omelannya tak berkepanjangan. Biar bagaimana pun kasihan anakku dalam perut kalau bundanya uring- uringan terus.


"Ihhh, apa sih, lepas nggak!"


Aku tetap tak mau melepas pelukanku.


"Ya sudah, ya sudah. Aku cuma becanda, sayang. Nggak usah marah- marah donk," bujukku.


"Habis kamu, kamu ngomong gitu seolah aku perempuan nakal aja!" tudingnya.


"Memang nakal kan? Tapi nakalnya sama aku doank, hahaha ...." godaku lagi sambil tergelak.


Dan kini cubitan demi cubitan terpaksa harus kuterima dari Raya. Aku sebenarnya sudah tidak ingin menggodanya lagi. Tapi ekspresinya yang merah padam itu sangat- sangat lucu dan terasa menghibur sekali.


Selang berapa lama kami akhirnya lelah bergurau tiba- tiba Raya seperti teringat sesuatu.


"Oh, iya. Tadi ada paket dari rumah sakit Siaga Medika untukmu, sayang. Sebentar kuambilkan," katanya seraya beranjak dari kasur menuju lemari.


Dari dalam lemari Raya mengeluarkan sebuah amplop coklat besar. Sepertinya aku tau itu apa.


"Ini!" Raya menyerahkan amplop itu padaku.


Aku memperhatikan amplop itu dengan seksama. Tidak ada tanda kalau amplop besar itu sudah dibuka.


"Kamu belum membukanya?" tanyaku sambil membuka hati- hati perekat pada amplop itu.


"Itu punyamu, kenapa aku harus membukanya?" tanyanya balik.


"Kamu nggak penasaran ini apa?" tanyaku.


"Penasaran sih, tapi itu kan punyamu. Di situ tertera 'dokumen rahasia'," tunjuknya pada tulisan itu. "Jadi aku nunggu kamu pulang dulu."


Aku tersenyum. Raya memang istriku yang amanah dan bisa dipercaya. Eh, tunggu, tunggu aku meralat kata- kataku kembali. Kadang- kadang sih dia nggak bisa dipercaya kalau ada maunya. Makanya dia bisa hamil kan? Tapi untuk hal yang lainnya, dia cukup amanah kok.


"Emang itu apaan sih?" tanya Raya.


Aku tidak langsung menjawab melainkan membuka amplop itu dengan serius. Begitu aku berhasil membukanya, aku mengeluarkan isinya.


"Aku melakukan pemindaian MRI, Ray. Untuk mengetahui penyebab gangguan wicara yang kuderita selama dua tahun ini." jawabku.


Raya spontan membelalak.


"MRI? Kapan kamu melakukan pemindaian? Kenapa kamu nggak ngomong sama aku?" tanyanya sedikit marah.


Aku menghela napas.


"Ya tadinya aku memang nggak mau ngasih tau kamu dulu. Aku nggak mau kalau hasil pemindaiannya jelek dan ternyata hasilnya aku nggak bisa bicara normal lagi kami jadi kecewa."


"Terus kalau hasilnya bagus?" tanya Raya.


"Aku ingin itu jadi kejutan buatmu," jawabku.


Raya menarik foto dan kepingan CD hasil MRI di tanganku dan mencoba mempelajarinya dengan teliti. Tak lupa dia mengambil laptop dan memasukkan kepingan CD itu di sana.

__ADS_1


"Kamu ceritakan semuanya padaku," pintanya.


__ADS_2