
Pov Raya
Subuh ini seperti biasa sebelum adzan aku mandi dulu. Karena heater water ditaruh di kamar mandi belakang, akhirnya tiap subuh selama beberapa menit kamar mandi ini akan kuhuni sepanjang aku mandi. Ketika aku datang, sepertinya di dalam kamar mandi masih ada orang. Terdengar suara air diguyur. Siapa di dalam ya? Apa Ummik? pikirku.
Tapi toh, akhirnya aku sabar menunggu di meja makan sampai orang yang beradaa di kamar mandi selesai menunaikan urusannya. Dan ketika suara air itu benar- benar berhenti, aku menunggu beberapa saat dan tertegun melihat Ayuni yang keluar dari kamar mandi telah mengenakan pakaian bersih dengan handuk bergulung di rambutnya.
Mataku memicing curiga sesaat kemudian senyum- senyum akhirnya saat aku menyadari sesuatu.
"Eh, Kak Raya udah bangun?" sapanya.
"Kamu juga, tumben subuh- subuh udah keramas?" godaku.
Wajahnya merona merah.
"Kak Raya, aku udah tau apa yang kakak ingin cari tau. Maaf lama, soalnya aku bingung cari taunya harus bagaimana ...."
Aku lagi- lagi tersenyum melihat wajah malu- malunya.
"Terus gimana?" tanyaku.
"Gimana apanya?" tanyanya gugup.
"Gimana hasilnyalah Ayuni. Aku nggak nanya gimana malam pertamamu sama Fuad. Tapi kalau kamu mau cerita juga nggak apa- apa sih," kataku tak bisa menahan tawaku.
Rasanya menyenangkan menggoda pengantin baru. Pantas dulu orang- orang sangat sering menggodaku saat aku baru menikah dengan Mahfudz.
"Kak Raya ...." protes Ayuni dengan wajah sangat menahan malu.
Sementara aku masih tak bisa menahan tawaku.
"Ya sudah, ya sudah. Terus gimana?" tanyaku mencoba serius.
"Nggak ada tahi lalat, Kak di "itu"nya Fuad."
"Kamu yakin?" tanyaku.
Ayuni mengangguk.
"Kalau nggak ada terus itu siapa?" gumamku bingung.
"Memang kenapa sih, Kak?" tanya Ayuni penasaran. "Kak Raya kan udah janji mau ngasih tau alasan kenapa Kakak pengen cari tau kalau Kakak udah tau jawabannya."
Aku menatapnya ragu sebelum pada akhirnya aku kembali ke kamarku mengambil ponsel dan menunjukkan vidio itu pada Ayuni dan menjelaskan apa yang terjadi.
Ayuni sampai membelalak matanya menonton vidio itu.
"Ini Fuad?!!" pekiknya histeris.
Aku menggeleng.
"Sepertinya bukan, kalau benar keteranganmu dia tak punya tahi lalat di kelaminnya," jawabku.
Ayuni terlihat menperhatikan di mana tahi lalat yang dimaksud.
"Terus Kak Mahfudz?" tanyanya.
"Dia juga tidak punya. Makanya aku ingin tau. Apakah Fuad juga memiliki tahi lalat itu. Ini sepertinya jebakan Waridi. Kalau kau ingin tau gadis di kartu nama itu, itulah orangnya. Ariesta Pratiwi. Dia menyukai Mahfudz dan mengaku telah tidur dengannya. Tapi untungnya semua bisa terselesaikan." kataku menjelaskan.
"Astaga Kak Ray, seberat itu masalah yang kakak pendam sendiri. Tapi heran juga ya, Kak. Kalau itu bukan Kak Mahfudz dan Fuad, terus itu siapa?"
"Entahlah ...." jawabku bingung.
"Apa jangan- jangan Fuad dan Kak Mahfud punya kembaran satu lagi? Triplet gitu, Kak?"
Aku berpikir sekali lagi kemudian menggeleng.
"Mahfudz dan Fuad tidak pernah penah cerita punya kembar satu lagi." bantahku.
"Siapa tau ditutupi sama mama mertua .... nya Kak Raya ...."
Ayuni terlihat terdiam setelah mengatakan aku. Membuatku menghela napas dalam.
"Mama mertuanya Kak Raya?" Aku mengulang kembali kata- katanya Ayuni. "Memangnya bukan Mama mertuamu juga? Fuad juga anaknya Mama, jangan lupakan itu Ayuni. Istrinya Fuad tentu menantunya Mama juga."
__ADS_1
"Tapi Mama nggak mau mengakui aku Kak Raya ...." katanya sambil menunduk.
"Sabarlah, Ini cuma masalah waktu, Ayuni. Nanti pelan- pelan Mama pasti mau nerima kamu. Mama hanya sedikit kaget Fuad menikah tiba- tiba" hiburku.
"Entah bagaimana caraku membujuknya agar menerimaku," keluhnya.
"Nanti Kak Raya bantu pelan- pelan," janjiku.
"Tapi Kak Raya sama Mama aja sepertinya jarang komunikasi. Itu gara- gara aku, ya?" tanyanya sedih.
Aku tersenyum kelu. Benar juga, sudah lebih satu bulan aku dan Mama tidak teguran, sejak terakhir kali kami ke rumah Mama bersama Ummik.
"Kamu nggak usah khawatir, aku dan Mama nanti akan baikan lagi kok" kataku meski aku sendiri tidak yakin.
"Benar tuh." celutuk Ummik tiba- tiba. "Ummik ada rencana buat acara pengajian tujuh bulananmu, Ray. Mertuamu pasti akan hadir. Tidak mungkin kalau dia nggak datang. Kalian mamfaatkanlah moment itu untuk mengambil hatinya."
7 bulanan? Oh iya. Bener. Nggak terasa sekali kalau sebentar lagi usia kehamilanku genap 7 bulan. Waktu cepat sekali berlalu.
\*\*\*\*\*
Pov Ali
Suara adzan yang berkumandang subuh ini membuatku terbangun dari mimpiku. Entah mimpi indah atau buruk yang kualami ini, namun keringat di tubuhku tak berhenti mengalir meski ruangan ini tidak pernah mati AC.
Aku mengusap wajahku dan akan segera bergegas mandi junub sebelum aku kehabisan waktu untuk sholat subuh. Sial! Entah karena aku nekad mencium Raya di mobilku kemarin, sekarang wanita itu kembali datang menggodaku lewat mimpi yang membuatku basah dan terpaksa harus mandi junub pagi ini.
Dalam mimpiku Raya terlihat cantik dan menyerahkan seluruh jiwa raganya untukku. Pasrah bercumbu denganku. Sialan dia terlihat cantik! Membuatku tak bisa melupakan mimpi itu. Aku tau ini tipu daya syeitan, tapi sumpah aku tak ingin melupakan mimpi manis itu.
Karena itu pagi ini aku berniat lewat gerbang departemen obgyn, meski pun ada gerbang lain dari departemen penyakit dalam yang pastinya membuatku lebih dekat sampai ke kantorku, tapi aku ingin lewat sini berharap tiba- tiba berpapasan dengannya dan bisa melihat wajah cantiknya itu secara langsung. Persetan dengan janji akan melupakannya. Sungguh aku tidak rela melupakan dia. Meskipun aku tau akan sia- sia pada akhirnya, tapi aku akan tetap mencintai dia dalam diamku saja, sama seperti yang dia pernah lakukan selama bertahun- tahun di sisiku.
Di parkiran ini aku belum melihat ada mobil atau pun sepeda motor yang biasa dipakai Raya yang menandakan belum ada tanda- tanda kehadirannya di rumah sakit. Dimana dia? Apa dia tidak masuk kerja? Aku melirik jam tanganku, baru menunjukkan jam 7 pagi. Pantas saja. Aku kepagian datang ke sini.
Hampir 15 menit aku menunggu, akhirnya Raya datang juga dengan diantar oleh Mahfudz. Aku melihat Raya mencium tangan Mahfudz dan darahku rasanya mendidih karenanya. Segera aku membuka pintu mobil dan keluar. Aku cemburu melihat mantan kekasihku sedang bersama suaminya.
"Hey, Mahfudz. Apa kabar?" Sapaku basa basi.
Mahfudz terlihat malas berbasa- basi denganku. Dan Raya menundukkan pandangannya dan sekali- sekali dia melihat ke arah yang lain. Sepertinya dia merasa terintimidasi oleh kehadiranku. Atau dia takut aku memberi tahu Mahfud kejadian saat aku menciumnya kemarin? Tapi yang jelas Mahfudz pastinya belum tau masalah itu. Karena kalau dia tau, begitu melihatku dia pasti sudah menghajarku. Dan itu membuatku menarik kesimpulan, kalau Raya pasti memutuskan untuk tidak memberi tahu Mahfudz. Dan itu membuatku senang, berarti aku dan Raya memiliki sesuatu yang hanya kami berdua saja yang tau. Dan itu disebut rahasia.
"Ba-ik." jawab Mahfud singkat. "Sa-yang, ka-u ma-suk-lah du-lu-an. Nan-ti a-ku per-gi be-la-k-angan."
"Mumpung kamu ada di sini, kamu nggak ada niat jenguk professor? Beliau lagi sakit. Beliau selalu menganggap kamu dan Raya seperti anak sendiri, kamu nggak ingin besuk?" kataku.
Mahfudz menatap Raya. "Be-nar pro-fes-sor sa-kit?"
Raya mengangguk.
"Ka-lau be-gi-tu a-ku ha-rus men-je-nguk pro-fes-sor du-lu. Ka-mu ma-suk-lah du-lu," suruh Mahfudz pada Raya.
"Ayo, bareng sekalian sama aku, Fud!" ajakku.
Aku tentu mengajak Mahfudz ke ruang rawat tempat Professor diopname karena ada alasannya. Aku ingin berlama- lama menatap Raya. Meski berada di rumah sakit yang sama, nyatanya kami jarang bertemu meski hanya berpapasan. Dan aku tau, Raya takut kalau Mahfudz bersamaku, aku akan memberi tau soal ciuman itu. Dan aku yakin sebentar lagi dia akan merengek minta ikut menjenguk professor.
"A- aku ikut!"
Aku hampir tak bisa menahan senyumku. Benar apa kataku, kan? Kami berjalan bersama menuju ruangan professor. Di sepanjang koridor tak henti- hentinya Raya bergelayut manja pada lengan Mahfudz membuatku merasa terbakar dalam hatiku.
"Eh, Mahfudz? Kamu di sini?" sapa professor terheran- heran.
"I- ya, Prof. Ta-di a-ku la-gi an-tar Ra-ya ke si-ni ta-pi ka-ta-nya pro-fes-sor la-gi sa-kit. Mum-pung a-ku di si-ni, se-ka-li-an mam-pir sa-ja, Prof. Professor sakit apa?" tanya Mahfudz.
"Aaaihhh, ini cuma sakit biasa. Namanya juga orang tua, asam lambung sedikit naik. Sudah saya bilang tidak perlu diopname, semua bersikeras saya harus opname. Ya sudah. Anggap saja liburan di hotel. Hahaaha...." gelak tawa Professor membahana di ruangan ini.
Aku tak menyangka Professor seceria ini bertemu Mahfudz.
"Gimana kabarmu koas di, Rumah Sakit Harkit?" tanya Professor lagi.
Selama beberapa menit, percakapan itu didominasi oleh Professor dan Mahfudz. Sementara aku hanya memandangi Raya yang terlihat kikuk karena ku pandangi. Wanita yang kucintai ini sangat gelisah oleh pandanganku. Sampai ketika Mahfudz dan Professor memiliki jeda saat berbicara tiba- tiba Raya mengambil sesuatu dari tasnya. Itu sebuah amplop. Apa itu?
"Prof, maaf kalau saya menyampaikan ini disaat yang kurang tepat, namun saya lihat Professor sudah agak lebih baikan dari yang kemarin dan pasti bisa menerima ini. Mohon diterima surat pengunduran diri saya, Prof!"
Bak disambar petir, aku, Professor bahkan Mahfudz sangat terkejut dengan kata- kata Raya itu. Aku bahkan tak bisa berucap apa pun.
"Apa maksudmu?" tanya Professor kaget.
__ADS_1
Beliau menerima surat resign dari Raya dan membuka amplopnya dan membaca isinya.
"Ka-u ma-u re-sign? Ke-na-pa tak bi-lang pa-da-ku du-lu, Ray?" tanya Mahfudz kaget.
Jelas saja dia kaget, kalau Raya berhenti bekerja, siapa yang cari uang nanti. Anak koas gembel itu, makiku dalam hati.
"Maaf, Prof. Aku sudah lama disuruh berhenti oleh Mahfudz bekerja karena kehamilanku. Dia tidak mau aku terlalu capek. Maaf, sayang. Waktu kau menyuruhku berhenti itu, kan sudah kukatakan akan kupertimbangkan. Aku sudah lama memikirkannya. Dan baru tadi malam aku benar- benar membuat keputusan ini. Jadi aku rasa aku tak perlu memberi tahumu lagi," kata Raya pada Mahfudz.
Professor selesai membaca surat itu dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Professor memberikannya lagi pada Raya.
Yang benar saja, Raya! Kau ingin berhenti kerja karena ingin menghindariku? batinku marah padanya.
"Surat pengunduran dirimu tidak diterima. Kalau memang alasannya karena kehamilanmu, ambil cuti saja!" kata Professor tegas.
Kali ini aku mendukung Professor. Aku ikut mengangguk meski tak berkata apa pun.
Raya kembali meletakkan amplop itu di ranjang Professor.
"Prof, aku tidak tau untuk berapa lama aku membutuhkan libur. Tapi yang jelas sampai aku melahirkan masih butuh beberapa bulan lagi, dan setelahh melahirkan aku rasa aku masih menunggu sampai anakku berusia setidaknya 6 bulan atau satu tahun, baru bisa kutinggal kerja. Jadi, mohon terima saja Prof, atau saya akan tetap memberikan surat resign ini pada HRD untuk diproses."
Professor menghela napas panjang.
"Baiklah, ini sementara ku terima. Sampai kamu siap kerja lagi, datanglah kembali ke sini, Rumah Sakit Siaga Medika, selalu siap menerimamu kembali kapan saja." Kata professor dengan nada yang tak bisa dibohongi terasa berat, beliau sedih.
"Terima kasih, Prof. Aku pamit dulu. Hari ini saya masih kerja. Kamu masih ingin di sini, sayang?"
Raya bertanya pada Mahfudz dan segera dijawab Mahfudz dia juga ikut pamit karena masih akan ke rumah sakit Harapan Kita untuk koas.
Sesaat setelah mereka pergi aku ingin sekali mengejar Raya dan mempertanyakan apa alasan sebenarnya dia ingin resign? Aku yakin ini masih karena aku menciumnya tanpa persetujuaannya. Namun Professor menahanku.
"Terjadi sesuatu saat kalian berangkat ke perjamuan kemarin?" tanya Professor menghakimiku. "Kau mempermalukannya lagi, Li?"
"Ti- tidak, kek! Aku cuma ...." Aku tak sanggup melanjutkan kata- kataku.
"Raya, bukan orang segampang itu mengambil keputusan. Tapi dalam jangka sehari dia bisa memutuskan untuk berhenti, pastilah karena ada pemicunya. Kalau tidak, tidak mungkin dia melepas pekerjaannya begitu saja hanya karena alasan kehamilan saja. Bukan mudah dia meraih karirnya hingga sampai di posisi ini," kata Professor terdengar menyalahkanku
Aku mengangguk. Aku dalam hal ini juga merasa terkejut dan merasa bersalah atas keputusan yang dibuatnya.
"Lupakan Raya, Li. Dia sudah jadi istrinya Mahfudz ...."
Aku menggeleng. Ini membuatku depresi. Kenapa Kakek harus ikut campur perasaanku?
"Aku tidak bisa, Kek! Aku mencintai Raya!"
"Aku mengatakan ini padamu sebagai seorang pria dan orang yang telah menganggapmu sebagai cucunyua sendiri. Aku mengatakan ini bukan sebagai kakeknya Tya. Lupakan Raya, Li! Dia bukan jodohmu. Seberapa pun kerasnya kau berusaha, pada akhirnya itu hanya akan menyakiti dia dan dirimu sendiri, bahkan orang lain seperti suaminya, ummiknya bahkan anak- anakmu Arraya dan Rayhan."
Air mataku menetes sekarang. Benarkah akhirnya semua akan menyakiti banyak orang?
"Andai Raya masih sendiri. Tidak terikat pernikahan dengan orang lain. Kakekmu ini yang akan datang memohon padanya agar bersedia memaafkan kesalahan- kesalahan kita di masa lalu dan juga memohon agar dia mau membuka selapang- lapangnya hatinya agar mau menerimamu kembali untuk kau jadikan istri. Tapi sekarang lihatlah! Ada Mahfudz di sebelahnya tadi. Tak bisa kau lihat cinta di antara mereka?"
"Kek ....!" protesku.
"Bukalah hatimu pada orang lain. Kakek akan mengatur perjodohan untukmu. Kakek akan mencari wanita terbaik yang bisa mendampingimu dan jadi ibu bagi anak- anakmu!"
"Kakek!" protesku lagi.
Kenapa dia tak mengerti perasaanku.
"Tiap kali kau punya hasrat tak sepatutnya untuk menginginkan milik orang lain, ingatlah, Li! Kau punya anak- anak dan keluarga yang harus kau jaga juga martabatnya. Kau tak sepantasnya mengharapkan istri orang lain!"
Kakek atau Professor Ayyub membungkam mulutku kali ini. Membuatku sedih mengingat wanita yang mengisi hatiku itu mulai besok mungkin tak akan ada lagi di sini.
\*\*\*\*\*\*
Telah beberapa hari aku jadi IRT sejati di rumah. Keputusanku untuk berhenti kerja sempat membuat semua orang kaget. Tapi menurutku inilah yang terbaik. Dari awal Mahfudz memang ingin aku berhenti kerja selama aku hamil namun aku mengabaikan inginnya karena lebih memilih karirku. Dan akhirnya kejadian dengan Ali itu, kupikir adalag sebuah teguran dari Allah karena ketidakpatuhanku terhadap suamiku membuatku tersiksa batin.
Sementara itu minggu ini Ummik sibuk mempersiapkan acara 7 bulananku. Mama mertua pun telah menyanggupi akan hadir di hari itu. Namun 2 hari sebelum acara 7 bulanan, hal naas kembali datang ke kehidupan kami.
Vidio porno Tiwi itu entah siapa pelakunya menyebar luas di internet, dan Mahfudzlah yang menjadi tersangka utamanya. Masalah ini seketika menjadi rumit karena menyangkut anak di bawah umur. Berita- berita lokal dan nasional hingga komisi perlindungan anak ikut mengecam masalah itu.
Membuatku stress karena semua orang membicarakan itu.
Hingga di Hari "H" 7 bulananku, sebuah vidio masuk ke dalam aplikasi WA- ku.
__ADS_1
[Dokter, suamimu sedang bersamaku sekarang, bagaimana menurutmu?]