I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Menjalankan Misi


__ADS_3

Part 19


Ali menghempaskan tubuhnya di ranjang king size tempat dia akan menghabiskan malam pengantinnya dengan Marhamah. Kini mereka sedang berada di salah satu kamar hotel suite room. Hari ini cukup melelahkan. Bukan cuma tubuh, pikirannya pun lelah memikirkan kejadian di resepsi pernikahannya tadi siang.


Sebenarnya ada hubungan apa Raya dan Waridi, paman daru istrinya itu? Kenapa mereka selalu bersitegang setiap kali bertemu? Ali ingat dulu dia yang memperkenalkan Raya dan Waridi ketika anak dari wakil walikota itu tengah dirawat di rumah sakit Siaga Medika. Dari situ pun sebenarnya Ali sudah tau kalau Raya dan Waridi telah memiliki hubungan yang tidak baik. Ali selalu merasa antara Raya dan Waridi selalu ada tatapan dan senyum sinis ketika mereka bertemu.


Kedua kalinya dia merasa ada yang tidak beres adalah ketika ada perjamuan di RSIA Satya Medika. Saat itu Ali tengah mencari Raya ke toilet karena Bu Hera istri dari Walikota Darwis mencari dokter cantik itu. Dia menyaksikan sendiri saat Waridi berusaha mendekatinya dan Raya terus mundur dengan raut wajah cemas. Karena khawatir dengan keadaan Raya, Ali segera menghampirinya tanpa kepikiran lagi untuk mencari tau atau mencuri dengar percakapan antara mereka.


Ngomong- ngomong soal perjamuan RSIA Satya Medika, lamunan Ali seketika teringat pada ciumannya pada Raya di mobil itu. Dia masih ingat rasanya, bibir lembut dan hangat itu. Ali memejamkan matanya, bayangan itu tidak bisa hilang. Malah semakin jelas berada di pikirannya.


Bayangan itu baru menghilang ketika Ali merasa ada yang duduk di sebelahnya. Astaghfirullah Ali! Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau memikirkan wanita lain bahkan istri orang lain saat istrimu sendiri bahkan ada di sini? rutuknya mengutuk dirinya sendiri.


"Kau sudah selesai bersih- bersih?" tanya Ali.


Marhamah yang kini hanya memakai kimono itu cuma mengangguk canggung.


"Kau juga mandilah dulu!" katanya pada Ali.


Ali mengiyakan dan meraih handuk. Segera ia memasuki kamar mandi dan membasahi seluruh tubuhnya di bawah guyuran air shower.


"Raya ...." gumamnya.


Dia selalu mengingat wanita itu. Dulu pun saat dia menikah dengan Tya, di malam pertama pun dia selalu memikirkan Raya, gadis yang ditinggalkannya demi sebuah kesepakatan. Dan kini pun sama, apakah dia harus berhubungan dengan Marhamah sementara di hati dan pikirannya cuma ada Raya? Kenapa aku masih tetap tak bisa menghilangkannya dari pikiranku, keluhnya.


Selesai mandi Ali segera bergabung kembali dengan Marhamah di atas ranjang. Entah bagaimana ia harus memulainya.


"Mar ...." panggilnya.


Marhamah yang sedari tadi sudah membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi tempat Ali tidur menoleh dengan hati yang berdebar- sebar. Apakah Ali akan ....


"Hmm ....?"


"Ngomong- ngomong apa kamu tau apa yang terjadi antara Raya dan Om Waridi?"


"Maksudnya?"tanya Marhamah mulai menunjukkan ketidaksenangannya.


Oh, jadi ini hanya tentang Raya? Aku bodoh sekali, pikir Marhamah.


"Bukan apa- apa. Aku hanya bingung, kenapa mereka selalu bersitegang kalau bertemu. Bahkan di pesta pernikahan kita pun begitu," jawab Ali dengan nada yang sangat lunak. Sepertinya ia mengerti perasaan Marhamah yang tidak senang saat ia membahas wanita lain di malam pengantin mereka.


"Oh, mungkin saja itu karena Ayuni. Aku dengar Paman dan Bibi nggak senang dia menikah dengan adik iparnya Raya," kata Marhamah.


"Ayuni? Anak angkatnya Om Waridi? Kamu kenal dengannya? Apa dekat?" tanya Ali penasaran.


Marhamah menggeleng.


"Aku malah baru bertemu dengannya tadi. Sebelum papa jadi Sekda, kami tinggal nggak disini. Jadi jarang ketemu sama paman dan Bibi. Saat aku kuliah kedokteran, barulah aku tinggal di sini karena Papa juga dipindahtugaskan ke sini. Tapi saat itu Ayuni yang disekolahkan di luar kota. Saat Ayuni menikah dengan suami pertamanya yang orang Vietnam itu, kebetulan aku juga sedang koas di Penang. Jadi benar- benar baru bisa bertemu hari ini. Itu pun tadi aku belum sempat menyapanya, sudah ada kejadian begitu."


Ali manggut- manggut.


"Oh, jadi begitu. Mengenai anak- anaknya Om Waridi gimana?" tanya Ali.


"Dia punya dua anak laki- laki. Satu tinggal di luar negeri, satu tinggal di Jakarta. Meski sepupu, kami juga hampir tidak pernah bertemu, jadi memang selama ini sebelum kami pindah ke sini, komunikasi kami nggak terlalu baik. Baru sekitar 5 tahunan ini saja kami dekat dengan Paman dan Bibi, itu pun karena Paman Waridi membantu Papa untuk menjadi Sekda," ujar Marhamah.


Ali lagi- lagi hanya mengangguk.


"Bisa kamu ceritakan sedikit tentang Om Waridi?"


"Kenapa kamu ingin tau? Aku tidak banyak tau sih soal dia, hanya saja ...."


"Hanya saja apa?" tanya Ali penasaran.


Marhamah menatapnya ragu.


\*\*\*\*\*\*


"Aku tidak menyangka kamu masih berani datang ke kantor ini," kata Waridi menatap Fuad dengan wajah murka.

__ADS_1


Hari ini dia menyuruh Fuad ke ruangannya karena tak menyangka ia masih melihat lelaki itu saat apel pagi. Sesungguhnya Waridi berpikir kalau Fuad tidak akan berani untuk datang ke kantor lagi


Fuad tersenyum kalem.


"Tidak ada alasan aku untuk tidak datang bekerja. Ngomong- ngomong namaku sudah tercatat di data base pusat sebagai honorer, kenapa aku harus berhenti bekerja hanya karena seorang maniak incest?" balas Fuad dengan senyum merendahkan.


Waridi kini tersenyum tak kalah sinis.


"Kau pikir aku tidak bisa memecatmu sekarang juga, haa?!! Aku Waridi, tidak akan membiarkanmu bisa berbuat sesukamu."


Fuad menarik napas panjang sebelum dia meraih kerah baju Waridi, memegangnya pelan lalu mencengkeramnya kasar.


"Ahhh, Papa Mertua. Jangan lupakan, aku masih punya kartu As yang bisa membungkammu. Aku Fuad, akan berbuat apa pun yang aku mau! Jangan coba- coba menyingkirkan ku dari kantor ini. Atau ..."


"Atau apa?" tantang Waridi.


"Atau aku akan membuatmu populer dalam satu unggahan Vidio ke channel youtubeku. Ngomong- ngomong berkat kau menculik kakak iparku tahun lalu, aku jadi punya banyak subscriber loh. Jadi untuk membalas jasamu, aku bisa membuatmu populer dalam sekejap. Dan .... Mungkin saja itu akan berguna menarik massa untuk kepentingan pemilu cagub Waridi beberapa bulan lagi, bagaimana menurutmu Papa mertua?"


"Ka- kau .... Berani- beraninya kau mengancam ku.! Kau tidak tau siapa yang kau tantang, bocah!" bentak Waridi murka.


Bentakan itu hanya dibalas senyum oleh Fuad.


"Tentu saja aku tau. Waridi Soeharsono. Papa mertuaku yang licik, aku belajar darimu. Oleh karena itu, selain mendukungku untuk tetap bekerja di sini, tolong dukung aku untuk pemilu nanti!"


"Mendukungmu?"


"Yah, karena istriku sudah tau aku memerasmu dan dia tidak mau makan uangmu, jadi aku memutuskan untuk mencalonkan diri jadi calon anggota legislatif untuk pemilu nanti."


"Kau pasti bermimpi," kata Waridi meremehkan. "Jadi calon anggota legislatif, dengan dirimu yang miskin itu? Aku meragukannya. Hahaha !!!" gelak tawa Waridi terdengar membahana di kantornya itu.


"Kita lihat saja nanti. Kita memang di arena yang berbeda, tapi ini pertandingan kita. Kau akan kalah di hari itu. Pegang kata- kataku!"


"Oh, ya? Kau percaya diri sekali?" Balas Waridi. "Kalau kau begitu yakin, bagaimana kalau kita taruhan saja?"


Fuad tersenyum sinis.


"Ayuni, yang jadi taruhannya, bagaimana? Kalau aku menang, kamu kembalikan dia padaku. Kalau aku kalah kau akan dapatkan apa saja yang kau mau." tantang Waridi.


Fuad tertawa.


"Ayuni yang jadi taruhannya?"


Tanpa diduga oleh Waridi, Fuad langsung menendang tulang kering Waridi, hingga lelaki itu terduduk berlutut di hadapannya.


"Bahkan dalam mimpi pun, jangan berani memikirkannya."


Fuad segera berbalik dan meninggalkan Waridi tanpa peduli teriakan Waridi yang memakinya.


"*******! ******** kau, brengsek!" teriak Waridi di antara ringisan kesakitannya.


"Bye!!!"


Fuad melambaikan tangannya tanpa menoleh dengan senyum kemenangan di bibirnya.


Hingga Fuad tak terlihat lagi, Waridi mencoba bangkit menahan rasa ngilu di betisnya. Anak itu benar- benar kurang ajar! Berani- beraninya, pikir Waridi. Dengan tertatih Waridi kembali ke kursinya.


Dengan rasa geram, Waridi meraih telepon genggam yang sedari tadi tergeletak di mejanya. Lalu setelah ia menyentuh beberapa tombol, ia segera menghubungi salah satu kontak di ponselnya.


"Hallo, Bos!"


Suara itu terdengar di seberang sana.


"Go! Cari tau informasi tentang seseorang untukku! Semua apa pun yang berhubungan tentang dia. Apa pun yang jadi kelemahannya! Semuanya, Go!"


Gogo, di seberang sana menyahut dengan penuh perhatian.


"Baiklah, Bos! Siap! Siapa kali ini yang perlu kami mata- matai."

__ADS_1


"Namanya Fuad! Dia suaminya Ayuni yang sekarang."


"A- Ayuni? Maksud Bos Ayuni yang ...."


"Memangnya ada Ayuni yang mana lagi? Akan kukirimkan kau foto dan alamatnya. Kebetulan juga sekarang dia kerja di kantor Walikota, jadi kau bisa mengikutinya dimulai dari sana."


"Ba- baiklah."


\*\*\*\*\*\*\*\*


Di sebuah club malam, Akbar dari sebuah meja tengah mengawasi seseorang pria yang tengah asyik berjoget ria ditemani oleh dua temannua. Dentuman house music yang memekakkan telinga dan kelap kelip lampu disco tak menghilangkan fokusnya terhadap pria itu.


"Jadi apa yang harus kulakukan?" bisik salah seorang wanita PSK di telinganya. Wanita panggilan itu sengaja disewa oleh Akbar untuk menjalankan misinya.


"Kau hanya perlu menggodanya, membuatnya mabuk dan bawa dia ke hotel yang telah kusiapkan! Sisanya aku yang akan atur!"


"Hanya itu? Gampang!" jawab wanita itu percaya diri.


Lalu dengan lenggak- lenggoknya yang aduhai, Wanita itu pun mulai menghampiri pria itu. Tak sulit menaklukkan pria itu. Hanya dengan sedikit inisiatif, dan sedikit gerakan menggoda. Lelaki itu pun langsung menunjukkan responnya.


"Hai, kau sendirian saja, cantik?!" tanyanya setengah berteriak agar bisa menandingi suara musik yang berisik.


Wanita itu merangkul kan tangannya di leher lelaki itu. Dan menjawabnya dengan suara keras di telinga lelaki itu.


"Tadi aku bersama temanku!! Tapi dia dsudah dapat pasangan duluan dan meninggalkanku sendiri di sini!" balasnya setengah berteriak.


"Jadi, kau free??"


Wanita itu mengangguk sambil masih terus berjoget mengikuti irama musik dengan gerakannya yang erotis, membuat lelaki tadi mulai tak bisa mengendalikan dirinya.


"Kau sangat menggoda sayang, mau lanjut di hotel?"


"Ok, asal bayarannya cocok, bos! Tenang saja, aku tidak pasang tarif mahal, kok! Kalau minat, kita bisa nego sambil minum sedikit gimana?"


Lelaki itu setuju dan membawa wanita itu ke sebuah meja.


"Tunggu kupesankan minuman," kata wanita itu.


Lelaki itu mengangguk dan dengan pasrah menunggu wanita itu kembali.


Hanya sekejab wanita itu telah kembali dengan dua gelas minuman beralkohol.


"Ayo, minum dulu."


Lelaki itu mengambil segelas minuman yang dibawakan wanita itu.


"Namaku Lucy!" kata Lucy memperkenalkan diri.


"Aku Alex."


"Ok, Mas Alex, sebelum kita nego, kita bersulang sedikit, gimana? Cheers?"


Alex menyatukan gelas mereka sehingga terdengar suara dentingan gelas yang langsung teredam oleh suara hingar bingar musik. Tidak butuh waktu lama, lelaki itu langsung menurun kesadarannya, karena minuman itu sesungguhnya telah dicampur obat oleh Lucy. Dia butuh bantuan obat agar tugasnya membuat targetnya ini mabuk lebih cepat dibandingkan hanya mengandalkan minuman keras saja. Dan benar saja, hanya butuh segelas minuman saja, lelaki itu kini jatuh setengah sadar di pelukannya.


Dengan memberikan kode OK dengan tangannya pada Akbar, Lucy pun mulai memapah korbannya, ke salah satu hotel dimana itu akan menjadi tempat eksekusi yang dimaksud oleh Akbar.


Akbar membiarkan Lucy duluan sementara ia masih mengamati situasi di dalam club.


"Loh, tadi Alex kemana?" tanya salah seorang pria pada temannya.


Sepertinya mereka baru menyadari kalau temannya telah hilang dari sisi mereka.


"Alaaah, biasalah. Palingan dia lagi mantap- mantap sama cewek tadi. Kamu kayak nggak tau Alex aja. Paling besok juga pulang," jawab temannya itu.


Akbar tersenyum mengetahui kalau misinya kali ini sepertinya akan berjalan lancar.


Alex, adalah ajudan Kapolres yang terkenal playboy dan suka bermain perempuan. Dia sendiri telah memiliki istri. Akbar akan memanfaatkan hobby buruknya itu untuk kepentingannya menjatuhkan Waridi. Lelaki itu pasti bisa membantunya bertemu dengan Anton. Tidak sabar dengan hal itu, Akbar bangkit dari duduknya dan membayar bill di kasir. Dia harus menyelesaikan tugas ini malam ini.

__ADS_1


__ADS_2