I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Isyarat


__ADS_3

"Dok-ter Ra-ya men-cin-taiku?"


Mahfudz bertanya dengan menggunakan bahasa isyarat.


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Suara seprai pasien yang dijemur berkibar-kibar di tiup angin.


Dia menatapku, aku melihat semburat kecewa di wajahnya. Aku menundukkan pandanganku. Aku tetap membisu.Suasana ini sangat membuatku canggung.


"Ti-dak?"tanyanya lagi.


Raya, katakan sesuatu, kataku dalam hati.


Entah apa yang kupikirkan tadi, sehingga aku nekad mengajaknya menikah.


Mahfudz membalikkan badannya, kecewa karena aku tak kunjung membalas pertanyaaannya.


"Aku tidak tau"jawabku jujur.


Dia batal membalikkan badannya. Dan mendekat padaku hingga kini dia berada beberapa centimeter tepat di hadapanku.


"A-ku a-ka-n me-ni-ka-hi-mu ka-la-u ka-mu -cin-ta pa-daku, dok-ter"


Mahfudz menatapku serius. Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku sendirian di atap ini. Aku merasa nelangsa.


\*\*\*\*


Aku memijat pundak Ummik sepulang bekerja dari rumah sakit sambil menonton tv.


"Ray...?"


"Ya, Mik?"sahutku.


"Kamu sedang tidak ingin bujukin Ummik buat nerima Ali lagi kan?" Ummik terdengar gusar.


"Astaghfirullah, Ummik kok mikirnya suudzon gitu sih?"jawabku kaget.


"Habis, kamu kalau pulang kerja langsung mijitin badan Ummik biasanya karena ada maunya sih. Ummik sudah dengar kalau istrinya lelaki itu berpulang kerahmatullah. Ummik sih turut prihatin mendengarnya. Tapi kalau sampai dia mengajak kamu balikan apalagi sampai menikah, Ummik nggak akan ridho, Ray" tandas Ummik.


Aku mendesah sambil terus memijat pundaknya ummik. Kali ini aku beralih memijat kepala Ummik. Aku teringat sikap Ali ketika aku melayat ke rumahnya. Dari sikapnya aku bisa mengetahui kalau Ali ingin aku bertanggungjawab atas kematian Tya dengan menikah dengannya.


"Ummik...." Aku ragu-ragu bertanya.


"Hmmm...."


"Kalau semisalnya Raya berhenti kerja di rumah sakit, tawaran Ummik soal membangun klinik itu masih berlaku nggak, Mik?"tanyaku.


Ummik menoleh padaku, sehingga aku menghentikan pijatanku.


"Kamu mau berhenti dari rumah sakit? Tumben. Ada apa, Ray? Kamu ada masalah di rumah sakit? Cerita ke Ummik"


Aku tersenyum. "Nggak ada kok, Mik. Beneran. Raya hanya berpikir, sesudah Tya meninggal, pasti akan lebih banyak lagi orang yang berpikir kalau Raya akan balik lagi dengan Ali. Buktinya Ummik aja udah berpikir kayak gitu ke Raya"


"Kamu mau lari dari keadaan? Apa itu sifat asli anak ummik?"


Aku terdiam dan memeluk tubuh Ummik. Damainya.


"Ummik..." Aku masih memeluk Ummik.


Ummik tidak menjawab, tapi aku tau dia menanti kata-kataku selanjutnya.


"Kalau Raya menikah dengan orang yang tidak sesuai harapan Ummik, gimana, Mik? Ini bukan Ali yang Raya maksud..."


Ummik menoleh padaku.


"Kenapa? Kamu punya calon yang diam-diam kamu nggak kasih tau ke Ummik?"


Aku menggeleng. Masih tetap bergelayut manja pada Ummik "Jawab aja, Mik."


"Yang nggak sesuai harapan Ummik..." Ummik mengulangi kata-kataku. "Memangnya kamu tau menantu harapan Ummik yang seperti apa?"


Aku mengangguk. "Yang baik, yang soleh, yang rajin sholatnya, bisa membimbing Raya dunia akhirat..."kataku mengira-ngira.


"Itu kamu tau. Terus kenapa masih cari yang tidak sesuai harapan Ummik?"


"Kalau ada yang seperti itu, Ummik, tapi dia punya kekurangan. Gimana, Ummik?"

__ADS_1


Ummik mulai curiga pada pertanyaan-pertanyaanku.


"Memangnya ada orang yang nggak punya kekurangan, Ray?"Ummik balik tanya. "Ummik punya kekurangan, kamu juga. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya aja."


Aku memejamkan mataku membayangkan seseorang.


"Kalau kekurangannya, kekurangan fisik gimana, Mik? Dia tuna wicara. Dia calon dokter juga yang sedang koas, tapi dia baik hatinya, rajin sholatnya..."


"Raya!!!! Kamu..."


Ummik melepaskan pelukanku. Ummik melihatku dengan sangat-sangat serius.


"...yang kamu maksud, anak yang waktu itu sama kamu?" Ummik terlihat terkejut.


Aku tidak menghiraukan keterkejutan Ummik. Aku malah memeluknya lagi. Lebih erat dari yang tadi.


"Raya bingung, Mik ..."


Ummik mendesah masih tak percaya pada yang didengarnya.


\*\*\*\*


Hari ini aku masuk kerja seperti biasa di shift pagi. Aku dan Mahfudz saling membuang muka. Yang kuperhatikan lagi ada yang lain dari dokter residen Sherly. Dia tak seperti biasanya padaku. Biasanya dia senang hati menegurku.


"Hari ini ada sesuatu yang buruk terjadi?"tanyaku.


"Nggak, Dok!"jawabnya ketus.


"Kalau ada masalah pribadi, jangan dibawa ke kerjaan. Wajah jangan ditekuk kayak begitu, nanti pasien malah tambah sakit melihat wajah dokternya kayak begitu" tegurku.


"Iya, Dok!"jawabnya sambil menunduk malu.


"Kita keliling ke bangsal, ayo semuanya" ajakku pada mereka.


Aku sendiri punya masalah, tapi berusaha tak menunjukkannya pada mereka.


Sampai di bangsal, kegiatan rutin adalah menanyai kondisi pasien. Tapi yang menarik bagiku hari ini adalah melihat seorang anak yang berbicara bahasa isyarat dengan lancar pada orang tuanya.


"Hallo, sayang...!"sapaku.


Anak itu duduk di ranjang menemani ibunya yang berbaring. Di bangku plastik sebelah ranjang duduk suaminya. Sementara di sebelah ranjang, ada box berisi bayi baru lahir. Bayi itu bangun namun tidak menangis.


"Ibu pasien SC-nya dr. Samuel?" tanyaku.


"Iya, Dok!"Suaminya yang menjawab.


Aku memperhatikan anak perempuan yang rambutnya di kuncir itu. Sepertinya dia habis mandi.


"Namanya siapa, Nak?"tanyaku.


Aku kira ayah atau ibunya anak ini yang akan menjawab, karena anak aku berpikir anak itu difabel atau tuna rungu.


"Namaku Alisa, Tante..."


Aku terkejut, ternyata dia bisa berbicara normal dan bisa mendengar juga.


"Wow, nama yang bagus, sayang. Alisa bisa bahasa isyarat?"tanyaku.


Mahfudz terlihat ikut tertarik pada anak itu.


"Bisa" jawab anak itu bangga.


"Istri saya penyandang difabel dari sejak lahir, Bu Dokter. Jadi saya dan anak saya ini sudah terbiasa jadi teman dengarnya. Bahasa isyarat sudah jadi bahasa sehari-hari kami" kata suaminya menjelaskan.


"Oh, ya...??!" Aku antusias sekali. "Bagus donk, Pak! Aku malah kenal seseorang yang punya kebutuhan seperti istri Bapak, dia malas atau malu mungkin pake bahasa isyarat, jadi dia lebih sering ngetik di hp atau nulis di kertas gitu" kataku sambil melirik ke Mahfudz.


Aku sengaja menyindirnya karena sebal dia mengabaikan ajakanku menikah waktu di atap itu.


Semua nakes yang ikut rombonganku keliling rumah sakit melihatku dengan pandangan tak masuk akal. Mungkin mereka tak habis pikir kenapa aku harus menyindir Mahfudz. Mereka semua tau siapa orang yang kumaksud. Tapi aku tak peduli.


Aku melirik Mahfudz, ingin melihat reaksinya akan sindirinku. Tapi sepertinya dia juga terlihat masa bodo. Membuatku tambah sebal.


"Kamu bisa donk, sayang, ajarin tante sedikiiiiit aja bahasa isyarat" pintaku.


"Bisa" kata Alisa.

__ADS_1


"Kalau bahasa isyaratnya, kamu bohong, gimana"tanyaku masih sambil melirik Mahfudz yang pura-pura sibuk dengan kertas catatannya.


Alisa menunjukkan caranya padaku. Dia menunjuk padaku. Lalu membentuk tangannya seperti kepala ular dan menggerakkannya dari kiri ke kanan sejajar dengan mulutnya.


"Oh, jadi begitu caranya kalau mau bilang kamu bohong?"kataku manggut-manggut sambil menirukan bahasa isyarat Alisa.


"Iya, Tante. Tapi wajah tante juga harus kelihatan marah, biar orang yang pembohong itu tau kenapa tante bilang dia pembohong" kata Alisa menjelaskan.


"Ohh... Begitu..." kataku lagi. "Jadi, contohnya gini..."


Aku menunjuk Mahfudz dengan ekspresi wajah marah, lalu menirukan bahasa isyarat yang diajarkan Alisa. Semua orang memandangku geli. Mungkin mereka menganggap aku sudah gila.


"Seperti itu?"tanyaku pada Alisa.


Alisa mengangguk.


Aku meletakkan kepalan tanganku di dada, kemudian menyilangkan kedua tanganku yang terkepal di dada, dan menunjuk pada Alisa.


"Terimakasih, cantik!"ucapku.


"Bukan seperti itu caranya ngucapin terima kasih, Tante! Tapi seperti ini"


Alisa menempelkan jarinya di dagu dan melepaskannya ke arahku, seperti gerakan kiss bye yang pernah kulihat di lakukan Mahfudz saat mengucapkan terima kasih padaku. Tapi itu kan beda dengan ucapan terima kasih yang pernah diajarkannya padaku.


"Terus yang Tante buat tadi, bahasa isyaratnya apa donk? Artinya apaan?" Aku melirik lagi ke Mahfudz. Awas aja, kalau artinya aneh-aneh.


Alisa senyum-senyum.


"Itu artinya, aku sayang kamu. Contohnya, begini"


Alisa menirukan bahasa isyarat yang kukira ucapan terima kasih itu, pada Ibunya dan juga pada adiknya yang baru lahir.


"Aku sayang padamu, Mama. Aku sayang padamu, dek!"


Seketika aku tersipu melihat jawaban anak itu. Aku melirik lagi pada Mahfudz. Wajahnya memerah.


"Terus, kalau ada orang yang mengatakan itu ke kita, kita harusnya jawab apa?"tanyaku.


Alisa berpikir dan kemudian menjawab. "Jawab saja sama-sama, seperti ini bahasa isyaratnya."


Alisa menirukan bahasa isyarat "sama-sama". Itu persis bahasa isyarat yang Mahfudz katakan padaku ketika dia menipuku dengan bahasa isyarat terima kasih yang sebenarnya artinya adalah "aku sayang padamu."


Aku ingat dia bilang "sa-ma sa-ma" saat kami ada di area penculikan itu.


"Atau bisa juga jawab I Love You"


Alisa menunjuk pada dadanya, setelahnya dia membentuk simbol hati dengan jarinya, dan menunjukkannya ke arah Mahfudz.


"I Love You, Om Ganteng!"


Mahfudz tersenyum dan membalas bahasa isyarat anak itu. "I lo-ve you too can-tik"


Mata kami sempat beradu sejenak sebelum aku menjauhkan pandanganku. Aku tak bisa lagi menatapnya. Ya, Tuhan, lenyapkanlah aku detik ini dari pandangannya, aku malu, aku tak bisa memandang wajahnya lagi."


Dari televisi yang menyala di bangsal kelas II itu sedang di putar lagu yang diaransemen ulang dari salah satu tembang lawas.


Kalau kau benar-benar sayang padaku,


Kalau kau benar-benar cinta,


Tak perlu kau katakan semua itu,


Cukup tingkah laku...


Sekarang apalah artinya cinta, kalau hanya di bibir saja, cinta itu bukanlah main-mainan


Tapi pengorbanan


Aku merasa lagu itu seperti ditujukan dengan situasiku saat ini.


Aku segera mengajak rombongan pergi menuju bangsal lain, namun mulut-mulut usil anak-anak koas dan akbid itu sepertinya tau lagu itu mengena sekali ke hatiku. Di sepanjang koridor, mereka hanya menyanyikan lagu itu. Aku dan Mahfudz hanya terdiam terbawa suasana yang dibawa oleh lagu itu.


Semua bisa bilang sayang,


Semua bisa bilang,

__ADS_1


Apalah artinya sayang,


Tanpa kenyataan..


__ADS_2