I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Anton


__ADS_3

"Terima kasih Mama sudah mau datang," kataku pada Mama.


"Ya iyalah, masa Mama nggak datang di acara 7 bulanan menantu Mama," jawabnya sambil mengelus perutku yang kini nyata terlihat membuncit.


Aku sedikit lega karena Mama tidak membenciku seperti yang sempat kupikirkan.


"Ayuni!" panggilku pada Ayuni yang sedang menggendong Rahmat sambil mengurus ini itu keperluan apa yang kurang. Memang ibu muda yang telaten.


"Kamu salim Mama!" suruhku.


Ayuni ragu- ragu mencium tangan Mama. Dan nampak jelas Mama terlihat ogah memberikan tangannya pada Ayuni.


"Bagaimana kabar Mama?" tanya Ayuni takut- takut.


Aku menatap Mama seakan memberi peringatan agar Mama bersikap baik pada Ayuni. Dan Mama melihat itu.


"Baik. Alhamdulillah, bagaimana kabarmu dan Fuad? Anakmu? Apakah semuanya sehat?" tanya Mama meski terlihat seperti basa- basi.


"Alhamdulillah semua sehat, Ma." jawab Ayuni.


Mama mengangguk- angguk dan beralih padaku.


"Ray, Mama dengar kamu berhenti kerja, benar?"


Aku mengangguk. "Iya, Ma. Mahfudz sudah lama menyuruh Raya, sejak tau Raya hamil Mahfudz memang terlalu mengkhawatirkan Raya, Ma."


Aku kira Mama akan kecewa mendengarnya. Namun nyatanya Mama terlihat senang.


"Kalau gitu, kenapa kamu dan Mahfudz tidak tinggal di rumah Mama aja dulu, kan di sini ada Fuad dan Ayuni yang jagain Ummik kamu?"


Aku melirik pada Ayuni. Raut wajahnya terlihat sedih. Aku bisa merasakan apa yang dia rasa. Mama terlalu memperlihatkan kalau dia pilih kasih kepada kami.


"Kak Raya, Ma! Ayuni permisi mau ngurusin Rahmat dulu, sepertinya dia pup." pamitnya.


Aku cuma mengangguk. Namun setelah dia pergi, aku kembali melanjutkan pembicaraan dengan Mama.


"Kenapa nggak ngajak Ayuni aja, Ma? Dia juga menantu Mama."kataku.


"Kamu itu menantu perempuan Mama yang sulung, Ray. Dengan kamu saja Mama belum pernah menghabiskan waktu banyak dengan kamu, kok malah nyuruh dia tinggal sama Mama? Udahlah, kamu tinggal di rumah Mama aja sampai melahirkan. Nanti Mama yang kasih tau Mahfudz."


"Tapi, Ma ...."


"Udah, pokoknya Mama nggak suka dibantah. Dan ngomong- ngomong soal berita itu, jangan terlalu kamu pikirin,ya sayang. Kamu percaya sama Mahfudz kan?"


Aku mengangguk.


Kasus vidio asusila yang beredar itu memang sempat membuat geger dan membuat Mahfudz dan Fuad terlibat masalah serius karena Rini terang- terangan melaporkan Mahfudz sebagai pelaku pelecehan terhadap adiknya setelah vidio itu beredar. Begitu pun Tiwi, masih kekeuh dengan pernyataannya kalau lelaki di vidio yang bersamanya adalah Mahfudz. Namun dikarenakan tidak cukupnya bukti, karena Mahfudz memiliki seorang kembaran dan juga fakta tentang tahi lalat yang dimiliki oleh pelaku asusila di vidio itu, yang tidak dimiliki Mahfudz, membuat kasus ini masih berada dalam tahap penyelidikan yang alot. Dan untuk sementara Mahfudz ditetapkan menjadi tahanan kota sampai bukti- bukti yang diperlukan terkumpul untuk menetapkan siapa pelaku sebenarnya.


Acara 7 bulanan ini sebenarnya hanya diisi oleh pengajian yang dipimpin oleh ustadz yang telah dipilih Ummik tanpa embel- embel ritual adat istiadat sesuai keinginan Ummik.


Di tengah- tengah menunggu kehadiran ustadz itu tiba- tiba ponsel di kantongku bergetar. Ada chat vidio masuk dari nomor tak ku kenal. Aku membuka vidio itu. Nampak seseorang yang baru-baru ini mengusik hidupku. Tiwi, dia sedang bersama seorang pria mirip Mahfudz itu. Dalam vidio itu pria itu sedang tertidur dengan tubuh bagian bawah ditutupi selimut putih dan bagian atas dengan dada telanjang. Tiwi bervidio ria dengan hanya menggunakan tank top dengan pria mirip Mahfudz sebagai backgroundnya.


Belum selesai aku mengamati vidio itu, chat pesan teksnya kembali masuk.


[Dokter, suamimu sedang bersamaku sekarang, bagaimana menurutmu?]


Aku menarik napas panjang melihat vidio itu. Kuedarkan pandanganku mencari- cari seseorang. Tak kutemukan.


"Ka-u men-ca-ri si-a-pa, sa-yang?


Sosok Mahfudz di sebelahku sedang tersenyum menawan menatapku. Dia terlihat tampan dalam balutan baju koko dan peci di atas kepalanya yang serasi dengan baju yang sedang kupakai.


"Aku mencari Fuad," jawabku.


"Tuh!" Mahfudz memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah Fuad yang sedang menggendong Rahmat yang tertidur dalam pelukannya. Fuad hendak membawanya ke kamar mereka dan Ayuni.


Jadi mereka, Fuad dan Mahfudz ada di sini. Jadi siapa yang bersamaTiwi?


Seketika aku jadi mengingat sosok laki- laki yang menyeberang jalan saat aku dan Ali terjebak macet. Dia melihat Ali menciumku saat itu, kalau itu benar Mahfudz dan Fuad, tidak mungkin kan mereka akan tenang saat istrinya atau Kakak iparnya dicium lelaki lain? Berarti lelaki itu benar- benar orang yang berbeda namu dengan wajah yang sama dengan Mahfudz dan Fuad.


Aku tersentak saat menyadari itu. Aku membalas pesan chat Tiwi.


[Kau di mana? Dia masih bersamamu?] tanyaku tak sabar.


[Kenapa dokter? Kau kira aku berbohong sedang bersama Mahfudz? Kau lihat sendiri buktinya. Dia bersamaku karena dia mencintaiku. Dia berbohong padamu waktu itu karena dia takut kamu meninggalkan dia dan membawa anak kalian.]


Tiwi masih tetap bersikeras kalau itu Mahfudz. Aku harus membujuknya agar memberi tahu di mana dia berada. Orang yang mirip Mahfudz itu penting buat kami. Dia saksi kunci yang bisa membebaskan Mahfudz dari segala tuduhan. Kami harus mendapatkannya.


[Ok, Tiwi. Aku percaya padamu sekarang. Tolong beritahu aku di mana kalian sekarang. Aku harus menyelesaikan ini dengan Mahfudz. Aku harus menangkap basah dia.]


Maaf, aku berbohong.

__ADS_1


[Dia akan marah padaku kalau aku memberitahumu, Dokter]


[Kau jangan khawatir. Dia tidak akan tau kalau kau yang memberitahuku. Nanti aku bilang aku membuntuti kalian]


Tiwi tidak membalas. Nampaknya dia ragu.


[Kalian akan bercerai setelah kau menangkap basah dia?]


Oh, jadi ini tujuannya dia memberi tahuku. Berharap aku dan Mahfudz bercerai.


[Entahlah. Perceraian tidak segampang itu. Tapi mungkin aku bisa pertimbangkan untuk menikahkan kau dan dia, gimana?]


[Benarkah?]


[Iya. Jadi bilang kalian dimana sekarang?]


[Hotel Sekar kamar nomor 102. Jl. Patrice Lumumba di dekat pasar]


Anak polos itu. Apakah dia kira usahanya akan berhasil? Dia tak ragu memberiku nama hotel dan nomor kamar yang ditempatinya dengan orang mirip Mahfud? Kalau pun benar itu Mahfudz, apa dikira aku sebagai istrinya tidak kan menyerangnya? Apa segampang itu menikahkan suami sendiri dengan orang lain. Sepertinya begitulah Tiwi. Dia sangat gampang terperdaya.


 


\\\


 


Author pov


Raya tiba- tiba menarik Mahfudz dan membawanya ke kamar Ayuni.


"Ayo, Fud. Kamu juga Fuad, kamu yang bawa mobil. Kita harus segera ke sana secepatnya!" kata Raya membuat Mahfudz dan Fuad bingung.


"Kita mau kemana memangnya?" tanya Fuad.


"Aku jelaskan di mobil nanti. Kita nggak ada waktu lagi. Fuad! Kamu pinjam mobilnya Mama aja."


"Loh, loh kalian mau kemana, pak Ustadznya sudah dalam perjalanan ke sini loh," cegah Ummik.


"Sebentar, Mik. Ada urusan yang nggak bisaa ditunda saat ini. Mumpung orangnya masih di sana. Kita harus menangkapnya segera. Cuma ini bukti kuat yang bisa melepaskan Mahfudz dari tuduhan itu!" kata Raya


"Mak- sud-nya?" Mahfudz masih bingung.


"Lelaki yang mirip kamu dan Fuad itu sedang bersama Tiwi sekarang, kita harus ke sana. Ayo!"


Mahfudz dan Fuad membelalak kaget mendengar keterangan Raya dan kini tanpa banyak tanya mereka segera mengikutinya ke mobil.


"Daerah mana hotelnya?" tanya Fuad.


"Patrice Lumumba, dekat pasar!" jawab Raya.


Raya tertegun saat mereka sampai di kawasan Patrice Lumumba. Seperti biasa, daerah ini terkenal dengan kemacetannya. Begitu pun hari ini. Ini tempat yang sama saat Raya melihat pria mirip Mahfudz itu pertama kali saat dia menyeberang jalan. Oh, jadi hari itu pun dia sedang bersama Tiwi dan janjian di hotel itu? Pantas saja aku melihat mereka ada di sekitar sini, kata hati Raya.


Dan tempat ini mengingatkannya lagi saat Ali menciumnya. Raya tiba- tiba berkeringat dan jantungnya berdebar- debar. Tanpa sadar dia mengigit bibirnya sendiri. Bagaimana kalau Mahfudz tau soal ciuman itu?


"Kakak Ipar, kau sakit? Wajahmu terlihat pucat." tanya Fuaf


Mahfudz juga menangkap keresahan pada wajah istrinya itu.


"Ka-u sa-kit? Ha-ru-snya ta-di ka-u tak per-lu i-kut ke si-ni. Ki-ta pu-lang du-lu?"


Raya menggeleng. "Keburu mereka check out nanti," jawabnya.


Hotel itu tidak sulit ditemukan, karena memang dekat di kawasan pasar. Hotel sekelas melati dengan bangunan yang sudah lumayan terlihat tua.


Tanpa berpikir panjang ketiganya segera masuk ke dalam hotel. Pada resepsionis hotel Raya mengatakan sudah ada janji dengan seseorang di kamar 102.


Ini bukan hotel dengan sistim keamanan ketat, resepsionisnya segera meminta house keeping untuk mengantar mereka ke kamar yang dimaksud. Kamar itu ada di lantai dua bangunan ini.


Dengan mengucap bismillah sebelumnya Raya mulai mengetuk pintu itu. Tak ada sahutan. Raya lupa kalau Tiwi tidak bisa mendengar. Raya mengetuk lagi. Dan ....


Sesosok wajah mirip Mahfudz itu terlihat membukakan pintu. Wajah baru bangun dan hanya menggunakan celana pendek selutut. Raya kaget, Mahfudz dan Fuad terlebih- lebih. Sempat sekian detik mereka dalam keterkejutannya. Sampai akhirnya Tiwi muncul dari balik punggung lelaki itu. Tiwi juga terkejut melihat Raya yang datang membawa dua orang lelaki yang mirip dengan orang bersamanya. Dia terlihat menyapa Mahfudz dengan bahasa isyarat untuk Mahfudz.


"Ya. A-ku dr. Mah-fudz. A- pa yang ka-u la-ku-kan di si-ni?" tanyanya balik setelah menjawab pertanyaan Tiwi dengan bahasa isyarat.


Tiwi dengan dengan shock melihat pada lelaki yang bersamanya. Dan bertanya dengan bahasa yang gagu. Yang bisa Raya tebak artinya 'kau siapa?'


"Sialan! Kau memanggil mereka ke sini?" bentak lelaki itu marah.


Dia sempat menatap Raya heran. Dia merasa familiar dengan wajah Raya. Sementara wajah lelaki kembar ini, sepertinya dia bisa menebak. Salah satu dari mereka pastinya adalah musuhnya Waridi, lelaki yang berkedudukan sebagai wakil walikota yang telah membayarnya mahal untuk mengubah sedikit kontur wajahnya yang sebelumnya memang ada kemiripan dengan lelaki kembar ini. Sekarang dia merasa kalau mereka seperti triplet kembar 3. Anton nama pria itu.


"Apa yang kau lakukan padanya?"

__ADS_1


Tiba- tiba Fuad merasa marah pada lelaki ini. Selain kesal karena wajahnya ada yang menyerupai selain Mahfudz, dia juga kesal melihat lelaki ini sedang bersama bocah kecil seusia Nadya keponakannya. Itu membuat Fuad merasa marah. Terlebih- lebih dia tau kalau lelaki ini adalah yang menjadi biang kerok sehingga Mahfudz dan dia terlibat masalah hukum karena kasus vidio asusila itu.


Fuad tiba- tiba melayangkan bogem mentah, yang segera ingin dibalas Anton namun berhasil ditahan oleh Mahfudz. Dia memelintir tangan Anton sehingga Anton tak bisa bergerak lagi karena tangannya dipilin ke belakang oleh Mahfudz.


"Bedebah!! Tega sekali kau berbuat begitu dengan anak di bawah umur!!!" teriak Fuad emosi sambil melayangkan tendangannya sekali lagi ke arah ************ pria itu, hingga pria itu menjerit kesakitan.


House keeping yang mengantar mereka tadi berusaha untuk melerai. Begitu pun Raya. Hingga akhirnya house keeping itu pergi ingin memanggil rekan- rekannya untuk membantu mengamankan situasi itu.


"Sudah, Ad. Sudah! Kita bawa aja dia ke kantor polisi," kata Raya.


Anton masih meringis kesakitan sambil berlutut, namun tiba- tiba dia tertawa saat menyadari dimana dia pernah melihat Raya.


"Kenapa kalian ini? Kalian marah padaku karena aku membawa anak ini ke hotel? Kami1aq melakukannya atas dasar suka sama suka. Dan wanita cantik ini istrimu? Atau istrimu?" tanyanya bergantian pada Mahfudz dan Fuad. "Tanyakan padanya, dia juga pernah melakukan itu dengan pria lain kan? Aku melihatnya berciuman di dalam sebuah mobil@aaq saat ada kemacetan di depan pasar. Benar@ kan mbak cantik? Aku yakin salah satu dari mereka adalah suamimu dan orang di mobil yang bersamamu waktu itu bukan satu pun dari mereka berdua."


Raya terkejut mendengar ocehan lelaki itu. Jadi lelaki itu melihat dan mengingat jelasa wajahnya. Raya seketika menjadi pucat. Tangannya dingin.


"A-pa mak-sud-mu? Ja-ngan bi-ca-ra sem-ba-ra-ngan ten-tang is-tri-ku!" Kali ini Mahfudz benar- benar marah sampai dia menekana tubuh laki itu sampai nyaris mencium lantai.


Anton tertawa. "Jadi kau gagu? Pantas istrimu tertarik pada pria lain. Aku tidak berbohong. Ayo kita sumpah pocong agar kaua percaya. Istrimu berciuman mesra dengan seorang pria di mobil abu- abu. Di kaca mobilnya ada tulisan. Tunggu sebentar, aku ingat- ingat dulu. Ar-raya? Raymon? Atau Rayhan? Raynhard? Aku lupa. Ada jugaq tulisan Rumah Sakit di pintu mobilnya, aku lupa nama rumah sakitnya tapi aku yakin berhubungan dengan penyakit dalam."


Mahfudz bagai disambar petir mendengarnya. Dia tau mobil itu meski lelaki ini tidak benar secara spesifik mendeskripsikannya. Itu mobil dr. Ali. Tapi Raya? Benarkah itu? Mahfudz menatap Raya dalam seakan mencari kejujuran di sana.


Raya menunduk, dia tak berani menatap Mahfudz. Jari jemarinya diremasnya gelisah. Raya resah. Dan Mahfudz bisa melihat rasa bersalah di wajah itu. Dia juga ingat kejadian semingguan yang lalu. Sejak saat itu Raya sering menolak kalau dia ingin menciumnya.


"Ra- ya?" panggilan itu seperti pertanyaan buat Raya.


Raya tak berkutik sementara tanpa disadari Mahfudz cengkramannya pada lengan pria itu melonggar karena informasi yang didapatkannya tentang Raya. Anton tidak menyia- nyiakan kesempatan itu untuk kabur. Dia segera berlari dan segera di kejar oleh Fuad. Sementara Mahfudz dia hampir tak memperdulikan lagi lelaki itu. Dia menghampiri Raya. Dia juga tidak peduli pada Tiwi yang sedari tadi hanya terdiam di pinggir ranjang karena shock melihat kenyataan pria yang telah beberapa kali tidur dengannya ternyata bukan Mahfudz.


"Ra- ya, be- nar- kah i- tu?"


Mahfudz bertanya pada Raya yang kini tak lagi mampu menahan air matanya.


Raya mengangguk sesenggukan.


"Ka-u se-ling-kuh de-ngan A-li?" tanyanya lirih.


Raya segera menggeleng.


"Nggak sayang, nggak. A- ku nggak seling- kuh dengan Ali. Wak- tu itu kami akan ke perjamuan di RSIA. Tapi tiba- tiba pas jalan macet, di mobil dia menciumku. Aku nggak sempat meng- hindar. Aku juga terkejut karena saat itu aku melihat lelaki itu yang mirip sama kamu, hiks" Raya berusaha untuk menjelaskan meski sesekali dia harus sesenggukan menahan isak tangisnya.


"Ta-pi ka-mu nggak per-nah bi-lang pa-da-ku, Ray. Ka-u se-mo-bil ha-nya ber-dua de-ngan-nya! Ka-u ta-u di-a ma-sih me-nyu-kai-mu. Ka-u ma-sih be-ra-ni ber-du-aan de-ngan-nya? Kau ju-ga ma-sih me-nyu-kai di-a? Se-la-in ber-ciu-man a-pa lagi yang su-dah ka-li-an la-ku-kan?"


Mahfudz benar- benar marah sekarang. Dia kecewa pada Raya. Istri yang diharapkannya suci tanpa tersentuh oleh lelaki lain itu. Nyatanya tak bisa menjaga kehormatannya sendiri. Mahfudz benar- benar kecewa.


"Nggak seperti itu, sayang." Raya terisak. "Aku tidak pernah melakukan apa pun dengannya. Kau berkata begitu seolah- olah aku sudah mengkhianatimu. Seolah- olah aku tidur dengannya, aku tidak melakukan apa pun, sayang!"


"Ja-ngan pang-gil a-ku sa-yang, aku muak de-ngan ke-bo-ho-ngan-mu. Nya-ta-nya ka-u ju-ga ber-zi-na de-ngan o-rang la-in. Ter-se-rah ka-u sa-ja!"


Mahfudz segera keluar dari kamar itu dengan amarah yang teramat sangat. Sementara Raya sangat terpukul dituduh berzina oleh suaminya sendiri. Raya segera mengejar Mahfudz.


"Fud!" panggilnya.


Tapi Mahfud tak peduli, dia menuruni anak tangga hotel itu dengan cepat. Raya terus mengejarnya dan berusaha turun dengan hati- hati. Tapi naas, ternyata Fuad dan Anton yang sedari tadi saling kejar mengejar hingga ke lantai paling atas, kini kembali saling kejar menuju ke lantai bawah. Anton, dengan sengaja menarik tubuh Raya untuk bisa menghindari kejaran Fuad.


Keseimbangan tubuh Raya jadi oleng. Dan akhirnya Raya jatuh dari anak tangga kedua dari atas hingga anak tangga paling bawah dengan posisi terjerembab dan tertelungkup ke lantai.


"Kakak Ipar!!!!" jerit Fuad membuat Mahfudz yang sudah hampir sampai di pintu keluar menoleh.


Terkejut, shock melihat Raya kini tergeletak di lantai dan mengerang kesakitan. Beberapa karyawan hotel berusaha sigap membantu. Sementara Fuad melihat banyak orang yang membantu Raya kembali mengejar Anton yang kini telah berhasil ke luar hotel.


"Ra-ya!!!!" Akhirnya Mahfudz tersadar dari keterkejutannya.


Mahfudz berlari menghampiri Raya. Istrinya itu kini merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya akibat benturan keras di setiap anak tangga saat dia terjatuh tadi. Keningnya memar dan hidungnya pun mengeluarkan darah. Raya juga sepertinya terlihat sesak napas. Dan yang membuat Mahfudz tambah panik adalah darah yang terlihat mulai membanjiri bagian bawah tubuh Raya.


"Raya!!! Raya!!!" Mahfudz berusaha memanggil- manggil Raya agar Raya tetap berada dalam kondisi sadar.


Mahfudz tanpa pikir panjang lagi segera menggendong Raya menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Dia merasa panik dan juga merasa bersalah.


"Ya Allah, selamatkan Raya dan anak kami," gumamnya panik sambil perlahan mengemudikan mobil.


Sesekali Mahfudz melirik Raya di kursi belakang. Entah kemana Fuad tadi. Dia bingung antara ingin membawa mobil ini cepat, atau pelan.


"A- a-aku ti- dak selingkuh, Fud!" gumam Raya di antara kesakitan yang di rasanya.


Bagaimana pun Raya merasa perlu menjelaskan ini walaupun sakit dan nyeri yang dia rasa amat sangat terasa sakit sehingga dia rasanya akan memilih pingsan daripada sadar seperti ini.


"Di-am-lah! Ja-ngan ber-ka-ta a-pa pun!" kata Mahfudz cemas.


Raya memegang perutnya. Dia merasa ada yang aneh. Tadi saat perutnya terbentur, dia masih sempat merasa ada gerakan bayinya.


"Fud, ba- bayi- nya ...."

__ADS_1


__ADS_2