
"Sebutkan kamu mau minta apa! Kalau permintaanmu masuk akal. InsyaAllah, saya akan mencoba memenuhinya. Tapi kalau permintaanmu tidak logis, jangankan mengabulkannya, kamu juga akan kubuat menyesal karena sudah berani memintanya."
Aku sekarang duduk berhadapan dengan Fuad di meja makan ini. Mama dan Nadya sepertinya sudah tidur.
Fuad tertawa terkekeh.
"Ultimatummu mengerikan sekali, Kakak Ipar! Kamu pikir aku akan meminta apa? Ow .... Jangan bilang kamu berpikir aku menyukaimu, ya? Sesuatu yang disukai Mahfudz asal kamu tau saja, aku tidak suka. Seleranya dan seleraku tentu berbeda. Termasuk dalam hal wanita. Aku sebagai lelaki normal tentunya lebih menyukai wanita muda setidaknya yang sebaya. Mahfudz berbeda. Dia sepertinya menderita kelainan psikologi oedipus complex. Yah, bayangkan saja. Dia menyukai orang yang jauh lebih tua, maaf kakak ipar, dari segi wajah dan penampilan aku akui kamu menarik. Tapi tetap saja kamu wanita tua. Usiamu jauh dari Mahfudz. Bukankah itu sudah membuktikan kalau dia menderita oedipus complex? Yah bisa dimaklumi sih sepanjang hidupnya sebelum kenal kamu, dia cuma kenal dua wanita yaitu Mama dan Kak Rahmah yang usianya berjarak jauh sampai 14 tahun dari kami, dan dia juga yang menyebabkan kak Rahma meninggal. Di dalam hatinya pasti sangat banyak penyesalan sehingga dia memilih wanita pun tanpa disadarinya mencari sosok yang dewasa seperti kamu sebagai penebus rasa bersalahnya itu."
"To the point saja. Maksud dari kata-katamu apa?" tanyaku tak senang.
"Maksudku adalah jangan terlalu yakin kalau dia mencintai kamu? Bagaimana kalau selama ini kamu hanya jadi objek oedipus complexnya saja? Dia menyukai wanita lebih tua pasti ada penyebabnya. Dan itu adalah karena rasa bersalahnya akan kematian Kak Rahma"
"Fuad! Apa setiap berbicara kau selalu berbicara seperti ini kepada siapa pun?" kataku tak percaya.
Fuad mengangguk dengan angkuh.
"Untuk ukuran laki-laki kalau menurutku mulutmu itu terlalu kasar dan seenaknya. Ahh, aku jadi kasihan pada Mahfudz. Dia pasti sering menerima perkataan kasar dari kamu yang seperti ini. Suamiku yang malang!"
"Dia pantas mendapatkannya. Kak Rahma meninggal karena dia" kata Fuad tajam.
"Sepertinya kamu yang terobsesi pada Kak Rahma bukan Mahfudz. Atau jangan-jangan kamu yang oedipus complex?" kataku tak senang.
Fuad menatapku tajam.
"Kita kembali fokus ke permintaanmu saja. Katakan kamu minta apa?"tanyaku.
Fuad terlihat kembali tenang.
"Aku sempat dengar saat di kantor polisi kamu bilang dalang dari penculikanmu itu adalah wakil walikota Waridi. Benar?"
Sekarang aku yang menatapnya ingin tau. Apa maksudnya? Apa maunya?
"Iya, lalu?"
"Sepertinya kamu ingin rekaman itu karena masih penasaran dengan kasus itu. Kamu masih ingin mencari tau tentang pelaku penculikanmu itu. Dugaanku benar?"
Aku mengangguk. "Iya. Benar"
"Biarkan aku ikut mencari tau tentang apa sebenarnya di balik kasus itu."
Aku melongo. Heran.
"Kenapa kamu ingin ikut menyelidikinya? Jangan bilang karena kamu peduli pada Mahfudz dan kakak iparmu. Itu jelas tidak masuk akal" kataku sinis.
Fuad yang sedari tadi berhenti mengotak-atik rakitan dronenya kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Aku ingin menyelidikinya dan kalau sudah terbukti benar wakil walikota Waridi pelakunya, aku ingin menjadi orang pertama yang menjadikannya konten dan mengunggah kejahatannya di youtube."
Ooooo, ini hanya tentang eksistensinya menjadi seorang youtuber.
"Selain itu juga, aku tidak rela orang seperti itu berada dalam dunia politik. Dunia politik sudah sering dapat stigma negatif di masyarakat. Orang seperti tidak pantas menjadi politikus" katanya geram.
Aku semakin terheran-heran mendengarnya.
"Kamu tertarik pada dunia politik?"tanyaku takjub.
"Iya, kenapa? Aku mahasiswa Fisip. Apa salah aku tertarik pada bidang ilmu yang sedang kupelajari?"
__ADS_1
"Aku pikir kamu tadinya mahasiswa tekhnik mesin" kataku.
"Tekhnik cuma hobbyku saja. Jiwaku ada di bidang politik" jawabnya.
Aku manggut-manggut memakluminya.
"Itu keren sekali. Aku berharap suatu saat kamu akan jadi politikus yang bersih dan amanah. Yah, walaupun seperti kamu bilang tadi aku pun memiliki stigma jelek pada semua politikus. Menurutku di antara mereka semua itu tidak ada yang tulus kok. Semua hanya demi kepentingan. Yah, seperti kamu! Kamu juga saat ini membantuku hanya demi kepentinganmu kan?" tanyaku sinis.
Fuad tersenyum sinis. Satu sudut bibirnya terlihat terangkat.
"Nggak usah cerewet! Kamu mau atau tidak menerima tawaranku? Apa pun alasanku membantumu tetap saja, kamu juga diuntungkan dalam hal ini" katanya.
Benar juga kata Fuad. Dengan bantuannya mungkin akan sedikit lebih mudah mencari bukti yang aku cari perihal Waridi.
"Ok, baiklah. Aku menyanggupi permintaanmu. Mana rekaman lengkap vidio itu?"
Fuad geleng-geleng kepala melihatku. Dia meninggalkanku sendirian di dapur sementara dia masuk ke kamarnya untuk mengambil apa yang kuminta.
Tidak lama dia kembali dan menyerahkan sebuah memori SD card di hadapanku.
"Nama filenya Rumah Andra" katanya. "Nanti aku butuh beberapa informasi yang kubutuhkan untuk menyelidi Waridi. Aku harap kamu bisa bekerja sama memberi tauku tentang apa yang kamu tau" katanya.
"Baiklah" kataku. "Aku akan memberi tahumu apa yang kamu ingin tau tentang kasus penculikan itu. Sekarang aku akan kembali ke kamarku dulu, adek ipar?"
Fuad mengembangkan tangannya mempersilahkanku pergi. Aku sudah tak sabar ingin melihat vidio rekaman lengkap waktu itu. Semoga ada petunjuk.
Aku masuk ke kamar, meletakkan gelas di atas meja belajar dan dengan tak sabar mulai mengambil ponselku. Aku mengeluarkan SD card milikku dan memasukkan SD card berkapasitas 64 GB yang diberikan oleh Fuad itu. Tanpa berlama-lama aku mulai mencari file yang di maksud Fuad. Ada banyak rekaman vidio konten youtubenya di situ. Aku mulai mencari satu persatu.
Dan .... aha!!.... aku menemukannya. Rumah Andra!
Tak sabar aku membuka file rekaman itu.
Ok, tanpa berlama-lama lagi guys seperti janji saya di vidio sebelumnya, kali ini saya ...."
Aku menonton vidio Fuad dengan seksama dari opening hingga menit per menit. Hingga di menit ke 6 aku akhirnya melihat penampakan rumah besar itu dari atas. Itu rumah tempat aku diculik dan disekap beberapa bulan lalu. Aku bisa melihatnya dari pagar papan susun tinggi di depan rumah itu. Jantungku mulai berdebar-debar melihat rumah itu. Tapi sepertinya rumah itu sepi. Cuma ada dua truk parkir di depan rumah itu. Aku sempat berpikir apakah penampakan dua unit truk itu bisa dijadikan alat untuk mendapatkan informasi tambahan nanti. Ya sudah aku screenshot saja dulu. Aku mengusap tiga jari tengahku pada layar beberapa kali sampai ada beberapa hasil screenshot yang bisa kuambil.
Tapi sepertinya aku harus kecewa karena drone milik Fuad hanya sempat menangkap beberapa detik saja rumah itu. Walau kecewa aku harus tetap menonton rekaman asli ini sampai selesai. Beberapa menit aku hanya disuguhi pemandangan sekitar perumahan itu. Namun akhirnya dari jauh aku melihat rumah itu masuk tangkapan kamera lagi. Semakin dekat, dekat, tunggu dulu .... sekarang ada orang di dekat pagar dalam. Sedang berjalan menuju pos keamanan. Aku memundurkan lagi vidio rekaman itu, ingin melihat ulang lebih jelas lagi. Sepertinya sesosok pria berbaju putih tanpa lengan. Segera aku mengambil beberapa lagi tangkapan layar. Lalu tak ada petunjuk apa-apa lagi hingga akhir, sampai akhirnya drone itu oleng karena angin kencang hingga jatuh ke pohon di samping rumah itu dan sempat mengambil rekaman vidio saat aku disekap.
Aku menghela napas mengakhiri menonton vidio berdurasi 13 menitan itu. Aku lalu menyalin vidio itu ke memori ponselku. Besok aku harus mengembalikan lagi SD card ini pada Fuad.
Selesai menonton, aku memeriksa hasil tangkapan layar yang kudapat sepanjang menonton tadi. Pertama-tama aku melihat hasil tangkapan layar yang menangkap dua unit truk itu. Aku memperbesar ukuran gambarnya. Meski tidak terlalu jelas, sepertinya aku bisa mencari tau nomor plat truk ini nanti.
Yang kedua, aku mulai mengamati foto lelaki yang kuambil screenshotnya tadi. Aku memperbesar ukuran fotonya sampai beberapa kali. Dan saat dizoom, terlihat sekali kalau pria ini hampir memiliki tatto di seluruh tubuhnya, di kaki, tangan dan juga lehernya. Mengingatkan aku pada seseorang. Bang Gogo. Pasiennya Mahfudz yang memberikan aku paket set cook pan.
Aku memeriksa lagi hasil tangkapan layarku yang lain yang berhasil menangkap sosok pria itu. Aku memperbesar ukurannya lagi. Foto itu berhasil menangkap penampakan lelaki itu sedang menoleh ke samping. Sepertinya dia baru membuang puntung rokok. Aku zoom ukurannya lebih besar lagi sampai yang paling besar. Dan hasilnya membuatku sampai tak bisa berkata-kata.
Ya Allah, dia beneran Bang Gogo!
\*\*\*\*\*
Suara adzan pada aplikasi ponselku dan juga di mesjid, membuatku terbangun. Aku bahkan belum tidur satu jam pun. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan penemuan tak terduga yang kudapat di rekaman asli milik Fuad. Kepalaku pusing.
Aku tak habis pikir bagaimana mungkin orang itu adalah Bang Gogo. Kebetulan macam apa ini? Apa dia memang betulan sakit atau cuma ingin menyelidiki aku dan Mahfudz atas perintah Waridi? Tapi kalau dia pura-pura sakit, pasti Mahfudz akan tau. Selama ini kan Mahfudz rutin memfollow up dia setiap pagi.
Tapi kalau pun dia benar-benar sakit, apa Bang Gogo mengenal Mahfudz dan aku? Aku memang tidak pernah melihatnya di rumah merangkap di gudang itu selama aku diculik. Tapi sepertinya berbeda dengan Gogo. Saat bertemu dengannya di parkiran. Aku bisa tau sepertinya dia pernah melihatku. Ya Allah, bagaimana ini? Harus aku apakan petunjuk ini? Apakah aku harus mencari alamat orang itu dan menanyakan apa yang ingin ku tau perihal Waridi? Aku harus mencari alamatnya dimana? Aku tak mungkin meminta pada departemen penyakit dalam data-data tentang Gogo. Atau aku minta Mahfudz yang mencarikan alamatnya? Aku tidak yakin suamiku itu akan mau mencarinya dengan suka rela untukku, sementara dia pun tau Waridi itu berbahaya. Dan kalau pun aku berhasil menemukan alamat dan menghubunginya. Apa orang bernama Gogo itu akan mau membantuku? Bagaimana kalau dia malah mencelakaiku? Dia sepertinya baik karena itu dia memberikan set cook pan untukku karena rasa terima kasihnya pada Mahfudz. Tapi bagaimana kalau set cook pan itu cuma pemancing untuk rencana Waridi yang lain? Seketika aku teringat lagi bangkai anak kucing yang dimutilasi dan dijadikan kado untukku. Apa dia pelakunya? Agak berlebihan kalau menganggap Ali yang melakukannya walau pun aku tidak tau apa alasannya datang ke pernikahanku tanpa menemui aku. Gogo jauh lebih berpotensi sebagai pelakunya.
Aku segera berdiri dari tempat tidur dan akan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Aku sedikit haus. Aku melirik segelas air minum yang kuambil tadi malam namun tak sempat ku minum. Baiklah aku akan minum dulu sekalian mengantar gelasnya ke dapur. Kamar mandi kan berdekatan dengan dapur.
__ADS_1
Bibirku sudah menyentuh ujung gelas, namun aku mengurungkan niatku minum. Aku mengambil tasku dan membukanya. Dari dalam aku mengeluarkan test pack yang sengaja kubawa dari rumah sakit. Test pack ini harusnya kubawa untuk sama-sama kami test bersama Ummik untuk mengetahui aku hamil atau tidak. Semalaman Ummik tidak meneleponku, Ummik tidak mencariku. Aku pun lupa memberi tahu kalau aku menginap di rumah Mama. Mungkin saat ini Ummik mengira aku tidur di rumah sakit karena aku ngotot tidak mau test.
Aku heran kenapa mereka semua mengira aku hamil. Hawa, Ummik bahkan Ali? Mantan kurang ajar itu! Aku geram sendiri mengingat perkataannya yang menyuruhku mengecek siklus menstruasiku. Apa haknya mengatakan itu? Dia bukan dokterku apalagi suamiku.
Karena itu aku harus melakukan test pack ulang pagi ini. Aku ingin membuktikan kalau aku tidak sebodoh itu untuk tau kondisi tubuhku sendiri. Aku membatalkan minum agar tidak mengurangi konsentrasi kadar hCG dalam tubuhku kalau aku benaran hamil saat test pack dengan urine paling pertama pagi ini.
Segera aku ke kamar mandi. Sepertinya masih sepi. Apa Mama tidak sholat subuh?
Aku buang air kecil, dan meneteskan sedikit urinku ke test pack. Kali ini tanpa wadah dan tak perlu dicelup karena aku memakai test pack yang dilengkapi dengan wadah urine sehingga tak membutuhkan wadah penampungan lain. Aku mendiamkannya selama satu menit di atas bak mandi tanpa melihatnya.
Setelah waktunya kurasa cukup aku mengambilnya dan melihatnya.
Ya Allah, mataku ya masih setengah mengantuk sampai terbelalak kaget melihatnya. Garisnya benar-benar dua. Kali ini terlihat dengan sangat jelas. Aku tak bisa berkata apa-apa. Yang jelas ini sangat mengejutkan. Di pikiranku cuma ada pertanyaan, bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Kenapa aku tidak begitu bahagia mengetahui ini? Bukankah harusnya ini kabar baik? Aku bingung.
Aku teringat kata-kata Fuad tadi malam yang mengata-ngatai Mahfudz menderita oedipus complex? Aku sangat terganggu dengan kata-kata itu. Apa iya, Mahfudz sebenarnya tidak mencintaiku? Apa dia cuma terobsesi padaku yang lebih tua karena merasa bersalah pada meninggalnya kakaknya? Lalu sekarang di rahimku ada benih yang dia tanam, buat apa kalau sesungguhnya dia tidak cinta padaku? Aku benar-benar merasa ill feel pada diriku sekarang. Aku geli pada diriku sendiri.
Wanita tua, oedipus complex tiba-tiba aku merasa mual cuma memikirkan kata-kata itu.
Aku segera menyiram test pack itu untuk menghilangkan najis dari air urin. Segera aku berwudhu sebelum aku kesiangan sholat subuh. Aku membuka pintu kamar mandi dan kaget melihat Mama yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mama!" pekikku kaget.
Testpack di tanganku sampai terjatuh.
"Raya!" Sebaliknya Mama malah kaget dengan pekikanku.
Aku buru-buru mengambil test pack itu, sebelum Mama melihatnya. Tapi terlambat! Mama memang melihatnya.
"Apa itu, Raya?" tanya Mama.
"Hmmmm. Anu, Ma. Raya cuma ...."
Mama mengambil test pack itu dari tanganku.
"Tadinya mau ngetest sama Ummik di rumah, makanya Raya bawa dari rumah sakit. Tapi akhirnya Raya penasaran dan ngetest sendiri ...."
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi soal itu. Mama sepertinya sangat terpaku melihat testpack yang dia pegang.
"MasyaAllah, Ray! Kamu hamil? Positif ini ...."
Mama terlihat takjub. Aku hanya tersenyum speecless.
"Ya, Allah alhamdulillah sekali. Ini berkah subuh. Pagi-pagi begini sudah dapat kabar bahagia. Oh, ya ampun.... Mama akan punya dua cucu. Mama semakin tua donk sekarang. Ray, kita harus segera ngasih tau ke Ummikmu dan Mahfud. Mereka pasti akan senang sekali mendengarnya. Apalagi Ummikmu, ini benar-benar cucu pertama yang dinanti-nantinya. Aduuh.... Cucu Oma!"
Mama mengelus perutku dengan sayang.
"Mama ...." Aku menahan Mama yang hendak mengambil wudhu di kamar mandi.
Mama berhenti.
"Tolong jangan kasih tau Mahfudz dulu!"
"Hmmm .... Kenapa?
Aku terdiam. Aku juga tidak tau kenapa aku harus menyembunyikannya dari dia. Aku benar-benar merasa ill feel padanya.
"Karena Raya mau kasih tau sendiri, Ma! Kejutan."
__ADS_1
Aku mencoba tersenyum.