I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kebimbangan Mahfudz


__ADS_3

Atas persetujuan Pak Prabu, Mahfudz akhirnya diperbolehkan untuk menjenguk Afri ke ruang ICU. Tentu saja dengan bantuan dr. Pretty yang meminta ibu sang anak untuk menemuinya di ruangannya. Di saat itulah Mahfudz berkesempatan untuk melihat kondisi Afri.


Gadis kecil yang malang itu kini terlihat semakin lemah dengan berbagai macam alat medis yang melekat di tubuhnya. Mahfudz kasihan padanya. Rasanya ingin membantunya, ingin memeriksa anak itu kembali. Dan kalau memang ada sesuatu yang salah saat dia melakukan tindakan, rasanya dia ingin bertanggung jawab dengan memberi tindakan yang bisa mengobati anak itu kembali.


"Dok! Dr. Pretty berpesan sebaiknya. dokter pergi sekarang. Ibunya pasien sudah selesai berbicara dengan dr. Pretty. Sekarang dia sedang menuju kemari," kata perawat yang sedari tadi saling mengirimkan pesan lewat chat dengan dr. Pretty.


Ya Tuhaaan, Mahfudz benar-benar merasa seperti seorang penjahat sekarang. Sungguh! Apakah memang harus begini?


Mahfudz menghela napas berat. Dan bergegas keluar dari ruangan ICU itu. Dengan berjalan gontai Mahfudz meninggalkan area ruang ICU dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Mahfudz hampir sampai di ujung lorong saat dia mendengar seseorang berseru padanya.


"Berhenti!!!!"


Mahfudz menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Suara itu seperti suara ibu-ibu. Meski beberapa hari telah berlalu Mahfudz masih familiar dengan suara itu.


"Ibu, jangan berisik! Ini rumah sakit," tegur perawat yang menjadi asisten dr. Pretty itu.


Perawat itu tahu siatuasinya. Dr. pretty telah memberi tahunya bahwa ibu dari pasien anak itu tidak boleh sampai bertemu dengan dr. Mahfudz.


Mahfudz sendiri dilema dengan situasi ini. Di satu sisi sebagai seorang dokter dan juga sebagai seorang manusia, dia sadar dia harus bertanggung jawab pada pasien itu dan keluarganya khususnya secara moriil demi menjaga perasaan keluarganya atas dugaan mal praktik yang telah dia lakukan. Tetapi kalau Mahfudz ingat lagi kalau ini adalah salah satu yang sangat riskan dan berbahaya bagi karirnya, hati Mahfudz yang selama ini baik bak malaikat akhirnya menunjukkan jati dirinya kalau dia hanyalah manusia biasa.


Dia punya keluarga. Bagaimana kalau pada akhirnya dia berakhir di jeruji besi? Akan bagaimana dengan Raya dan kedua buah hatinya nanti, Haikal dan Laila?


Mungkin materi tidak akan memusingkan bagi seorang Raya. Karena dia masih bekerja. Ah ... tunggu dulu! Bagaimana kalau kasus mal praktik ini juga mempengaruhi karir Raya sebagai istrinya? Dan bagaimana nanti dengan Haikal dan Laila? Apa jadinya kalau ayah mereka di penjara? Bagaimana nasib keduanya tanpa kasih sayang dan perhatian yang biasa dia berikan pada keduanya di setiap waktunya?


Memikirkan semua itu membuat Mahfudz kembali melangkahkan kakinya. Tidak bisa begini! Benar kata Pak Prabu, sebaiknya untuk sementara Mahfudz menyerahkan saja masalah ini pada pimpinan rumah sakit ini.


Dia lebih berpengalaman dan mungkin benar dengan memberikan santunan dan bertanggung jawab memberikan tindakan penyembuhan, mungkin bisa meredam kemarahan keluarga pasien.

__ADS_1


"Tunggu!!! Berhenti kamu!!! Kamu dr. Mahfudz, kan???!!!" teriak sang Ibu lagi.


Mahfudz menghentikan lagi langkah kakinya saat mendengar namanya disebut. Tetapi kemudian dia memantapkan hatinya untuk pergi dari sana.


"Dokter!!!" panggil sang Ibu lagi dengan teriakan marah tanda dia depresi dengan keadaan ini.


Wanita itu ingin mengejar Mahfudz tapi perawat itu menahannya.


"Ibu!! Tolong jangan membuat keributan di sini. Teriakan Ibu bisa mengganggu pasien lain!!" hardik perawat itu.


"Tapi sus, saya harus bicara dengan dokter brengs*k itu!!! Gara-gara dia anak saya begini. Dia harus bertanggung jawab!!! Dokter bajing*n!!!! Kau bahkan bukan seorang manusia. Bagaimana bisa kau menjadi dokter!!!!" jeritnya dan masih ingin berontak melepaskan diri dari cengkraman perawat yang menahannya itu.


Mahfudz sendiri berbelok di lorong mendengar semua itu dari balik dinding rumah sakit. Sungguh hatinya juga perih harus melakukan ini. Tapi dia juga harus hati-hati dengan kasus ini. Bagaimana kalau benar yang dikhawatirkan Pak Prabu? Bagaimana kalau ini adalah konspirasi yang dilakukan oleh sang Gubernur, ayah biologis dari anak itu?


Salah-salah jika dia menyerahkan diri sekarang. Dia bisa masuk jeruji dan menghabiskan banyak waktu di sana tanpa punya kesempatan untuk membuktikan kalau dia tak bersalah.


"Ibu salah orang!! Itu bukan dr. Mahfudz!!! Dr. Mahfudz tidak datang hari ini!" bantah perawat itu dengan setengah membentak.


"Astagfirullah Ibu! Istighfar, Ibu! Ibu sebaiknya tenang dulu! Lebih baik ibu kembali ke ruangan menjaga anak ibu. Dia lebih membutuhkan ibu yang bersikap tenang sekarang dari pada ibu yang marah-marah tak karuan seperti ini. Ibu tenanglah sedikit!" kata perawat itu.


Dengan sedikit memperlakukan sang ibu dengan lembut, dia akhirnya berhasil membujuk sang ibu untuk masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


Perawat itu menghembuskan napasnya lega saat semua kembali dalam situasi terkendali. Perawat itu mengambil benda pipih di kantong bajunya dan mengirim chat pada dr. Pretty.


[Situasi terkendali, Dok. Dr. Mahfudz sudah pergi. Dan si Ibu meski tadi sempat ngamuk karena sempat melihat dr. Mahfudz tapi ibunya udah masuk kembali ke ICU], lapornya.


[Kamu pantau terus situasinya, Yen]


[Siap, Dok]

__ADS_1


***


Mahfudz pulang ke rumah di sambut oleh Ummik yang sedang momong cucu kesayangannya Laila.


"Fud, kamu udah pulang?" tanya Ummik heran.


Mahfudz mengangguk berat.


"Raya udah berangkat, Mik?" tanya Mahfudz balik.


"Hmmm, sudah sedari tadi," jawab Ummik yang sangat mengerti kalau menantunya itu sedang tidak mood untuk dihujani dengan banyak pertanyaan-pertanyaan.


"Kamu kalau mau istirahat, ya istirahat aja dulu, Fud!" kata Ummik pada Mahfudz yang terlihat linglung.


"Iya, Mik. Mahfudz masuk ke kamar dulu, ya!"pamitnya.


Di dalam kamar, dokter spesialis bedah itu nampak frustasi dengan apa yang terjadi. Sungguh ini membuat dia merasa depresi akut sekarang.


Hingga malam tiba, Mahfudz sama sekali tak berbuat apa-apa di dalam kamar. Dia kehilangan minat seketika dalam melakukan hal apa pun.


Menjelang sore, Raya pun pulang dari rumah sakit dan buru-buru ingin menemui suaminya itu. Bahkan kabar kalau petugas medis Pahlawan Medikal melakukan mal praktik pada seorang anak kecil telah sampai ke telinga orang-orang di Rumah Sakit Siaga.


"Apa yang terjadi?" tanya Raya melihat kondisi memprihatinkan suaminya itu.


Mahfudz menggeleng tak bersemangat.


"Ray, kalau semisalnya aku tidak ada lagi disampingmu, bagaimana caramu akan melewati ini semua?" tanya Mahfudz tiba-tiba.


Raya menatap suaminya itu dengan iba.

__ADS_1


***


Hai reader, maaf ya untuk karya ini saya belum bisa update tiap hari. Soalnya novel ini butuh referensi medis dan hukum yang memadai. Jadi nggak bisa sembarang ya.. aku update santai di karya yang ini. Ngomong-ngomong buat kalian mampir juga ke karyaku Jodoh Dari Malaysia ya..


__ADS_2