
#Lauhul_Mahfudz
#season3
Part 5
Aku mendatangi dr. Firman yang akan jadi dokter anastesiku dalam tindakan sectio caesaria yang akan aku lakukan hari ini. Dia sudah mengenakan baju OK berwarna hijau yang akan digunakan untuk tindakan. Di tangannya ada selembar kertas.
Dia menghembuskan nafas panjang begitu melihatku.
"Sepertinya kita ada masalah, dokter!" desahnya.
"Hmmm, masalah apa?" Aku mengernyitkan keningku.
Dr. Firman menyerahkan kertas itu padaku.
"Pasien yang mau di-SC, memiliki golongan darah O reshus negatif". katanya.
Aku terkejut dan memeriksa lembaran kertas itu.
"Terus bagaimana?" tanya dr. Firman padaku.
Ya, Tuhan. Bagaimana ini? Kenapa aku selalu berada dalam situasi yang membuat aku dalam posisi sulit seperti ini.
"Kita temui pasiennya dulu" kataku.
Dr. Firman setuju. Segera kami menemui pasien itu di ruang kebidanan.
"Assalamualaikum, Ibu!" sapaku. Pasien dan suaminya langsung menjawab salamku.
"Waalaikumsalam, dokter."
"Jadi gini, Bu. Saya dokter yang akan menangani tindakan SC-nya Ibu. Tapi ada beberapa pertanyaan dasar yang ingin saya tanyakan ke Ibu dan Bapak terkait kehamilan dan kondisi Ibu, sebelum kita memulai tindakan SC hari ini. Saya boleh duduk di sini?"
"Ah, iya, Dok, silahkan!" kata suaminya mempersilahkan aku duduk di bangku plastik di sebelah ranjang.
"Jadi gini, hasil tes darahnya Ibu kan baru keluar tadi, saya sudah memeriksanya dan hasilnya cukup mengejutkan saya. Ibu memiliki golongan darah yang cukup langka. Yaitu O rhesus negatif. Apa selama ini ibu sudah tau kalau Ibu memiliki golongan darah langka?" tanyaku.
Ibu pasien menggeleng.
"Tapi Ibu bilang ke dokter IGD golongan darah ibu O. Kenapa ibu bisa nggak tau kalau golongan darah ibu rhesus negatif atau positif?"
Sang Ibu kelihatan menunduk dan merasa bersalah.
"Memang bahaya ya, Dok, kalau golongan darah langka mau melahirkan? Terus terang saja saya sebenarnya belum pernah memeriksakan golongan darah saya apa, Dok. Sama sekali belum pernah ...."
"Terus kenapa Ibu bisa memberi tau petugas medis kalau Ibu memiliki golongan darah O?" tanyaku kesal.
Si Ibu tersenyum malu, nyengir, membuatku tambah kesal saja.
"Maaf, Dok! Dari dulu dari waktu jaman sekolah saya dan teman- teman saya pernah saling menanyakan golongan darah masing- masing. Cuma karena kami dari golongan orang tidak mampu, memeriksa golongan darah bukan hal yang penting untuk dilakukan. Karena itu ketika saya ditanya memiliki golongan darah apa, saya jawab asal aja. Saya jawab O karena golongan darah O lebih keren. Karena golongan darah O katanya adalah golongan darah yang bisa diberikan pada golongan darah mana pun. Jadi itu tanpa saya sadar terbawa sampai saya dewasa. Jadi pas ada yang tanya, golongan darah saya apa. Saya jadi spontan jawab golongan darah saya O. Maafkan saya, Dokter!" katanya menjelaskan.
Aku mendesah napas berat mendengar penjelasab ibu itu.
"Bu, itu jaman dulu golongan darah O bisa didonorkan buat orang dengan golongan darah apa saja. Sekarang itu tidak dianjurkan lagi. Kalau tidak ada hal yang mendesak dan darurat atau stok lagi kosong." kataku. "Jadi Ibu selama hamil, tidak pernah tes darah sebelumnya? Dokter atau bidan Ibu yang menangani selama kehamilan tidak pernah menganjurkan untuk tes darah?"
Pasien itu lagi- lagi hanya menggeleng. "Saya cuma periksa di bidan desa saja, Bu Dokter. Tapi mereka tidak menyuruh saya untuk tes darah."
"Ini anak pertama Ibu, tapi apa ibu yakin ibu tidak pernah hamil dan keguguran sebelumnya?"tanyaku.
"Tidak pernah, Bu Dokter."
Aku mengernyitkan keningku heran dan berbisik pada dr. Firman.
__ADS_1
"Ini agak aneh. Kenapa tubuh Ibu ini tidak membentuk antibodi, melawan sel darah janinnya? Ibu ini tidak mungkin sudah mendapatkan injeksi rhogam kan?"
Dr. Firman mengangkat bahunya. "Ya, mungkin saja karena suaminya bergolangan darah rhesus negatif juga."
"Mana mungkin?" kataku. "Golongan darah rhesus negatif lumayan langka. Di Indonesia bahkan tidak sampai 1% orang yang memiliki golongan darah rhesus negatif. Mengetahui Ibu ini memiliki golongan darah rhesus negatif saja sudah membuatku kaget. Ini pertama kalinya aku dapat pasien dengan golongan darah rhesus negatif" kataku.
"Kalau begitu, coba saja tes golongan darah suaminya." tantang dr. Firman.
Aku beralih pada suaminya pasien.
"Pak, apa bapak tau golongan darah bapak?" tanyaku.
Suami pasien menggeleng. Harusnya aku sudah menduganya.
"Kalau begitu, bapak tidak keberatan untuk tes darah juga? Kami butuh tau jenis golongan darah bapak, untuk tau golongan darah janin bapak. Jangan khawatir itu tidak lama" kataku.
Bapak itu mengangguk dan mengikuti dr. Firman ke laboratorium untuk tes golongan darah. Aku perlu tau situasi dan komplikasi yang mungkin terjadi saat tindakan nanti.
Ibu hamil yang tidak memiliki antigen jenis Rh (rhesus negatif) pada darahnya dengan pasangan yang memiliki antigen Rh (rhesus positif) kemungkinan akan menurunkan antigen Rh pada janinnya.
Jika terjadi ketidakcocokan rhesus ibu dan janin, tubuh sang Ibu dapat mengembangkan antibodi terhadap jenis darah yang dimiliki oleh janinnya. Antibodi terbentuk ketika sejumlah kecil darah ibu dapat tercampur dengan darah janinnya. Tubuh Ibu dapat membentuk reaksi kekebalan terhadap janinnya sendiri. Ada kemungkinan antibodi Ibu akan melewati plasenta dan menangkal darah sang bayi, menyebabkan janin mengalami anemia hemolitik yang akan berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Kondisi medis ini disebut juga penyakit rhesus.
Jika seorang ibu memiliki golongan darah rhesus negatif, maka ada kemungkinan dokter akan memberikan suntikan Rh immunoglobulin (RhIg) atau biasa juga disebut Rhogam menjelang usia kehamilan 28 minggu dan sesudah persalinan. Pemberian suntikan RhIg mungkin tidak akan banyak membantu jika tubuh Ibu telah membentuk antibodi dari kehamilan sebelumnya. Aku sangat menyayangkan si Ibu yang tidak tau golongan darahnya sendiri
Menghabiskan waktu beberapa lama akhirnya dr. Firman kembali bersama suaminya si Ibu.
Dia tersenyum bangga. Senang karena tebakannya benar.
"Bapak memiliki golongan darah A rhesus negatif" katanya memberi tahuku. "Jika Bapak memiliki golongan darah rhesus negatif, Ibu juga rhesus negatif maka janinnya juga berarti memiliki golongan darah yang rhesus negatif. Makanya tubuh ibu tidak membentuk antibodi yang melawan sel darah merah janinnya. Itu sebabnya janinnya baik- baik saja sejauh ini. Itu artinya kita bisa melanjutkan operasi dengan nyaman hari ini tanpa dikhawatirkan oleh komplikasi yang mungkin terjadi. Jadi kamu jangan terlalu khawatir."
Aku takjub mendengarnya. Sungguh Maha Besar Sang Pencipta, menciptakan makhluknya berpasang- pasangan. Dari sedikitnya orang yang memiliki golongan darah langka di Indonesia ini, bisa-bisanya mereka berjodoh dengan sesama orang yang bergolongan darah resus negatif juga. Bahkan tanpa mereka tau sebelumnya kalau mereka sama-sama pemilik golongan darah langka.
"Baiklah, Ibu silahkan bersiap- siap sekarang. Dan bapak juga ikut saya sebentar, saya membutuhkan tanda tangan bapak untuk melengkapi prosedur rumah sakit" kataku.
"Kau tetap harus berhati- hati, Ray" kata dr. Firman mengingatkan. "Meski kemungkinan komplikasi bercampurnya darah ibu dan janin tak lagi mengkhawatirkan tapi kalau ada kesalahan sehingga menimbulkan pendarahan, kita akan kesulitan menemukan pendonor untuk Ibu itu. Meski sama- sama resus negatif tetap saja golongan darah Ibu itu dengan suaminya berbeda."
Aku mengangguk. Ah, iya aku harus hati- hati.
\*\*\*\*\*\*
Asistenku hari ini adalah dr. Sherly. Sebagaimana layaknya asisten operasi dia membantuku selama proses gowning atau memakai gaun operasi.
Dr. Sherly melakukan desinfeksi pada lokasi pembedahan.
Kemudian dia melakukan drapping, menyelimuti tubuh pasien dengan duk besar dan duk kecil sehingga yang terbuka hanyalah lokasi sayatan.
Setelah proses draping selesai, Instrumentator memberikan pinset chirurgi dan gagang pisau padaku. Lalu aku menjepit lokasi sayatan dengan pinset chirurgi untuk menguji apakah anastesi sudah bereaksi dengan baik.
Sesudah memastikan semuanya berjalan dengan baik, maka aku pun mulai melakukan sayatan hingga terlihat lapisan putih dan keras, yang disebut juga fasia (jaringan keras yang melapisi otot perut).
Sampai sini aku tiba- tiba teringat pada kiriman paket tadi. Teringat perut induk kucing yang terburai. Membuatku tiba- tiba agak mual. Aku berhenti sejenak, menarik napasku.
"Dokter tidak apa- apa?" tanya Sherly yang sepertinya melihat gelagat tidak enak dari sikapku.
"Hmmmm.... Iya, aku baik- baik saja," jawabku.
Kemudian dengan menggunakan gunting aku pun merobek Fasia sampai kelihatan otot perut pasien.
Kemudian otot perut dikuak oleh 4 tangan yaitu tanganku dan Sherly hingga menganga lebar, sampai terlihat lapisan peritoneum, yaitu jaringan tipis pelindung rongga perut.
Instrumentator memberikan gunting pada tangan kananku dan pinset chirurgi pada tangan kiriku, sedangkan Sherly mendapatkan pinset chirurgi. Aku dan Sherly menjepit lapisan peritoneum dengan chirurgi, lalu mengangkatnya, di antara jepitan lalu digunting dengan hati-hati agar usus atau isi dalam perut lainnya tidak kena.
Setelah menganga, dinding rahim bagian luar terlihat jelas, Instrumentator memberikan hak blass pada Sherly, dan Sherly pun memasukan serta menarik ke arah bawah paha pasien, agar leher rahim kelihatan jelas olehku.
__ADS_1
Lalu Instrumentator memberikan pisau padaku, kemudian aku menyayat dinding rahim (uterus) hingga kepala atau rambut bayi kelihatan. Setelah kepala bayi kelihatan, aku memasukan lengan pada dinding rahim yang telah bolong tadi, untuk menarik kepala bayi agar pas untuk didorong dan dikeluarkan.
Dan sebenarnya entah kenapa hari ini tiba- tiba saja aku merasa mual melakukan semua ini. Padahal ini adalah rutinitas harian yang biasa kukerjakan.
Setelah bayi keluar dari rahim melalui dinding perut, instrumentator pun memberikan 2 buah klem lurus dan 1 gunting kepada Sherly. Dan Sherly pun menjepit tali pusat. Di antara 2 jepitan, di tengahnya dipotong oleh Sherly, sementara aku membersihkan jalan nafas bayi dengan alat hisap suction pump. Dan memberikan bayi itu pada perawat.
Instrumentator memberikan penster klem kepadaku, dan aku menjepit rahim bekas sayatan sebanyak 3-4 lokasi dengan penster klem.
Selanjutnya sisa-sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim dikeruk olehku dengan tangan kiri yan dialas pakai Qaas dilumuri betadin. Namun entah apa yang terjadi, apa aku mengeruk terlalu keras karena segera ingin mengakhiri operasi ini, aku tidak tau. Tiba- tiba saja keluar banyak darah dan menggenang.
"Dokter!" pekik Sherly histeris.
Bapak Instrumen pun ikut terlihat panik.
Dr. Firman pun terlihat sibuk memeriksa jumlah anastesi di tubuh pasien melalui monitor.
Aku juga ikut panik dan melihat tanda- tanda vital pasien di monitor, namun aku harus berusaha menguasai diriku.
"Suction!" perintahku pada Sherly.
"A- apa?" Sherly gugup dan panik.
"Aku bilang suction! Suction! Suction!" bentakku.
Dr. Sherly lalu menyedot darah yang menggenang dengan suction pump. Aku bisa melihat kalau ini ternyata bukan masalah serius setelah darah yang menggenang itu berhasil di sedot. Darah itu berasal dari dinding tempat plasenta itu tadi melekat.
"Dok, apa ada masalah?" tanya pasien itu.
"Semua baik- baik saja, Bu" kataku lega.
Setelah sisa- sisa plasenta bersih, otot rahim, endometrium dan miometrium ku satukan kembali dengan jahitan benang Chromich no. 2. Sedangkan perimetrium dijahit dengan benang chromich no. 2/0.
Setelah merasa aman, dinding rahim tidak lagi berdarah, Instrumentator memberikanku kocher sebanyak 4 buah untuk menjepit peritoneum, dan memberikan hak blass pada Sherly untuk menguak perut yang menganga, lalu Instrumentator memberikan Allys yang ujungnya dijepitkan Qaas (depper) untuk mengeksplorasi rongga perut, serta mengeluarkan sisa-sisa darah yang ada dalam rongga perut.
Ketika sudah bersih dari sisa-sisa darah, Instrumentator memberikan depper lagi yang telah di lumuri betadin kepadaku, dan aku pun mengusapkan depper betadin pada bekas sayatan dinding rahim.
Dan, Instrumentator kembali memberikan benang Chromich no 2/0 yang telah melekat di ujung Needle holder . Lalu aku mulai menjahit dan menyatukan lapisan tipis peritoneum.Sementara Sherly menjepit fasia dengan Kocher.
Instrumentator kembali memberikan Needle holder yang di ujungnya sudah ada terjepit benang Chromich no. 2 kepadaku, dan aku pun menjahit otot perut pasien. Setelah otot perut menyatu, Instrumentator memberikan kepadaku benang Safil/Vicryl no 1, untuk menjahit dan menyatukan fasia. Setelah fasia menyatu, aku melanjutkan menjahit sub kutis ( lapisan lemak bawah kulit) dengan benang yang sama.
Setelah sub kutis menyatu oleh jahitan, Instrumentator kembali memberikan benang terakhir, bernama plain 3/0 kepadaku untuk menyatukan kulit, dengan teknik jahitan subkutikuler. Orang awam bilang jahitan ini seperti dilem, karena benang jahitan tidak terlihat di permukaan kulit.
Sementara itu Sherly sejak proses menjahit memegang gunting.
Setelah proses jahitan subkutikuler selesai, luka ditutup dengan plester tahan air. Dan pasien dibersihkan serta dirapikan. Pembedahan Sectio Caesaria hari ini akhirnya selesai. Ini terasa panjang bagiku.
Sedari tadi aku mau muntah mencium bau darah dan obat- obatan di OK. Entah kekuatan seperti apa yang membuat aku akhirnya bisa bertahan. Aku tidak yakin bisa melakukannya lagi di lain waktu, karena saat ini pun aku merasa ingin muntah lagi.
"Dokter!" panggil Sherly.
Aku menggeleng. Aku harus ke toilet sekarang juga. Aku benar-benar ingin muntah.
Di westafel luar toilet aku memuntahkan isi perutku lagi. Aku bahkan sudah muntah berapa kali tadi. Aku benar- benar lemas sekarang. Perutku benar- benar kosong sekarang.
"Kau tidak apa-apa?"
Seseorang bertanya dengan nada yang sangat khawatir sambil menepuk-nepuk punggungku.
Aku menoleh melihat orang yang berdiri di sebelahku ini. Dia juga memakai baju bedah dan surgeon cup di kepalanya
Dia tersenyum begitu aku melihatnya namun masih tetap menepuk punggungku.
Lelaki tampan di sebelahku ini adalah Ali. Aku belum sempat berkata apa pun padanya ketika aku tiba- tiba saja melihat Sherly yang sedang menatap padaku melalui pantulan cermin.
__ADS_1
Oh, Tuhan tiba- tiba rasa cemas melandaku. Jangan sampai dia mengira aku ada hubungan dengan Ali. Tiba- tiba aku merasa seperti orang yang tertangkap basah sedang selingkuh.