I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Arini Veronica


__ADS_3

Pov Mahfudz


Telah satu jam lebih aku mengunci Raya dalam pelukanku seperti ini. Setelah berkali- kali dia mencoba berontak dan tak mau kusentuh sama sekali. Dan akhirnya dia lelah juga menangis dan mau tidak mau dengan tidak berdaya dia terpaksa pasrah di pelukanku. Aku mengelus perutnya yang sudah mulai membesar, perut indah yang tadinya ramping itu kini membentuk gundukan karena ditumbuhi benihku yang tumbuh di rahimnya.


Sumpah, Ray. Kau satu- satunya wanita dalam hati dan hidupku. Kau satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak- anakku


Aku mencium pucuk kepala Raya yang kini sedang meringkuk dalam pelukanku yang memaksa. Hari ini aku melukainya. Aku membuatnya menangis lagi setelah terakhir kali dia menangis karena berdebat denganku masalah hubungan pasutri yang kedua kali.


Dan seprai ini, ini adalah seprai yang sama, saat aku merenggut mahkotanya untuk yang pertama kalinya. Dan juga yang membuat dia menangis membenamkan wajahnya ke bantal karena aku melakukannya dengan sedikit memaksa. Sekarang, hari ini pun dia menangis lagi di ranjang ini, di tempat dimana kami hampir setiap malam memadu cinta. Dan itu karena suaminya yang dia kira telah melakukan hal yang sama dengan dirinya pada orang lain.


Sumpah! Aku benar- benar tidak pernah melakukan itu dengan wanita manapun selain Raya. Raya adalah my first love and only one dalam segala hal yang berhubungan dengan hati dan perasaanku selain hubungan antara Mama dan aku.


Padanya aku merasakan pertama kalinya debaran- debaran cinta itu. Walaupun dulu aku pernah menyukai gadis lain saat aku masih SMP. Tapi itu hanya sebatas suka bukan dalam konteks mencintai. Padanya juga aku melakukan ciuman pertama itu walaupun kalau orang lain tau pasti terlihat konyol diumur segitu aku baru melakukannya pertama kali. Dan masalah hubungan pasutri pun, aku dan Raya sama- sama melakukannya untuk pertama kali. Pokoknya dia segalanya bagiku, jadi kenapa aku harus melakukannya dengan orang lain?


Aku juga tidak tau mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Aku tidak mengerti kenapa di suatu pagi, aku menemukan diriku terbangun di sebuah kamar hotel sekelas melati dengan Tiwi dalam kondisi yang arghhhh!!!!! Itu membuatku depresi. Aku dan Tiwi sedang berada dibawah selimut yang sama tanpa mengenakan baju sehelai benang pun. Bajuku dan bajunya bergeletakan di lantai seperti telah melewatkan malam yang panas dengan bercumbu mesra dengannya.


Itu di luar kesadaranku. Kenapa aku berani bilang begitu? Karena kalau memang aku benar- benar melakukannya dengannya. Aku tidak akan pernah tidur tanpa bersih- bersih terlebih dahulu. Dengan Raya saja aku tidak pernah seberantakan itu. Kami selalu membereskan dan membersihkan diri kami sehabis bercinta, barulah akhirnya berpelukan dalam hangatnya cinta hingga kami tertidur pulas.


Dan ini apa? Aku yakin ini konspirasi Tiwi. Tapi dengan siapa? Aku tidak yakin Tiwi melakukannya sendirian. Gadis berusia 13 tahun itu tidak mungkin mampu merancang ini sendirian tanpa bantuan seseorang. Apakah dia bekerja sama dengan Waridi? Tapi dia kenal Waridi di mana?


Aku tau Tiwi menyukaiku semenjak aku koas di rumah sakit jejaring. Aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Apalagi aku tau kebiasaan buruknya yang suka memeluk spontan orang lain. Atau hanya padaku? Entahlah, tapi yang jelas aku sendiri pun merasa tidak nyaman dengan hal itu.


Hingga pada suatu hari, beberapa hari setelah pertemuanku di mall dengannya yang membuat Raya cemburu berat, aku bertemu lagi dengan Tiwi di rumah sakit Harapan Kita di tempat aku baru ditempatkan kampus untuk koas di stase THT. Itu benar- benar pertemuan yang tidak disengaja.


FLASHBACK ON


Aku melihatnya sedang duduk menunggu seseorang. Aku segera membalikkan badan bergegas pergi karena tak ingin memberi kesempatan atau harapan apa pun padanya. Tapi sayangnya sepertinya Tiwi melihatku, dia segera mengejarku.


[Kenapa dokter menghindariku?] tanyanya dengan bahasa isyarat.


Aku terkejut tak menyangka Tiwi akan mengejarku. Namun aku berusaha kembali menguasai keterkejutanku.


"Oh, Ti-wi. Ka-mu nga-pa-in di si-ni?" Aku balas bertanya dengan menggunakan bahasa isyarat.


[Kak Rini membawaku periksa ke dokter obgyn. Ini semua berkat dokter yang membocorkan semua apa yang kualami pada Kak Rini] katanya dengan wajah merengut kesal padaku.


"Ma-af, i-tu se-mua de-mi ke-bai-kan-mu. Ka-kak-mu se-ti-dak-nya ha-rus ta-u," kataku


[Itu bukan demi kebaikanku. Kau mengatakan itu semua agar istrimu tidak cemburu kan?] katanya kesal.


Aku melihat ada raut cemburu di wajahnya saat dia membicarakan Raya.


"Ya. I-tu sa-lah sa-tu-nya. Is-tri-ku se-dang ha-mil. A-ku ti-dak ma-u di-a stress ka-re-na cem-bu-ru yang ti-dak be-ra-la-san. Ka-re-na ki-ta me-mang ti-dak a-da hu-bu-ngan spe-si-al. Ja-di a-ku ha-rus je-las-kan ke-na-pa ki-ta bi-sa ber-te-mu."


[Kau secinta itu padanya?] tanya Tiwi terlihat gusar.


Aku mengangguk. "Ya. Sa-ngat. Ngomong- ngomong Tiwi, kenapa kalian tidak periksa di Siaga Medika saja?"


[Kak Rini tidak mau malu.]


Aku manggut- manggut. "Te-rus se-ka-rang, Kak Ri-ni ke-ma-na?" tanyaku basa basi.


[Dia masih bicara dengan dr. Obgyn. Aku disuruh menunggu di luar]


Lagi- lagi aku cuma manggut- manggut. Meski rumah sakit ini tak sebesar rumah sakit Siaga Medika tapi jarak departemen obgyn dan THT juga tidak begitu terlalu dekat. Kenapa Tiwi menunggu di departemen THT?


Aku sempat heran kala itu namun kuabaikan. Mungkin saja dia jalan- jalan karena bosaan pikirku.


"Ka-pan ka-u pu-lang ke kam-pung?" tanyaku.


Sungguh, aku benar- benar ingin dia pulang. Aku punya firasat kalau anak itu akan membawa masalah di antara aku dan Raya mengingat kakaknya kerja di rumah sakit bahkan di departemen yang sama dengan Raya.


[Aku akan tinggal bersama Kak Rini mulai sekarang. Dia sudah tidak percaya lagi menitipkan aku di panti asuhan lagi] jawabnya.


Aku manggut- manggut lagi atas jawabnya.


Sejak pertemuan itu, entah kenapa aku merasaa menjadi lebih sering bertemu Tiwi. Dia sering mendatangiku ke stase THT dan menungguku pulang. Kalau kutanya ada keperluan apa dia datang, dia selalu bilang ada janji konsultasi dengan obgyn rumah sakit Harapan kita.


[Dokter, bisa minta tolong antarkan aku pulang ke rumah? Kak Rini sudah janji temani aku konsul di sini. Tapi sepertinya dia ada urusan mendadak di rumah sakit, jadi dia nggak bisa datang]


Aku berpikir sejenak. Aku memang sudah mau pulang. Kebetulan hari ini aku pulang sore, tidak banyak pekerjaan di rumah sakit. Bagaimana ini? Bagaimana kalau tiba- tiba aku berpapasan di jalan dengan Raya, aku sedang membonceng anak ini?


[Ayolaaah, rumahku tidak begitu jauh dokter. Aku janji cuma sampai depan gang aja. Nggak perlu diantar sampai ke dalam.]


Tiwi bergelayut manja di lenganku yang segera langsung kusingkirkan tangannya itu dariku.


"Ya su-dah. A-yo ku-an-tar."


Akhirnya, ya sudahlah. Aku putuskan untuk mengantarnya. Toh, aku tidak berselingkuh dengannya, kenapa aku harus takut? Sepertinya aku terlalu paranoid pada Tiwi.


Dengan menggunakan motor maticku aku membawanya dalam boncenganku. Dan tangan itu, entah berapa kali memelukku dari belakang namun sebanyak itu juga aku melepasnya. Hingga tiba- tiba di tengah jalan Tiwi tiba- tiba minta berhenti dulu.


"Ke-na-pa?" tanyaku.

__ADS_1


Dia menunjuk pada mobil penjual es krim di sebuah jalan sepi dibawah sebuah pohon.


[Dokter, aku ingin makan es krim sebentar. Dokter traktir aku ya!]


Permintaannya untuk ku traktir itu membuatku merasa tak enak. Dan akhirnya menuruti keinginannya. Ini seperti Nadya yang merengek minta dibelikan es krim.


"Es krim-nya, ma-kan di ja-lan a-ja," kataku.


Aku buru- buru ingin mengantarnya dan ingin segera ke rumah sakit siaga medika menunggu Raya pulang.


Tiwi menggeleng sambil tertawa.


[Makan di sini aja, dok! Nanti aku masih mau tambah satu lagi, bolehkan?]


Ah, anak ini. Aku terpaksa harus menurutinya lagi.


Tiwi ingin menyodorkan eskrimnya padaku, namun aku menolaknya.


[Cobalah, Dok! Ini enak. Kalau nggak, kita nggak usah pulang. Masa dokter yang traktir tapi dokter sendiri nggak mau? Makan atau kita nggak usah pulang. Kita nginap aja di sini] katanya.


Daripada rumit, akhirnya aku meminta satu lagi es krim pada penjualnya.


Es krim rasa coklat vanilla dengan gelas beling. Aku sendok ke mulutku agar cepat habis dan segera mengantar anak itu pulang ke rumahnya dan agar aku bisa segera bertemu dengan Rayaku.


Lepas memakan es krim itu hingga habis, tak berapa lama aku merasa kantuk yang sangat. Aku menguap beberapa kali, mengerjap-ngerjapkan mataku mencoba mengumpulkan kesadaranku agar tetap stabil.


[Dokter kenapa?]


Aku sempat melihat Tiwi menanyakan itu dalam bahasa isyarat.


Aku tidak sanggup lagi menjawabnya dengan bahasa isyarat. Aku merasa hanya sangat mengantuk. Semua terasa berkunang- kunang, namun aku masih sempat merasakan Tiwi mendekatiku, memelukku dan bibirku .... Aku merasa seseorang menciumnya sebelum akhirnya mataku terpejam. Dan itu bukan Raya.


Dan aku terbangun saat subuh dengan kepala yang sangat berat dan pusing. Aku mendapati Tiwi sedang berada dalam pelukanku. Dan kami tidak mengenakan pakaian sama sekali. Bajuku dan bajunya berserakan di lantai. Seprai yang kusut menandakan ada aktivitas ranjang yang berlangsung di kamar ini.


Astaghfirullah apa yang terjadi? Aku menyingkirkan tangan Tiwi yang sedang memelukku. Dia juga terbangun.


Gila! Ini tidak mungkin. Apa aku tidur dengannya? Bagaimana bisa? Aku mencoba mengingat- ingat apa yang terjadi tapi pikiranku benar- benar blank.


Segera aku mengumpulkan baju dan masuk ke kamar mandi. Ini membuatku frustasi. Sialan! Aku dijebak! Tapi aku tak bisa membuktikannya. Aku bertanya pada resepsionis motel, katanya aku memang check-in berdua dengan Tiwi dari sore.


Setelah hari itu Tiwi semakin gencar mendatangiku ke rumah sakit. Bahkan dia punya no hpku yang entah dia dapat darimana. Yang lebih gila dari itu semua dan aku tak bisa jujur pada Raya adalah Tiwi memiliki vidio saat kami melakukan hubungan tak senonoh itu. Katanya saat melakukan itu aku yang memintanya untuk mendokumentasikan moment itu sebagai kenang- kenangan? Apa itu tidak gila? Dan sial, orang di vidio itu memang mirip aku. Bahkan aku sampai meragukan diriku sendiri, apa benar aku melakukannya dengan Tiwi? Apa aku benar- benar tidur dengannya. Ya Tuhan, kenapa aku tidak ingat apa-apa?


FLASHBACK OFF


Ya Allah, istriku terluka sedemikian dalam. Bagaimana caraku mengatasi masalah ini. Bagaimana caraku mengobati luka hatinya?


\*\*\*\*\*\*


Pov Raya


Aku terbangun dalam kondisi Mahfudz memeluk erat tubuhku dari belakang. Tangannya yang memeluk perutku seakan menegaskan kalau dia selalu menjagaku dan calon bayiku. Ini membuatku tambah perih mengingat perselingkuhan yang dilakukannya.


Perlahan aku berusaha menyingkirkan tangan itu dari perutku. Namun tangan itu semakin erat memelukku.


"A-ku tak per-nah meng-khia-na-ti ka-mu dan a-nak k-ita, Ra-ya!"


Aku menepis tangan itu kasar dan segera duduk. Ternyata Mahfudz tidak tidur. Apa dia tidak bisa tidur semalaman.


Aku tak menghiraukan dia yang kini juga duduk. Segera aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Mengademkan pikiranku beberapa lama. Rasa dingin air subuh tak lagi ku rasa. Aku gerah dengan semua masalah ini. Selepas mandi aku sholat subuh tanpa menunggu Mahfudz. Dan Mahfudz sendiri masuk ke kamar mandi untuk mandi dan sholat juga.


Foto- foto yang berhamburan kukumpulkan kembali dan kumasukkan ke dalam amplop dan kuletakkan dalam tasku. Saat Mahfudz keluar semua sudah bersih. Sungguh aku tidak ingin berada di ruangan yang sama dengannya. Ini sungguh- sungguh membuatku sakit hati.


Segera aku keluar dari kamar. Aku melihat Fuad sedang berada di ruang keluarga bersama Rahmat. Aku juga enggan menegurnya. Aku belum tau apakah Fuad atau Mahfudz terlibat dalam hal ini. Aku menuju dapur dan mendapati Ummik dan Ayuni tengah memasak di sana.


"Kamu kalau masih nifas jangan mau diajak berhubungan dulu, ya!"


Aku mendengar Ummik sedang mewanti- wanti Ayuni. Persis seperti Ummik biasa menasehatiku.


"Iya, Mik. Nggak kok. Ayuni ngerti dan Fuad juga nggak masalah, Mik!" jawab Ayuni malu- malu.


"Syukurlah, Ummik cuma mau ngasih tau kamu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata Ummik


Percakapan mereka terhenti saat aku memasuki dapur dan duduk di meja makan.


"Raya ...."


Mereka pasti melihat mataku yang sembab karena menangis semalaman. Namun aku mencoba tersenyum. Aku mengambil roti tawar dari dalam kulkas. Mengolesnya dengan mentega dan menaburi ceres di atasnya.


"Benar kata Ummik, kamu jangan dulu berhubungan pasutri dengan Fuad. Kamu melahirkan kan baru 3 mingguan," kataku sambil menggigit roti di depanku. Aaku benar- benar lapar.


Sebenarnya aku ikut nimbrung dalam percakapan Ayuni dan Ummik agar mereka tidak menanyaiku apa yang terjadi semalam.


"Iya, Kak!" jawab Ayuni. Wajahnya merona merah.

__ADS_1


"Ayuni, Kakak mau tanya. Dulu waktu kamu baru dipulangkan dari rumah sakit, ada seorang cleaning service memberikan Kartu Tanda Pelajar pada kakak. Katanya itu kamu titip untuk diberikan pada Kakak, Itu beneran kamu yang titip? Kamu dapat dari mana?" tanyaku perlahan.


Ayuni tampak mengingat- ingat.


"Oh, itu. Iya. Itu aku yang titipkan. Aku mendapat itu dari salah seorang perawat. Katanya saat kejadian ketika ada yang memaksaku meminum obat tukak lambung yang bisa menggugurkan kandungan itu, di tanganku tergenggam itu. Jadi perawat itu menyimpannya. Saat aku siuman dia memberikannya padaku. Dia berpikir itu mungkin milik adikku tapi kalau menurutku sepertinya itu milik orang yang ingin mencelakaiku. Aku memang saat itu belum sadar, tapi mungkin karena waktu itu aku meronta- ronta jadi nggak sengaja kartu miliknya tertarik olehku? Maybe ....? Entahlah .... Aku cuma berpikir saat itu cuma dr. Raya yang sepertinya bisa membantuku, makanya aku menitipkan kartu itu melalui cleaning service untuk diberikan pada Kak Raya." Ayuni terlihat bingung sendiri dengan asumsinya.


Aku manggut- manggut. Asumsi Ayuni sebenarnya agak masuk akal. Dia tanpa sengaja mendapat kartu itu dari orang yang ingin mencelakainya. Namun yang membuat ini tidak masuk akal adalah Tiwi. Kalau benar kartu tanda pelajar itu pemiliknya adalah Tiwi, bagaimana bisa kartu itu ada di tangan Ayuni? Sementara Tiwi bertempat tinggal di kabupaten tempat Mahfudz koas di rumah sakit jejaring dulu. Dan lagi pula apa hubungan antara Ayuni dan Tiwi? Apa iya Tiwi yang berusaha membunuh Ayuni waktu itu?


"Kamu kenal dengan pemilik kartu itu Ayuni?" tanyaku.


Di saat yang bersamaan Mahfudz tiba- tiba saja datang ke dapur. Melihatku duduk dan sedang menikmati roti tawar bertoping ceres milikku, Mahfudz mengambil gelas dan menyiapkan susu bumil dan meletakkannya di hadapanku. Sungguh perhatian yang membuatku muak. Lelaki berselingkuh memang selalu bersikap baik untuk menutupi rasa bersalahnya.


Mahfudz mengaduk susu hangat itu dengan sendok dan menyerahkannya ke tanganku.


"Kak Raya sangat beruntung dapat suami sebaik Kak Mahfudz," katanya. "Dulu waktu aku hamil tidak ada yang memperhatikanku seperti itu."


Aku menerima gelas berisi susu itu hanya demi tidak memperlihatkan masalah antara aku dan Mahfudz pada Ummik dan Ayuni.


"Ya, aku sangat beruntung," kataku sambil menatap tajam pada Mahfudz yang segera menunduk bersalah karena kata- kataku.


"Ngomong- ngomong, kenapa Kakak menanyakan itu? Apa ada petunjuk?"


Aku mengangguk. "Ya. Aku kenal anak pemilik kartu tanda pelajar itu. Namanya Tiwi."


Mahfudz terlihat terkejut dengan topik pembicaraan antara aku dan Ayuni. Kenapa? Kau tidak senang kalau selingkuhanmu kami jadikan bahan pembicaraan? kataku dalam hati.


"Kak Raya kenal dimana?" tanya Ayuni penasaran.


"Dia adiknya salah seorang perawat di departemenku di rumah sakit. Dan ...."


Aku sengaja menggantung kata- kataku. Aku penasaran reaksi Mahfudz. Dan sepertinya Mahfudz terlihat cemas menungguku bicara. Dia pasti khawatir aku membeberkan perselingkuhannya di depan Ummik dan Ayuni.


"Dan?" tanya Ayuni bingung.


"Dan dia pasiennya Mahfudz di rumah sakit jejaring," jawabku. Aku melihat raut lega di wajah Mahfudz.


"Jadi apakah menurut Kakak yang melakukan itu padaku Kakaknya Tiwi ini?" tanya Ayuni penasaran.


Aku menggeleng ragu. Veronica, tidak mungkin!


"Aku rasa Vero .... Tidak mungkin melakukan itu, dia tak memiliki motif ...."


"Ve-ro?" celutuk Mahfudz tiba- tiba. "Mak-sud-mu Ri-ni?"


Deg! Jantungku seakan berhenti seketika mendengar nama itu.


"Apa maksudmu Rini?" tanyaku balik dengan rasa penasaran.


"Ka-mu bi-lang ka-kak-nya Ti-wi, Ve-ro. Da-ri se-jak di mall a-ku su-dah he-ran ke-na-pa ka-mu se-la-lu me-mang-gil Ve-ro pa-da Ri-ni. Se-mu-a o-rang me-mang-gil-nya Ri-ni, ke-na-pa cu-ma ka-mu yang me-mang-gil Ve-ro?"


"Semua orang? Memangnya kau kenal dia?"


Mahfudz mengangguk ragu. "Ti-dak ken-al de-kat. Cu-ma du-lu a-ku per-nah di-su-ruh an-tar o-bat ke I-G-D o-leh pe-ra-wat se-ni-or un-tuk di-be-ri-kan pa-da Ri-ni. Se-mu-a o-rang di sa-na me-mang-gil-nya Ri-ni. Ka-lau nggak sa-lah i-tu pas ke-ti-ka A-yuni ma-suk I-G-D ka-re-na ka-sus per-co-ba-an bu-nuh di-ri."


Aku terpaku dalam waktu yang relatif cukup lama. Aku banyak melewatkan sesuatu yang penting di sini. Pikiranku melayang ke suatu waktu.


FLASHBACK ON


"Jadi, dokter punya asisten baru?" tanyaku pada dr. Gayatri kala itu.


Dr. Gayatri tersenyum dan mengangguk.


"Kenalan dulu!" suruhnya.


"Saya dr. Raya." kataku sambil mengulurkan tanganku.


"Saya Rini, Dokter. Arini Veronica!"


Perawat itu balas menjabat tanganku.


"Aku boleh memanggilmu Vero? Rini itu namanya pasaran. Biar beda dikitlah." gurauku


"Terserah dokter aja mau panggil apa, apa pun yang membuatmu nyaman, Dokter!" katanya membalas gurauanku


FLASHBACK OFF


Aku menutup mulutku shock. Rini, Vero, Rini, Vero. Nama itu tumpang tindih dalam pikiranku. Rini yang dimaksud istrinya Waridi apakah Veronica? Oh my God! Makin jelas semua ini.


"Kau, sempat lihat obat apa yang dititipkan untuk diberikan pada Rini?" tanyaku pada Mahfudz dengan nada yang sangat hati- hati. Saat ini aku lupa masalah perselingkuhannya.


Mahfudz mengangguk. Sekarang Ummik juga ikut duduk mendengarkan kami bicara.


"Ya. O-bat tu-kak lam-bung se-je-nis mi-so-pros-tol."

__ADS_1


Kerongkonganku rasanya tercekat. Tidak salah lagi. Rini yang selama ini kucari adalah Veronica.


__ADS_2