I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Teror


__ADS_3

Ini pengalaman pertama yang tidak sesuai dengan ekspektasiku. Pernahkah kalian melihat adegan drama di televisi atau membaca di novel, tokoh utamanya menikah dan melangsungkan malam pertama dan besoknya di pagi hari merasa senang, bahagia dengan wajah malu-malu? Aku juga ingin seperti itu. Tetapi ekspektasiku sepertinya terlalu tinggi membayangkan aku akan melewatkan malam pertamaku saat melepas keperawanan yang telah kujaga bertahun-tahun dengan rasa bahagia dan sumringah. Dan nyatanya malam pertama yang dilakukan di pagi kepepet ini ( kepepet karna takut Ummik keburu pulang), membuatku merasa seperti dieksekusi di atas ranjang ini. Mahfudz melakukannya dengan tak sabaran, tak peduli pada rengekanku yang memintanya untuk berhenti dulu. Dan akhirnya selaput dara itu robek meninggalkan jejak berdarah di seprai ini. Rasanya? Perih. Sampai aku kepikiran untuk tidak akan pernah mengulanginya lagi.


Aku ingin sekali menyalahkan Mahfudz yang terlihat puas mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa peduli apa yang kuinginkan. Yah, memang aku tak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Karena dia sudah berusaha melakukan foreplay terbaik untuk membuatku merasa santai dan siap menerima apa yang harusnya kuterima. Namun tak bisa kupungkiri ini adalah salahku yang tidak bisa rileks sampai akhir. Merasa tegang dan mengkakukan tubuhku sehingga terjadilah hal seperti ini. Ilmu obgynku sama sekali tak berguna di saat-saat ini.


Aku menangis dan membenamkan wajahku ke bantal. Walaupun aku sebenarnya tidak tau tepatnya apa yang kutangiskan. Apa rasa sakitnya, atau karena ekspektasiku yang tidak sesuai dengan kenyataan? Pokoknya aku hanya ingin menangis saat ini.


Mahfudz memelukku.


"Sa-kit?" tanyanya.


Sudah tau pakai acara nanya lagi. Namun aku tak menjawabnya.


Mahfudz membelai rambutku. "Ma-afin a-ku sa-yang. Ka-mu man-di-lah du-lua-an, nan-ti Um-mik ke-bu-ru da-tang. A-ku a-kan be-res-kan tem-pat ti-dur-nya"


Aku menurut saja. Aku bangkit dari tidurku meraih selimut untuk menutupi badanku, meraih handuk dan segera menuju kamar mandi. Ini adalah mandi junub pertamaku.


Saat aku keluar kamar mandi Mahfudz sedang memasang seprai baru. Seprai bernoda darah bekas kami berhubungan tadi telah teronggok di lantai. Aku segera memungutnya dan membawanya ke mesin cuci di kamar mandi. Menyalakan mesinnya dan langsung mencuci seprai itu. Aku tidak mau Ummik sampai melihatnya. Itu akan sangat- sangat memalukan.


Saat aku melewati ruang tamu hendak kembali ke kamar, aku melihat sosok bayangan seseorang duduk di kursi teras melalui jendela kaca. Siapa itu? Apa itu Ummik?


Aku segera mendekati pintu dan menyingkap gorden jendela. Ya Allah itu memang Ummik. Kenapa Ummik tidak mengetok pintu? Aku segera membuka pintu setelah menggulung rambutku yang basah dengan handuk.


"Ummik, sejak kapan Ummik di sini? Kenapa nggak ketok pintu, atau pencet bel, Mik?"


Ummik tersenyum, seperti ada yang membuatnya senang.


"Ummik baru aja sampai Ray, tadi bus yang mau bawa nenek lama nyari penumpang. Ummik nungguin mereka di sana sampai mereka berangkat"


Aku menyelidiki wajah Ummik dengan seksama. Aku sangat kenal Ummik. Senyumnya tak mungkin sesumringah itu kalau tak ada yang membuatnya senang. Ya Tuhan, apa Ummik tau kalau aku dan Mahfudz.... Aku meringis menyesalkan betapa rewelnya mulutku tadi saat memohon-mohon pada Mahfudz untuk berhenti melakukannya. Aku bahkan memanggil-manggil nama Ummik. Aduh, ini memalukan sekali.


"Benar Ummik baru nyampe?"desakku dengan nada frustasi. "Kok nggak ngetok pintu?"


"Ah, apaan sih kamu, Ray! Ummik udah bilang baru nyampe nggak percaya. Ummik itu nggak langsung ngetok pintu karena Ummik capek jalan dari depan kompleks. Jadi mau nyantai dulu di teras, habis itu belum lama kamu langsung keluar. Mana Mahfudz?" tanya Ummik.


Tuh kan? Langsung tanya menantu kesayangannya.


"Ummik lihat motornya ada di luar"kata Ummik sebelum aku tanya Ummik tau darimana ada Mahfudz di rumah.


"Lagi mandi...."


Aku meringis lagi melihat Ummik cuma jawab "Ooo...." dengan intonasi yang sangat maklum. Maklum kalau Mahfudz lagi mandi sedangkan aku juga baru selesai mandi. Gulungan handuk di rambutku jadi bukti tak terbantahkan kalau aku baru selesai keramas.


"Ya, sudah. Coba kamu lihat. Mahfudz sudah selesai mandi belum. Kalau sudah kita makan bareng-bareng" kata Ummik.


Aku mengangguk. Aku segera ke kamar untuk memanggil Mahfudz makan. Berbeda denganku, Mahfudz sepertinya sangat bahagia dengan moment pagi ini. Senyumnya mengembang terus setiap melihatku. Membuatku tambah malu saja.


"Kamu lagi cucian, Ray?"


Suara mesin cuci mungkin mengusik pendengaran Ummik.


"Iya, Mik"jawabku singkat.


"Ummik kan udah cucian tadi subuh. Kamu cucian apa lagi?"


"Seprai"

__ADS_1


"Oooo.... "


Lagi-lagi Ummik hanya menanggapinya seperti itu. Padahal Ummik sendiri tau seprai itu baru diganti kemarin. Ummik sendiri yang menggantinya karena seprai dekorasi kamar pengantinnya akan dikembalikan pada Wedding Organizer.


Aku tau Ummik pasti mengerti semua yang terjadi pagi ini antara aku dan Mahfudz. Ummik hanya tidak ingin membuatku merasa semakin malu.


"Fud, kamu bisa makan telor setengah matang, nggak?" tanya Ummik pada Mahfudz.


Mahfudz berhenti makan sejenak, "Bi-sa, Mik. Ke-na-pa?


"Ummik lihat sekarang kamu kurusan, Fud. Dibandingkan waktu Ummik pertama kali bertemu denganmu di rumah sakit. Pasti capek ya koasnya?"


Mahfudz tersenyum. "Lu-ma-yan ca-pek, Mik. Sta-se In-ter-na le-bih si-buk da-ri-pa-da ob-gyn"


"Oh, gitu. Ray, nanti kamu belikanlah telor bebek di rumah Bu Anti. Telor bebeknya mereka itu bagus-bagus dan baru, jadi kualitasnya terjamin. Masak 2 butir setengah matang, terus berikanlah pada suamimu. Itu bagus buat penambah stamina"


Aku menarik napas frustasi. "Iya, Mik."


Aku tau maksud Ummik stamina buat apaan. Ini pasti tidak jauh-jauh dari misi Ummik yang ingin secepatnya punya cucu. Oh, memalukan sekali.


Selesai makan Mahfudz permisi pada Ummik ingin tidur sebentar. Katanya dia tidak tidur semalaman dan nanti malam dia juga musti jaga malam di rumah sakit. Tapi aku tau dia mungkin capek juga mengeksekusi diriku pagi ini. Ini tak adil sekali.


"Ray, kamu temani suamimu sana!"kata Ummik risih karena aku dari tadi nempel terus padanya.


Sejak selesai makan tadi hingga siang ini, aku berada di kamarnya Ummik. Takut Mahfudz melancarkan serangan berikutnya padaku.


"Mahfudz juga lagi tidur, Mik. Raya takut ganggu"jawabku. Padahal aku yang takut diganggu sama Mahfudz.


"Ray, kalau suami lagi ada di rumah itu ya ditemenin, dilayanin. Jadi dia betah. Nggak kepikiran lirak -lirik wanita lain di luaran sana. Sana kamu temenin dia. Kamu juga ikutan tiduran kek mumpung masih ada hari cuti di rumah. Besok-besok kalau sudah kerja, kamu mau tidur siang aja juga ga bakal bisa, Ray!"


Ummik ini terlihat maksa banget agar aku balik ke kamar.


"Jangan lupa sholar dzuhur, Nak! Bangunkan Mahfud juga. Banyak-banyak memohon pada Allah agar kalian segera diberi momongan, Ummik juga turut mendoakan"katanya.


Tuh, kan benar kataku. Ini hanyalah soal cucu.


"Aamiin" jawabku setengah hati.


Anak. Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku bukan tipikal orang yang memiliki suka berlebihan pada anak-anak. Yah, pengen sih punya keturunan sendiri. Tapi aku tidak buru-buru juga. Allah mau memberinya kapan pun tidak masalah buatku. Diberi dalam waktu dekat ya Alhamdullih. Tidak langsung diberi juga ya tidak apa-apa, berarti belum rejeki.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


Aku dibangunkan Raya saat tidurku lagi enak-enaknya. Aku mengerjapkan mataku berulang kali melihat apakah ini mimpi, bidadariku ini benar-benar nyata.


"Sholat!" katanya sambil menunjuk pada jam dinding. Jam 1 siang.


Aku duduk dan langsung memandangnya.


"Ma-sih sa-kit?" tanyaku. Aku menyadari kesalahanku hari ini yang tak sabaran merenggut mahkotanya.


Dia tak menjawabku. Sepertinya merajuk lagi.


"Ma-u ku-pe-rik-sa?"godaku sambil menyentuh pahanya.

__ADS_1


Dia segera merapatkan kakinya dan duduk beringsut menjauh.


Aku mendekatinya.


"A-ku bah-kan ka-mu su-ruh me-la-ku-kan V-T pa-da wa-ni-ta la-in. Se-ka-rang a-ku tak bo-leh pe-rik-sa is-tri-ku sen-di-ri yang sa-kit ka-re-na ke-la-ku-an-ku?"


Aku memeluknya. Tapi dia berusaha melepaskan pelukanku.


"Fud, kamu merasa nggak sih di kamar ini kayak ada bau-bau bangkai? Sebelum kita nikah nggak pernah ada bau begini disini." katanya .


Haa? Bau bangkai? Maksudmu aku bau bangkai gitu? Segitu benci kamu sama aku sampai suami sendiri dikatain bau bangkai, kataku dalam hati.


"Yang ka-mu mak-sud a-ku?"tanyaku pura-pura tersinggung .


"Nggak, Fud. Memang kayak ada bau bangkai. Kadang-kadang ada lalat juga masuk kamar. Apa ada tikus nyasar terus mati disini ya? Cari yok!" rengeknya.


Aduuuh, ada-ada aja. Apa begini caramu menghindar agar aku tak menyentuhmu?pikirku.


"Ayoooo...." rengeknya manja sambil menarik tanganku.


Aku berdiri dari tempat tidur dan mengikutinya.


Raya mengendus-endus mencari tau asal bau yang dikatakannya. Dan aku sekarang mulai bisa menangkap bau yang dikatakan Raya. Sepertinya memang ada bau bangkai. Aku mengendus-endus. Asalnya seperti datang dari balik lemari.


"Sen-ter ke si-ni, Ray!" suruhku.


Baunya semakin terasa menyengat ketika aku mendekatkan wajahku untuk melihat ke balik lemari.


Raya mendekat dan mendekatkan senter ponselnya untuk menerangi celah belakang lemari. Tapi tak ada apa-apa disana.


Aku mengambil kursi meja riasnya untuk kujadikan pijakan agar bisa melihat ke atas lemari. Tapi di situ juga tak ada apa-apa. Dan baunya juga tak berasal dari sana. Aku kembali memeriksa ke belakang lemari, dan yakin baunya disekitaran itu. Berarti kalau bukan di belakang lemari kemungkinan ada di dalam lemari?


Aku memutar kunci lemari 3 pintu itu dan membukanya. Masa iya ada tikus terjebak di dalam lemari? Pintu lemari terbuka. Dan bau semerbak bangkai itu memang benar berasal dari sana. Pantas kemarin Raya mengusir lalat. Aku kira itu cuma pura-pura.


Raya juga tak menyangka bau itu berasal dari dalam lemari yang dia buat sebagai tempat kado. Aku segera mengeluarkan kado-kado itu keluar dari sana agar bisa melihat bangkai apa tepatnya itu. Namun ketika tanganku mengangkat salah satu kado dibarisan kedua paling bawah, aku segera tau kalau asal bau menyengat itu dari sana. Aku mendadak sangat mual. Raya pun sama.


"Apa itu, Fud?"tanyanya dengan nada cemas.


Aku tidak menjawab. Isi kado ini pastilah bukan hal yang baik. Baunya benar-benar busuk. Aku segera membawanya ke teras depan. Raya mengikutiku.


"Apa itu, Ray?" tanya Ummik yang juga keluar dari kamarnya.


"Nggak tau, Mik! Kayaknya ada yang kasih kado jelek ke Raya" jawab Raya cemas.


"Haa? Kado jelek apaan?" Ummik ikut penasaran dan mengikutiku hingga teras.


Dengan tak sabar aku mulai membuka bungkus kado berbahan plastik bermotif bunga-bunga pink itu dengan hati-hati.


Astaghfirullah, di dalam kotak kado itu ada bangkai anak kucing yang di mutilasi beberapa bagian, kondisinya sudah berulat. Bulu-bulunya lengket menggumpal oleh darah yang membusuk.


Huekkk!!!!


Aku mendadak ingin muntah namun berhasil ku tahan sampai mataku berair. Ummik pun sampai lari ke dalam rumah karena ingin muntah di kamar mandi. Hanya Raya yang terpekur pucat pasi, meski tidak menunjukkan tanda-tanda dia ingin muntah. Mungkin karena dia sudah lama menjadi tenaga medis. Pengalaman mencium bau seperti itu bukan hal baru baginya.


"Siapa yang tega melakukan ini, Fud? Ray, ya Allah Nak! Siapa orang jahat yang sampai hati mengirimkan ini sebagai kado untuk kalian?" ratap Ummik.

__ADS_1


Beliau terlihat lemas melihatnya. Raya pun sama.


Siapa yang kira-kira bisa melakukan hal sekeji ini?pikirku. Apa mungkin dr. Ali?


__ADS_2