I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Laila Minta Adik


__ADS_3

POV Mahfudz


Setelah aku mematikan televisi, aku kemudian memutuskan untuk kembali menemani Haikal bermain monopoli. Tak lama kemudian, Ummik dan Putri kecilku Laila pun datang dari pengajiannya Ummik.


"Raya udah pulang, Fud?" tanya Ummik.


"Sudah, Mik. Dia kayaknua lagi mandi," jawab ku sembari meraih Laila yang langsung bergelayut manja padaku.


"Ayah, ayah! Unda (Bunda) mana?" tanyanya. Lucu dan menggemaskan dengan kata-katanua yang cadel.


"Bunda lagi mandi, Ya!" jawabku. "Tadi kamu sama nenek nggak nangis di pengajian, kan?" tanyaku penuh selidik.


"Endak (Nggak). Yaya Ndak nanis (nangis)," bantahnya.


"Waah, Laila pintar donk kalau nggak nangis. Hebat! Ayah senang kalau Laila gini terus. Nggak boleh cengeng, ya?" kataku.


"He em. Yaya ndak cengeng, Yah," sangkalnya lagi. "Belalti Yaya bica donk jadi kakak!"


Laila masih berusia tiga tahun setengah. Dengan lidah cadelnya memanggil dirinya sendiri dengan panggilan Yaya dari kecil. Kata Lain dari Laila. Hingga kadang-kadang, kami juga sering terbawa-bawa dengan panggilan itu. Kadang Laila, kadang kami memanggilnya Yaya.


Aku tertawa mendengar ocehan putri bungsuku itu. Dia sangat terobsesi menjadi kakak. Efek dari sang kakak Haikal, yang selalu mendominasi dan berkuasa atas apa-apa yang ada di rumah ini.


Misalnya begini,


"Dek, ganti siaran TV-nya, nonton upin-ipin mulu, nggak asyik. Mending nonton Ben-10. Lebih seru!"

__ADS_1


Dan saat Laila ingin protes, dia pun nantinya akan mengandalkan satu kalimat.


"Aku kan kakak, kamu adek! Jadi adek itu harus nurut sama kakak."


Selalu begitu kelakuan Haikal pada adiknya. Meski sudah ditegur olehku, Raya dan Ummik berulang-ulang untuk sesekali mengalah pada sang adik, tetapi dalam hal ini dia selalu menunjukkan ketegasannya. Dia adalah kakak, seseorang yang menjadi pemimpin sekaligus yang lebih berkuasa atas adiknya. Soal yang satu ini aku tarik lagi kata-kataku tentang dia yang kalem dan bersahaja ya ... Dia bersikap kalem dan bersahaja, hanya di depan orang lain atau orang yang lebih dewasa. Faktanya kalau bersama adiknya dia selalu mendominasi. Itu membuat Laila menginginkan adik juga, agar dia bisa bersikap seperti Haikal pada adiknya sebagai seorang kakak. Sungguh dunia anak-anak yang membingungkan.


"Ayah, belikan adek untuk Yaya," pintanya dengan polosnya.


Aku tergelak mendengarnya. Ummik yang mendengarnya juga jadi ikut senyum-senyum sendiri mendengar permintaan bocah itu.


"Beli dimana itu?Di mall emangnya ada?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Nggak di moll. Kata Nindy, adeknya beli di lumah cakit (rumah sakit), Ayah!" pinta Laila lagi.


"Itu, Nindy tetangga baru yang ngontrak di tempat Pak Burhan. Anaknya ada tiga, yang satu umurnya mungkin lebih tua dikit daripada Laila, adiknya kembar. Yah, biasalah anak-anak, Fud! Temannya punya sesuatu, dia juga ingin punya," kata Ummik.


Aku mengangguk-angguk tanda paham.


"Memang kamu nggak pengen, Fud, ngasih Ummik satu cucu lagi?" tanya Ummik tiba-tiba.


Aku tertawa kecil mendengarnya.


"Bukan nggak mau, Mik. Tapi Bundanya yang nggak mau lagi. Selain itu, kan Raya juga udah dua kali di-SC," kataku.


Pasca persalinan still birth yang pernah dilaluinya saat melahirkan anak pertama kami, Raya memang memiliki rahim yang lemah. Saat mengandung Haikal dia bahkan harus menggunakan kursi roda bahkan hanya untuk berjalan beberapa meter saja. Dan persalinannya pun dilakukan melalui tindakan SC.

__ADS_1


Hingga di usia Haikal yang ke empat tahun, dia memberanikan diri membuka AKDR yang menjadi alat kontrasepsi pilihannya untuk menjaga jarak kehamilan. Dan begitu Raya melepasnya, tak lama dia pun hamil kembali. Sungguh dia dikarunia sistim reproduksi yang subur, namun sangat lemah karena insiden itu.


Tetapi Raya telah berpengalaman menjaga keselamatan kandungannya. Dengan menggunakan metode servical cerclage di usia 12 Minggu, dia pun bisa menjaga kehamilannya hingga berhasil melahirkan Laila dengan sehat dan selamat melalui tindakan SC juga.


"Dicoba lagi nggak apa-apa, Fud. Satu lagi aja. Banyak anak banyak rejeki pepatah orang tua jaman dahulu. Jangan takut akan kehidupannya. Tiap-tiap makhluk yang bernyawa dimuka bumi ini telah dijaminkan oleh Allah rejekinya. Ummik senang punya banyak cucu yang menemani di hari tua, Ummik. Sayangnya anak Ummik cuma Raya, jadi nuntutnya hanya bisa ke Raya aja," guraunya.


Dan permintaan Ummik itu kudiskusikan pada Raya di malam harinya sebelum kami tidur. Dan matanya membelalak padaku.


"Bun, lepas AKDR-mu, ya!" bujukku.


"Hah, buat apa?" tanyanya kaget.


"Laila pengen adek katanya. Ummik juga," kataku memprovokasi.


Raya tertawa geli melihatku.


"Pasti ayah juga," tebaknya.


"Banget!" jawabku cepat. "Boleh, ya Bun? Satu a ...'


"Nggak!!" jawabnya tegas sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


*****


Hai dear, konflik beratnya pending dulu ya... Author lagi jenuh. Author bikin yang ringan-ringan aja dulu ya. Jangan lupa donk kasih like, koment dan cintanya untuk othor....😍

__ADS_1


__ADS_2