
Pov Mahfudz
"Apa Fud? Kamu mau menikah dengan dr. Raya? Mama nggak salah dengar?"
Aku mengangguk. Kabar mengejutkan buat Mama pasti. Meski pun Mama adalah pencetus ide ini duluan, tetap aja Mama kaget mendengar itu dariku.
Mama meraba dahiku. "Kamu nggak sakit kan, Fud?"
"Ng-gak, Ma"
Jangankan Mama, sebenarnya aku sendiri pun kaget dengan keputusanku sendiri. Aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa menikah dengan kondisiku yang sekarang ini. Koas berarti tidak punya penghasilan dan juga tidak punya waktu untuk bekerja menghasilkan pundi-pundi rupiah. Lalu bagaimana nanti aku akan bisa menafkahi dr. Raya dan bakal anakku kelak?
Ummik sudah memberi ultimatum padaku, kalau aku ingin berhubungan dengan dr. Raya berarti aku harus bersedia menjalin ikatan dengannya. Dengan ikatan atau tidak sama sekali. Mungkin aku bisa saja meminta bertunangan dulu sampai aku selesai koas, tapi mengingat usia dr. Raya yang sudah lebih matang dari aku, aku nggak yakin calon mertuaku itu akan mau menunggu sampai aku menyelesaikan koasku selama 2 tahun. Dan aku memutuskan untuk modal nekad aja deh. Soal rejeki, bukankan Allah sudah menjamin rejeki tiap-tiap mahluk yang bernyawa di muka bumi ini?
Aku tidak mau kehilangan sosok dr. Raya dalam hidupku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku ingin memilikinya seutuhnya untuk diriku sendiri. Sehingga tak ada lelaki lain yang bisa berkesempatan merebutnya dariku, bahkan tidak dengan dr. Ali sekalipun. Aku harus berani melangkah atau tidak sama sekali.
"Mama memang nyuruh kamu nikah sama dr. Raya, Fud. Tapi maksud mama kamu selesai koas dululah baru nikah, biar kamu bisa lebih matang dan dihargai sebagai suami."saran Mama.
Aku menggeleng. "Ke-la-ma-an, Ma"
"Jangan-jangan dokter itu udah dihamilin Mahfudz kali, Ma, makanya nikahnya harus cepat-cepat" celutuk Fuad yang sedari tadi diam saja.
"Astaga???! Beneran, Fud?" tanya Mama kaget.
Kesal mendengar celutukan Fuad aku segera bangkit dari dudukku dan mendekati Fuad. Aku mengambil bantal sofa dan memukulkannya berkali-kali pada Fuad.
"Ja-ngan sem-ba-rang-an ka-mu Ad. Ka-mu bo-leh se-su-ka-mu meng-hi-na-ku ta-pi ti-dak de-ngan dok-ter Ra-ya!!!"
"Hey, hey!!Ya, sudah kalau nggak benar, Fud! Biasa aja, nggak usah sampai mukulin aku juga"
Fuad kewalahan dengan seranganku. Aku biasanya tak pernah menghiraukan dia meski selalu menghinaku. Tapi aku jengkel kalau dia menjadikan dr. Raya sebagai alat untuk mencemoohku.
Aku berhenti memukuli Fuad dengan bantal.
"A-was ka-lau ka-mu ngo-mong- be-gi-tu la-gi" ancamku.
"Hallah, bucin lu!"jawab Fuad tak mau kalah.
Mama diam-diam tersenyum melihat kelakuan kami. Kami sudah lama tidak pernah berteguran. Kami sudah lama tidak akur. Biasanya Fuad hanya mau menghinaku tapi aku tak mau membalasnya. Biasanya jarang aku mau meladeni Fuad, karena sadar kesalahanku memang membuat kakak sulung perempuan kami meninggal, hingga Fuad benci padaku. Tapi sejak ada dr. Raya aku mulai mau menegur Fuad, meminta bantuan padanya. Dan Fuad pun dengan ajaibnya waktu itu akhirnya mau menolong mengantarkan polisi ke area penculikan. Dan sekarang kami berdua berkelahi karena aku tersinggung dr. Raya dikatain hamil sama Fuad. Mungkin itu yang membuat Mama terlihat bahagia terhadap sedikit perubahan pada hubungan anak kembarnya.
"Ya, sudah. Ya sudah. Nggak usah kelahi. Mama setuju kamu nikahin dr. Raya, Fud! Kapan kita ke rumah mereka? Kamu atur aja dulu jadwalnya dengan Raya. Kalian berdua sibuk kan? Dr. Raya sibuk sama kerjaannya kamu sibuk dengan koasmu. Atur aja dulu dihari apa kalian sama-sama bisa meluangkan waktu. Banyak yang harus kita bicarakan dulu kan dengan keluarganya Raya?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Setelah itu aku buru-buru masuk ke kamar dan mengirim pesan chat pada dr. Raya.
["Beritahu aku hari apa kamu bisa libur"]
Tidak lama chat itu pun dibalas.
["Kenapa?"]
Aku tersenyum mengetik balasan chat yang akan ku kirim.
["Ummik sudah bertemu calon menantunya, mama kan juga ingin bertemu besan dan calon menantunya"]
Apa ya balasan yang akan dikirim dr. Raya selanjutnya. Pesan chat masuk lagi.
["Kamu kan sedang koas, memang sudah ijin sama konsulenmu?"]
["Aku lebih takut calon mertuaku, daripada konsulenku 😛"]
Aku mengirim emoticon meledek itu pada dr. Raya. Aku menunggu chat berikutnya dari dr. Raya.
["Mahfudz, seminggu lagi kamu ujian dan bakal selesai koas di stase obgyn. Mau tidak kululuskan? TTD Konsulen"]
["Kalau nggak lulus, berarti harus ngulang lagi donk di stase obgyn? Mau, Bu Dokter. Seumur hidup pun aku mau jadi anak koasmu di stase obgyn"]
Aku tertawa terpingkal-pingkal membalas chat dari dr. Raya tanpa sadar mama mengintipku dengan senang dari balik pintu. Lama sudah dia tidak melihat aku tertawa seperti ini.
\*\*\*\*\*
Aku terpaku memandang hpku dalam waktu yang sudah cukup lama setelah berhenti chatan dengan Mahfudz. Kalau dilihat dari isi chat itu Mahfudz sepertinya ingin membawa orang tuanya datang ke rumah dengan maksud dan tujuan mengikat hubungan ke jenjang yang lebih serius denganku.
Bagaimana ini? Aku tidak tau apakah aku harus senang atau bagaimana menghadapinya. Di usia 30 tahun akhirnya ada yang serius meminangku. Ya memang selain Mahfudz pun ada beberapa laki-laki dewasa yang serius ingin mempersuntingku dari dulu. Tapi karena aku tidak ada perasaan dengan mereka maka sampai saat ini belum menikah juga. Dan kini aku bertemu dengan Mahfudz. Aku yakin dengan perasaanku sekarang kalau aku telah memiliki seseorang yang kusayang selain Ummik. Dan orang itu adalah Mahfudz. Tapi... Apakah rasa sayang saja akan cukup untuk membangun mahligai pernikahan?
Aku tidak pusing soal ekonomi setelah pernikahan. Tidak keberatan juga jika Mahfudz belum bisa memberiku nafkah karena memang dia masih koas. Dan sudah pasti belum bisa berpenghasilan. Perjalanannya menjadi dokter yang bisa terjun ke lapangan masih cukup lama. Apakah nanti dia tidak akan tertekan sebagai kepala keluarga dan memiliki istri yang mendominasi rumah tangga dari segi ekonomi? Apakah Mahfudz sudah memikirkan itu semua? Atau hanya karena dia didesak oleh Ummik untuk segera menikahi aku.
Ya, aku mengenal Ummik. Pastilah kemarin Ummik ke rumah sakit untuk memberi pilihan pada Mahfudz. Serius menjalin hubungan pernikahan denganku atau tidak sama sekali. Dan aku meski belum lama mengenal Mahfudz aku tau dia tulus menyayangiku. Dia pasti memilih untuk bertahan denganku meski sadar dia sedang di posisi sebaiknya belum menikah saat ini.
Memikirkan semua itu, aku segera bangkit menuju kamar Ummik. Malam ini aku harus mencoba menjelaskan pada Ummik bagaimana posisiku dan Mahfudz saat ini. Semoga Ummik mau mengerti.
"Ummik, lagi ngapain?"tanyaku pada Ummik yang sedang asyik mengotak-atik ponselnya di tempat tidur.
"Ini Ray, Ummik dikirimin vidio WA oleh Bibimu. Lucu ya Ray? Ini cucunya Bibi Ana yang dari Maryam anak bungsunya itu. Coba lihat!"
__ADS_1
Ummik menunjukkan padaku ponselnya. Di situ ada vidio seorang bayi sedang ngoceh. Seorang bayi yang gendut dan lucu. Aduuh, ini mah bagaikan racun buat Ummik. Aduuh Bibi ngapain sih ngirimin vidio kayak begitu sama Ummik? Kalau begini aku yang akan kena imbasnya ini.
Aku memencet tombol menu pada HP dan meletakkan HP Ummik di kasur.
"Ummik, Raya mau tanya. Ummik nyuruh Mahfudz nikahin Raya?"tanyaku tanpa basa basi.
Ummik mengangguk. "Iya. Ummik nyuruh Mahfudz bawa orang tuanya ke rumah. Kenapa? Dia nggak mau?"
Aku menghela napas. Sudah kuduga.
"Dia bukannya nggak mau Ummik. Raya yang nggak mau!"
"Loh kenapa?" Ummik mulai terlihat marah padaku.
"Mik, Mahfudz itu masih koas. Bagaimana mungkin Raya menikah dengan dia, Mik? Setidaknya tidak sekaranglah Ummik."
"Terus kapan? 2 tahun lagi? Selama itu kamu sama dia mau ngapain? Pacaran-pacaran nggak jelas? Nambah-nambahin dosa, jadi bahan ghibah, terus jadi fitnah. Setelah dia lulus koas dia ninggalin kamu. Begitu maumu?"
"Nambah-nambah dosa gimana sih maksudnya, Mik? Ummik kira Raya bakal pacaran yang kayak gimana, Mik? Nggak mungkin juga Raya sampai berbuat yang membuat Ummik malu"bantahku.
"Ray, apa pun alasannya tetap dosa, Nak! Meski kamu cuma ngomong cinta, meski kalian cuma berpegangan tangan dan saling berpandangan. Zinah itu tidak harus berhubungan intim dulu. Sesantun apa pun sikap kalian dalam berpacaran tetap saja Mahfudz itu bukan muhrimmu. Dan yang menanggung semua dosa yang kamu lakukan itu salah satunya adalah Abahmu, sayang. Meski Abahmu sudah lama meninggal, apa kamu nggak kasihan kalau Abah disiksa dalam kuburnya karena kelakuan anaknya di dunia ini? Ummik sudah sangat merasa bersalah dulu membolehkan kamu pacaran dengan Ali. Dan akhirnya dia menyakitimu juga kan? Nggak ada faedahnya hubungan seperti itu. Mending kamu nikah sama Mahfudz, kalian mau ngapain juga setelahnya Ummik nggak akan ikut campur lagi. Karena itu sudah di luar kewenangan Ummik."
Aduuh, sepertinya aku akan kalah lagi dalam perdebatan ini kalau Ummik sudah ngomong seperti itu.
"Ummik, Raya tau Ummik. Tapi Mahfudz itu masih koas, Mik! Kalau nanti dia tidak bisa menafkahi Raya gimana, Mik?"
"Apa kamu sudah kekurangan uang?Apa Ummik juga kekurangan uang?Sehingga kamu sangat dipusingkan oleh masalah ekonomi? Kalau cuma masalah makan dan kebutuhan sehari-hari, nambah satu orang lagi di keluarga kita, InsyaAllah kita masih mampu, Nak! Lagipula Ummik cukup mengerti. Mahfudz belum bisa memberimu nafkah bukan karena dia malas. Dia tetap koas dengan rajin tentu tujuannya nanti buat kamu juga. Itu sudah Ummik anggap dia telah melakukan kewajibannya sebagai suami ke anak Ummik. Kalian menikahlah, Ummik akan menganggap telah di karuniai satu putra lagi, jadi nggak masalah kalau selama dia menjalani pendidikannya, dia pun akan menjadi tanggung jawab Ummik"
"Ummik... Bagaimana cara Raya menjelaskannya ke Ummik? Aduuuh, sebenarnya Raya tau Ummik desak Raya nikah biar Ummik bisa segera punya cucu dan bisa pamer-pamer cucu ke bibi, bulik teman-teman Ummik juga kan?!"kataku gemas.
"Ya. Termasuk itu salah satunya. Apa salahnya memang kalau Ummik kepengen punya cucu juga? Ummik sudah tua. Ummik kesepian di rumah. Apalagi kalau kamu sibuk kerja. Kamu nikahlah sama Mahfudz, kalian tinggal di sini, berikan Ummik cucu buat temani Ummik disini. Setelah itu kalian mau kerja 7 hari dalam seminggu pun Ummik nggak keberatan"
"Astaghfirullah, Mik. Ummik ini pengen Raya nikah cuma pengen jadi mesin produksi cucu buat Ummik doank. Nggak sayang sama anak memang Ummik ini."
"Kalau Ummik sudah punya cucu buat apa Ummik sayang sama kamu, kepala batu!"
"Besok Raya mau ke petshop aja buat beli anak kucing untuk temani Ummik disini. Ngapain Raya kasih cucu kalau akhirnya Raya nggak disayang juga. Sebal....!!!
\#bersambung\#
Lauhul Mahfudz season 2 udah author up mulai hari ini. Buat yang ngikutin dari season 1 selamat membaca dan terimakasih karena tetap setia menunggu lanjutannya. 😊
__ADS_1