
Dengan marah aku mendatangi ruangan dr. Gayatri. Ruangan itu terbuka, karena jam praktek belum mulai. Dr. Gayatri dan anak- anak didiknya sedang persiapan untuk buka daftar antrian. Aku tetap mengetuk pintu dr. Gayatri untuk menghormati beliau.
"Eh, Ya? Tumben pagi- pagi kamu kesini? Ada masalah serius?" tanya dr. Gayatri heran.
"Aku ingin bicara denganmu!" Aku langsung menunjuk Rini dan mengabaikan pertanyaan dr. Gayatri.
Rini atau yang biasa sering kupanggil Vero itu terlihat kaget dan menunjuk wajahnya sendiri. Dr. Gayatri juga terkejut melihat sikapku. Dia segera memberi kode pada anak magangnya untuk segera keluar dulu.
"Iya, kamu, Vero! Oh, maaf harusnya aku memanggilmu Rini, ya? Rini atau Arini Veronica .... Pantas saja aku kesulitan menemukanmu selama ini,"tudingku.
Rini sepertinya mencium gelagat tidak enak akan kedatanganku. Dia menawarkan untuk bicara di tempat lain.
"Bisa kita bicara di luar saja, Dokter?"
Aku tersenyum sinis.
"Kenapa harus di luar? Kamu takut dr. Gayatri tau siapa kamu sebenarnya? Kamu takut kalau kebusukanmu akhirnya akan terbongkar?"
Rini menatapku tajam. "Apa maksudmu, Dokter?"
"Ya? Kamu kenapa?" tanya dr. Gayatri. Dia bingung akan sikapku.
"Jadi kamu Rini anak angkatnya Waridi bukan?" tembakku.
Rini terlihat terkejut. Sangat, sangat terkejut.
"Waridi? Maksudmu anak angkat wakil walikota?" tanya dr. Gayatri padaku.
Aku mengangguk.
"Jadi, kamu yang mencoba mencelakai Ayuni beberapa bulan lalu dengan obat tukak lambung misoprostol agar dia keguguran. Benar?"
Dr. Gayatri terkejut. Apalagi Rini. Wajahnya terlihat memucat.
"Apa maksudmu, Ya?" tanya dr. Gayatri dengan nada yang sangat shock.
"Dr. Gayatri masih ingat, kasus percobaaan bunuh diri yang dilakukan putri angkatnya wakil walikota beberapa bulan yang lalu? Yang waktu itu, dia dicekokin obat tukak lambung sampai mengalami pneumonia aspirasi? Asisten kesayangan dokter ini yang melakukannya!" tandasku.
"Rini?!!!" Dr. Gayatri seperti ingin meminta penjelasan pada Rini.
"Kau punya buktinya, Dokter?" tanya Rini. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Mahfudz sudah cerita semuanya padaku. Malam itu kau sudah disuruh Waridi menunggu di IGD kan? Menunggu untuk menggugurkan kandungan Ayuni."
"Aku tidak mengerti maksud Dokter. Tapi kalau pun itu benar, bukankah harusnya dokter mengkhawatirkan suaminya Dokter? Dia jelas- jelas telah mengaku membawakan obat itu ke IGD, berarti dia tau sesuatu. Sementara aku, aku tidak mengerti apa- apa. Kenapa kalian melibatkanku untuk urusan yang tidak kutau?" tanyanya seolah tak bersalah.
Aku tertawa kecil, "Sekarang aku mengerti, kenapa adikmu punya sikap amoral seperti itu. Ternyata dia memiliki sifat yang kurang lebih sama dengan kakaknya. Sama- sama ******!" tudingku.
Rini terlihat marah dan tidak terima akan kata- kataku.
"Apa maksudmu, Dokter? Kalau kau ada masalah denganku cukup aku saja jangan bawa- bawa adikku!" kecamnya.
Aku manggut- manggut mendengar kata- katanya.
"Adikmu Tiwi di luar memecahkan kaca mobilku, karena dia cemburu aku sedang bersama suamiku. Karena kau kakaknya aku memberi taumu, tolong kau didik adikmu itu agar dia tidak semurahan kau!" bentakku.
"Apa?!" Rini melongo tak percaya.
Rini sepertinya hendak keluar mencari Tiwi. Namun dia urung melakukannya ketika melihat Mahfudz datang menarik Tiwi dengan paksa menuju ruanganku.
"Tiwi!!" panggil Rini
Mahfudz yang mendengar panggilan itu menoleh ke arah kami. Dia sekarang menarik Tiwi menuju ruangan dr. Gayatri.
Setelah sampai di hadapan kami, Mahfudz melepaskan tangan Tiwi.
"Ka-mu je-las-kan a-pa mak-sud-mu me-la-ku-kan i-tu? Ka-u me-lem-par ba-tu ke ka-ca mo-bil? Ba-gai-ma-na ka-lau ta-di Ra-ya sam-pai ke-na dan ce-la-ka?"
Mahfudz bicara pada Tiwi dengan bahasa isyarat.
Tiwi menatap Mahfudz dengan marah. Dia juga menatapku dengan benci. Dengan gerakan tangannya dia menjawab Mahfudz dengan bahasa isyarat yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Ka-u gi-la? A-ku ti-dak per-nah me-la-ku-kan a-pa pun pa-da-mu! Ra-ya, di-a is-tri-ku. Ter-se-rah a-ku ma-u me-la-ku-kan a-pa pa-da-nya" balas Mahfudz marah.
Aku yang tidak sabar dengan komunikasi yang tidak ku mengerti itu mengambil kertas dan bolpen di meja dr. Gayatri.
[Terus terang padaku, apa maksudmu melempar batu itu ke mobilku? Kau ingin mencelakaiku?] tulisku dan menunjukkannya pada Tiwi.
Tiwi merebut kertas itu dengan kasar dariku dan menulis di situ.
[Ya, aku ingin kau dan suamimu itu mati celaka!]
Tiwi menunjukkannya dengan marah padaku, sementara Rini terlihat kaget dengan sikap Tiwi.
"Tiwi! Apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu?" tanyanya dengan bahasa isyarat.
Aku terkekeh dengan sikap bocah itu.
"Rini, Rini .... Kau tidak tau adikmu? Dia menyukai suamiku. Dan sekarang dia menjebak Mahfudz. Dia bilang dia dihamili suamiku dan minta agar Mahfudz menikahinya. Cuih! Betapa murahannya. Boleh kutebak? Kau pun pasti sering melayani nafsu bejatnya Waridi seperti Ayuni, kan? Mewujudkan fantasinya Waridi tentang hubungan incest. Bagaimana rasanya dianggap seperti anak tapi anak dalam konteks pasangan dalam kelainan seksual?"
"Tutup mulutmu!!!!!" bentak Rini padaku dengan wajah yang merah padam.
Rini mungkin tidak mengira aku tau sampai sejauh itu.
"Kenapa kau tidak tanya pada adikmu apakah Waridi melakukan hal serupa padanya dengan yang dilakukannya padamu dan Ayuni? Kenapa harus berusaha menjebak suamiku?!" tanyaku tak kalah marah.
Rini berusaha sabar dan mencoba mengabaikanku. Dia kini bertanya pada Tiwi apa yang sesungguhnya terjadi. Dan Tiwi menulis di kertas agar aku juga tau apa yang menjadi jawabannya.
[Aku benar- benar tidur dengan dr. Mahfudz. Aku tidak bohong!]
Aku menatap Mahfudz yang sepertinya sudah tak tahan lagi mendengar pengakuan Tiwi. Entah apa yang ingin dilakukannya pada Tiwi kalau aku tidak menahannya.
"Terus kau hamil?" tanyaku tanpa menulis di kertas. Aku menggunakan tanganku membentuk isyarat perut yang membesar.
Tiwi terlihat bingung menjawabnya. Sehingga aku perlu menulis lagi di kertas.
[Kau hamil?]
Dia tidak menjawab.
__ADS_1
[Kau mengatakan pada suamiku di sms kalau kau hamil dan menyuruhnya menikahimu, kau benar- benar hamil sepertiku?]
Tiwi seperti berpikir keras jawaban apa yang akan diberikannya melihat Rini yang terlihat sangat marah dan shock mengetahui hal itu.
[Jujurlah padaku, kalau betul kau hamil dan terbukti suamiku yang melakukannya. Aku sendiri yang akan memaksanya menikahimu. Aku yang mengantar dia kepelaminan untukmu!]
"Ra-ya!" protes Mahfudz tak terima apa yang kukatakan. "Ka-u ja-ngan bi-ca-ra sem-ba-ra-ngan. A-ku ti-dak ma-u me-ni-ka-hi di-a." katanya memarahiku.
"Kamu tenang sajalah. Kalau memang kau yakin tidak melakukan apa- apa dengannya. Kau santai saja! Kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi oleh kebohongan. Tapi kalau memang terbukti kau melakukannya, demi Tuhan aku akan benar- benar melakukan apa yang kubilang tadi. Aku akan memegang janjiku." kataku.
Mahfudz kehabisan kata- kata menghadapiku. Dia terlihat putus asa. Sementara Rini masih terus mendesak Tiwi menjawab pertanyaanku.
"Ayo, jawab!" kataku.
Tiwi menatap padaku. Setelah berpikir lama akhirnya dia mengangguk.
[Iya, aku hamil]
Aku sampai terperangah membaca tulisan itu. Begitupun Rini dan dr. Gayatri. Sementara Mahfudz hanya mengacak- acak rambutnya tak peduli. Dia terlihat stress dengan keadaan ini.
Rini memukuli Tiwi dengan emosi.
"Anak ini, siapa yang mengajarimu melakukan hal begitu. Kau hamil? Gampang sekali mulutmu mengatakan itu. Anak kurang ajar!" Rini berpaling pada Mahfudz. "Kau?!!! Kau sungguh- sungguh menghamili Tiwi? Dimana otakmu? Bukannya kau sudah punya istri?!!!"
Mahfudz menantang Rini yang menyerangnya. "A-ku ti-dak per-nah me-nyen-tuh Ti-wi a-pa-la-gi mem-bu-at-nya sam-pai ha-mil. Se-per-ti ka-u bi-lang a-ku su-dah pu-nya is-tri. A-dik-mu bu-kan si-a-pa- si-a-pa da-lam hi-dup-ku! Stop meng-gang-gu hi-dup-ku dan is-tri-ku!"
Di antara pertengkaran mereka aku menulis lagi di kertas dan menunjukkannya pada tiwi.
[OK. Kalau betul yang kamu bilang, berarti aku sendiri yang akan memeriksamu detik ini juga di sini. Aku perlu tau usia kehamilanmu berapa, terus akan kucocokkan dengan tanggal berapa kau dan suamiku bertemu dan melakukannya. Kalau keteranganmu sinkron dengan usia kehamilanmu. Aku akan menyuruh Mahfudz tanggungjawab padamu, bagaimana? Hari ini juga kau akan kuantar ke rumah mertuaku dan menyuruh kalian menikah hari ini juga]
Rini mengangguk setuju.
"Aku setuju. Dokter Raya jangan ingkar dengan kata- kata Dokter nanti!" ancamnya.
Wanita licik ini. Dia pasti sangat ingin menikahkan adiknya dengan Mahfudz untuk menyelamatkan masa depan adiknya. Dasar ular!
"Baiklah, tanyakan adikmu kapan dia melakukan itu dengan suamiku!" suruhku pada Rini.
"Tiwi bilang, itu sekitar 6 mingguan yang lalu." jawab Rini.
"Tanyakan dia HPHT-nya!" Kali ini dr. Gayatri yang buka suara.
Dia sepertinya sangat sebal dan prihatin atas masalah rumit yang menimpaku ini. Beberapa kali dr. Gayatri mengelus pundakku mencoba memberi kekuatan agar aku banyak bersabar.
Tiwi terlihat berat hati saat Rini menariknya ke ranjang pasien.
"Biar aku aja yang periksa, Ray!" kata dr. Gayatri menawarkan.
Aku menggeleng. "Aku aja, Dok, nggak apa- apa!" tolakku.
Aku sudah siap dengan kenyataan yang akan aku hadapi seandainya pun benar Mahfudz menghamili Tiwi.
Aku mengukur tensi Tiwi sebelum akhirnya aku mengoleskan gel USG di perut Tiwi. Tanganku gemetar mengoleskan gel di perutnya yang ramping dan mulus itu. Terbayang kalau di atas perut inilah Mahfudz melakukan aksinya seperti yang biasa dilakukannya padaku. Apa karena perutku tidak serata ini lagi sehingga Mahfud berpaling dariku?
Aku menghembuskan napasku panjang sebelum aku mulai menggerak- gerakkan doppler USG di perutnya. Dr. Gayatri dan Rini ikut memantau saat aku melakukan USG itu. Beberapa menit menggerak-gerakkan doppler akhirnya aku cuma bisa tersenyum geli. Begitu pun dr. Gayatri. Rini wajahnya semakin memerah, Sementara Mahfudz mengernyitkan keningnya heran karena dia terlihat tak berminat melihatnya dari jarak dekat.
"Ahhhh .... Sepertinya aku dikerjain bocah," keluhku.
Setelah memeriksa lewat USG aku tidak melihat ada tanda- tanda kehamilan pada Tiwi. Dia membohongi Mahfud. Dasar bocah.
"Sepertinya kau ingin sekali adikmu hamil, ya Rini. Kau khawatir kalau Waridi dan dia benar- benar ...." kataku tanpa menyambung kalimatku. "Dan kau ingin Mahfudz yang menikahinya? Kau pasti berpikir lebih baik adikmu jadi istri keduanya suamiku daripada jadi korbannya Waridi? Betul?"
"Apa susahnya tinggal testpack doank?" kata Rini ngeyel.
"Ya, sudah lakukan saja! Aku juga ingin lihat seberapa konyol kau dan adikmu itu!" tantangku.
[Tapi aku dan dr. Mahfudz benar- benar tidur bareng. Aku berani sumpah] kata Tiwi sesaat setelah kami membuktikan lagi kehamilan bohongannya melalui test pack
Aku tak menjawab. Melainkan hanya terus menatapnya tak percaya. Sungguh bocah yang gigih. Kamu sebegitu inginnya pada suamiku? batinku gemas.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan vidio tak senonoh itu. Ahhh, gila! Padahal dari tadi aku berusaha tak mengeluarkan vidio itu di depan dr. Gayatri dan Rini meski di ponselku juga ada vidio itu demi menjaga harkat dan martabat suamiku.
"Astaghfirullahaladzim. Ya?!!" Dr. Gayatri memanggilku. Beliau kelihatan shock melihat Mahfudz ada di vidio itu.
"Kau lihat kelakuan suamimu pada adikku? Sekarang kau masih membelanya? Sudah terbukti, kalau dia benar- benar merusak adikku. Tiwi itu masih di bawah umur. Kau lihat saja, aku akan melaporkan ini ke polisi kalau Mahfudz tak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya!" ancamnya.
"I-tu bu-kan a-ku," bantah Mahfudz. "Ti-wi men-je-bak-ku!"
"Menjebakmu? Kau terlihat sangat sadar di situ! Dijebak bagaimana maksudmu? Bukannya sebaliknya kau yang menjebaknya dengan rayuan dan gombalanmu? Haaaaa?"
"I-tu ha-nya vi-dio e-dit-an!" sangkal Mahfudz.
Aku membiarkan mereka bertengkar sembari aku mengamati lagi vidio di ponsel Tiwi dengan seksama. Aku berpikir, Waridi bilang dia mendapat foto itu dari hasil memata- matai aku dan Mahfudz. Tapi sepertinya itu vidio hasil dokumentasi pribadi yang dilakukan oleh Tiwi dan lelaki yang terduga Mahfudz karena kemiripannya. Itu bukan vidio hasil dari rekaman orang lain selain mereka berdua. Kalau benar Mahfudz dan Tiwi adalah pelaku perselingkuhan dan memang membuat vidio itu pribadi, kenapa vidio itu ada pada Waridi? Apakah Tiwi bekerja sama menjebak Mahfudz dengan Waridi tanpa sepengetahuan Mahfudz?
Aku menekan tombol pause pada vidio itu saat vidio itu menampilkan penampakan alat kelamin pria itu dengan jelas. Ya, ampun ini menjijikkan! Aku baru saja akan mengembalikan ponsel itu pada Tiwi saat aku menyadari sesuatu. Aku kembali memutar vidio itu dari awal sampai selesai. Dan kini tersenyum- senyum sendiri. Kena kau kali ini! Gotcha!
"Kenapa, Ya?" dr. Gayatri menatapku bingung saat melihatku tersenyum- senyum melihat vidio tak senonoh perselingkuhan suamiku dengan gadis cilik adiknya Rini. Dr. Gayatri pasti mengira aku sudah gila sangking stressnya.
Aku berusaha menahan senyumku saat menulis sesuatu di kertas dan menunjukkannya pada Tiwi.
[Kalau kau benar- benar telah tidur dengan Mahfudz kau pasti sudah tau setiap inci dari tubuhnya. Dari yang paling tersembunyi sekalipun. Kau bisa memberi tahuku sesuatu yang spesifik tanda yang ada di tubuhnya yang paling pribadi? Seperti tanda lahir atau sejenisnya?] tanyaku.
Tiwi tersenyum dan menyunggingkan sebelah ujung bibirnya sinis.
[Tentu aku tau]
Aku manggut- manggut.
"Apa?" tanyaku.
Tiwi geleng-geleng kepala padaku. Seolah- olah aku tidak percaya padanya. Dan dia akan membuktikannya padaku.
[Dia memiliki dua tahi lalat di alat kelaminnya]
Aku mengangguk- angguk. Aku paham sekarang.
Dr. Gayatri dan Rini menatapku. Mereka menunggu kata- kata selanjutnya yang keluar dariku.
Aku memanggil Mahfudz mendekat padaku.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa minta tolong?" tanyaku pada Mahfudz setengah memohon.
"Apa?" tanya Mahfudz bingung dengan perubahan sikapku.
Aku berbisik di telinganya.
"Ah, ka-u gi-la Ray? Nggak. A-ku nggak ma-u!"
"Please! Cuma ini satu- satunya yang bisa membuktikan ka-llau kamu tidak salah!"
"Ta-pi i-ni gi-la! Ka-mu ma-u a-ku me-nun-juk-kan a-set ber-har-ga-ku di si-ni? Pa-da ka-li-an se-mua?" tanyanya marah.
"Anggap saja kamu cuma diperiksa tenaga medis, sayang! Cuma olehku, dr. Gayatri dan Rini saja," bujukku. "Anak tengil itu nggak boleh lihat!"
Mahfudz terlihat kesal padaku meski berat hati dia terpaksa menuruti permintaanku. Dr. Gayatri dan Rini melihat tidak ada tahi lalat atau sejenisnya pada kelamin Mahfudz seperti yang dimiliki pria yang bersama Tiwi di vidio itu. Jadi fix itu bukan Mahfudz. Aku yakin 100% sekarang.
Tiwi terlihat terpukul mengetahui hal itu. Dia masih bersikukuh kalau yang bersamanya ketika itu adalah Mahfudz. Sedangkan Rini dia masih mengira kalau ada kesalahan di sini. Dia sama keras kepalanya dengan adiknya. Dia menuduh kalau Mahfudz membuat tahi lalat palsu sebelum melakukan itu dengan adiknya. Benar- benar kakak beradik yang sulit dimengerti. Itu membuatku gerah.
Aku harus memastikan sesuatu tentang foto dan vidio itu pada seseorang. Bagaimanapun aku masih penasaran pada orang di foto dan vidio itu. Kalau dilihat dari tahi lalat yang dimiliki pria itu, berarti benar kata Mahfudz. Berarti vidio dan foto itu hanya editan saja.
Aku memutuskan untuk ijin libur hari ini karena ada keperluan.
"Ja-di k-ita pu-lang se-ka-rang? A-ku su-dah nggak sa-bar, sa-yang!" goda Mahfudz sambil merangkulku menuju mobil di parkiran.
"Kita nggak pulang ke rumah, aku harus ketemu sama Hawa buat menemui seseorang! Ada yang ingin aku pastikan!" kataku.
Mahfudz merengut.
"Ka-u su-dah jan-ji pa-da-ku un-tuk me-lan-jut-kan yang ta-di di ru-mah. Ka-u ju-ga me-ma-mer-kan a-set mil-ik su-a-mi-mu pa-da o-rang la-in. Dan se-ka-rang ka-u ma-u ing-kar jan-ji pa-da-ku?"
Aku tersenyum. "Aku janji nanti malam sayang, aku benar- benar harus bertemu Irfan dulu hari ini."
"Irfan? Siapa itu?"
\*\*\*\*\*
Irfan adalah sepupunya Hawa yang berprofesi sebagai pakar telematika. Aku meminta untuk ditemani Hawa ke sini, karena aku sungkan mendatanginya sendiri walaupun ditemani Mahfudz. Aku merasa tidak enak karena dulu aku pernah melakukan kencan buta dengannya saat Hawa ingin menjodoh- jodohkan kami.
"Jadi kau sudah menikah, Ray? Waah, aku sudah ditinggal kawin duluan nggak diundang pula," katanya menggodaku.
"Maaf, Kak! Aku sudah ngasih undangan kosong ke Hawa. Kamu nggak ngasih satu sama Kak Irfan?" tanyaku sambil mengedipkan mata.
Sebenarnya sih aku tidak mengundang dia. Yang berbau masa lalu, aku tidak berminat mengundangnya waktu itu di pernikahanku.
"Ah, iya. Aku lupa. Aku cuma ingat ngasih ke teman- teman aja waktu itu," Hawa sepertinya paham maksud kodeanku.
"Hadeh .... Bilang aja nggak mau undang," cibirnya. "Jadi, kamu ke sini ada perlu apa Ray?"
Aku mengutarakan maksudku dan mengeluarkan semua foto- foto dan vidio itu pada Irfan.
"Menurut Kakak itu asli atau bukan?" tanyaku.
Irfan memeriksa foto itu satu persatu.
"Ini harus kuperiksa satu persatu dulu, Ray! Baru aku bisa memutuskan. Ini ditinggalin di sini aja dulu. Beberapa hari lagi, kamu ku kakabari hasilnya," katanya.
Aku mengangguk.
"Kamu ngapain kambing hitamin aku nggak ngasih undangan ke Kak Irfan?" protes Hawa sesaat setelah kami pulang dari rumah Irfan.
"Maaf, kan nggak mungkin aku bilang aku sengaja nggak ngasih dia undangan, kamu gimana sih?" jawabku.
"Me-mang ke-na-pa nggak di-un-dang?" tanya Mahfudz yang sedari tadi sibuk menyetir mobil dengan hati- hati.
"Ya, Raya nggak mungkinlah undang Kak Irfan. Raya kan tau Kak Irfan cinta berat sama dia. Dia nggak mungkinlah sampai hati mengundang Kak Irfan ke pernikahan kalian," tandas Hawa tanpa basa basi.
Mendengar itu Mahfudz tiba- tiba mengerem mobil sampai aku dan Hawa terjungkal andai kami lupa pakai sabuk pengaman.
"Ihhhh!!! Mahfudz!!! Pelan- pelan donk! Kamu lagi bawa dua bumil di sini!" teriak Hawa sangking kagetnya.
Aku melihat pada Mahfudz. Wajahnya terlihat merah padam karena cemburu.
"Ma- ma- af!" ucapnya.
Aku melempar gumpalan tissue yang dari tadi kuremas pada Hawa yang duduk di kursi belakang. Aku tau Hawa sengaja memanas- manasi mahfudz dengan menceritakan hubungan antara aku dan Irfan di masa lalu. Hawa pasti sebal pada Mahfudz karena rumah tangga sahabatnya terlibat masalah rumit perselingkuhan walau pun belum terbukti seperti ini.
Dua hari setelah itu, Kak Irfan menghubungiku lagi untuk datang ke rumahnya.
"Ray, aku sudah memeriksa semua foto dan vidio itu." katanya.
"Lalu?" tanyaku.
"Itu vidio dan foto- foto asli," jawabnya.
"Ohhh ...."
Aku hanya bisa menjawab seperti itu. Bagaimana pun itu mengangetkanku dan bukan jawaban itu yang kuharapkan. Aku berharap itu hanya foto dan vidio editan. Jadi itu benar Mahfudz? Lalu tahi lalat itu apakah manipulasi Mahfudz?
"Tapi Raya, sepertinya itu memang bukan suamimu ...." katanya membuyarkan pikiran- pikiranku.
Aku menatap bingung pada Irfan.
"Maksudnya gimana, Kak?"
"Maksudku, foto dan vidionya asli. Tapi orang di vidio dan foto itu bukan orang yang sama dengan suamimu."
"Waktu suamimu ikut ke sini, aku sempat agak lama memperhatikannya. Garis Rahangnya agak sedikit berbeda dengan suamimu. Dan maaf, Ray. Suamimu kan memiliki gangguan wicara. Sementara pria di vidio, dia bisa bicara dengan lancar."
"Haaaa? Kok kakak tau?" tanyaku bingung sekaligus takjub. "Vidio itu sepertinya nggak ada suaranya deh."
"Ada. Tapi terdengar lirih. Aku aja harus menggunakan home theatre untuk dapat mendengarnya. Kamu nggak percaya? Sebentar ...."
Irfan menyalakan home theatre dan mennyambungkan handponenya dengan kabel USB. Volumenya sengaja distel full sampai telingaku terdengar berdenging menangkap gelombang- gelombang suara dari vidio itu.
Benar kata Kak Irfan, di menit- menit ke tujuh vidio itu itu mulai terdengar suara lelaki itu mendesah dan meracau dengan kata- kata cabul. Membuat wajahku sampai memerah mendengarnya.
"Sudah, Kak! Matikan aja. Raya sudah dengar!" pintaku.
Aku sungguh tidak enak mendengar itu hanya berdua dengan Kak Irfan meskipun di rumah ini ada banyak orang di ruangan lain. Untungnya televisinya dimatikan layarnya sehingga kami tak harus menonton itu bersama.
__ADS_1
"Sekarang kau tak perlu meragukan suamimu lagi, ok? Kau seperti adik bagiku. Begitu aku menganggap Hawa seperti adik kandungku, kau pun seperti itu, Ray!"
Aku mengangguk. "Terimakasih Kak Irfan!"