I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Percakapan dengan Pak Prabu


__ADS_3

Mahfudz membaca laporan dari hasil pemeriksaan laboratorium. Di kertas itu disebutkan kalau apendiks yang diterima oleh pihak laboratorium dinyatakan dalam keadaan pecah.


"Ba-bagaimana bisa, Pak? Saya berani bersumpah apendiks pasien itu saya angkat dalam keadaan utuh, tidak pecah sama sekali!" kata Mahfudz membela diri.


Pak Prabu yang tadi sempat berdiri karena emosi kini kembali duduk di kursi kebesarannya sambil menghempaskan tubuhnya.


"Kau mungkin sedang tidak fokus, Mahfudz! Ada beberapa orang yang bilang malam itu kau terlihat sangat mengantuk dan berulang kali menguap. Mungkin saat melakukan tindakan itu, fokusmu sedang tidak stabil ..."


"Tidak, Pak!" sela Mahfudz. "Saya akui, saya mungkin terlalu lelah untuk melakukan tindakan apendektomi ini dikarenakan jadwal saya yang sangat teramat padat. Awalnya saya juga menolak untuk melakukan tindakan. Tetapi karena pihak rumah sakit, terus mendesak dan mengatakan anak itu butuh tindakan segera dan tak ada lagi dokter bedah lain yang bisa dihubungi, meskipun saya sebenarnya sangat mengantuk berat waktu itu, tetapi saya tetap bela-belain untuk datang. Dan asal bapak tahu, saya menguap tak berarti saya masih mengantuk. Buktinya saya masih bisa mengenderai mobil sendiri hingga sampai di sini," kata Mahfudz membela diri.


"Apa pun alasanmu, Mahfudz, benar atau tidak semua telah terjadi. Nyatanya memang ditemukan nanah di rongga perutnya," kata Pak Prabu dengan kesal.


Mahfudz membuang napas kasar. Dia tak percaya ini. Jelas-jelas dia mengangkat apendiksnya anak itu dengan utuh, tak ada kebocoran pada apendiksnya. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?


"Kau tidak hati-hati, Mahfudz!" tuding Pak Prabu lagi.


"Saya akan menemui dan memeriksa anak itu kembali, Pak!" kata Mahfudz!


"Tidak! Kau tak boleh menemui mereka! Akan bagaimana kamu mengatasi kemarahan mereka nanti? Yang ada kamu bisa menyebabkan kesulitan bagi rumah sakit juga!" kata Pak Prabu.


Mahfudz mengernyitkan keningnya heran bercampur marah.


"Lalu bagaimana saya akan bisa bertanggung jawab kalau saya bahkan tak boleh menemui mereka?" tanyanya gusar.


"Saat ini anak itu sedang ditangani oleh dr. Pretty, kau tunggu saja kabar dari dia. Jika nasibmu baik, anak itu bisa siuman, kita bisa berdalih kalau semua terjadi karena sistim kekebalan tubuh pasien yang lemah ditambah dia masih anak-anak," katanya. "Tetapi jika dia tidak bisa melewati masa kritisnya dengan baik, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirimu dan rumah sakit kita. Anak itu bukan anak sembarangan."

__ADS_1


Mahfudz mengerutkan keningnya.


"Bukan anak sembarangan gimana maksudnya, Pak?" tanya Mahfudz penasaran.


Pak Prabu pun menjawab dengan suara yang pelan.


"Anak itu anak haram Gubernur kita," bisiknya nyaris tak terdengar.


"Hah?" Mahfudz tersentak.


Dia berharap semoga Pak Prabu hanya berkata mengada-ada atau cuma sekedar menggosip saja, karena pimpinannya rumah sakit ini biasanya memang suka bergurau, hingga apa yang diucapkannya tak selalu bisa dipercaya kebenarannya.


"Kau pasti tak percaya padaku, kan?tebaknya.


Mahfudz tak sadar mengangguk.


"Astaghfirullahaladzim, Pak! Mana mungkin hal seperti itu bisa terjadi? Kalau pun yang bapak bilang tentang skandal itu benar adanya, nggak mungkin donk, Pak, seorang bapak tega membunuh anaknya sendiri?" kata Mahfudz membantah pemikiran sang pemimpin rumah sakit dengan pendapatnya.


"Nah, sudah kubilang kamu nggak akan percaya, Fud! Kamu kayak nggak tau aja sekarang dunia sudah gila. Sekarang banyak orang tega dan sampai hati membunuh darah dagingnya sendiri. Apanya yang aneh? Apalagi ini anak yang terlahir akibat skandal, tak ada yang tak mungkin jika harta dan tahta bisa membuat orang buta atas segala-galanya, iya kan?" katanya.


Mahfudz terdiam. Di benaknya kini terbayang lagi sosok antagonis dalam hidupnya dan Raya beberapa tahun silam. Waridi, bukankah dia juga termasuk orang yang seperti itu?


Memikirkan hal iti seketika membuat Mahfudz merasa tak enak dalam hatinya.


"Nanti saya akan coba memberikan sejumlah uang, sebagai ungkapan bahwa kita telah berempati dan simpati atas kemalangan yang menimpa anak itu pada ibunya. Semoga setelah melihat ketulusan kita sang ibu dapat luluh hatinya, dan tak membawa ini ke jalur hukum. Karena ini pasti akan rumit ujungny, Fud. Jika ini sampai ke meja hijau, tak cuma kamu, reputasi rumah sakit pun akan dipertaruhkan," kata Pak Prabu.

__ADS_1


Mahfudz lagi-lagi hanya bisa membuang napas frustasi.


"Apa nanti itu malah tak dianggap sebagai suap, Pak?" tanyanya putus asa.


"Saya akan memberikannya dengan cara yang hati-hati nanti agar keluarga pasien tidak merasa tersinggung. Dan lagi pula, bukankah saat kita memberi santunan itu lebih baik daripada tidak sama sekali? Kita telah berusaha melakukan tindakan penyembuhan, apalagi??? Lagi pula syukur-syukur kita mau menerima pasien rujukan itu untuk ditangani di rumah sakit ini? Kurang apa lagi?"


Mahfudz semakin terdiam dengan situasi ini.


"Sebaiknya selama beberapa waktu ke depan kamu tidak usah dulu bekerja, Fud. Di rumah sakit ini atau pun di rumah sakit lain. Sangat berbahaya! Kasus mal praktik adalah kasus paling riskan yang dapat menghancurkan karir dokter dalam sekejap. Apalagi kalau ini telah sampai ke telinga wartawan, kau bisa kehilangan karir yang kau rintis selama 8 tahun ini baik sebagai dokter maupun sebagai presenter acara talk show dunia kesehatan hanya dengan satu berita memojokkan tentang dugaan mal praktik yang belum tentu kau lakukan," kata Pak Prabu lagi.


Lagi-lagi Mahfudz tak menyahut. Dia hanya bisa larut dalam pikiran-pikirannya. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Pak Prabu itu banyak benarnya.


"Kamu tahu Fud! Aku sungguh-sungguh tidak mau kehilanganmu sebagai dokter. Kamu berbakat, pekerja keras. Jangan sampai hanya karena kasus ini karirmu jatuh. Kau pasti akan susah untuk bangkit kembali," katanya.


"Pak, biarkan saya bertemu dengan pasien itu sekali lagi,"pinta Mahfudz tiba-tiba.


"Tapi, Fud ...." protes Pak Prabu.


"Hanya sebentar, Pak. Lalu saya akan memutuskan akan bertanggung jawab dengan cara apa," katanya dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, kalau itu maumu. Saya akan atur agar kamu bisa melihat anak itu agar tidak terlihat oleh pihak keluarga pasien," kata Pak Prabu.


Dan setengah jam kemudian, disinilah Mahfudz saat ini, di sebuah ruang ICU dimana pasiennya dua malam lalu berbaring dengan berbagai macam alat medis menempel di luar tubuhnya.


***

__ADS_1


Maaf ya novel yang ini jarang updatenya soalnya author mmasih fokus ngerjain novel yg lain. sekali dua atau 3 hari author usahakan deh.


__ADS_2