I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Tak Akan Menolakmu Lagi


__ADS_3

Hari ini aku membuat nasi bakar isi cumi pedas. Aku ini pecinta cumi. Aku memasaknya menggunakan set cook pan yang diberikan oleh pasiennya Mahfudz. Di dapur Ummik turut membantuku. Menggulung nasi dengan bungkus daun pisang untuk kemudian dibakar. Aku melakukan semua ini semata-mata ingin membujuk suamiku tersayang yang sedang merajuk. Kata Ummik cara menaklukkan lelaki adalah dengan memperhatikan isi perutnya. Karena itu hari ini aku memasak untuknya.


"Ray, Ummik boleh menasehatimu sesuatu?"tanya Ummik sambil terus membungkus nasi yang sudah diberi bumbu dan cumi ke dalam daun pisang.


"Ya, bolehlah, Mik? Masa nggak boleh?"jawabku.


"Ummik ngomong ini bukan karena Ummik ngebet pengen cucu. Tapi karena Ummik punya tanggungjawab memberi pengarahan pada anak Ummik agar tetap berada dalam ridhonya Allah" kata Ummik.


Aku terdiam. Sepertinya aku tau arah pembicaraan Ummik.


"Ya, apa itu, Mik?"tanyaku.


"Kamu ini sudah jadi istri seseorang, Nak! Kamu istrinya Mahfudz. Walaupun usianya lebih muda dari kamu. Tetap pada hakikatnya saat dia jadi suami kamu. Kamu harus menurut padanya. Termasuk dalam hal berhubungan suami istri."


Aku meringis. Kenapa Ummik harus membahas masalah pasutri? Aku malu, Mik, kataku dalam hati.


"Kamu nggak perlu malu kalau Ummik membahas itu" Ummik seperti bisa membaca pikiranku. "Kamu sudah dewasa, dokter obgyn pula. Tidak perlu malu karena yang Ummik akan katakan ini adalah sesuatu yang baik buatmu hingga di kemudian hari"


Aku mengangguk.


"Ray, Ummik sempat mendengar pertengkaran antara kamu dan Mahfudz. Kalau suamimu menginginkan untuk berhubungan badan dengan kamu, kamu itu tidak boleh menolak, Nak! Semalaman kamu akan dikutuk dan dilaknat malaikat hingga pagi, kamu mau?"


Aku menggeleng persis seperti anak TK yang dimarahi oleh orang tuanya.


"Selama kamu menjadi seorang istri, surgamu ada pada ridhonya suamimu. Kamu harus taat padanya dalam hal apa pun selama itu masih dalam kebaikan. Ya, termasuk salah satunya dalam hal berhubungan intim. Kamu wajib patuh. Ummik dengar saat kamu bertengkar dengan Mahfudz, astaghfirullah Ray, Ummik tidak menyangka anak Ummik seperti itu. Kamu bukan cuma menolak berhubungan dengan suamimu, kamu juga berteriak padanya. Kencang sekali. Sampai Ummik malu mendengarnya"


Aku meringis mendengarnya. Aku bahkan menampar Mahfudz. Andai Ummik tau pasti Ummik lebih syok lagi.


"Maafin Raya, Mik! Raya tau Raya salah. Makanya Raya mau buatin ini buat ngebujukin Mahfudz pulang" kataku.


Aku tak tau lagi harus berkata apa. Ummik sampai menasehatiku masalah beginian. Ini benar-benar memalukan. Tapi ini memang salahku kok aku mengakui itu. Aku juga sampai menampar Mahfudz. Untung Ummik nggak tau. Seandainya tau Ummik akan lebih syok.


"Minta maaf sama suamimulah. Bukan sama Ummik. Ummik cuma nasehatin kamu"


"Iya, Mik"jawabku.


\*\*\*\*\*


Jam 2 siang aku sudah berangkat ke rumah sakit. Meskipun jam praktekku buka jam 4 sore. Aku harus menyempatkan diri membujuk Mahfudz. Dengan mantap aku melangkahkan kaki ke departemen penyakit dalam. Aku sudah memutuskan tidak akan peduli pada apa pun yang akan dilakukan Ali. Meski pun dia ingin sekali merendahkan Mahfudz di hadapanku. Tapi aku akan menunjukkan padanya kalau aku mencintai suamiku.


Aku menelpon Mahfudz. Dia tetap tak mengangkatnya. Kemarin dia menolak pulang denganku karena katanya dia menemani Ali untuk tindakan operasi. Aduh, menggemaskan sekali ini ngambeknya suamiku. Sebegitu marah dan sakit hatinya kah dirimu padaku? Aku akan menebus rasa sakit hati dan marahmu itu dengan sungguh-sungguh kalau kamu pulang ke rumah nanti. Aku janji, kataku dalam hati.


Aku sedikit lega saat menemukan Mahfudz saat dia sedang duduk-duduk di nurse station dengan perawat dan beberapa teman koasnya.


"Sayang!!!!" panggilku meski masih berjarak beberapa meter dari Mahfudz.


Semua mata tertuju padaku. Bukan cuma dari nurse station, tetapi bahkan dari para pasien dan pengunjung yang sedang berada di luar ruangan saat itu. Mahfudz terlihat kaget tak mengira aku akan muncul disitu. Teman-temannya juga yang sedang berada disitu spontan melihat padaku kemudian ke arah Mahfudz.


Aku tak peduli. Aku menghampiri Mahfudz.


"Sayang, aku meneleponmu kamu tak mengangkat. Aku bawa ini!"


Aku menunjukkan kotak makanan besar berisi nasi bakar. Aku memang sengaja membuat banyak agar dia bisa berbagi untuk teman-temannya.


Mahfudz terpana melihatku. Tak bisa berkata apa-apa. Kenapa Pak Dokter? Apa kamu kaget melihatku?


"Mbak, silahkan dimakan aja! Dibagi-bagi aja!" kataku mempersilahkan para perawat dan teman-teman Mahfudz untuk mengambilnya.


"Wah beneran ini, Dok?" tanya salah seorang perawat. "Dokter Raya baik banget!"


Beberapa orang dari teman koas Mahfudz bertanya-tanya aku siapa pada yang sudah senior.


"Dokter Raya, Sp.OG dari departemen obgyn. Aku dulu sebelum di rotasi ke bagian penyakit dalam kan pernah jadi perawat di obgyn. Dokter lupa? Udah lama sih, waktu itu dokter Raya masih residen. Udah beberapa tahun lalu" kata salah seorang perawat yang sepertinya seumuran denganku.


Aku mengingat-ingat lagi.


"Aku dulu pernah jadi asisten perawatnya Dokter Samuel. Ingat?"katanya.


Aku ingat. Dr. Samuel adalah dokter pembimbingku saat aku masih jadi dokter residen beberapa tahun lalu.


"Oh, ya ampun. Kak Hannum?"


"Iya, donk. Kamu ini mentang-mentang sudah jadi dokter spesialis. Lupa, lupa, atau pura-pura lupa sama kita yang cuma jadi perawat sepanjang masa ini."


"Ya, ampun ya nggaklah. Masalahnya dulu kakak itu nggak berjilbab. Makanya aku sempat pangling tadi. Aku dulu sempat bingung juga. Kak Hannum tiba-tiba berhenti kerja. Nggak pernah kelihatan lagi di obgyn. Sempat nanya sama dr. Samuel. Katanya nikah" kataku menjelaskan.


"Iya. Aku sempat berhenti kerja setelah nikah. Karena aku langsung punya anak. Pas anakku udah bisa ditinggal aku ajukan lamaran lagi disini, terus diterima deh. Sempat di departemen Syaraf kemudian di rotasi kesini. Kamu sudah nikah juga kan. Aku nggak diundang loh."cibirnya.


"Waduh, maaf, maaf banget, Kak! Kalau aku tau pasti Kak Hannum ku undang donk. Memangnya Kak Hannum nggak kamu undang, sayang?" tanyaku pada Mahfudz.

__ADS_1


Dia sepertinya malu tiap aku menyebutnya sayang. Wajahnya tersipu. Aku tergelak dalam hati. Kamu sangat ingin kupanggil sayang kan? Bakal kubikin kamu kenyang dengan panggilan sayang, sayang, sayang dan sayang.


"A-ku nggak sem-pat un-dang se-mua wak-tu i-tu. Di ka-mar a-ja ma-sih ba-nyak un-da-ngan ko-song yang be-lum sem-pat ku se-bar-kan."katanya


"Oh, katanya dia nggak sempat ngasih undangannya, Kak! Dia memang agak sibuk sejak koas di interna kalian ini. Maafin ya" kataku.


"Tapi aku nggak tau loh Ray, kalau kamu suka bronies" katanya menggodaku. Yang dimaksudnya pastilah tentang brondong manis, Mahfudz.


Aku cuma tertawa.


"Sudah jodohnya, Kak!" jawabku."Btw, aku boleh minta nomor HPnya donk, siapa tau kita bisa cekakak cekikik kayak dulu lagi ngerumpiin dr. Samuel" kataku.


Aku punya ide meminta nomor teleponnya. Siapa tau Kak Hannum bisa dikorek-korek informasinya mengenai 3 perawat bernama Rini yang bertugas di departemen penyakit dalam.


Hannum memberikan nomor ponselnya padaku.


"Btw, aku bisa pinjam suamiku sebentar nggak, ya? Ada yang mau kuomongin."kataku melihat pada mereka. Dengan wajah memelas pastinya.


"Oh, pasti boleh donk, Dok!"jawab mereka. "Fud, sana!"


"Ayo, yang!"ajakku.


Mahfudz terlihat berat hati bangkit dari duduknya.


"Pengantin baru ini! Jangan tunda-tunda punya momongan. Segera, ya! Ingat umur!" kata Kak Hannum.


Aku dan Kak Hannum memang cuma beda usia 3 tahun. Dia lebih tua dariku. Dan sekarang sepertinya sudah lumayan besar.


Aku tertawa. "Iya sedang dalam proses" jawabku yang membuat mereka tertawa.


Mahfudz mencubitku. Wajahnya terlihat merona. Malu ya?


Aku berjalan berdampingan dengan Mahfudz. Dia diam. Tak menanyakan atau berkata apa pun padaku.


Aku menarik tangannya yang sedari tadi dimasukkannya ke kantong celananya. Aku menaruh tangan itu di pundakku sehingga dia dalam posisi merangkulku. Sebelah tanganku memeluk pinggangnya. Dia melirik kanan-kiri melihat orang-orang yang memperhatikan kami. Mahfudz ingin melepaskan rangkulan tangannya di bahuku. Tapi aku tak peduli. Aku bersikeras meletakkan tangannya di pundakku.


"Sayang .... "panggilku.


"Ra-ya. Ma-lu .... " bisik Mahfudz.


Aku menghentikan langkahku sejenak.


"Kenapa harus malu? Kamu suamiku. Bukan suami orang!"kataku acuh.


"Sayang!" panggilku.


Kami masih bergandengan tangan di koridor rumah sakit ini. Dan ada banyak orang yang memperhatikan. Aku sudah tidak peduli semua itu. Aku ingin menunjukkan pada suamiku dan semua orang kalau aku mencintainya. Aku tidak mau dia meragukan cintaku lagi hanya karena aku kurang ekspresif menunjukkannya. Hatiku sakit saat Mahfudz menuduhku masih memiliki perasaan sayang pada Ali.


"Sayang, I love you"


ucapku.


Mahfudz kaget. Tak menyangka aku akan mengatakan itu di depan umum seperti ini.


"Sayang, kenapa kamu tidak menjawab? Kamu nggak mendengarku? Kurang keras ya?"


Mahfudz melotot padaku. Aku sudah bilang aku tidak peduli. Aku sudah berniat menebalkan wajahku hari ini.


"Sayaaaang!!! I love ..."


Mahfudz membekap mulutku. Sekarang dia membawaku pergi secepatnya. Dia membawaku ke ruanganku di poliklinik.


"Ke-na-pa ka-mu la-ku-kan i-tu?"tanyanya dengan bahasa isyarat setelah kami berada di ruanganku.


Mahfudz duduk di ranjang pasien. Sementara aku menyeret kursiku dan berhadapan dengannya. Posisinya lebih tinggi dari dudukku.


"Karena aku sayang padamu. Aku tidak ingin kamu meragukan perasaanku padamu! Di dalam hati Raya ini cuma ada Mahfudz" kataku menggombalnya.


"Ta-pi i-ni ru-mah sa-kit, Ray. Ka-mu ha-rus pro-fes-sio-nal. Ka-mu ti-dak ma-lu se-per-ti i-tu ta-di? Cih, ke-ka-nak-ka-na-kan ...." ledeknya.


"Kekanak-kanakan? Terus kamu tidak kekanak-kanakan gitu? Kamu minggat dari rumah. Tidak mau angkat teleponku juga. Chatku juga tidak dibalas. Apa namanya kalau bukan kekanak-kanakan?" omelku.


Sesaat kami saling pandang.


"Makanya aku mendatangimu langsung ke rumah sakit. Aku mau bilang aku menyesal. Aku minta maaf. Aku mau kamu pulang ke rumah, Fud. Eh, maaf bukan Fud. Aku mau kamu pulang sayang, aku rindu padamu"


Dia menatapku dalam-dalam. Seakan mencari kejujuran di mataku.


"Beneran. Aku sayang padamu, Fud! Soal dr. Ali aku memanggilmu sayang di depannya bukan karena ingin membuat dia cemburu. Aku cuma ingin memberi tahu dia kalau aku bahagia dengan hidupku dengan kamu sebagai pendampinh hidupku. Aku tidak ingin dia menganggu hidup kita lagi."

__ADS_1


Mahfudz masih tak menjawabku.


"Soal pengalaman pertama kita itu. Aku juga mau jujur"


Aku berhenti sejenak mengatakannya. Dia menunggu kata-kataku berikutnya.


"Pengalaman pertama kita itu .... tidak seburuk itu kok. Aku cukup menikmati saat-saat kamu foreplay" sampai disitu wajahku terasa panas. Aku malu mengatakannya. Tapi aku harus jujur agar marahnya mereda.


"Hanya saja .... Aku takut saat kamu ingin penetrasi. Makanya terjadilah seperti itu. Jadi itu bukan pengalaman pertama yang buruk kok. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Memang aku yang berlebihan. Aku menyesal dan aku minta maaf, sayang ...."


"La-lu?" tanyanya. Wajahnya yang tadi dingin sudah berubah girang sekarang.


"Lalu, apa ya lagi?" kataku bingung. "Aku mau kamu pulang ke rumah" kataku.


"A-ku ta-kut pu-lang ke ru-mah. A-ku ta-kut de-kat- de-kat pa-da-mu te-rus meng-ingin-kan-mu la-gi, dan ka-mu me-ra-sa se-per-ti ku per-ko-sa. Pu-sing Ray, ka-lau has-rat le-la-ki ti-dak bi-sa di-sa-lur-kan. Le-bih ba-ik a-ku me-nyi-buk-kan di-ri di ru-mah sa-kit sa-ja" katanya.


Aku menghela napas. Aku sudah memikirkan ini dari kemarin-kemarin.


"Pulanglah. Aku tidak akan menolakmu lagi. Aku akan belajar menghadapinya dan menyerahkan sepenuhnya diriku padamu" kataku yakin.


"Be-nar-kah?" Wajah itu terlihat bahagia sekali.


Mahfudz hanyalah seorang lelaki normal. Dia begitu bahagia mendengar kesedianku untuk berhubungan layaknya pasutri dengannya.


Aku mengangguk. "Ummik bilang, malaikat akan mengutuk dan melaknatku sepanjang malam kalau aku berani menolak suamiku. Aku tidak mau, Fud. Aku ingin jadi istri yang baik bagimu"


"Nan-ti a-ku di-tam-par la-gi ...." Mahfudz pura-pura kesakitan sambil mengelus pipinya.


Aku langsung berdiri dan memperhatikan pipinya. Aku mengelus pipinya yang halus itu.


"Apa sakit? Sakit beneran waktu aku pukul kemarin itu? Maafin aku, sayang" kataku menyesal.


Dia tertawa kecil kemudian tersenyum dengan senyumnya yang khas.


"Sa-kit-nya bu-kan di-si-tu. Ta-pi di si-ni"


Mahfudz meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya.


Lama kami saling berpandangan. Dan aku bisa menebak endingnya kalau Mahfudz akan segera menciumku lagi melihat gelagatnya yang mendekatkan wajahnya fokus ke bibirku. Okelah. Ini rumah sakit. Tapi kalau cuma sekedar ciuman dengan suamiku di ruanganku sendiri sekali aja, nggak apa-apa donk?


Semua mungkin akan berakhir romantis andai Winda tidak tiba-tiba datang membuka pintu.


"Astagfirullah, maafkan aku, Dokter!" Winda langsung membalikkan badannya dan menutup pintu lagi.


Aku tak kalah terkejut dengan Mahfudz.


"Se-ba-ik-nya a-ku per-gi sa-ja. Nan-ti ka-lau ka-mu su-dah se-le-sai ker-ja, hu-bu-ngi a-ku ki-ta pu-lang sa-ma-sa-ma"


Sebuah kecupan manis menempel di bibirku menggantikan ciuman romantis yang tak jadi tadi.


Mahfudz membuka pintu dan keluar. Saat berpapasan dengan Winda di depan pintu dia terlihat menggaruk kepalanya. Sementara Winda cuma senyum-senyum dan kini masuk ke dalam.


"Ya ampun, pengantin baru ya kalau mau romantis-romantisan bisa dimana-mana, sampai nggak ingat tempat" cibirnya.


"Maaf, Win" kataku malu.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


Aku dan Raya pulang bersama malam ini dengan membawa sepeda motor masing-masing. Namun sepanjang di jalan, aku selalu mengawasinya agar jarak motor kami tidak terlalu berjauhan. Hampir setengah 11 malam, akhirnya kami sampai di rumah.


Ummik terlihat senang melihat kami pulang berbarengan. Semakin sumringah senyumnya saat mendengar putri semata wayangnya itu memanggilku dengan panggilan sayang.


"Sayang, aku mandi duluan!" Raya masuk ke dalam kamar.


Aku mengangguk.


"Kamu udah makan, Fud?" tanya Ummik.


"Su-dah, Mik" jawabku. "Mah-fudz ke ka-mar du-lu, Mik. Ma-u is-ti-ra-hat se-ben-tar." dustaku.


Tentu saja aku ke kamar bukan mau istirahat. Aku ingin menagih janji Raya yang katanya ingin menyerahkan seutuhnya dirinya padaku.


Aku dengan sabar menunggu bidadariku itu selesai mandi. Tadinya aku berencana akan mandi setelah dia. Tapi aku berubah pikiran saat melihatnya keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk saja. Aku memperhatikan dia menuju lemari sedang memilih-milih lingerie yang akan dipakainya untuk menyenangkanku di ranjang.


Aku segera berdiri dan mendekatinya. Aku memeluk badan basah yang dibalut oleh handuk itu.


"Ka-mu ti-dak me-mer-lu-kan i-tu, Ray. Nan-ti ka-mu ju-ga a-kan man-di la-gi" kataku.

__ADS_1


Raya mengangguk malu. Wajahnya memerah saat aku mencium pundak dan lehernya di depan cermin


Aku segera menggendong tubuh semampai itu ke ranjang. Malam ini buktikanlah kalau kamu benar-benar sudah menyerahkan hati dan seluruh dirimu untukku, Ray!


__ADS_2