
"Maafin Bunda, Ayah."
Seraut wajah ayu itu terlihat memelas padaku. Duuuh, mau marah tapi tidak tega.
Aku menarik tanganku dari genggamannya Sungguh sebenarnya amarahku tidak ada apa- apanya dibandingkan rasa cemas karena mengkhawatirkan keadaannya.
"Sayang ...."
Raya berusaha duduk dan aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku dengan membantunya. Dia harus tau bahwa rasa marah tidak ada apa- apanya dibandingkan kecewa yang kurasakan.
"Fud ...."
Aku masih tidak bergeming. Raya menggeser duduknya padaku agar lebih dekat. Dia mencoba meraih tanganku dan aku menepisnya.
"Ayah ...."
Aku agak sedikit luluh mendengar panggilan itu. Seperti ada sesuatu yang terasa hangat di relung hatiku saat mendengarnya.
"Aku minta maaf."
Suara itu kini bercampur isakan tangis.
"Fud!" tegur Mama. "Raya masih sakit, Nak. Kamu jangan ...."
"....Ma, tolong! Biarkan Mahfudz dan Raya menyelesaikannya sendiri." selaku tanpa melihat ke arah Mama.
"Ya sudah. Mama sholat di musholla aja. Kalian bicaralah baik- baik."
Sepeninggal Mama aku mencecar Raya habis- habisan.
"Kamu memang luar biasa, Ray! Kamu tau nggak salah kamu apa? Huhh?"
Raya mengangguk sambil menunduk.
"Kamu membuatku berada di posisi serba salah. Antara aku harus jadi suami yang jahat atau ayah yang jahat."
"Nggak. Nggak, sayang. Kamu bukan ayah jahat. Kamu adalah suami yang baik. Jangan bilang begitu," rengek Raya.
"Kalau aku adalah suami yang baik dan bukan ayah yang jahat, bisa kamu jelaskan kenapa aku tidak bisa melindungi kalian? Kamu ada di rumah sakit saat ini karena apa, Ray? Karena aku tidak bisa jaga kamu dan anakku. Oh Tuhaaan ...."
Aku memijat- mijat pelipisku. Sakit kepala aku melihat Raya ini.
"Bisa- bisanya kamu mencuri benih dari suamimu sendiri. Aku nggak habis pikir, Ray!" kataku geram.
Raya menatapku tak kalah kesal.
"Mencuri?? Hey, Pak Suami. Sama seperti kamu memiliki seluruh diriku dan tubuhku. Aku juga memiliki semua yang ada di dirimu tanpa terkecuali. Aku punya hak atas sesuatu yang kamu sebut "benih" itu. Aku istrimu. Jangan lupa itu!" katanya sambil tangannya bersidekap di dada.
Haah! Aku tak percaya ini. Dia masih sempat- sempatnya keras kepala terhadapku.
"Walaupun kamu punya hak atas itu, tapi penggunaannya tetap harus butuh kesepakatan bersama, Ray. Kamu hamil butuh persetujuan dari aku. Kamu istriku. Apa- apaan kamu berbuat seperti itu. Anak yang kamu kandung itu anakku. Kau butuh persetujuan ayahnya untuk bisa melahirkannya ke dunia ini." kataku.
Raya mendelik padaku.
"Memangnya kalau aku minta persetujuanmu, kamu mengijinkan?" tanyanya sinis. "Aku pesimis."
Aku membuang napasku. Kini aku duduk di ranjang di sebelahnya. Aku mengelus pipinya.
"Aku pasti mengijinkan. Tapi ini bukan waktu yang tepat, Ray. Kesehatanmu lebih penting. Itu yang lebih kupikirkan. Kamu pikir aku tidak ingin punya anak? Andai kamu mau aku bahkan ingin anak yang banyak darimu. 11? 12? Akan kuberikan, asal kamu kuat aja," godaku tapi masih dengan kejengkelan.
"Apa siihh?" Raya mendorong dadaku.
"Tapi kalau sudah begini, kau membuatku tidak bisa menikmati kebahagiaan menjadi calon ayah secara utuh, Ray. Aku was- was. Aku khawatir padamu."
"Tidak akan terjadi apa- apa padaku. Aku pasti bisa mengatasinya, sayang." bujuknya.
Aku terdiam sekarang. Dan Raya tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memelukku.
"Ayah, Bunda minta ijin pada Ayah. Biarkan aku mengandung dia, ya. Aku janji kali ini aku akan hati- hati dan tidak ceroboh. Aku janji akan lebih memperhatikan kesehatan kami berdua. Aku tidak akan membuatmu khawatir. Asal kamu jangan suruh aku untuk aborsi. Aku benar- benar nggak mau kalau dipisahkan lagi dengan anakku. Ya, sayang?" masih dengan intonasi yang merengek.
Huhh! Siapa juga yang akan menyetujui aborsi padamu, batinku marah. Memang sempat saat aku sangat kalut karena melihat Raya terkulai tak berdaya di rumah sakit, hampir saja aku kepikiran untuk melakukan tindakan aborsi padanya. Aku tak sanggup kalau harus melihat Raya menderita. Tapi setelah memikirkannya ulang aku juga menyadari. Aku juga tak bisa membunuh anakku. Itu darah daging ku.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam aja? Jangan bilang kalau kamu ingin aku aborsi, Fud! Aku tidak akan mau! Mending aku cerai dari kamu. Aku akan lahirkan dan besarkan anak ini sendiri. Saat dia besar jangan pernah mengakui kalau dia anak ...."
Mulut ini terlalu cerewet! Apa yang bisa kulakukan selain membungkamnya dengan bibirku? Aku segera menarik kepalanya dan menyatukan bibir kami dengan sebuah ciuman yang dalam sampai Raya hampir saja tidak bisa bernapas. Dia berusaha berontak melepaskan diri dariku namun aku tak mengijinkan. Aku memegang erat tangannya yang sedang dilekati selang infus itu. Hingga akhirnya wanita yang berstatus istriku ini pasrah barulah aku melepaskannya.
"Hah hah hah ...."
Terdengar napas ngos-ngosan di antara kami berdua. Hingga suara napas Raya berganti dengan ringisan. Ternyata punggung tangannya sedikit berdarah karena infus yang tertekan akibat kuatnya aku mencengkram tangannya tadi.
"Aaaaa .... Sakiiit !!!" rintihnya.
Aku meraih tangan itu dan memeriksanya. Setelah sedikit memperbaiki selang infus itu aku kembali mengomel padanya.
"Jangan coba- coba mengatakan cerai padaku. Aku sudah bilang padamu untuk tidak berani berkata seperti itu di pernikahan kita. Mulutmu ini! Entah bagaimana cara untuk menghukumnya. Kenapa mudah sekali bagimu berkata cerai huh?" tanyaku marah. "Dan apa katamu tadi? Kamu akan melahirkan dan membesarkan anak ini sendiri? Jangan mimpi kamu. Dia juga anakku! Kau dan dia milikku. Mutlak! Absolute! Tidak bisa diganggu gugat. Maka jangan berani- berani memikirkan hal seperti tadi! Atau kau akan tau akibatnya!"
Raya tersenyum- senyum mendengar omelanku.
"Memangnya Ayah bisa apa? Ayah memang bisa menghukum Bunda? Nanti ayah akan puasa lama loh ...." ejeknya.
Ahhh benar juga. Kandungan Raya sangat lemah dan kami sama sekali tidak akan bisa berhubungan pasutri lagi untuk waktu yang sangat lama. Dr. Gayatri sudah menjelaskan itu kemarin. Aku sangat gemas mendengar ejekannya kali ini.
"Sepertinya kamu sangat menikmati penderitaan suamimu, huh? Tenang saja, aku masih punya cara agar kamu masih bisa menyenangkan dan melayani
suamimu, sayang."
Raya mengangkat alisnya tak mengerti.
Aku tak menjawabnya melainkan langsung memeluknya menelusupkan tanganku ke balik bajunya. Dan membelai- belai semua yang ada di sana. Aku membenamkan hidungku di ceruk lehernya. Dan menghirup aroma tubuhnya. Tubuh ini sudah menjadi candu bagiku, selama hampir setahun pernikahan kami.
"Sayang, udah ah. Ini rumah sakit. Nggak enak nanti kalau ada yang datang."
Raya mengelus rambutku dengan tangannya yang diinfus. Aku masih saja membenamkan wajahku di lehernya. Tanganku kini mengelus-elus perutnya dari balik baju pasien yang dikenakannya.
"Aku akan menahannya, Ray. Meski pun ini akan sedikit membuatku menderita," kataku terkekeh."Pokoknya kamu harus memastikan kalau anakku akan lahir sehat. Dan kamu juga tidak akan kenapa- kenapa."
"Hmmm .... Iya." jawabnya.
Sekarang Raya balas memelukku.
"Kita akan pikirkan cara bagaimana agar aku tetap bisa melaksanakan tugasku sebagai istri dan tidak membuatmu menderita lagi tanpa harus membahayakan kandunganku. Ok?"
Aku mengangguk dan membenamkan kembali wajahku di ceruk lehernya. Pelukan ini sungguh hangat.
"Ekhhhhmmmm!!!"
Deheman keras mengagetkan aku dan Raya.
"Kalau kalian terus begitu, Mama harus tidur dimana donk malam ini? Masa iya Mama harus pura- pura nggak lihat terus sampai pagi? Dari tadi loh Mama di sini, kalian nggak sadar- sadar juga."
Mama yang sepertinya sudah balik dari mushollah mengagetkan aku dan Raya. Spontan kami saling melepaskan pelukan masing- masing.
"Ya, ampun Mama. Ketuk pintu dulu, kek." protesku.
"Ketuk pintu apaan. Orang dari tadi pintunya kebuka terus. Untung ini tengah malam, sepi. Coba siang, mungkin orang lain yang mergokin." cibir Mama.
Aku melirik Raya yang sudah merona merah seperti tomat.
"Mergokin apaan sih? Orang kita nggak ngapa-ngapain kok," sanggahku mencoba membela diri.
"Ya, ya, ya. Nggak ngapa-ngapain. Cuma lagi curhat aja mungkin, karena bakal ada yang puasa lama nih." sindir Mama lagi.
Astaga! Kali ini rasanya bukan cuma Raya yang memerah. Tapi aku juga.
"Mama ....!" protesku.
"Sudah, sudah lupakan aja. Mama tidur di sofa. Kamu yang jagain Raya ya." kata Mama mengalihkan pembicaraan agar aku tidak malu berketerusan.
\*\*\*\*\*\*\*
POV Raya
Kami sampai di rumah Ummik setelah aku bersikeras ingin pulang pada dr. Gayatri. Dr. Gayatri akhirnya mengijinkan aku pulang dengan catatan aku harus bedrest total di rumah.
__ADS_1
Begitu mobil berhenti di samping rumah, hal pertama yang dilakukan Mahfudz adalah membuka pintu dan menggendongku ke dalam rumah dan membaringkanku di kamar.
"Aku bisa jalan sendiri padahal," keluhku.
Aku sedikit malu pada Ummik dan orang rumah saat Mahfudz menggendongku. Mama juga turut mengantarku ke rumah Ummik. Ya, aku memutuskan lagi untuk tinggal di rumah Ummik. Kupikir- pikir aku sangat merindukan Ummik dan aku pasti sangat merindukan masakan- masakan beliau. Apalagi sejak hamil ini.
Mahfudz tidak menghiraukan keluhanku.
"Kamu harus bedrest total pokoknya, aku nggak mau tau. Kamu harus menurut padaku, Ray. Ini pilihanmu. Jadi konsekuensinya tanggung sendiri. Hanya di atas tempat tidur," katanya memberi ultimatum.
Aku mengangguk pasrah. Yah, mau bagaimana lagi. Hamil dalam kondisi kandungan masih rentan komplikasi adalah pilihanku. Aku tidak sabar menunggu lama.
Mahfudz segera mengganti bajunya untuk bergegas ke rumah sakit. Hari ini dia ijin terlambat ke rumah sakit, karena aku akan pulang ke rumah. Dan sekarang dia akan berangkat lagi.
Mahfudz mencium keningku dalam.
"Sayang, jangan rewel! Jangan bikin bunda sulit." Mahfudz bicara pada anak dalam kandunganku. "Bunda, jaga anak Ayah baik- baik."
Sebenarnya aku geli melakukan drama ini. Namun aku cuma mengangguk mengiyakan.
"Aku akan usahakan untuk cepat pulang ke rumah. Selama itu kamu nggak boleh berbuat aneh- aneh. Pokoknya hanya di tempat tidur," katanya mengingatkan.
Sepeninggalan Mahfudz, Mama mendatangiku ke kamar.
"Kamu yakin, Ray, nggak mau tinggal di rumah Mama aja? Mama kan juga pengen mempersiapkan kehadiran cucu Mama," bujuk Mama. "Mama pengen mengenal dia dari sejak dalam kandungan. Mama pengen akrab dengan dia sejak dia masih menjadi janin."
Aku tersenyum.
"Ma, biarkan Raya di rumah Ummik dulu, ya. Bukan karena Raya nggak pengen mewujudkan maunya Mama. Tapi mungkin ini bawaan bayi juga. Raya lagi rindu sama Ummik, pengen makan masakannya Ummik juga. Kalau Raya ngidam biar nggak ribet gitu, Ma! Nanti deh, Ma! Kalau kandungan Raya sudah agak kuatan. Raya akan sering- sering menginap deh, di rumah Mama," bujukku.
"Yaaah, berarti Mama dan Nadya akan kembali kesepian lagi donk di rumah" keluhnya.
Aku menghela napas. Tak bisa berbuat apa- apa soal itu. Namun aku tiba- tiba punya ide.
"Ma, bagaimana kalau Mama ajak Ayuni dan Fuad aja dulu tinggal di rumah?" kataku sambil memegang tangan Mama.
Mama menarik tangannya dariku.
"Ahhh, nggak usah deh. Mama berdua aja sama Nadya nggak apa- apa," tolaknya.
"Ma ...."
"Mama nggak siap tinggal serumah sama dia, Ray!"
"Mama, dia juga sedang hamil anaknya Fuad, Ma! Cucu Mama juga!"
"Sudah, Ray! Jangan paksa Mama!"
Aku membuang napasku kasar. Mama ini lumayan keras kepala, padahal Mahfudz tidak seperti itu. Apa sifat Mama diwarisi oleh Fuad?
Tok!Tok!Tok!
Aku dan Mama spontan menoleh pada orang yang mengetuk pintu kamarku.
"Kak Raya, ada kiriman paket buat kakak."
Aku dan Mama terperanjat melihat Ayuni yang sedang berada di depan kamarku. Apa dia mendengar percakapanku dengan Mama tadi? Ya Allah .... Semoga dia tak mendengarnya. Kalau dia mendengarnya pasti dia tersinggung mengetahui kalau mertuanya terang- terangan menolaknya.
"Paket apa? Masuk Ayuni!"
Ayuni tersenyum kecut melihatku. Dia masuk dan memberikan paket berupa amplop coklat itu padaku.
"Duduklah!" suruhku.
"Maaf Kak Raya, aku masih ada kerjaan di belakang."
"Tinggalkan aja itu dulu, lagian kamu sedang hamil kan? Jangan terlalu banyak bekerja," nasehatku.
"Nggak kok! Aku sedang menyalakan kompor di belakang, nggak bisa ditinggal, Kak. Aku permisi dulu."
Sebelum dia pergi aku sempat melihat Ayuni melirik pada Mama yang terlihat acuh padanya. Ya Tuhan, bagaimana caraku menyatukan mertua dan menantu ini?
__ADS_1
Aku tidak bisa berlama-lama memikirkan hal itu saat pikiranku teralihkan melihat nama pengirim di amplop coklat itu.
"Paket dari siapa, Ray?" tanya Mama.