
Dua hari telah berlalu sejak aku memeriksakan kehamilanku pada dr. Gayatri. Kehamilan yang membuat aku dan Mahfudz risau bahkan ummik juga. Kehamilan yang diduga ektopik itu, selama dua hari ini telah membuatku banyak melamun.
"Nggak apa-apa, Ray. Lakukan aja apa yang dikatakan oleh Mahfudz. Secepatnya akhiri kehamilan kamu itu," kata Ummik mengingatkan.
Aku tidak menyahut. Angan-anganku masih melayang jauh ke suatu masa, saat aku kehilangan bidadari surgaku, Annisa. Bayi cantik yang harusnya menjadi sulungku itu. Masih kuingat bagaimana mungilnya Annisa dalam gendonganku. Cantik namun tak lagi bernyawa. Hal yang membuat aku mengalami trauma hingga sekarang dan tak sanggup melihat kematian bayi. Selama bekerja di RSIA Satya Medika, sempat beberapa kali aku harus menyaksikan sendiri seorang bayi tak bisa diselamatkan dalam persalinan. Itu akan membuatku bersembunyi dalam ruanganku dan menangis tersedu-sedu untuk beberapa saat.
Setelah semua itu, mana mungkin aku membunuh calon bayiku sendiri, ya Allah? Bahkan meski itu baru berupa zigot atau embrio, tetap saja itu adalah hasil dari buah cintaku dengan Mahfudz. Sama saja dengan Annisa, Haikal dan Laila. Jadi bagaimana aku bisa semudah itu tega menyuntikkan methotrexate pada tubuhku dan membiarkan obat itu bereaksi hingga membuat sel telur dan sel sperm* yang telah berproses menjadi embrio itu hancur dan melebur karena efek dari obat itu? Bagaimana caranya agar kni semua mudah kulakukan.
"Ray, Mahfudz bilang kamu masih bisa hamil lagi dalam beberapa bulan setelah kamu menggugurkan kandunganmu itu. Itu belum berupa bayi, Nak. Belum ditiupkan ruh atasnya. Jangan merasa berdosa karenanya." Ummik sepertinya berhasil menebak pikiranku.
"Allah akan mengerti keterpaksaan kita melakukannya, jika itu membawa kemaslahatan," imbuh Ummik lagi.
"Bentar, Mik.Tolong jangan desak Raya dulu," rengekku saat kami baru selesai sholat subuh berjamaah sekeluarga.
"Kamu janji cuma dua hari aja, Ray!" Mahfudz mengingatkan janjiku dua hari yang lalu.
"Aku tau, Yah!" jawabku. "Aku cuma butuh waktu sedikit lagi waktu untuk mempersiapkan mental."
Mahfudz mengangguk-angguk.
"Jangan lama-lama. Pokoknya hari ini juga aku akan antar kamu lagi ke dr. Gayatri," imbuhnya.
Aku mengiyakan, sambil melipat mukenaku.
Usai sholat aku membantu Ummik memasak di dapur. Masih membahas seputar kehamilan ektopik yang kualami, Ummik tetap berusaha untuk membujukku.
"Ray, jangan ditunda lagi, Nak. Kamu sama aja membuat cemas Ummik sama Mahfudz kalau begini. Tak cukupkah dulu saat mengandung Haikal kamu berbuat seperti ini? Lama-lama Ummik bisa berumur pendek kalau kamu terus berbuat semaumu begini, Ray. Tolong pikirkan kekhawatiran Ummik," omel Ummik.
Itu bukan hanya sekedar omelan kurasa. Ummik benar-benar khawatir terhadapku, membuatku harus mengambil keputusan secepatnya.
"Iya, Ummik. Habis ini Raya ke dr.Gayatri," kataku mencoba meyakinkan beliau.
"Benar-benar harus diakhiri, Ray!" Ummik memberi ultimatum tanpa bisa ditawar-tawar.
"Iya, Mik,"jawabku.
Ya sudahlah, bismillah saja, gumamku dalam hati. Logikaku mencoba memberi pengertian pada hatiku bahwa ini tidak sama dengan membunuh bayiku sendiri. Ya, ini baru zigot, bukan janin yang sudah memiliki organ tubuh yang lengkap. Aku hanya perlu datang ke dr. Gayatri dan menerima suntikan methotrexate, hanya itu saja, kan? Dan jaringan kehamilan itu akan luruh begitu obat itu bereaksi dalam tubuhku.
Aku mendesah mencoba menguatkan hati. Usai membantu Ummik memotong-motong sayuran, aku segera bersiap-siap. Kulihat Mahfudz sedang asyik menonton berita pagi di ruang keluarga.
"Yah, bunda siap-siap, ya? Ayah temani bunda ke dr. Gayatri," kataku.
__ADS_1
Dia menoleh dan menatapku penuh kelegaan. Tanpa banyak berkomentar lagi dia pun akhirnya mengangguk. Mungkin dia berpendapat sebelum aku berubah pikiran.
"Ya udah, buruan! Sekalian kita antar Haikal ke sekolah," jawabnya.
Lalu aku pun buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju yang akan kupakai ke rumah sakit.
Saat aku akan mengambil susunan baju dari lemari tiba-tiba perutku terasa keram dan ada sesuatu yang seakan mengalir dari bagian bawah tubuhku. Spontan aku melihat ke bawah dan meraba di antara dua pahaku. Tidak banyak, tapi ini benar-benar darah.
Aku menelan ludah, panik tiba-tiba menyergapku begitu saja.
"Ayah!!! Fud!!!" panggilku setengah menjerit.
Dia tak mendengar, mungkin efek suara televisi yang volumenya terlalu besara.
"Ayah!" jeritku lagi.
Tak lama Mahfudz datang meski tanpa menyahut.
"Kamu kenapa, Bun?" tanyanya.
"Ini ... ini, Yah. Coba lihat!" Aku menunjukkan padanya darah yang mengalir di pahaku.
"Pendarahan ini, Yah. Gimana ini?" ringisku panik.
"Bersihkan dulu, yuk! Habis itu pakai pembalut aja dulu, terus berpakaian rapi, kita ke rumah sakit sekarang!" kata Mahfudz dengan lembut.
Aku mengangguk masih dengan hati yang kalut.
Ah, dia selalu seperti ini. Suamiku ini meski aku selalu ngeyel dan terus menerus ingin membantahnya, tetapi kalau aku sudah di situasi seperti ini dia tidak akan menyalahkan aku sama sekali. Dia selalu begitu, mengayomi dan selalu jadi pelindung buatku.
"Perlu dibantuin nggak?" tanyanya menawarkan
Aku menggeleng.
"Ya udah, buruan siap-siap," katanya.
Dengan hati tak karuan aku pun segera kembali membersihkan diri dan berpakaian rapi.
"Ummik, titip Haikal ya, Mik. Ummik bisa kan kami minta tolong Ummik aja yang antar Haikal ke sekolah. Raya keluar darah, Mik," kata Mahfudz dengan khawatir
"Ya Allah, Raya! Kamu itu kenapa selalu ngeyel sih, Nak!" omel Ummik dengan mimik wajah yang sangat khawatir, begitu kami akan berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
"Udah, Mik. Udah! Nanti aja marahin Rayanya. Sekarang Mahfudz bawa Raya dulu ke Siaga Medika. Dia harus diperiksa dulu sama dr. Gayatri," katanya
"Ya udah, nanti kalau ada apa-apa hubungi Ummik aja, Fud," kata Ummik.
"Iya, Mik. Kami pergi dulu, Mik. Assalamualaikum," kata Mahfudz setelah ia mencium tangan Ummik
Aku pun melakukan hal yang sama, mencium tangan Ummik.
"Pokoknya kalau nanti disuruh gugurin, ikhlas aja, Ray. Kamu harus nurut apa kata Mahfudz" kata Ummik.
"Iya, Mik," jawabku sambil sesekali menahan nyeri kram pada perutku.
Dan berangkatlah kami menuju Rumah Sakit Siaga Medika. Kedatangan kami disambut oleh dr. Gayatri. Kami tak perlu antri karena Mahfudz sudah menelepon beliau sebelumnya untuk membuat janji.
Setelah mendengar apa yang terjadi pagi ini, dr. Gayatri menanyakan keputusanku.
"Kayaknya kamu mengalami repture (robek) tuba, Ya," kata dr. Gayatri memberi tahu dugaannya.
"Aku setuju diberikan methotrexate, Dok, tapi bisa tolong kita lakukan USG lagi sebelumnya, Dok?" pintaku.
Dr Gayatri mengangguk. "Tentu bisa, Ya. Memang itu yang akan kita lakukan terlebih dahulu."
Seperti yang dikatakan oleh dr. Gayatri, USG transvaginal kembali dilakukan. Di tengah prosedur USG yang dilakukan, dr. Gayatri tiba-tiba tersenyum.
"Ya, kamu mau kabar baik dulu atau kabar buruk?" tanyanya.
Aku mengernyit keheranan, Mahfudz juga mendekat karena ingin tahu. Lalu tanpa menunggu jawabanku atas pertanyaannya, dr.Gayatri tersenyum sumringah padaku.
"Ray, ada kantong janin kelihatan dalam rahim. Dia terimplantasi ke uterus saat ini. Ini bukan lagi kehamilan ektopik! Yaaa!!! Selamat kamu hamil lagiiii!"
Aku sampai menganga mendengarnya.
"Maksudnya, Dok?" tanyaku tak mengerti.
"Kayaknya embrio-nya belum terimplantasi sepenuhnya di tuba falopi kemarin, Ray. Jadi dia memaksa bergerak ke luar tuba, akibatnya, tuba falopimu robek sampai ada sedikit pendarahan di abdomen , Ray. Itu kabar buruknya," kata dr. Gayatri.
Aku saling pandang takjub dengan Mahfudz. Jadi aku benar-benar hamil lagi adiknya Laila? Ya Allah, Alhamdulillah .... ucapku dalam hati.
****
Hai guys, maaf ga bisa selalu update tiap hari. Tetap tinggalin jejak berupa koment dan like biar othor tahu kalian udah baca karya ini.
__ADS_1