I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Membawa Lari Ayuni


__ADS_3

Telah setengah jam Fuad membawa motor ini tanpa tujuan yang jelas. Dia mengusap peluh di wajahnya sambil menghela napas panjang. Fuad tau dia baru saja mengundang masalah besar dalam hidupnya.


Dia menoleh ke belakangnya. Wanita itu sungguh dalam kondisi yang memprihatinkan. Dia terlihat kusut dan pucat, peluh juga membasahi tubuhnya. Rambut acak-acakan tak beraturan. Dan perutnya .... Ah, membuatnya makin miris. Dari Raya Fuad tau kisah wanita itu. Dan kehamilannya ini pastilah kehamilan yang sama sekali tidak diharapkan.


Fuad akhirnya membawanya ke rumah Andra. Fuad tak mungkin membawanya ke rumah. Sebab dia tau bagaimana Mama. Apa jadinya kalau dia berani membawa pulang wanita? Dalam kondisi hamil dan masalah seabreg.


Andra menyambut mereka dengan ekspresi yang sudah dibayangkan Fuad sebelumnya. Dia melihat Ayuni dari ujung kaki ke ujung rambut.


Fuad mempersilahkan Ayuni duduk dulu di kursi teras dan menyeret Andra ke dalam rumah.


"Haaa? Gila kamu, Ad! Kamu mau nitip itu perempuan nginap di sini? Nggak waras kamu, ya? Ih, Mama bakal marah dikirain aku hamilin anak orang entar. Nggak, nggak, nggak! Kamu yang aneh-aneh aja, sih!"


"Please banget, Ndra! Masalahnya aku nggak tau mau bawa dia kemana lagi. Dia nggak mungkin ku bawa ke hotel kan? Orang-orang itu pasti akan mencari kami di setiap hotel dan penginapan."


"Hey, memangnya kamu bawa siapa? Kamu lariin istri orang?"


Fuad geleng- geleng kepala. Dia meringis.


"Ini lebih buruk daripada bawa istri orang, Ndra. Dia itu Ayuni anak angkatnya Wakil Walikota Waridi."


Andra sampai membelalak dan menutup mulutnya. Segera dia berlari lagi ke teras untuk memastikan omongan Fuad. Setelah itu dia kembali menemui Fuad.


"Beneran, Ad! Pantas tadi aku ngerasa familiar sama perempuan itu. Ternyata dia benar Ayuni. Kamu gila?! Kamu bawa perempuan itu ke sini? Dulu bukannya kamu yang bilang kalau iparmu diculik oleh Waridi. Ya ampun, Ad. Kamu mau bikin aku celaka. Tolong bawa dia dari sini!"


"Tolong, Ndra .... semalam aja, biarkan dia di sini. Sampai aku dapat tempat tinggal sementara untuknya."


Andra sepertinya galau sekali karena masalah yang Fuad bawa.


"Aduh, gini aja. Kamu bawa dia ke rumah Omku saja deh. Dia ngontrakin kamar juga untuk dijadikan kost-kostan. Nanti ku bawa kamu kesana. Tapi kamu bilang, dia istrimu, ya. Dan pokoknya jangan sampai ketahuan dah kalau dia anaknya wakil walikota Waridi. Tapi sepertinya Omku nggak terlalu mengikuti perkembangan politik dan dunia pemberitaan, sih. Dan satu lagi, kamu bayar sewanya juga!"


"Haaa? Gila kamu, Ndra! Ngapain aku musti ngaku-ngaku jadi suaminya segala?"


"Lah, terus kamu bawa cewek hamil ngekost di rumah Omku, apa nggak jadi pertanyaan entar? Dimana suaminya? Mana keluarganya? Bisa-bisa nanti aku yang dikira hamilin itu cewek. Terserah kamu aja, kamu aku antar ke sana tapi ngaku jadi suaminya atau aku nggak bisa bantu sama sekali. Di sana sepertinya lumayan aman. Soalnya di daerah situ lingkungan para pekerja, buruh pabrik. Jadi nggak akan ada yang terlalu kepo urusan orang. Wakil Walikota Waridi juga sepertinya nggak bakalan curiga kalau Ayuni ada di daerah situ." kata Andra.


Setelah berpikir sekian lama akhirnya Fuad setuju.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku antar kalian ke sana."


Andra mengantar Fuad dan Ayuni ke rumah Omnya. Yang mengejutkan rumah Omnya Andra sebenarnya berada tak jauh dari tengah kota. Dan lokasinya hanya berkisar 15 menit perjalanan dari rumah Waridi.


"Kau gila, Ndra? Kamu membawa kami malah lebih dekat ke rumah Waridi." bisik Fuad begitu sampai di depan rumahnya Om Andra.


"Justru itu, dia tak akan kepikiran kalau Ayuni sebenarnya ada tak jauh dari dia." kata Andra balas berbisik. "Lagi pula ini satu-satunya pilihan. Atau kamu punya pilihan lain yang lebih bagus?"


Ahhh, Fuad mendesah. Nyatanya dia tak punya pilihan lain.


"Kalian pasangan suami istri?"


Pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut tantenya Andra. Pandangan matanya menyelidik dari ujung kaki ke ujung rambut Ayuni.


Oh, ya Tuhan! Demi apa aku harus mengakui wanita ini istriku? keluh Fuad daln hati. Namun pada akhirnya dia mengangguk.


"Iya, dia istriku."


Ayuni melihat ke arah Fuad. Dia belum sempat bertanya siapa lelaki yang menolongnya itu. Dan apa kepentingan lelaki itu terhadapnya.


Sementara Tantenya Andra sedang mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wanita itu. Sepertinya familiar. Namun karena dia tak mengingatnya, dia mengabaikannya. Hanya saja terasa aneh baginya kenapa wanita yang sedang hamil ini terlihat kusut dan sangat berantakan.


Fuad sepertinya mengerti apa yang dipikirkan Tantenya Andra. Dia harus berbohong untuk selamat dari situasi ini.


"Mamaku dan kakakku tidak menyukai istriku, Bu. Mereka bertengkar hingga seperti itu. Aku sebagai anak tidak bisa memilih. Aku harus menyelamatkan anak dan istriku dulu. Mereka memang tidak bisa tinggal seatap."


Mama, ampuni aku. Aku jadi terpaksa bawa-bawa nama Mama untuk berbohong, jerit hati Fuad.


"Oh, kasihan sekali.... Kenapa Mamamu kejam sekali? Walaupun dia tidak menyukai menantunya, tapi menantunya yang akan memberikan keturunan untuknya. Aku jadi gemas dengan mertua seperti itu. Ya sudah, Nak! Kasihan sekali kau. Kau boleh tinggal di sini." katanya sambil membelai rambut Ayuni.


Fuad terlihat meringis. Mama, maafin Fuad!


"Berapa bulan umur kandunganmu itu?"

__ADS_1


"Jalan 7 bulan, Bu ...." jawab Ayuni sambil sesekali menunduk.


Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan pemilik rumah, Fuad dan Ayuni segera di antar ke kamar yang mereka sewa. Ini sebenarnya lebih mirip kamar yang disewakan daripada kost-kostan.


"Harga kamar sudah sepaket sama makan tiga kali sehari. Kamarnya ya cuma seperti ini. Cuma ada ranjang, lemari dan kipas angin. Kalau mau menonton tivi di luar. Kamar mandi ada di dalam. Jadi sebenarnya harganya sudah lebih murah dari kost-kostan lain."


Fuad mengangguk. Oh, my God! Sekarang dia harus menafkahi wanita ini seperti suami seharusnya.


"Terima kasih, Bu!" ucap Fuad.


\*\*\*\*\*\*


Ibu kost atau Tantenya Andra meninggalkan mereka di kamar itu sekarang. Dan hal pertama yang ingin di lakukan Fuad adalah mencek kondisi dronenya. Dia segera membuka ranselnya dan mengeluarkan drone itu.


Tadi sepulang dia dari menemui Raya, dia segera bergegas ke lokasi pengintaiannya yakni rumah Waridi. Fuad tau, kakak iparnya tidak akan mau meneruskan rencana mereka kalau dia tidak menemukan informasi tentang Ayuni. Karena itu dia ke sana. Mencari lokasi yang tak jauh dari rumah Waridi untuk memata-matai aktivitas di rumah itu melalui bantuan drone yang diterbangkannya tak jauh dari rumah itu.


Namun, kali ini dia mendapat kesempatan melihat wanita muda bernama Ayuni itu sedang keluar dari pintu samping rumah besar wakil walikota Waridi. Fuad melihatnya mengendap-endap hingga bersembunyi di belakang post keamanan. Lalu melihatnya kabur dari rumah itu. Tentu saja Fuad harus mengejarnya. Namun dia membutuhkan waktu untuk mendaratkan drone itu. Walaupun ingin membantu Ayuni, tentu dia tak mau kalau sampai drone yang susah payah dirakitnya rusak begitu saja.


"Terima kasih karena sudah membantuku. Tapi ngomong- ngomong kamu siapa?"


Akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari mulut Ayuni.


"Aku Fuad." jawab Fuad singkat.


"Iya, aku tau. Dari tadi aku sudah berulang kali mendengar namamu disebut oleh temanmu itu. Tapi Fuad siapa? Aku sepertinya tidak mengenalmu."


"Aku saudara kembarnya Mahfudz. Kau kenal Mahfudz?"


Ayuni mengernyitkan keningnya dan menggeleng.


"Oh, ya ampun. Mana mungkin kau kenal saudara kembarku yang gagu itu. Kalau dr. Raya kamu kenal?" tanya Mahfudz.


Ayuni tau dr. Raya meski tidak kenal. Ketika dia dirawat di bangsal Bougenville VVIP di rumah sakit Siaga Medika, dokter itu pernah datang karena di panggil oleh Waridi. Mereka sempat berbincang dan mengira Ayuni masih belum sadar. Dan tadi pun Akbar mengatakan kalau dia berhasil kabur, dia harus menghubungi dr. Raya di rumah sakit Medika.


"Kamu kenal?" Fuad mengulangi pertanyaannya.


"Aku tau dokter itu, tapi aku tidak mengenalnya. Katanya dia dokter yang menangani aku di rumah sakit. Tapi waktu itu aku belum sadar, jadi aku tidak sempat mengenalnya," kata Ayuni menjelaskan.


Sial, kenapa rasanya ada kebanggaan memperkenalkan diriku sebagai adik iparnya?, gerutu Fuad dalam hati.


"Ohhh ...." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ayuni.


Apa dr. Raya yang mengirim lelaki yang mengaku adik iparnya ini untuk menyelamatkannya?


"Dr. Raya menikah dengan saudara kembarku. Berkat kalian!"


Haaa? Ayuni sampai melongo.


"Karena dr. Raya, membeberkan bukti- bukti fisik tentang penganiayanmu itu, Waridi menculiknya, lalu saudaraku Mahfudz menolongnya. Tapi sialan Waridi menjebak mereka. Seolah mereka tidur bersama. Berita itu tersebar kemana-mana. Apalagi di sosmed. Karena dr. Raya malu, keluarganya malu, keluargaku malu. Mereka jadi harus dinikahkan meski tak mau. Bayangkan saja dr. Raya terpaksa harus menikah dengan saudara kembarku yang gagu dan masih koas. Dan saudaraku yang masih dalam pendidikan dan belum punya pekerjaan itu, terpaksa harus menikah. Bayangkan saja betapa repotnya dia mengurus kuliahnya dan juga harus jadi kepala keluarga. Dan mamaku terpaksa harus ikut menanggung tugas kakakku menafkahi mereka. Kau lihat betapa banyak kamu menghancurkan hidup orang lain. Apa kau tau itu?"


Fuad sengaja mencercanya dan menambah-nambahi ceritanya untuk menambahkan efek rasa bersalah pada Ayuni. Agar Ayuni lebih gampang diajak bekerja sama menjatuhka Waridi.


"Ma- maaf aku benar-benar tidak tau ...."


Ayuni kini meringkuk di sudut tempat tidur. Dia tidak menyangka karena dirinya banyak orang menderita. Ayuni menggigiti kukunya. Dia merasa sangat bersalah terlebih lagi dia diintimidasi pria ini.


"Karena itu kau harus bertanggungjawab. Kami akan menyusun rencana untuk membongkar semua kejahatan Waridi. Kau harus bersedia melaporkannya ke kantor polisi, dan memberikan keterangan tentang percobaan pembunuhan dan pelecehan yang dilakukannya padamu."


Fuad sudah yakin sekali, kalau rencananya membuat Ayuni merasa bersalah akan berhasil. Ayuni pasti mau melaporkan Waridi.


Tapi tanpa diduga wanita itu malah menolak.


"Tidak! Aku tidak mau berurusan dengan Waridi lagi. Aku cuma ingin pergi jauh dari sini. Aku ingin menjauh!"


"Ayuni!" bentak Fuad kesal. "Kau harus mau! Ini semua berawal dari kamu! Kau harus bertanggungjawab!"


"Tidak, tidak! Kau tidak tau betapa berbahayanya dia. Koneksinya kuat. Melaporkannya akan membuatku kembali lagi ke sana. Dan dia akan semakin menyiksaku. Lebih baik kau bunuh saja aku!"


"Hey, Ayuni! Kau akan dilindungi kalau kamu melapor pada polisi. Tunggulah, aku akan berdiskusi dulu dengan kakak iparku."

__ADS_1


Fuad mengambil ponselnya dari kantong dan akan menghubungi Raya. Tapi tanpa diduganya Ayuni tiba- tiba berlari keluar.


Aku harus kabur dari sini. Mereka akan membuatku tertangkap lagi. Sia- sia aku berhasil kabur dari rumah itu, pikir Ayuni.


Fuad yang tak menyangka Ayuni akan kabur lagi jadi mengurungkan niatnya menelepon Raya. Dia harus mencari wanita itu lagi.


\*\*\*\*\*\*


Sepeninggalan Ayuni yang kabur dengan seorang lelaki yang mengenderai motor itu, Gogo kembali masuk ke mobilnya. Dalam hatinya bertanya- tanya apa benar itu dr. Mahfudz. Lelaki itu memakai helm, namun Gogo sempat melihat wajahnya walau sekilas.


Jadi Ayuni kabur. Kenapa ini bisa terjadi? Pengamanan di rumah Waridi sangat ketat. Dan lagi, anak itu biasanya penakut. Dia tidak akan berani kabur. Bahkan hanya memikirkannya pun mungkin dia tidak akan berani.


Gogo masuk kembali ke mobil pick up-nya dan bergegas ke rumah Waridi, wakil walikota itu. Pasti di rumah itu sekarang sedang ribut karena Ayuni kabur.


Gogo mengernyitkan keningnya melihat pagar yang sedikit terbuka. Biasanya pagar itu selalu tertutup. Gogo membunyikan klakson mobilnya, dan security pun membukakan pagar untuknya. Suasana di rumah ini terlihat tenang. Tak ada kepanikan. Seperti tak terjadi apa- apa. Apa mereka belum tau kalau Ayuni kabur?


"Kau datang, Go?"


Akbar menyapanya di teras. Apa mungkin dia ....?


Gogo mendekat.


"Apa ada sesuatu ...?"


Gogo tak melanjutkan kata-katanya.


Akbar menatapnya tajam dan bertanya.


"Sesuatu apa?" Akbar bertanya balik


Gogo menangkap ada kode tersirat pada kata- kata Akbar yang seolah- olah mengatakan padanya agar jangan ikut campur.


Gogo menunjuk gorengan di atas meja teras.


"Apa ada yang ulang tahun? Siapa yang traktir gorengan sebanyak ini?" Akhirnya Gogo mendapat ide meralat pertanyaannya.


"Bang Akbar tuh yang belikan. Tumben aja baik, biasa juga pelit. Eh, hemat maksudnya" Dedi buru-buru meralat kata- katanya sebelum dipelototi oleh Akbar.


"Boleh dimakan nggak nih?" tanya Gogo berbasa- basi.


Akbar mempersilahkan, "Boleh aja, asal ingat- ingat pantanganmu. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi" nasehatnya.


Gogo mengiyakan. Tidak salah lagi, pasti Akbar terlibat dalam rencana kaburnya Ayuni. Dilihat dari mana pun memang kasihan pada gadis malang itu. Gogo pun sempat berpikir akan membantunya kabur. Tapi dia tak seberani itu. Dia tau resikonya apa kalau ketahuan mengkhianati Waridi. Lelaki psikopat itu tidak akan henti- hentinya membuat hidup orang yang mengkhianatinya menderita.


Tidak lama, akhirnya kepanikan itu mulai terjadi. Asisten rumah tangga mulai menyadari kalau Ayuni tak ada di mana-mana.


"Mbak Ayuni nggak ada di mana- mana, Mas! Tolong bantu cari Mbak Ayuni. Saya takut dimarahi Bapak sama Ibu" pinta salah seorang ART dengan wajah setengah menangis.


Kecemasan ART itu bukan tak beralasan. Karena begitu Waridi dibangunkan dan diberi berita kaburnya Ayuni, Waridi langsung mengamuk dan memukul ART itu. Sungguh tak punya peri kemanusiaan manakala ada seorang lelaki yang sampai hati memukul seorang wanita, apalagi wanita tua.


"Kalian cari anak brengsek itu sampai ketemu, dan juga periksa CCTV, aku penasaran bagaimana dia bisa kabur. Kalau dia tertangkap aku tak mengampuninya!" kata Waridi.


Gogo menatap Akbar. Kalau dia tau ini ulahmu, habislah kau! Sorot matanya Gogo seolah mengatakan itu. Namun Akbar hanya memandangnya tanpa ekspresi.


Waridi benar- benar murka dan memarahi mereka semua. Namun sesaat teleponnya berdering. Dan wajahnya sumringah saat mengangkatnya.


"Anak Ayah, kau punya berita terbaru? Katakan, katakan .... Haa? Astaga! Kalau begitu kita harus memberikan hadiah. Ya, kabar baik harus dapat hadiah terbaik. Tentu, tentu! Aku tidak akan mengganggunya. Kau tenang saja. Lagi pula, kau masih jadi anak ayah yang paling manis. Hahaha!"


Gogo melihat Tuannya itu dengan wajah jijik. Sepertinya dia tau siapa yang menelepon.


"Go?"


Waridi memanggilnya.


"Iya, Pak!"


"Carikan aku kucing hamil!"


"Pak ...."

__ADS_1


"Lakukan saja, jangan tanya buat apa!"


__ADS_2