I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kecewa


__ADS_3

Bendera kuning tanda berkabung telah di pasang di kediaman Professor Ayyub. Aku memarkirkan mobilku di depan rumah tetangganya. Jumlah pelayat belum terlalu banyak karena memang Tya berpulang baru beberapa jam yang lalu.


Aku melepaskan high heelsku dan masuk ke dalam rumah. Di ruang utama telah terbujur jasad Tya. Di kelilingi oleh orang-orang yang membaca Yasiin. Teman-teman sejawatku dari rumah sakit sepertinya belum sampai di sini.


Di sebelah Tya ada ibu dan ayahnya Tya. Aku segera menghampiri mereka dan mengucapkan penyesalan dan ucapan belasungkawaku dengan tetesan air mata. Ibu Tya memelukku.


"Prof..." Aku menghampiri professor Ayyub yang duduk di pojokan sambil memegang tasbihnya. Matanya tertutup.


Professor Ayyub membuka matanya, terlihat mata yang sembab di wajah itu.


"Eh, kamu, Nak.."


Aku mengangguk. Air mata menggantung di mataku. Aku tidak bisa mengucapkan semoga sabar pada beliau. Aku adalah penyebab Tya meninggal. Bagaimana mungkin aku bisa mengucapkan sabar pada beliau.


"Maafkan aku, Prof... Ini semua salahku"


Professor Ayyub tanpa diduga memelukku. Meski aku agak risih dipeluk orang yang bukan muhrimku, tapi aku berusaha memakluminya. Professor Ayyub seperti Ayah bagiku.


Professor melepaskan pelukannya. "Apa pun salah Tya padamu, tolong maafkan dia Raya, agar jalannya tenang di alam sana"


Aku mengangguk. Aku menyeka air mataku.


Aku mencari-cari dr. Ali dengan pandanganku. Tapi tak ku temukan.


"Mungkin dia ada di belakang, cari saja dia" kata Professor seperti paham apa yang sedang ku cari.


Aku berdiri dan menghampiri orang tua Tya lagi, bertanya pada mereka di mana dr. Ali berada. Aku ingin segera menemuinya sebentar lalu pulang.


Ibunya Tya segera menyuruh seseorang memanggilkan Ali di kamarnya. Aku menunggu dengan sabar. Sampai pada akhirnya Ali turun menuntun anaknya yang sulung dan menggendong bayinya yang masih berusia kurang lebih dua minggu.


Ali menatapku dingin.


"Kenapa kamu datang ke sini?"tanyanya sinis.


"Ali..."


"Ali???!!! Panggil aku dr. Ali, itu kan yang selalu kamu bilang? Jangan panggil aku Raya, panggil aku dr. Raya!!! Itu yang selalu kamu bilang, kan? Lalu kenapa kamu sekarang memanggilku Ali? Kamu ingin sok akrab denganku? Atau ingin menghapus rasa bersalahmu padaku??Hahahaha..."


Aku terdiam. Ayahnya Tya mulai menegur tingkah menantunya. Sementara ibunya Tya mengambil cucunya dari gendongan Ali.


"Ali kamu ini apa-apaan?"tegur ayahnya Tya.


"Sebentar aja, Pah! Biarkan aku bicara dengan dr. Raya ini." kata Ali tak menghiraukan teguran mertuanya. Bahkan Professor Ayyub sampai tercengang melihat kelakuan cucu menantunya.


"Jadi kamu ke sini mau ngapain dr. Raya?Mau mengucapkan belasungkawa?Menyuruh kami agar bersabar? Atau kamu mau mentertawakan penderitaanku sekarang, iya?!!!"bentaknya.


"Ali... Apa maksudmu? Aku ke sini hanya ingin melayat dan tulus ingin mengucapkan belasungkawa. Apa aku salah?"tanyaku.


"Jelas kamu salah!!!Kamu membunuh Tya! Harusnya Tya saat ini masih ada bersama kami. Tapi sekarang dia terbujur kaku di situ. Lihat!!Lihat!!" teriaknya sambil berderai air mata.


Aku juga ikut menangis.


"Aku juga menyesal, Li. Tapi saat itu aku tidak punya pilihan lain, semua tindakan sangat beresiko di lakukan..." tangisku tak bisa lagi ku bendung.


Semua orang memandang kami, ada yang berusaha menenangkan Ali namun tak dihiraukannya. Di saat yang bersamaan rombongan dokter dan perawat dari rumah sakit Siaga Medika tiba untuk melayat. Mereka kaget aku sudah berada duluan di tempat Ali.


"Kau bisa merujuknya ke rumah sakit lain, atau menunggu OK kosong, atau kamu ambil tindakan SC di ruangan lain. Kenapa kamu membiarkannya di situasi yang gawat sampai dia meninggal?Kenapaaa?!!!!!Kenaapaa?!!"teriaknya.


"Kalau aku bisa melakukan itu pasti kulakukan, Li"kataku sedih. "Di saat itu pembukaannya sudah mendekati sempurna, tidak ada kesempatan lagi untuk rujuk ke rumah sakit lain. Kamu tau aku mana bisa melakukan SC di ruangan yang tidak steril, tidak ada peralatan yang memadai juga, semua alat ada di OK, kamu sendiri berada di OK waktu itu"


Ali terdiam sejenak sebelum memutuskan bicara lagi, "Kamu lihat?Anak-anak ini kehilangan ibunya karena kamu! Mereka masih butuh ibunya tapi kamu merenggut kebahagiaan mereka selama-lamanya. Apa kamu sebenci itu pada Tya? Kamu sebenci itu padaku??"

__ADS_1


Aku menggeleng. Dan menatap kedua buah hati Tya dan Ali itu.


"Jangan bohong kamu!!! Aku dengar cerita dari perawat, sebelum Tya ada tanda-tanda melahirkan kamu mengusirnya padahal dia cuma ingin kontrol denganmu. Kamu sedemikian bencinya padanya sampai kamu lupa mengesampingkan perasaanmu sendiri dengan tugasmu sebagai dokter. Kenapa kamu kejam sekali Raya?!"


"Aku benar-benar minta maaf, Ali... Aku salah soal itu... Tapi aku tidak ada niat mencelakai Tya. Aku berani bersumpah"


"Tya tidak pernah membencimu Raya, dia mengagumimu. Tanpa kamu tau dia menamai anaknya Rayhan dan Arraya, itu dia ambil dari namamu, kamu tau itu?"


Aku menggeleng. Air mataku jatuh semakin deras.


"Kini kau membuat Rayhan dan Rayaku jadi piatu. Kamu bisa mempertanggungjawabkan itu?? Kamu bisa menghidupkan lagi ibu mereka yang sudah meninggal???"


"Ali...." tegur Professor yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Sebentar, Kek, aku selesaikan ini sebentar saja." Ali memanggil Proffesor dengan panggilan kakek kalau di rumah.


Aku terisak dengan sikap Ali yang sangat kasarnya padaku. Padahal kemarin-kemarin di rumah sakit dia baik saja padaku. Aku merasa asing di tempat ini. Aku merasa di dakwa dan diadili ditempat yang tidak kukenali. Selain itu aku juga malu dengan teman-teman dokter yang lain.


"Aku dengar sebelum Tya meninggal, dia sempat meminta sesuatu padamu, dia sempat berwasiat sesuatu padamu. Bahkan padaku saja dia tidak ada meninggalkan wasiat apa pun selain menjaga anak-anak dengan baik sampai mereka besar.Tapi kamu langsung menolaknya, benar, kan?"


Aku mengangguk. Aku terisak-isak.


"Mamah, Papah, Kakek, kalian semua di sini tau apa wasiat, Tya?"


Ayah dan ibu Tya saling pandang dan menggeleng. Sementara Professor hanya mendesah. Sepertinya beliau tau wasiat Tya yang dimaksud oleh Ali.


"Sepertinya kakek juga tau apa wasiat Tya, kenapa Kakek diam saja?"


Professor menghela nafas, "Belum saatnya kita membahas itu, Nak! Jasad istrimu bahkan belum dikubur. Bagaimana mungkin kita membahas itu sekarang, sudah... Sudahi saja itu dulu. Mari kita fokus ke pemakaman Tya dulu."


Ali tidak menghiraukan kata-kata professor Ayyub dan terus bicara memojokkanku.


"Tya, memintamu menikah denganku dan menjaga anak-anak seperti anakmu sendiri, kenapa kamu tidak mau? Kamu menolak permintaan Tya mentah-mentah. Kamu sebenci itu padaku?"


"Kenapa tidak bisa?Bukannya kamu harusnya bertanggungjawab menggantikan posisi Tya sebagai ibu dari anak-anak ini??? Kenapa tidak mau?"


"Ali..!!"tegur professor lagi. Kali ini dengan nada yang keras.


"Kenapa, Kek? Aku salah ngomong sesuatu? Raya membenciku karena aku menikahi Tya. Kenapa kakek tidak cerita bahwa 5 tahun yang lalu kakek yang memintaku menikahi Tya dan meninggalkan Raya?Kenapa Kek? Sekalian biar dia lebih benci padaku. Katakan saja!!!"


Haah??Untuk apa professor meminta Ali meninggalkanku demi Tya? Aku menatap Professor Ayyub yang merasa bersalah padaku.


"Kamu tidak akan pernah mau mengabulkan wasiat Tya sampai kapan pun. Iya kan? Pergilah dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun"katanya sembari menghampiri jenazah istrinya. Dia tertunduk di sana dan menangis.


Aku mengusap air mataku dan bangkit dari dudukku. Tanpa berpamitan lagi aku dengan perasaan yang letih pergi dari sana. Bahkan aku tidak bisa lagi menyapa teman-teman dari rumah sakit yang datang ingin takziah.


 



 


Pov Mahfudz


Telah 3 minggu aku jadi koas di stase obgyn. Banyak suka duka yang telah kulalui, namun banyak juga pengetahuan yang kudapat. Namun yang paling mengesankan bagiku adalah segala sesuatu hal yang berhubungan dengan dr. Raya. Sebenarnya tidak setiap hari aku bertemu dengannya. Namun setiap kali bertemu aku merasa jantungku berdebar kencang. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Lalu kenapa harus dengan dr. Raya? Hal tergila yang pernah kulakukan dalam hidupku adalah mengajaknya menikah. Hahaha...betapa tidak tau dirinya aku. Aku bahkan belum pernah melamar gadis mana pun.


Beberapa waktu yang lalu saat kami ada di poli obgyn, dia menelpon seorang laki-laki yang sepertinya itu pacarnya. Aku cemburu donk. Namun hatiku berubah senang saat mendengar di vidio call mereka, lelaki itu memutuskan hubungan dengannya. Di saat teman-teman lain merasa kasihan padanya. Hanya aku yang merasa berbunga-bunga. Ah... Maafkan aku, Dokter, jika lukamu menjadi bahagia untukku.


"Mahfud..."


Dr. Sherly menyerahkan sebotol kopi instan dingin padaku. Dr. Sherly adalah dokter residen obgyn di sini.

__ADS_1


"Malam Rabu, kamu nggak ada jadwal jaga kan?"tanyanya.


Ihh, kok dia tau? Aku menggeleng.


"Kita jalan yuk, Fud!"ajaknya.


Aku menolak. Aku mengetik di hpku.


["Aku ga ada jadwal jaga, tapi aku mau menyelesaikan menerjemahkan jurnal"]


"Aku bantu deh terjemahin, kita kerjain di kostku gimana?"ajaknya."Kamu juga boleh nginap kok"bisiknya di dekat telingaku.


Dia dengan tidak malunya menyandarkan kepalanya di lenganku dan memelukku dari belakang.


"Dok.."


Aku mulai risih dan berusaha melepaskan diri dari dr. Sherly.


"Fud, kamu kenapa sih? Sok jual mahal amat? Padahal semua orang tau, skandalmu sama dr. Raya. Dari pada sama dr. Raya mending sama aku. Aku sudah suka sama kamu sejak lama, Fud. Kamu kalau mengharapkan dr. Raya mah cuma mimpi. Kamu nggak tau kan, kalau dr. Raya belum menikah sampai saat ini karena masih cinta sm dr. Ali? Dia juga terlalu selektif memilih pasangan. Dan sekarang Bu Tya sudah almarhum, pastilah dr. Ali dan dr. Raya akan menjalin hubungan lagi, terus apa yang mau kamu harapkan, Fud?"


Aku terhenyak mendengar kata-kata dr. Sherly dan mendorongnya sampai terduduk.


"Ma- af, dok!"


Aku meninggalkan dr. Sherly yang terlihat gusar dan malu karena penolakanku.


Aku bergegas meninggalkan dia dengan perasaan tak menentu. Aku sudah dengar berita berpulangnya Bu Tya, tapi aku tidak pernah kepikiran kalau dr. Raya dan dr. Ali mungkin saja akan balikan.


Dengan rasa galau aku mencari keberadaan dr. Raya. Dimana dia sekarang? Apa dia pergi melayat?


Aku berlari ke poli, di sana aku bertanya pada Winda, asistennya dr. Raya, apa dr. Raya masuk hari ini. Oleh Winda dijawab masuk, tapi mungkin telat karena dr. Raya masih melayat di rumah professor Ayyub.


Ahh, ternyata benar dia ke sana. Seusai mendapat informasi itu aku ke parkiran menanti kedatangan dr. Raya. Entah untuk apa aku melakukan ini, entah apa yang akan ku katakan kalau dia nanti bertanya kenapa aku menunggunya. Hari ini aku tidak ada jadwal di poli. Hari ini harusnya aku jaga di bangsal. Namun aku malas bertemu dr. Sherly.


Hampir setengah jam aku menunggu, sampai aku melihat mobil dr. Raya masuk ke parkiran. Dia turun dari mobil dengan wajah yang sangat kuyu dan lesu, matanya sembab.


Aku mengikutinya dari belakang tanpa dia tau. Aku pikir dia akan langsung ke poli tapi ternyata ia pergi ke tangga dan naik ke lantai empat hingga ke atap.


Di atap ia berdiri sekian lama, terlihat beberapa kali ia seperti mengusap air matanya dan terdengar suara isakan.


Sekarang aku mulai memahami satu kebiasaannya, jika ada yang membuatnya sedih dia akan naik ke atap sini.


Aku memutuskan untuk berjalan menghampirinya. Suara sepatuku mungkin terdengar olehnya hingga ia menoleh ke belakang. Matanya benar-benar sembab.


"Fud.."beberapa menit dalam diam akhirnya ia bersuara juga.


"I-ya, dok?"


Dia menarik nafas yang dalam.


"Aku boleh mengambil hati kata-katamu yang kemarin-kemarin itu?"


Hmmm? Aku menoleh padanya. Dia tak balas melihatku.


"Kamu bilang, kamu mau menikah denganku. Ayo kita menikah, Fud!"


Haaah?? Aku bengong. Kulihat mimik wajahnya. Tidak ada ekspresi bercanda disana.


"Dok..."aku rasanya ingin menyadarkannya.


"Aku ingin menikah, Fud. Dengan siapa pun tak apa asal bukan dengan dia."

__ADS_1


Aku kecewa mendengarnya.


__ADS_2