I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Cinta yang Buta dan Tak Berlogika


__ADS_3

"Kalian dari mana?" tanya Mama sesaat setelah kami kembali dari bertemu Akbar. Rupanya Mama terbangun mendengar suara motor kami.


Mahfudz menatap kesal padaku. Dan aku tak dapat berbuat apa- apa dengan itu.


"Nya-ri-in Ra-ya ma-kan, ta-pi nggak a-da yang co-cok," dusta Mahfudz.


Aku tau Mahfudz tidak suka berbohong. Dan sekarang untuk menyelamatkanku dari Mama dia terpaksa harus melonggarkan prinsipnya itu.


"Ya, ampun. Gitu aja kok ngambek sih? Memang begitu kalau istri ngidam, Fud. Kamu yang sabarlah. Mama dulu waktu hamil kamu dan Fuad juga suka minta yang aneh- aneh sama Papa. Sekarang gantian kamu yang dikerjain sama calon anakmu. Baru tau kamu kan rasanya jadi orang tua gimana?" kata Mama. "Memang cucu Mama mau apa, Ray?"


Aku menggeleng. "Nggak kok, Ma! Sekarang udah nggak pengen apa- apa lagi."


"Kamu jangan sungkan kalau ada yang kamu pengenin. Kalau Mama bisa Mama bikinin besok buat kamu. Apa sih yang nggak kalau buat cucu Mama?" kata Mama sambil mengelus pelan perutku.


Aku tersenyum, "Kalau bisa Raya minta kasur aja, atau ambal atau karpet buat ditaruh dibawah. Soalnya Raya merasa sesak tidur di atas sama Mahfudz. Agak sempit soalnya, Ma."


"Kan Mama tadi udah nawarin? Siapa tadi yang mau romantis- romantisan?" cibir Mama, membuatku tersipu malu.


Mahfudz tak menghiraukan cibiran Mama dan langsung masuk duluan ke kamar.


"Ja-di, ka-mu yang sa-lah ka-mu yang ma-u pi-sah ran-jang da-ri a-ku?" tanya Mahfudz kesal saat melihatku sudah bersiap- siap tidur di kasur yang sudah digelar Mama di bawah.


Aku menatapnya dan duduk mengatur posisiku berhadapan dengannya. Dia sedang duduk di atas ranjang sementara aku duduk di kasur bawah.


"Astaga sayang? Kok kamu jadi ikut- ikutan sensitif sih? Yang hamil kan aku? Ck .... Aku sengaja tidur di bawah karena di atas terlalu sempit untuk tidur berdua, aku nggak bisa tidur tadi. Rasanya terlalu sesak." keluhku.


"Ray ...." Sekarang Mahfudz turun dan ikut duduk di kasur bawah denganku. "Bi-sa nggak ki-ta lu-pa-kan ma-sa-lah Wa-ri-di i-ni? Ki-ta nggak u-sah i-kut cam-pur. A-ku kha-wa-tir sa-ma ka-mu, sa-yang!"


"Kamu nggak dengar kata Akbar? Meski kamu sudah tidak mau berurusan dengannya, tapi kalau dia masih dendam sama kita ya percuma, kita akan terus diterornya." kataku.


"Te- rus ka- mu ma- u a-pa, Ray? Ka- mu ma- u nge-la- wan di- a, gi-tu? De-ngan a-pa? Ka-mu ju-ga su-dah de-ngar da-ri Ak-bar, di-a i-tu bu-kan o- rang yang mu-dah. Di-a pu-nya u-ang dan ko-nek-si ku-at," kata Mahfudz cemas.


Aku merasa tak berdaya mendengar kata- kata Mahfudz.


"Kita diam pun akan ditindasnya, kan? Kalau begitu kenapa tidak kita lawan saja?" jawabku frustasi.


"Me-mang- nya ka- u si- ap men- da-nai pe- ngo- ba- tan is- tri- nya Ak- bar?"


Ahhhhh, aku mendesah. Aku jelas tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan Akbar. Tapi mendanai pengobatan istrinya mungkin akan menghabiskan lebih dari separuh uang tabungan yang kudapat dari jerih payahku selama ini. Aku tidak menyangka dia akan meminta ini. Aku kira dia hanya menginginkan pekerjaan baru.


"Hmmm .... " Aku mengangguk. "Uang itu bisa dicari lagi. Membantu orang yang membutuhkan tidak akan membuat kita miskin, kan? Selain aku bisa membantu istrinya Akbar, aku juga bisa membantu Ayuni dan korban- korban Waridi yang lain jika ada." kataku.


Mahfudz menatapku. Entah apa yang dipikirkannya.


"Sayang, tolong dukung aku. Kalau kamu tidak ridho pada apa yang kulakukan, apa pun usahaku pasti tidak akan ada hasilnya," bujukku. "Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan Waridi, agar kita bisa memutus mata rantai kejahatannya ini. Percayalah semua takdir sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, sayang!"


Mahfudz geleng-geleng kepala melihat pendirianku.


"Ba-ik-lah. Ter-se-rah ka-mu dan a-pa pun yang ka-mu la-ku-kan ha-rus de-ngan se-pe-nge-ta-hu-an-ku, se-tu-ju?" tanyanya.


Aku mengangguk.


Detik berikutnya tangan Mahfudz sudah menjalar kemana- mana.


"Ba-ik-lah, ki-ta ti-dur di ba-wah sa-ja. Ka-sur i-ni cu-kup le-bar da-ri-pa-da di a-tas."


"Modus." kataku sebal. "Ingat janjimu, katamu hari ini aku libur dari tugas."


"Ta-pi i-ni su-dah jam se-te-ngah 1 ma-lam, ar-ti-nya u-dah tang-gal dan ha-ri ba-ru." jawabnya ngeles.


Aku meringis melihatnya sudah mempreteli bajunya sendiri.


"Tapi ini di rumah Mama ...."


"Sttttt .... Be-sok su-buh a-ku si-a-pin a-ir ha-ngat bu-at man-di-mu."


\*\*\*\*\*\*


Dua bulan kemudian


"Saya sudah memberikan pilihan pada Bu Gustina, apakah tindakan operasi yang akan kita ambil adalah lumpektomi atau mastektomi, tapi sepertinya beliau lebih memilih mastektomi," kata dr. Indra saat aku menemuinya di ruangannya.


"Oh, begitu," kataku manggut- manggut. "Berarti dia lebih memilih pengangkatan payudara keseluruhan, ya Dok? Sebagian besar wanita penderita kanker payudara lebih memilih tindakan lumpektomi daripada mastektomi, tapi saya bisa mengerti, mungkin Bu Gustina ingin melakukan mastektomi untuk memastikan semua sel kankernya benar- benar hilang. Tapi apa beliau sudah mempersiapkan mentalnya untuk itu, ya? Ck ..."


Dr. Indra mengangkat bahu. "Entahlah, saya rasa dia sudah cukup siap, bahkan ketika saya menanyakan apakah dia mungkin akan melakukan rekonstruksi payudara, Bu Gustina bilang katanya itu tidak perlu."


Aku tersenyum. "Ya, sudah kalau begitu, Dok. Kalau semisalnya Bu Gustina berubah pikiran ingin rekonstruksi

__ADS_1


payudara, lakukan saja, Dok! Masalah biaya bisa kita bicarakan." jawabku.


Dr. Indra balas tersenyum. "Sepertinya dr. Raya banyak berkorban demi kesembuhan pasien ini. Bu Gustina keluarga dr. Raya yang bagaimana?"


"Dia istrinya Abang saya, Dok." jawabku setelah berpikir sejenak


Dr. Indra termangu, "Saya kira dr. Raya anak tunggal?"


"Abang sepupu," jawabku asal.


Seperti janjiku pada Akbar, kesembuhan istrinya yang menderita kanker payudara adalah jadi bagian dari kesepakatan kami. Dan aku sedang dalam proses melakukan kesepakatan itu. Dua hari lagi istrinya Akbar akan melakukan operasi pengangkatan payudara. Dan biaya yang aku keluarkan pastinya lumayan meski separuh biaya ditanggung oleh asuransi kesehatan milik pemerintah.


Ponsel di kantongku bergetar saat aku hendak pamit dari ruangan dr. Indra Sp. B (K) Onk. Ini telepon dari Mama.


"Ray, kamu bisa ke sini sekarang nggak?" Suara Mama terdengar panik dan kalut.


"Kenapa, Ma?"


"Kamu kesini secepatnya, Ray. Mama pusing, mama nggak tau mau ngapain. Anak itu .... Ya Allah, kenapa bikin masalah terus? Kenapa dia harus bawa perempuan itu ke sini?"


Suara itu terdengar sangat frustasi.


"Tenang, Ma. Mama ngomong pelan- pelan aja dulu, biar Raya bisa ngerti. Ya? Mama tarik napas dulu ...."


Terdengar suara Mama ditelepon seperti orang yang menghela napas sebelum dia akhirnya bicara lagi.


"Fuad, Ray! Dia bawa perempuan, anak Pak Waridi yang dibawanya kabur ke rumah, Ray. Dan sekarang .... Dan .... Wanita itu sepertinya mau lahiran di sini."


Aku melongo tak percaya, Fuad! Apa- apan dia itu.


"Terus Mama harus ngapain Ray? Apa Mama bawa ke rumah sakit sekarang? Mama takut kalau ketahuan pak Waridi. Mama takut kalau Fuad ditangkap polisi, Aduuh gimana ini, Ray?!"


"Jangan, Ma. Jangan dibawa ke rumah sakit. Biar Raya aja yang kesana," kataku cepat.


Segera aku menuju rumah mertuaku itu karena memang jam kerjaku pun sudah selesai dari tadi. Tidak lupa membawa beberapa peralatan persalinan normal yang kira- kira bisa kubawa kesana.


Ah, Fuad masalah apa lagi ini? Bukannya aku sudah memberinya uang? Aku kira mereka sudah kabur ke luar kota.


Saat aku datang, Mama langsung menyambutku dengan panik.


"Nggak kok, Raya nggak repot. Tadi pas Mama nelpon Raya memang udah mau pulang juga dari rumah sakit. Mahfudz masih di rumah sakitlah, Ma. Raya nggak bilang kalau Raya ke sini. Mama tenang aja ya. Ayuni dan Fuad mana, Ma?"


Terlihar wajah frustasi Mama mendengar nama itu. Namun meski begitu, Mama tetap mengantar aku ke kamar Fuad. Di sana, aku melihat Ayuni sedang berbaring terlihat meringis menahan sakitnya kontraksi. Ditemani Fuad yang duduk disampingnya sambil menggenggam tangan calon ibu muda itu. Aku merasakan suasana yang intim di antara mereka. Ada apa ini? Apa mereka menjalin hubungan?


"Hai, Kakak Ipar ...." sapa Fuad menyadari aku yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Aku menahan diri untuk tidak mengomel dahulu. Pertama- tama aku ke sini dengan niatan sebagai tenaga medis yang akan membantu persalinan normal di rumah. Walaupun sekarang tidak dianjurkan lagi untuk bersalin di rumah.


"Mari kita periksa dulu!" kataku mengabaikan sapaan Fuad.


Aku langsung membuka tasku, mengambil tensimeter dan mengukur tekanan darah Ayuni.


"Siapkan aku air panas, Ad!"


Persalinan itu memakan waktu hampir 2 jam dengan bantuan Mama dan Fuad. Selama proses persalinan itu, kami berusaha untuk tidak menyinggung masalah tentang Waridi atau kaburnya Ayuni dan Fuad. Sampai pada akhirnya Ayuni berhasil melahirkan bayinya sesaat sebelum adzan isya. Persalinan yang masih tergolong mudah dan tanpa penyulit sama sekali.


Pemandangan yang membuat aku dan Mama merasaa speechless adalah saat melihat ekspresi bahagia Fuad saat melihat bayi itu terlahir ke dunia. Dia bahkan mengadzani bayi itu sesaat sesudah bayi itu lahir, seolah dia adalah ayah dari bayi itu. Dan aku bisa melihat rasa sayangnya saat mengelus rambut Ayuni saat memberi ASI pertama pada bayinya. Oh, Tuhan! Kenapa ini bisa terjadi? Sepertinya Mama lebih shock dari aku. Beliau segera keluar dari kamar Fuad dengan wajahnya yang merengut.


"Aku akan menikahi Ayuni, Ma!"


Aku menghela napas mendengarnya sementara Mama sampai duduk merosot di sofa mendengar pernyataan Fuad itu. Beliau benar- benar terpukul.


"Salah apa Mama dalam mendidik kamu, sampai kamu mengecewakan Mama seperti ini?" Suara Mama terdengar lirih namun ada kemarahan yang teramat besar dalam kata- katanya.


"Maafin Fuad, Ma! Awalnya Fuad hanya ingin membantunya keluar dari permasalahannya. Tapi lama- lama Fuad jatuh cinta pada Ayuni, Fuad tidak mau kehilangan dia. Fuad memang menunggu Ayuni sampai selesai melahirkan untuk bisa menikahi dia. Mama, tolong restui Fuad!"


"Nggak!!!! Mama bilang tidak ya tidak! Sampai kapan pun Mama tidak bisa menerima Ayuni sebagai menantu. Lagi pula siapa yang nyuruh kamu nolong dia? Menolong dia dari siapa? Kembalikan dia ke bapaknya! Itu bayi yang dilahirkannya bukan anak kamu, Ad!" jerit Mama.


Mama memang tidak tau permasalahan utama antara Ayuni dan Waridi. Mama tidak tau kalau Ayuni dilecehkan oleh ayah angkatnya sendiri dan Waridilah ayah dari bayi yang baru saja dilahirkan Ayuni. Mama hanya sebatas tau, kalau Ayuni adalah anak angkat wakil walikota yang sedang hamil dari pernikahan yang gagal dan telah bercerai kemudian dibawa lari Fuad. Andai Mama tau kisah Ayuni yang sebenarnya aku yakin Mama akan lebih tidak setuju lagi sama ide gila Fuad ini.


"Ya, itu bukan bayi Fuad! Tapi Fuad tetap harus tanggung jawab menikahi Ayuni. Selama Fuad membawa Ayuni, Fuad dan Ayuni sudah hidup layaknya suami istri termasuk berhubungan ....."


Mama yang tak sanggup mendengar kata- kata lanjutan yang akan Fuad katakan, langsung menyerang Fuad. Mama langsung, memukul, menjambak bahkan mencekik Fuad.


"Kamu gila? Kamu sinting? Apa kamu tidak pernah Mama ajari adab sehingga berbuat tidak bermoral begitu? Kamu mengecewakan Mama, Fuad!!!"


"Sudah, sudah, Ma!" kataku mencoba melerai Mama.

__ADS_1


Mama sepertinya tidak menghiraukannya. Rasa kecewanya pada Fuad sudah sampai puncaknya.


"Kalau kamu ingin menikah seperti Mahfudz, Mama juga akan menikahkan kamu! Asalkan kamu menikah dengan perempuan baik- baik ...."


Mama terus memukuli Fuad yang kini meringkuk di sofa tak berkutik pada serangan Mama.


"Ayuni juga perempuan baik- baik, Mama!" bantah Fuad.


"Kalau dia perempuan baik- baik dia tidak akan diceraikan suaminya. Dan dia tidak akan kabur dalam kondisi hamil dengan lelaki lain!!


"Mama tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi. Kakak Ipar, tolong bantu aku menjelaskan ke Mama!"


Ah, Fuad gila! Kenapa jadi melibatkan aku untuk urusannya yang satu ini.


Mama berpaling padaku. "Kau tau sesuatu tentang ini Raya? Kamu tidak memberi tahu Mama?"


"Maafin Raya, Ma!"


Aku hanya bisa menunduk dan mulai menjelaskan semuanya satu persatu- dengan bahasa yang aku harap bisa diterima oleh Mama. Tapi ternyata harapanku salah besar. Mama semakin kecewa mendengar itu dariku.


"Mama kecewa sama kamu. Mahfudz juga tau ini?"


Aku mengangguk pelan.


"Ok, jadi cuma Mama yang tidak tau? Kalian semua membodohi Mama. Kalian mengkhianati Mama. Dan sekarang kalian juga ingin Mama bisa menerima wanita itu jadi menantu Mama? Tidak akan!!!! Bawa dia pergi dari sini!"


Mama meninggalkan aku dan Fuad di ruang tamu.


Berkali- kali aku menghela napas mengingat kekecewaan Mama. Entah bagaimana caraku nanti membujuknya.


Dari balik tirai kamar Fuad aku bisa melihat Ayuni sedang mendengarkan pertengkaran di ruang tamu ini.


"Kau benar- benar tidak masuk akal!" desisku lirih pada Fuad.


Fuad tersenyum penuh arti padaku.


"Sekarang aku memahami ketidakcerdasanmu saat memilih Mahfudz jadi suamimu. Ini yang disebut cinta kan, Bu Dokter? Buta dan tidak berlogika."


Amazing. Sekarang dia membalikkan kata- kata itu padaku.


"Kau masih berhutang penjelasan padaku. Dan Ayuni sementara bisa tinggal di rumahku sampai solusi dari ini jelas semua."


"Solusi dari semua ini hanya menikahi Ayuni."


"Lakukan, tapi tanpa mengabaikan perasaan Mama."


Fuad menggeleng. "Itu sulit."


"Meski sulit. Kau harus tetap melunakkan hati Mama dahulu baru bisa menikahi Ayuni. Kalau Mama tidak setuju aku tidak bisa mendukung atau membantumu."


"Kau ini penjilat juga, Kakak Ipar," kata Fuad jengkel.


Aku lebih jengkel melihatnya.


"Kenapa kamu menganggap mengambil hati mertua itu adalah perbuatan yang sama dengan menjilat? Toh nanti Ayuni pun pada akhirnya harus pintar mengambil hati Mama sebelum ataupun setelah hubungan kalian disetujui, kan?"


"Kenapa kau terlihat kesal, Kakak Ipar? Kau kesal karena aku duluan yang memberi cucu pada Mama dan bukan Mahfudz?" bisiknya yang kuyakin sengaja ingin menggodaku.


Aku melempar bantal sofa padanya sangking jengkelnya.


"Dasar muka tembok! Kau siapkanlah mobil. Ayuni ikut aku di rumah saja!"


Aku tetap tak bisa jika harus lepas tanggung jawab dari ini semua. Saat kami pulang, Mama sama sekali tak menghiraukan aku yang berpamitan padanya. Dan belum lagi reaksi Mahfudz nanti ketika tau aku membawa Ayuni pulang ke rumah. Ah, dia pasti akan sama marahnya dengan Mama.


"Kau tidak apa- apa kalau Ayuni tinggal di rumahmu? Maksudku Waridi pasti ...."


Fuad menghentikan kata- katanya saat Ayuni yang sudah berada di dalam mobil melihat kami yang masih berada di luar.


"Aku sudah siap berperang melawan Waridi. Bantulah aku meyakinkan Ayuni, atau ini tidak akan pernah berakhir sama sekali."


"Tapi ...."


Fuad menatapku tak percaya.


Aku tidak memperdulikan itu. Dalam mobil yang melaju disamping Ayuni, aku menggendong bayinya dan Waridi dalam pangkuanku, sambil sesekali mengelus perutku yang sudah mulai membesar.


Kalian anak- anak tak berdosa, berhak dapat kehidupan yang layak, batinku.

__ADS_1


__ADS_2