I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Panggil Aku Ayah!


__ADS_3

Pov Ayuni


"Panggil aku, Ayah!"


"I-iya, Ayah!"


Aku ketakutan saat melihat wajah beringas itu mendekatiku. Sungguh sangat ketakutan. Siapa saja, tolong aku! Mama, tolong aku.


Lelaki ini sudah 8 tahun menjadi ayah angkatku. Dia mengangkatku dari panti asuhan. Istrinya sendiri yang memilihku menjadi anak angkat, layaknya memilih barang mainan di sebuah etalase toko. Aku dulu di kenal sebagai anak paling cantik di panti asuhan. Ibu Kepala panti tidak pernah mengijinkan aku diadopsi oleh orang tua manapun yang ingin datang mencari anak yang bisa mereka adop. Kecuali satu, suatu ketika seorang wakil walikota datang ingin mengadopsi seorang anak. Mereka langsung menyodorkan aku, seolah selama ini aku adalah barang yang sengaja disimpan bagi pengadopsi terbaik. Sebagai ucapan terima kasih bapak wakil walikota pun akhirnya menjadi donatur di panti asuhan itu. Katanya, seberapa pun uang yang dia keluarkan tak akan cukup membalas jasa pihak panti asuhan yang telah membesarkan dan mempertemukan dia dengan putrinya. Betapa manisnya kata-katanya itu.


Di usiaku yang 12 tahun, aku sudah merasakan bagaimana pahitnya dipaksa berhubungan seksual dengan cara yang sangat abnormal. Selama 8 tahun hingga akhirnya sekarang aku menginjak usia 20 tahun aku tidak akan pernah terbiasa melakukannya.


Lelaki itu menjambak rambutku. Sampai aku menjerit kesakitan


"Jangan, Ayah! Jangan, Ayah! Katakan seperti biasa. Katakan begitu!" nafasnya terengah-engah menyuruhku mengatakan seperti itu.


Waridi nama lelaki ini. Lelaki psikopat. Selain selalu memaksaku berhubungan seksual, sepertinya dia punya kelainan. Dia sepertinya hanya terangsang atau memang terobsesi jika mendengar kata- kata itu.


"Ayo! Bilang!"


"Ja- jangan, Ayah! Tolong aku, Ayah!"


Aku mengucapkan kata-kata itu. Setiap kali aku mengucapkannya, aku menangis. Karena dia dengan wajah menyeringainya akan melakukan apa pun yang diinginkannya pada tubuhku. Dan semakin keras tangisanku, semakin dia bersemangat melakukannya. Ya, Tuhan tolong aku!


Mama, istrinya yang tulus menyayangiku layaknya seorang ibu, sayangnya tidak mengetahui hal ini. Dia tidak tau betapa bejatnya suaminya. Dia bahkan tidak tau, suaminya ini bahkan pernah hampir membuatku mati karena aku dipaksanya minum cairan anti serangga dan membuatku seolah-olah telah melakukan percobaan bunuh diri. Hal itu dilakukannya karena tau aku hamil. Dia memaksaku untuk meminum tablet obat yang bisa menggugurkan kandungan. Namun aku tidak mau sehingga dia nekad memaksaku menenggak cairan anti serangga.


Setelah kejadian itu dan aku keluar dari rumah sakit, aku meminta pada Mama untuk tinggal di rumah ini saja. Karena jika aku tinggal di apartemen, dia akan lebih leluasa mengunjungiku dan menyalurkan nafsu bejatnya. Setelah beberapa bulan aku merasa aman, karena berada di bawah perlindungan Mama dan akhirnya hari ini lelaki ini punya kesempatan lagi melakukannya karena Mama selama dua hari ini berada di luar kota, karena ada urusan dengan tanah warisan orang tuanya.


"Ayuni! Ayo katakan lagi! Lagi, lagi! Jangan berhenti" katanya sambil terus menjambak rambutku.


"Am-ampun, Ayah! Sudah, Ayah! Aaa... jangan, Ayah!"


Aku terus mengucapkan itu, sampai dia sampai dipuncak gairahnya.


"Kau, pergi sana! Pergi! Jangan berani bicara pada Mamamu, atau kau akan kugorok! Ku mutilasi hidup-hidup dan kubuang kau ke hutan!"


Setelah dia puas melakukannya, dia tertidur. Rasanya aku ingin memukulnya dengan sesuatu yang bisa membuatnya mati seketika. Tapi aku tak berdaya, dia punya banyak pengawal yang menjaga keselamatannya.


Aku segera meraih pakaianku yang berceceran di sana sini dan memakainya. Setelah itu aku mengetok pintu yang terkunci dari luar agar dibukakan.


Pintu dibukakan. Seraut wajah prihatin menyambutku, wajah Akbar. Orang kepercayaannya Waridi. Aku menghela napas tak peduli. Memangnya kau bisa menolongku? jeritku dalam hati.


Rasanya aku ingin sekali mati. Andai waktu itu aku tak tertolong di rumah sakit.


Tiba-tiba di perutku terasa ada yang bergerak dan menggeliat. Seakan mengingatkanku kalau aku masih punya alasan untuk bertahan hidup. Meski ini anak dari lelaki bejat itu, aku akan tetap mempertahankannya.


\*\*\*\*\*\*


Aku sedang duduk di ruanganku tanpa melakukan apa-apa , ketika Mahfudz datang. Wajahnya terlihat marah.


"Fu-ad ta-di da-tang ke si-ni?" tanyanya.


Aku sedang berpikir-pikir alasan apa yang membuatnya marah. Dan siapa yang memberi tahunya kalau Fuad tadi datang ke sini?


"Ja-wab!" katanya sambil menggebrak meja.


Aku terkejut. Aku tak pernah melihatnya semarah ini. Dia tak pernah memarahiku seperti ini.


"Iya. Dia datang, tapi dia cuma mampir saja, kenapa sayang? Apa dia nggak boleh mampir?" tanyaku. Aku juga berbohong. Fuad ke sini bukan cuma mampir.


"A-pa ba-gus ke-la-ku-an-mu i-tu? Ka-u ber-dua-an de-ngan i-par-mu sen-di-ri?"

__ADS_1


Ya, ampun. Apa ini? Dia sedang cemburu?


"Berduaan gimana maksudnya? Kami cuma di kantin. Itu tempat ramai. Apanya yang berduaan dengan ipar sendiri? Kamu berkata begitu seolah-olah aku dan Fuad sedang mojok di tempat sepi. Itu kantin sayang, tempat ramai!" kataku sambil geleng-geleng kepala.


"Ka-u mem-bu-at o-rang la-in sa-lah pa-ham, Ray. Ka-mu nggak tau o-rang-orang be-rang-ga-pan ka-mu se-ling-kuh deng-an Fu-ad?"


Aku terkejut mendengarnya.


"Siapa? Siapa yang bilang begitu? Aku selingkuh dengan Fuad? Pemikiran dari mana itu? Kamu atau orang lain yang berpikiran begitu?"


Aku sangat marah dengan kata-katanya.


"Kamu sedang cemburu? Pada Fuad?" tanyaku geleng-geleng kepala.


Mahfudz tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya memerah antara marah dan malu karena tebakanku. Dan dari situ aku tau kalau tebakanku benar.


"Kamu bilang aku seperti anak kecil. Cukup aku yang kekanakan, Fud! Kamu jangan ikut-ikutan seperti anak kecil. Kalau kamu seperti ini, kita akan bertengkar lagi. Yang pasti aku kasih tau, aku tidak selingkuh dengan Fuad atau dengan siapa pun" kataku memperingatkan.


"Ta-pi ka-u U-S-G tan-pa me-nga-jak a-ku. Ka-u ju-ga mem-be-ri-kan print-nya pa-da Fu-ad!"


Aku tersenyum mendengarnya. Jadi kau cemburu karena hal itu Pak Dokter?


Aku segera bangkit dari dudukku dan mendekatinya yang sedang berdiri di meja. Aku mendorongnya agar duduk di kursi.


"Coba lihat ayah, Nak! Dia cemburu pada Bunda dan Om Fuad!" kataku mengolokinya sambil tertawa.


"A-ku ti-dak cem-bu-ru," bantahnya dengan wajah yang menggemaskan.


Baru kali ini aku melihat Mahfudz cemburu. Cemburu buta. Ya Tuhan. Ini manis sekali.


Aku berjongkok sambil tanganku bertumpu di pangkuannya.


"Aku tidak selingkuh dengan Fuad. Ya, tadi aku memberinya print USG untuk dititip pada Mama. Maaf aku USG sendiri tanpa mengajakmu. Itu ku lakukan karena spontanitas aja tadi. Tiba- tiba kepikiran aja mau USG ke dr. Gayatri. Ya Allah, sayang. Aku dengar suara jantungnya. Itu indah sekali. Kamu mau kita lakukan USG di sini sekarang, berdua saja? Mumpung anak-anak nggak ada." kataku membujuknya. Dan sepertinya bujukanku mempan.


"Aku harus jujur padamu, Fud. Sebenarnya Fuad ke sini karena kami ada kerja sama menyelidiki kembali kasus Waridi. Dia ke sini karena itu," kataku jujur.


Wajah yang tadi sudah mulai sumringah kembali berubah. Antara marah dan khawatir.


"Raya .... Kamu ...."


Aku menempelkan bibirku dengan bibirnya kemudian melepaskannya begitu saja. Aku biasanya tak pernah menciumnya duluan.


"Aku tau kamu khawatir, sayangku. Aku tidak akan lagi melanjutkannya. Aku tidak mau membuat suamiku cemas."


Mahfudz menatapku cukup lama sebelum akhirnya dia mengecup keningku.


\*\*\*\*\*


[Aku memberikanmu satu kali kesempatan untuk kabur, pergilah dari sini secepatnya. Keluarlah dari pintu samping menuju ke depan. Lalu bersembunyilah di balik pos sebentar. Tunggu sampai aku memberi kode. Keluarlah dan lari sejauh mungkin. Aku sungguh tidak bisa membantumu lebih dari ini. Jika kau berhasil melarikan diri, carilah dr. Raya di rumah sakit siaga medika. Dengan cara yang sangat hati-hati karena Waridi pasti akan mencarimu.]


Ayuni keluar dari kamar dengan sangat pelan-pelan dan hati- hati. Dia tau dia harus kabur hari ini juga. Entah Akbar dapat hidayah dari mana sehingga dia memberinya kesempatan untuk kabur.


"Mbak Ayuni mau kemana?"


Sial, Ayuni ketahuan oleh ART.


"Aku mau ambil dalaman di jemuran, Bik! Pakai dalaman lain nggak nyaman. Nggak enak bernapas" katanya sambil menunjuk perutnya.


ART itu sepertinya maklum, betapa tidak nyamannya memilih pakaian saat hamil.


"Aku ambilkan, ya Mbak!" katanya menawarkan.

__ADS_1


"Ahh, nggak usah, Bik! Saya aja. Saya juga mau keluar cari angin sebentar. Lagi pula nggak sopan nyuruh-nyuruh orang ngambilkan dalaman." katanya.


"Ya sudah, Mbak. Lain waktu coba kalau beli itu yang banyak. Kalau begini kan kasihan Mbaknya. Punya paling beberapa biji aja yang kayak gitu. Yang lainnya pasti merasa nggak enak di pakai karena kekecilan."


Para ART disini sebenarnya sangat baik padanya. Tapi mereka semua tidak pernah tau tau apa yang terjadi pada Ayuni. Atau kalaupun ada yang tau, mungkin tak ada di antara mereka yang berani buka mulut dan menceritakannya pada nyonya mereka apalagi pada orang luar. Seperti saat Waridi memperkosanya, berulang kali, kamarnya yang berada di lantai dua itu selalu di jaga oleh Akbar dan penjaga lain. Tak ada seorang pun yang boleh naik ke atas.


Ayuni tersenyum. "Iya, Bik. Nanti kalau Mama pulang aku minta belikan lagi."


Lepas berbasa basi dengan ART itu, Ayuni tidak membuang-buang waktu lagi untuk kabur. Dari pintu samping dia terus mengendap-endap ke bagian depan rumah ini. Dari sini dia bisa melihat dengan jelas, pos security. Ada dua orang yang bertugas hari ini. Dimana Akbar? Katanya dia ingin membantuku, pikir Ayuni.


"Andi, belikan aku rokok!"


Ayuni mendengar suara itu menyeru dari teras. Itu suaranya Akbar. Ayuni bersembunyi di balik pot besar bunga bonsai.


Security bernama Andi itu sepertinya mendekat.


"Belikan gorengan juga di warung sebelah. Aku lapar," katanya. "Sambalnya dibanyakin!"


"Oh, iya Bang"


Ayuni mengintip dari balik pot. Security bernama Andi itu menerima uang dari Akbar dan bergegas membuka pagar. Temannya sesama security itu juga melihat ke arah pagar. Ayuni dengan sigap berlari mengendap-endap ke balik pos security. Pos security ini sangat dekat dengan pagar. Jaraknya mungkin hanyalah satu meter.


Sekitar 10 menitan, akhirnya Andi datang, membawakan pesanannya Akbar. Dia hendak mengunci kembali pagar.


"Nggak usah dikunci pagarnya. Sebentar lagi Gogo datang. Dia lagi di jalan. Mending kamu ambil piring dari dapur. Kita makan gorengan ini dulu!" suruhnya.


Andi lagi-lagi manut. Perutnya juga lapar sedari tadi, sementara makan siang belum disiapkan oleh para ART rumah ini. Andi masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan piring.


"Ded, istrimu belum lahiran?"


Akbar mengajak ngobrol security yang satunya. Mungkin ini cara Akbar untuk mengalihkan perhatian security itu, pikir Ayuni.


Benar saja, perhatian security itu akhirnya beralih pada Akbar.


"Belum, Bang! Kata bidan sih masih ada dua mingguan lagi. Tapi ini aku lagi bingung, soalnya posisi bayinya masih sungsang. Dan ...."


Ayuni tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera dia berjinjit menuju pagar yang terbuka. Dia berhasil! Begitu sampai di luar dan dia memperkirakan suara kakinya tak akan terdengar lagi. Ayuni segera ambil langkah laki seribu. Dia tak peduli lagi kalau dia sedang hamil. Pokoknya dia harus lari sejauh mungkin dari sini.


Ayuni hampir lemas kecapean. Rumah Wadiri sepertinya telah begitu jauh ditinggalkannya. Dia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Napasnya terengah-engah.


"Ayuni!" panggil seseorang.


Ayuni menoleh ke seberang jalan. Astaghfirullah! ada Bang Gogo! Ini gawat. Dia pasti akan menangkapku lagi, pikir Ayuni.


Ayuni kembali lari. Jalan ini adalah jalan satu arah dengan tembok pembatas di tengah jalan. Gogo akan butuh waktu mengejarnya dengan mobil pick up-nya, sebab dia harus berjalan lurus dan memutar agar bisa mengejarnya.


Namun ternyata pikiran Ayuni salah. Gogo lebih memilih turun dari mobilnya. Dia sedang menunggu jalanan agak sepi agar bisa menyeberang.


Ayuni panik dan mencoba berlari lebih keras. Kakinya sudah terasa letih. Dia hampir tak punya kekuatan lagi. Dia menoleh ke belakang. Bang Gogo sudah berhasil menyeberang sampai di tengah jalan. Dia sedang menunggu kenderaan sedikit menyepi agar bisa menyeberang.


Ya, Allah tolong aku! jerit Ayuni dalam hati.


Bang Gogo sudah berhasil menyeberang. Ayuni sudah tidak kuat lagi ketika tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti di dekatnya.


"Ayo, naik!" perintahnya.


Ayuni bingung. Siapa laki-laki ini?


"Ayo, cepat! Kita tidak punya banyak waktu!"


Kita? Ayuni makin bingung. Tapi dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Tanpa berpikir panjang Ayuni segera naik ke boncengan lelaki tak dikenalnya itu. Lelaki itu juga segera tancap gas tanpa diminta.

__ADS_1


Mereka meninggalkan Gogo yang terpaku pada yang dilihatnya.


Dokter Gagu? Apa benar lelaki tadi itu dr. Gagu?


__ADS_2