
Usai dari rumah sakit Medika Rahayu, aku pun segera kembali ke RSIA Satya Medika. Kewajiban sebagai seorang dokter kepala tak bisa kuabaikan meski aku memiliki teramat banyak permasalahan. Sikap profesionalitas yang ku junjung membuat aku tak bisa lepas dari profesi ini walaupun terkadang kala rasa lelah dan ingin rehat untuk sementara waktu dari dunia kedokteran kerap kali muncul.
"Dokter! Dokter!! Dr. Raya!" Tiba-tiba saja segerombolan wartawan yang telah menunggu di tempat parkir berlarian mengejar mobil yang kukenderai. Ah, aku benci wartawan!
Setelah memarkirkan mobil, aku segera mematikan mesin dan keluar dari sana. Dengan kasar kubanting pintu mobil itu. Kesal tentu saja, itu yang kurasa saat ini. Entah apa lagi kali ini. Entah berita apa lagi yang mereka dapatkan kali ini untuk menggangguku dan keluargaku. Menjadi seorang istri dari seorang publik figur seperti Mahfudz selama beberapa tahun ini tetap tak bisa membuatku terbiasa untuk merasakan hidupku dicampuri oleh orang lain. Beberapa kali Mahfudz diterpa gosip miring dengan beberapa rekan artisnya. Telingaku harus kubiasakan tebal dengan semua pemberitaan itu. Kali ini apa lagi? getutuku.
"Dokter! Dr. Raya!"
Bak seorang artis yang akan melintasi red carpet, mereka langsung mengambil gambarku dengan beberapa jenis type kamera yang berbeda.
"Dokter! Bisa minta sedikit waktunya, Dokter?!" seru seseorang dari belakang.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku, berusaha untuk tersenyum pada mereka, hanya semata-mata untuk menjaga citra rumah sakit Ibu dan Anak Satya Medika.
"Apa lagi sih, mas, mas? Mbak, mbak? Maaf nih loh ya, tetapi saya masih harus bekerja. Mohon pengertiannya, ya!" kataku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyinggung mereka.
Karena jika mereka sampai tersinggung, tak ada yang bisa menjamin berita jahat seperti apa yang mungkin mereka bisa angkat ke media untuk dapat menjatuhkan reputasi seseorang. Aku telah pernah merasakannya, dulu saat mereka membuat berita buruk antara aku dan Mahfudz. Terkadang oknum wartawan bisa sejahat itu meski masih banyak wartawan baik yang jujur.
"Dr. Raya, apa benar desas-desus yang beredar di masyarakat tentang suami dokter, dr. Mahfudz?" tanya wartawan itu memulai kelihaiannya bermain kata sehingga dia bisa menggiring targetnya (dalam hal ini adalah aku) untuk memberikan innformasi seperti apa yang dia bisa jual pada perusahaan media pemberitaan tempat ia bekerja.
Tindakanku itu membuat para wartawan itu menjadi terkikik geli.
"Mau dijagain nggak dr. handsomenya, dokter? Aku juga mau punya hubby kayak gitu," balas seloroh seorang wartawan wanita.
__ADS_1
"Oh, jangan donk. Dr. handsome bukan milik bersama ya teman-teman. Dr. Handsome kalian itu sudah jadi hak milik dr. Raya seorang. Kalau mau rebut, berani berhadapan dengan istrinya dulu," kataku masih bercanda.
"Huuuu ...," sorak beberapa orang wartawan, disambut tawa senang mereka karena aku menunjukkan sisi keposesifanku terhadap Mahfudz.
"Tapi, Dok, katanya dr. Mahfudz sekarang terlibat affair dengan dr. Jasmine. Benar nggak itu, ya Dok?" Seseorang menimpali kata-kata wartawan yang tadi.
"Ah, kata siapa?" bantahku.
Bukan hanya sekali dua kali mereka menggosipkan Mahfudz deengan rekannya mantan presenter acara kesehatan itu. Meski aku tahu itu tidak benar, tetapi tak urung kadang hatiku merasa panas juga
***
__ADS_1
Pendek banget ya? Maaf author nggak fit hari ini. Ini aja dipaksain agar tetap update.