I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kau jijik padaku?


__ADS_3

"Fud!"


Suara seruan itu menghentikan langkah Mahfudz untuk mencari wanita hamil yang memanggilnya Fuad itu. Apa wanita itu Ayuni yang menjadi penyebab dia ditangkap semalam? Tapi kenapa dia bersama mahasiswi koasnya Raya?


Mahfudz menoleh ke arah orang yang memanggilnya antara ragu ingin melanjutkan mencari kedua wanita itu atau sebaiknya dia tidak usah mencarinya. Melihat siapa yang memanggilnya membuat Mahfudz urung mencari kedua wanita itu. Bisa berabe kalau berurusan dengan Ali nanti.


"Kau baru datang sesiang ini? Wah, wah keterlaluan. Makin lama makin ngelunjak anak koas nggak tau diri ini. Ini sudah jam 10, Fud!"


Mahfudz tersenyum. "A- ku se- da- ri ta- di su- buh su- dah ke ru- mah sa- kit, Dok- ter. Sudah foll- up pa- si- en dan se-rah-kan ha-sil-nya sa-ma dr. Ha-run. Sa-ya ha-nya per-gi ke kam-pus se-ben-tar dan kem-ba-li la-gi ke si-ni. A-pa sa-lah-nya?"


"Salah, donk! Aku konsulenmu dan kau tidak minta ijin padaku!"


Mahfudz tersenyum lagi menahan sabar.


"A- ku di si- ni a- tas pe- rin- tah pi- hak kam- pus. Ja- di sa- at kam- pus me- nyu-ruh- ku da- tang, ya a- ku pas- ti le- bih me- mi- lih ke kam- pus. Dan ngo- mong- ngo- mong, kau pun ba- ru da- tang, kan? Ba-gai-ma-na mung-kin a-ku me-nung-gu-mu un-tuk me-ngi-jin-kan-ku ke kam-pus? Per-mi-si pa-da re-si-den i-tu su-dah cu-kup!" kata Mahfudz tak peduli.


Mahfudz akan beranjak pergi saat Ali bertanya hal lain kepadanya yang membuat dia jadi gemas pada konsulennya itu.


"Raya bagaimana kabarnya? Dia masih sering muntah- muntah? Kau harus lebih sering memperhatikan asupan makanannya, Mahfudz! Dia terlihat kurus sekali! Dan dia bahkan sering makan tanpa lauk dan hanya nasi goreng saja. Dan juga ngemil kecap, apaan itu nutrisinya? Suami seperti apa kau tak peduli pada asupan istri dan calon anakmu. Kalau denganku mungkin dia akan hidup lebih layak. Aku akan lebih banyak memberikan dia cinta dan perhatian," kata Ali membuat telinga Mahfudz terasa lebih panas.


Mahfudz yang hendak pergi berbalik dan mencengkram kerah kemeja Ali. Namun dia ingat dia harus lebih berhati- hati sekarang, sebab dia di stase interna hanya tinggal 14 hari lagi. Dan dia tidak ingin mencari masalah dengan Ali. Salah- salah dia bisa tidak diluluskan oleh konsulen gila ini.


Sepertinya Ali bisa membaca pikirannya.


"Kenapa tidak jadi memukulku? Kau takut tidak kululuskan?" katanya dengan senyum menyeringai.


"Ber- hen- ti pe- du- li dan mem- bi- ca- ra- kan is- tri o- rang la- in. Si- kap- mu yang se- ka- rang ha-nya a- kan mem- bu- at Ra-ya tam-bah st-ress. O-rang la-in meng-gun-jing-kan ka-li-an di be-la-kang-nya. Pa-kai-lah o-tak-mu se-di-kit. So-al ko-as a-ku ti-dak ta-kut an-ca-man-mu. A-ku ta-u ka-u ma-sih men-jun-jung ting-gi pro-fe-sio-na-li-tas-mu dan ti-dak a-kan ber-buat se-mu-ra-han i-tu, dok-ter kon-su-len. Dan ...."


Mahfudz melepas cengkraman tangannya pada kerah Ali dan merapikannya.


"Move on- lah, ca- ri is- tri- mu sen- di-ri, ja- ngan ja- di peng- gang- gu da- lam ru- mah tang- ga o- rang la- in. A-ku dan Ra-ya ti- dak a- kan per- nah sa- ling me- le- pas- kan. Ka- u me- nger- ti? Ja- ngan ber- ha- rap yang ti- dak ma- suk a- kal!"


Setelah itu Mahfudz pun meninggalkan Ali yang berteriak padanya namun tak lagi dia hiraukan.


Ngomong- ngomong kemana perginya mereka tadi ya? Batin Mahfudz.


\*\*\*\*\*


Tika mengantar Ayuni hingga keluar rumah sakit. Dia menunggu sampai Fuad datang menjemput Ayuni setelah ditelepon terlebih dahulu pastinya.


"Ayo, naik!" kata Fuad pada Ayuni setelah terlebih dahulu merapikan slayer masker yang dipakainya.


Ayuni naik ke boncengan Fuad setelah terlebih dahulu mengucapkan terima kasih pada Tika. Mereka bahkan menyewa sepeda motor orang lain untuk menghindari kemungkinan- kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

__ADS_1


"Raya tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Fuad sesaat mereka sampai di kost.


Ayuni mengeluarkan amplop berisi uang itu dari balik baju kaosnya. Tadi dia menyelipkannya pada karet pinggang celananya.


"Kami sempat ngobrol, sedikit. Sepertinya dr. Raya orang yang baik dan ramah dia bahkan sempat menyuruhku USG. Dan aku memberi saran padamu, kenapa tidak kau panggil dia kakak? Dia peduli padamu."


Fuad tertawa kecil.


"Kakak? Mahfudz hanya beda umur 15 menit denganku. Kenapa aku harus memanggil istrinya kakak? Dan lagi kamu yakin dia peduli padaku? Menurutmu begitu? Apa jangan- jangan dia suka padaku?" kata Fuad dengan percaya diri.


Ayuni tersenyum geli.


"Kenapa kau tersenyum? Mungkin saja kan dia suka padaku?"


"Dia tidak akan suka padamu dalam konteks laki- laki dan perempuan. Dia hanya mencintai suaminya." jawab Ayuni.


"Kenapa kau tau? Kau seyakin itu?"


"Aku sempat meminta maaf padanya karena telah membuat dia terpaksa menikah dengan saudara kembarmu. Dia bilang dia menikah dengan saudara kembarmu karena mereka saling mencintai, dan aku bisa melihat cinta iti di matanya saat dia mengatakan itu."


Fuad tersenyum sinis. Jiwa mahasiswanya yang suka berdebat tiba- tiba muncul.


"Tau apa kau soal cinta, Ayuni? Kau pernah jatuh cinta? Apa pernah kau punya pacar dan lelaki lain untuk kau cintai. Aku yakin dalam hidupmu, lelaki yang pernah singgah hanya Waridi. Betul?"


"Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa perkataanku salah? Coba sebutkan siapa lelaki yang pernah hadir di hidupmu selain Waridi? Ada? Tidak ada kan? Maka kalau begitu jangan mengajariku soal cinta. Kau bahkan tidak tau itu!" cerca Fuad dengan nada merendahkan.


Jiwa mahasiswanya yang senang berdebat menang! Tanpa dia sadar dia sedang berbicara dengan seorang wanita. Bukan dengan sesama aktivis organisasi kemahasiswaan.


Ayuni memandangnya berkaca- kaca.


"Lalu, apa kau sendiri tau apa itu cinta?" tanya Ayuni. Suara terdengar parau sekarang.


Fuad menyeringai.


"Tentu, wanita yang singgah di hidupku sudah banyak. Pengalamanku dibidang percintaan tak usah kau ragukan lagi." kata Fuad dengan yakin.


"Aku tidak tanya sudah berapa banyak wanita yang sudah kau pacari. Aku cuma bertanya kau sendiri tau apa itu cinta? Coba sebutkan siapa perempuan yang benar- benar kau cintai? Ada?"


Fuad mengedipkan matanya beberapa kali. Mencoba berpikir cepat siapa wanita yang pernah dicintainya. Pacarnya sekarang adalah Nirmala. Tapi sejauh ini hubungannya dan Nirmala hanya hubungan hambar. Hanya sebatas status. Dia sebagai ketua BEM yang berpacaran dengan bunga kampus. Dan Fuad yakin itu bukan cinta. Sebab dia tidak pernah merasakan rindu menggebu- gebu ke gadis itu meski mereka lama tak bertemu karena sibuk dengan urusan skripsi masing- masing. Begitu pun dengan mantan- mantannya terdahulu. Dia memacari mereka hanya sebatas formalitas. Ingin diakui sebagai cowok keren di kampus yang bisa menaklukkan wanita- wanita idaman.


"Kenapa? Kau tak punya wanita yang kau cintai?" tanya Ayuni berapi- api.


"Haha-haha, tentu saja aku punya. Aku mencintai Nirmala. Dia pacarku. Kau mau melihat fotonya?"

__ADS_1


Fuad segera mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto Nirmala. Ayuni sempat melirik sekilas pada foto itu. Foto gadis dengan rambut pirang bergelombang. Dia terlihat sangat cantik. Wanita dengan kebahagiaan yang terlihat jelas di raut wajahnya. Sama seperti dr. Raya. Meski terlihat seperti banyak pikiran tapi Ayuni tau dia bahagia dengan cintanya. Betapa tidak adilnya hidup ini padanya.


Ayuni tiba- tiba membuka baju kaos yang di pakainya. Hingga terlihat bra dan perut membuncit dengan garis hitam yang membujur dari atas ke bawah perut itu. Ayuni mendekati Fuad.


"Hey, Ayuni! Kau mau ngapain?" tanya Fuad panik.


"Kau bilang hanya Waridi saja lelaki yang pernah singgah dalam hidupku. Ya, kau benar!" Ayuni kini membuka lagi celana legging yang dia pakai sehingga saat ini dia hanya memakai dalaman saja. Dia kini semakin mendekat pada Fuad


"Hey, hey Ayuni! Kendalikan dirimu! Aku bukan lelaki seperti yang kau pikirkan!"


Ayuni kini meneteskan air matanya.


"Kenapa? Kau tidak mau? Aku memberikan seluruh hidupku padamu sekarang, Fuad! Terserah apa yang mau kau lakukan padaku! Aku tidak mau menjadikan Waridi satu- satunya lelaki dalam hidupku. Kau mau tubuhku juga tidak apa- apa. Tapi tolong bantu aku pergi dari hidup lelaki jahannam itu!"


Ayuni tak lagi bisa membendung air matanya. Kata- kata Fuad tadi semakin membuatnya tertekan. Sebaliknya Fuad dia pun merasa kini omongannya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Kini wanita hamil itu sedang duduk terpuruk di hadapannya dengan hanya memakai pakaian dalam saja.


"Ayo, bangunlah ...." Fuad merasa bersalah kini.


"Kau mau melakukannya denganku?"


Haa??? Fuad merasa tersambar petir mendengar mendengar pertanyaan itu dari Ayuni. Melakukan apa maksudnya?


"Apa maksudmu? Melakukan apa? Ayo, bangun!" Fuad mencoba menarik Ayuni agar duduk di tempat tidur.


"Kau jijik padaku?"


Fuad menatap dalam pada mata Ayuni. Nampak kesedihan yang teramat dalam di sana. Dia iba melihat gadis itu dan kini Ayuni semakin terluka akibat kata- kata kasarnya.


"Kau jijik, kan? Bisa kau mengerti kenapa tak ada lelaki yang singgah dalam hidupku? Kau tau? Saat Waridi tau aku hamil, dia menikahkanku dengan paksa pada seseorang yang aku tidak kenal. Lelaki yang menjadi suamiku itu pun tidak pernah menyentuhku sama sekali. Dia bilang dia jijik padaku. Waridi menoreh noda yang tak akan pernah bisa hilang dari hidupku. Dan sampai kapan pun tak akan ada lagi lelaki yang singgah dalam hidupku! Hanya kalau kau bersedia melakukannya denganku, aku bisa menghilangkan noda itu dari hidupku. Noda itu hanya lelaki lain yang bisa menghapusnya!"


Oh, my God! Ya, Tuhanku. Apa maksudnya semua ini. Dia mengajakku tidur dengannya? Aku bahkan belum pernah melakukannya dengan siapa pun. Dan dia minta aku melepas keperjakaanku dengan seorang wanita hamil? Ini gila!!! pikir Fuad.


"Hey, bangunlah Ayuni. Jangan seperti itu! Aku tidak jijik padamu. Tapi kau harus tau noda tidak akan bisa dihapus dengan noda yang berbeda. Kalau aku melakukannya denganmu apa bedanya dengan Waridi?" kata Fuad mencoba menyadarkan Ayuni.


"Tentu berbeda. Waridi tidak memperlakukanku dengan pantas! Tapi kau pasti akan memperlakukanku dengan baik, kan?" kata Ayuni sendu.


Sesaat Fuad menatap wajah itu. Tiba- tiba terbersit rasa ingin melindungi Ayuni. Sesaat kemudian tanpa pernah diprediksinya sebelumnya Ayuni mencium bibirnya. Menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Ini perasaan yang berbeda saat dia mencium Nirmala. Perasaan ketika kita menjadi seseorang yang dibutuhkan. Namun tiba- tiba Fuad tersadar dengan kondisi ini. Ini tidak boleh!


Fuad mendorong tubuh Ayuni namun tetap memastikan dorongannya tidak kuat agar Ayuni tidak terjatuh. Fuad sendiri segera berdiri. Sebelah tangannya berada di pinggangnya sementara tangan yang satunya mengusap rambutnya frustasi.


"Ini gila! Aku benar- benar ingin membantumu. Tapi kau memperlakukan aku seperti aku lelaki mesum. Aku tidak bisa lagi meneruskan ini. Soal uang itu, ambillah saja! Kau pergilah kemana saja. Itu mungkin tidak banyak. Tapi dengan uang itu setidaknya kau bisa pergi ke luar pulau dan kalau kau bisa menghemat. Itu mungkin saja bisa buat biayamu sampai kau melahirkan nanti. Ini benar- benar .... argghh!!!!!"


Fuad menendang ranjang papan itu dengan rasa yang tak menentu. Segera dia meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Ayuni yang terisak menangis. Fuad mungkin tak akan percaya kalau itu adalah ciuman pertamanya. Aneh memang. Tapi selama Ayuni di perkosa dan diperlakukan semena- mena, Waridi sama sekali tidak pernah menciumnya. Lelaki itu hanya melakukannya langsung pada intinya. Foreplay sebelum bercinta yang biasa dilakukan oleh orang lain pada umumnya adalah dengan berciuman dan bersentuhan lembut, namun foreplay bagi Waridi adalah menjambak rambutnya, memelintir tangannya atau menginjak jempolnya, pokoknya segala hal yang menyiksa dirinya.

__ADS_1


Dan pada Fuad, mungkin Ayuni telah jatuh cinta padanya sejak pertama kali mereka bertemu.


__ADS_2