I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Raya Hamil?


__ADS_3

Aku langsung memeluk Ummik begitu pintu dibuka.


"Mik ...."


Aku tak bisa menahan air mataku begitu memeluk wanita yang melahirkanku ini. Mama yang mengantarku tertawa haru melihatku begitu manja pada Ummik. Mama mengelus punggungku.


Ummik yang tidak tau apa-apa heran melihat aku yang tidak pulang semalaman tiba-tiba datang memeluknya bahkan sambil menangis.


"Ray, kamu kenapa?" tanya Ummik.


Ummik membawaku duduk di kursi tamu. Mama ikut duduk sementara Fuad lebih memilih duduk di teras.


"Kamu kenapa?" tanya Ummik. "Kamu bertengkar sama Mahfudz?"


Ummik menanyakan itu pasti karena ada Mama di sini.


Masih dalam pelukan Ummik, aku menggeleng.


"Terus kenapa? Kenapa Raya, Bu Salmah?" tanya Ummik pada Mama.


"Mama yang kasih tau, Ray?" tanya Mama padaku. Membuat Ummik semakin bingung.


"Beneran?" tanya Mama. Aku mengangguk di bahu Ummik.


"Sebentar lagi kita bakal momong cucu, Bu Farida. Raya hamil," kata Mama memberi tau.


"Beneran?"


Ummik melepaskan pelukanku dan menatap wajahku. Aku mengangguk dan kembali memeluk Ummik.


"K- kok bisa?" Ummik juga terlihat terkejut seakan tak percaya.


"Kasih lihat Ummikmu, Ray. Itunya. Apa sih namanya. Tespek?"


Aku mengeluarkan test pack dari dalam tasku dan memberikannya pada Ummik.


"Tadinya Raya mau ngetest sama Ummik, tapi Raya dijemput nginap di rumah Mama. Raya lupa kasih tau Ummik mau nginap di sana. Tadi pagi Raya ngetest sendiri, Mik ...."


"MasyaAllah .... Ini benar- benar positif, Ray? Garisnya dua."


Aku mengangguk.


"Feeling orang tua memang nggak pernah salah, Nak! Alhamdulillah, aku akan punya cucu ya Allah."


Ummik langsung melepaskan pelukanku dan masuk ke dalam untuk melakukan sujud syukur.


Ummik sangat bahagia sekali mendengar kabar itu. Membuatku jadi merasa malu pada diriku sendiri. Aku yang mengandungnya saja, jangankan melakukan sujud syukur, mengucapkan alhamdulillah saja dari tadi aku bahkan belum. Malah bahagia saja aku tidak merasakannya. Ya ampun, calon ibu seperti apa aku ini!


Aku membiarkan Mama dan Ummik ngobrol berdua di ruang keluarga. Sementara aku pamit ke kamar untuk berkemas berangkat kerja. Padahal ini baru jam dua. Jam praktekku masih 2 jam lagi.


Aku duduk bersandar pada tempat duduk sambil memegang kalender kecil di tanganku. Aku mencoba mengingat-ingat hari terakhir aku menstruasi bulan lalu, itu sebelum aku menikah dengan Mahfudz, dan ternyata aku memang sudah terlambat datang bulan sekitar semingguan. Dan setelah kuhitung-hitung lagi saat aku melakukan pengalaman pertamaku dengan Mahfud dan waktu-waktu yang kami habiskan dengan gencar berhungan pasutri sebelum dia pergi ke rumah sakit jejaring, itu adalah masa-masa suburku, jika kuhitung sesuai siklus menstruasi yakni hari ke 11 hingga ke 18 sebelum harusnya aku datang bulan lagi di bulan ini. Aduuuh, pantas saja proses fertilisasinya berhasil dengan sangat sukses dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Tapi bagaimana ini? Apa aku harus menelpon Mahfudz? Apa aku harus memberi tahunya sekarang? Apa reaksinya kalau tau aku hamil. Apa dia akan siap menjadi seorang ayah disaat kondisinya sedang koas seperti sekarang ini? Belum lagi masalah oedipus complex, aku sudah berusaha membujuk hatiku untuk tidak mendengarkan Fuad. Tapi tetap saja aku terbebani mengingatnya? Apa perlu saat Mahfudz pulang nanti dia kuajak ke psikolog untuk mengetahui apakah dia memang menderita oedipus complex atau bukan. Ya, Tuhan tolong aku.


Di saat galau seperti ini, ponselku berbunyi. Itu panggilan vidio dari Mahfudz. Aku memilih untuk tidak mengangkatnya. Sumpah, aku ill feel padanya, pada diriku sendiri juga. Aku membayangkan aku hanya jadi objek oedipus complexnya saja. Di mata Mahfudz aku hanya wanita tua yang membuatnya tertarik untuk dijadikan objek kelainannya. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan?


Aku membiarkan panggilan vidio itu tetap berdering beberapa kali. Aku akan mandi saja, dan berangkat pergi kerja sekarang.


"Ray, kamu nggak apa-apa tetap pergi kerja dalam kondisi hamil begini?" tanya Mama.


"Nggak apa-apa, Ma. Namanya juga udah tuntutan profesi. Nggak mungkin juga Raya libur sampai habis lahiran kan? Resiko jadi tenaga medis ya begini" jawabku.


"Tapi Mama khawatir, kamu bawa kenderaan sendiri kalau kerja. Mana kamu kalau masuk sore begini, pasti pulangnya malam kan ya?"


Aku tersenyum. Aku tak punya jawaban apa pun untuk itu.


"Kalau Mahfudz pulang, nanti Mama suruh dia yang antar dan jemput kamu pulang kerja. Biarpun dia sibuk koas tetap dia harus lebih pentingin kamu sama calon anaknya"


"Iya, Ma!"


"Tapi sebelum Mahfudz pulang, gimana kalau Fuad aja yang antar jemput kamu tiap hari ke rumah sakit?" kata Mama mengusulkan.


"Ah, nggak usah, Ma! Benar. Nanti kalau kira- kira Raya nggak bisa bawa motor atau mobil sendiri. Raya bisa sendiri kok pakai aplikasi ojol" tolakku.


"Nggak usah, Ma!" tiba-tiba Fuad nongol. Mungkin dia bosan di luar. "Mungkin Kakak Ipar takut adik iparnya menyukai dia"


Criiiingg!!!! Suasana tak enak langsung menyelimuti ruangan ini. Aku, Ummik dan Mama melihat tak suka pada Fuad.


"Hahaha. Aku cuma bercanda. Aku mau kok antar jemput Kakak Ipar sampai Mahfudz pulang" katanya sadar diri.


"Ya sudah. Kamu antar Raya ke rumah sakit sekarang. Mama tunggu di sini aja. Pulangnya nanti kita jemput Nadya. Ray, biarkan Fuad antar kamu sekarang. Jangan khawatirkan kata-katanya itu. Fuad itu suka bercanda" kata Mama.


"Ya sudah, Ma!"


Ku pikir-pikir juga aku dan Fuad kan belum menyelesaikan obrolan kami semalam, tentang misi menyelidi Waridi. Kami masih perlu bicara.


Aku ke rak sepatu. Memilih sepatu stiletto berwarna putih yang matching dengan warna apa pun baju yang ku pakai. Namun aku mengurungkan niatku memakai sepatu dengan heels begitu mengingat kalau aku sedang hamil sekarang. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai flatshoes berwarna sama saja.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Ummik dan Mama, aku segera masuk ke mobil.


"Kamu di depan saja" kata Fuad. "Rasanya aneh, kalau kursi depan kosong tetapi di belakang terisi. Aku jadi merasa jadi sopir panggilan."


Aku mengalah dan duduk di depan dengannya.


Beberapa menit kami dalam diam, hingga akhirnya Fuad memecahkan keheningan dengan mengajakku bicara.


"Aku belum mengucapkan selamat atas kehamilanmu, Kakak Ipar," katanya


Basa-basi, pikirku.


"Aku berharap keponakanku kali ini laki- laki, jadi nanti ada yang kuajak main menerbangkan drone," katanya.


Aku melihatnya dengan pandangan geli.


"Itu masih lama. Kalau pun keponakanmu laki-laki, kamu harus menunggunya dulu besar setidaknya berusia 5 tahunan untuk bisa mengerti apa yang kalian lakukan. Dari pada menunggu selama itu. Kenapa kamu tidak menikah saja, dan tunggu sampai kamu punya anak sendiri" kataku kesal.


"Aku tidak berminat menikah muda. Aku tidak sebodoh Mahfudz, mau direpotkan oleh pendidikan dan pernikahan dalam waktu yang sama," katanya


"Ya, ya, ya hanya kau yang cerdas di dunia ini," jawabku sinis.


Sesaat kami terdiam lagi sebelum Fuad lagi.


"Ngomong-ngomong soal rekaman vidio itu, kamu menemukan petunjuk?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Ya, aku menemukan penampakan dua truk disitu. Aku rasa kalau nomor platnya diketahui, kita bisa mengetahui pemiliknya dan aktivitas apa yang terjadi di rumah gudang itu."


Fuad manggut-manggut.


"Aku bisa mencari taunya kalau kamu mau, aku punya banyak teman polisi dan dishub"


Aku mengangguk-angguk.


"Sebenarnya aku ingin kamu mencari tau seseorang yang menjadi kunci kasus ini," kataku.


"Siapa? Waridi?"


Aku menggeleng.


"Namanya Ayuni. Dia anak angkatnya Waridi. Menurut penemuanku sebagai tenaga medis, dia mengalami kekerasan seksual dan dipaksa minum cairan insektisida. Waridi mengakuinya sendiri padaku saat aku diculik. Dia pelakunya."


"Serius? Coba ceritakan padaku dari awal!"


Fuad terlihat sangat serius mendengar ceritaku. Sambil menyetir mobil sesekali dia melihatku dengan bermacam-macam ekspresi. Sepertinya dia sangat bernafsu untuk menyelidiki kasus ini.


Pov Mahfudz


Aku menatap ponsel di tanganku dengan jengkel. Kenapa Raya dari tadi tak mengangkat panggilan vidioku? Dia bahkan tak membalas chatku. Apa dia sesibuk itu? Ini bahkan belum jam 4 sore. Harusnya jam prakteknya belum buka. Apa dia sedang mengendarai motor di jalan? Ck .... Apa kutelepon Mama saja, pikirku. Iya benar. Sebaiknya ku telepon saja, siapa tau Raya masih bersama Mama.


Aku menelepon Mama dengan panggilan vidio.


"Hallo, Fud ...."


"Ma, Ra- ya a- da di- si- tu?"


"Tuh, coba lihat anak-anak ini, Bu Farida. Dia nelepon Mamanya bukan karena rindu atau pengen bicara sama Mamanya. Tapi cuma pengen tanya istrinya aja"


Aku mendengar suara Ummik terkekeh meski tak melihat orangnya di layar.


"Cepat pulang, Fud!"


Ya, benar itu suara Ummik. Mama sepertinya sedang ada di rumah Ummik. Paling ngantarin Raya pulang.


"I-ya, Mik!" sahutku. "Ma, Ma-ma la-gi di ru-mah Um-mik?" tanyaku tak menghiraukan kata-kata Mama yang tadi.


"Ya, iyalah. Mama kan harus ngantar Raya pulang. Motornya ketinggalan di rumah sakit kemarin, karena Mama sama Fuad jemput dia pakai mobil." kata Mama.


"Oh, te-rus se-ka-rang Ra-ya di-ma-na?" tanyaku.


"Diantar sama Fuad ke rumah sakit. Mama nungguin di sini aja"


"Ber-dua a-ja?" tanyaku heran.


Aku tidak meragukan istriku. Dan Fuad juga tidak akan mungkin punya niat jahat pada Raya. Tapi aku hanya khawatir pada omongannya yang sering tidak dijaga dan menyakiti hati orang lain.


"Iya, jangan khawatir. Dia akan ngantarin Raya dengan selamat kok ke rumah sakit, kamu tenang aja." kata Mama.


Aku manggut-manggut meski aku masih merasa tak terima kalau Raya pergi dengan Fuad.


"Fud, Mama sebenarnya punya kabar baik buat dikasih tau ke kamu. Kamu pasti senang deh mendengarnya. Aduuh, kasih tau nggak sih, Bu Farida? Soalnya udah janji ke Raya untuk nggak ngasih tau dulu ke Mahfudz. Tapi Mama rasanya pengen ngasih tau ke kamu, Fud!"


"Nga-sih ta-u a-pa, Ma?" tanyaku penasaran.


"Aduh, kasih tau nggak sih" Mama bingung.

__ADS_1


"Udah, kasih tau aja" terdengar suara Ummik. "Mahfudz wajib tau. Kalau nungguin Raya, kita nggak tau dia ngasih tau Mahfudz kapan. Keburu mereka bertengkar lagi entar" kata Ummik.


"A-pa-an sih, Ma? Mik?" tanyaku makin penasaran.


"Fud, Mama kasih tau kamu, tapi kamu janji ya, kamu nggak boleh kasih tau Raya, kalau Mama udah kasih tau. Pokoknya kamu harus tetap pura-pura nggak tau sampai dia sendiri yang ngasih tau kamu"


"I-ya, Ma. I-ya. Ta-pi ka-sih ta-u a-pa?" tanyaku tak sabar.


"Selamat sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi Papa. Raya hamil, Fud!"


Deg!! Aku terkejut mendengarnya. Haaa? Hamil? Anakku? Papa?


Aku geleng-geleng kepala tak percaya apa yang kudengar.


"Ha-mil?"


"Iya, Mama belum tau sih, usia kehamilannya udah berapa minggu. Tadi pagi baru ngetest pack di rumah, Fud! Mama lihat sendiri, garisnya dua Fud, positif!"


"Hmmm...."


Aku tak bisa berkata apa-apa pada Mama. Antara senang dan bingung. Aku senang menggoda Raya dengan kata-kata mengajak fertilisasi, menggodanya di depan nenek untuk punya anak lima atau 6. Tapi aku tak pernah membayangkan secara serius kalau akan ada bayi mungil yang akan menghiasi hari- hari kami. Yang akan menjadi sainganku dalam mendapatkan perhatian dan cintanya Raya? Jadi anak ini akan benar-benar nyata? Dia akan memanggilku papa?


Oh, ya ampun! Proses fertilisasi yang kulakukan benar-benar berhasil.


"Kamu harus tetap pura-pura nggak tau soal ini, soalnya dia bilang mau bikin surprise ke kamu. Nanti kalau dia udah cerita kamu tetap harus pura-pura kaget, seolah-olah baru mendengarnya pertama kali. Dan kamu jangan bikin Raya stress. Kalau dia ngomel, terima aja. Soalnya sekarang pasti dia akan lebih gampang sensitif, dengar kamu, Fud?" tanya Mama.


"Hmmm .... I-ya, Ma."


Oh, jadi Raya sedang hamil anakku. Pantas saja, dia nggak mau angkat teleponku tadi. Apa dia ingin kasih surprise? Atau dia marah karena aku belum juga pulang?


"Fud! Kamu dipanggil dr. Bayu!"


Suara teman koasku membuyarkan lamunanku tentang sosok istriku dengan perut besar dengan seorang anak kecil yang akan memanggilku Papa.


"Oh, i-ya se-ben-tar. Ma, a-ku kem-bali ker-ja du-lu ya, Ma!"


Aku mematikan panggilan vidio pada Mama dan mendatangi dr. Bayu.


"Kamu dokter muda yang berkebutuhan khusus itu?" tanya dr. Bayu.


Aku mengangguk. "I-ya, Dok-ter!"


"Aku tau kamu sedang koas di stase interna, dan ini sebenarnya bukan tugasmu melakukannya. Tapi aku ingin minta tolong padamu, secara pribadi sebagai sesama manusia dan juga pria. Aku dengar kamu juga sudah menikah, Mahfudz?"


"I-ya, Dok"


"Seorang pria akan melindungi seorang wanita yang butuh perlindungan, bukan begitu? Aku selalu beranggapan begitu karena aku punya ibu, anak perempuan, juga saudari perempuan."


Dalam hatiku bertanya-tanya kemana arah tujuan dokter ini berbicara. Wajah dr. Bayu terlihat sedih.


"Pasien atas nama Pratiwi Ariesta itu. Aku dengar kamu yang pertama kali menganamnesa dia dan menyarankan tes urin dan kultur bakteri. Kamu sudah tahu hasilnya?"


Aku mengangguk.


"Dia juga mengalami kekerasan seksual, entah dilakukan oleh siapa, tapi siapa pun itu, lelaki itu biadap!"


Dr. Bayu terlihat geram.


"Pasien Pratiwi itu seumur anak perempuan saya. Sangat kasihan sekali melihat kondisinya yang penyandang tuna rungu dan diperlakukan seperti itu. Di usia remaja seperti dia, harusnya dia hidup dengan ceria bermain dan belajar dengan teman-teman sebayanya."


Aku mengangguk. "La-lu a-pa yang bi-sa sa-ya ban-tu, Dok-ter?"


"Aku tau beberapa hari lagi, kamu akan kembali ke Siaga Medika. Selama beberapa hari itu, cobalah menjadi teman dengar anak itu. Dia berkebutuhan khusus sama sepertimu. Kamu pasti tidak kesulitan jika berkomunikasi dengannya. Kalian bisa dengan lancar berbahasa isyarat. Tolong bujuk dia, Fud. Untuk mau melaporkan kasusnya ini ke polisi. Ini kasus serius. Tapi dia menolak dan mengancam akan bunuh diri jika sampai kasusnya dibawa ke jalur hukum. Mungkin kamu bisa membantunya. Saya khawatir jika ini tak segera ditangani polisi, pelakunya akan datang lagi dan melakukan kejahatan yang sama padanya dan akan semakin merusak hidup dan masa depan anak itu. Kamu bisa coba bantu?"


Aku mengangguk. Tak ada salahnya mencoba.


Dan kini aku sedang menatapnya dari pintu bangsal kelas 3 ekonomi ini. Pratiwi Ariesta namanya. Dia gadis yang cantik. Kulitnya kuning langsat dengan rambut lurus hitam panjang hampir menyentuh pinggang. Melihatnya mengingatkanku pada Nadya, keponakanku. Kira- kira Nadya juga seumurannya. Paling beda 1 atau 2 tahun.


Aku mendekatinya. Dia sedang bersama ibu panti asuhan.


Aku memperkenalkan diri dan menyapanya dengan bahasa isyarat


"Hal-lo, Ti-wi! Per-ke-nal-kan. A-ku dok-ter Mah-fudz. A-da yang me-mang-gil-ku dok-ter Ga-gu. Ka-mu ju-ga bo-leh me-mang-gil-ku be-gi-tu. Ma-ri ki-ta ber-te-man. A-ku a-kan ja-di te-man de-ngar-mu."


Gadis remaja bernama Tiwi itu memandangku. Aku baru benar- benar memperhatikannya kali ini. Sepertinya dia tidak begitu mirip Nadya. Caranya memandangku seperti pandangan orang dewasa.


[Dokter bisu?]


Tiwi bertanya dengan bahasa isyarat.


"Ti-dak. Ta-pi ham-pir bo-leh di-bi-lang se-per-ti i-tu. A-ku ti-dak lan-car ber-bi-ca-ra" jawabku.


Aku tidak ingin langsung membahas masalah kekerasan seksual yang dialaminya. Karena aku harus jadi temannya dulu, baru aku bisa membujuknya nanti.


"Ja-di ka-mu se-ko-lah di SLB-B" tanyaku masih dengan mode isyarat.


Dia mengangguk.

__ADS_1


"Bo-leh a-ku me-min-ta a-la-mat-mu? A-ku su-ka ke-li-ling me-na-war-kan ja-sa test ke-se-ha-tan. Si-a-pa ta-u ka-lau a-ku ke-be-tu-lan le-wat si-tu a-ku bi-sa mam-pir"


Tiwi dengan senang hati memberikan alamatnya. Dia mencatatnya di ponselku. Sepertinya misiku untuk berteman dengannya berhasil. Dia terlihat wellcome padaku.


__ADS_2