
"Dr. Ali, apa kabar?"
Walikota Darwis langsung menjabat tangan dr. Ali kemudian menjabat tanganku.
"Professor tidak bisa datang, Pak! Beliau tiba- tiba jatuh sakit, padahal tadi pagi masih sehat. Makanya saya dikirim oleh Professor ke sini menggantikan beliau," jawab Ali.
"Saya sudah dengar. Professor sudah menelepon saya tadi. Ngomong- ngomong kamu datang bersama istrimu? Kamu sudah menikah lagi?"
Walikota Darwis melihat padaku. What? Kenapa dia berpikir aku adalah istrinya Ali? Aku hendak menyangkal, tapi didahului Ali.
"Bukan Pak! Ini dr. Raya. SpOG-nya Siaga Medika. Dia perwakilan obgyn dari SM. Pendapatnya tentang pengembangan RSIA Satya Medika pastinya nanti sangat diperlukan untuk kemajuan rumah sakit yang akan kita kelola ini. Beliau ini salah satu Sp.OG terbaik yang dimiliki Siaga Medika." kata Ali memperkenalkan aku pada Walikota sambil memujiku.
Sungguh aku tidak butuh pujian. Aku cuma mau kamu merasa bersalah dan minta maaf padaku, Ali, batinku.
"Wah, wah .... Sepertinya aku sering mendengar tentang dr. Raya ini. Kamu pernah dengar, Ma?" tanya Walikota Darwis pada istrinya.
"Tau donk. Amanda kan kontrol di dr. Raya juga!"
"Amanda siapa, Bu?" tanyaku mencoba sedikit mengingat- ingat nama- nama pasien langgananku.
"Dia adikku," jawab Bu Walikota Hera. "Dia sedang hamil 6 bulanan tapi sejak awal dia selalu periksa ke dr. Raya."
Aku berusaha mengingat- ingat nama- nama pasien yang selalu menjadi langgananku.
"Ibu Amanda Husodo?" tebakku menyebut satu nama yang kukira adalah adik ipar walikota.
"Ya, itu adikku," kata Bu walikota sambil tersenyum. "Dr. Raya memang sehebat yang orang- orang katakan. Dr. Raya masih bisa menyebutkan dan mengenali nama pasin walau di luar jam kerja."
"Ah, itu biasa aja, Bu ...." tolakku pada pujian itu.
"Tapi memang benar loh yang Ibu Hera bilang, Ibu tau Pak Sopyan sopir kita kan? Beberapa bulan lalu istrinya SC di rumah sakit. Kebetulan tanpa diketahui pas tes darah istrinya dan Pak Sopyan memiliki golongan darah langka, Bu. Apa itu namanya? Rhesus? Rhesus negatif iya? Pokoknya andai waktu itu terjadi pendarahan pada persalinan bakal susah menemukan donornya. Tapi di tangan dr. Raya, operasi itu berjalan baik- baik saja. Sungguh dokter yang luar biasa," puji ajudan walikota lagi.
"Benarkah?"
Semua orang- orang disitu tak henti- henti memujiku. Sementara Ali sesekali melirikku. Membuatku merasa jengah.
"Padahal tadi aku mengira dr. Raya ini istrinya dr. Ali yang tengah mengandung. Ternyata rekan kerja, toh?"
Aku mengangguk. Sementara aku sempat melihat semburat merah di wajah Ali saat orang- orang di sini menyangka aku adalah istrinya. Please ini konyol! Jangan bilang dia senang saat orang- orang mengira kami adalah pasangan suami istri.
"Dr. Fery! Di sini!" tiba- tiba Ali memanggil seseorang.
Dr. Fery segera menghampiri kami.
"Wah, dr. Ali ini main tinggalin aja. Ku kira kita akan berangkat bareng tadi. Eh, pas kujemput ke interna, kata asistenmu sudah berangkat. Oh, iya dr. Gayatri mana? Eh, dr. Raya di sini juga?"
Dr. Fery terlihat kaget aku disitu.
"Aku gantiin dr. Gayatri ke sini, dr. Fery! Dr. Gayatri agak sibuk!" dustaku.
Dr. Fery mengangguk- angguk.
"Jadi tadi berangkat bareng dr. Ali?"
Aku tidak menjawab melainkan cuma tersenyum kecut.
"Pak, Ini dr. Fery. Doktera spesialis anak di SM. Sama dengan dr. Raya, dr. Fery juga Ds.A terbaik yang dimiliki Siaga Medika. Dr. Fery silahkan perkenalkan dirimu!" Ali sekarang beralih memperkenalkan dr. Fery pada Walikota Darwis.
"Oh, iya saya permisi ke toilet sebentar. Di mana toiletnya ya?" tanyaku.
Sebenarnya aku merasa jenuh dan ingin menghindari Ali. Sungguh bernafas di ruangan yang sama dengannya pun membuatku merasa sesak sekarang.
"Sebentar saya panggilkan seseorang buat temani dr. Raya ya ...." kata Bu Hera.
"Ah, jangan Bu, jangan. Biar saya aja yang cari sendiri." kataku. "Bumil ini memang agak merepotkan, Bu!"
"Saya ngerti rasanya, dr. Raya. Nanti kalau udah brojol aja pasti lupa deh nikmatnya jadi bumil." kata Bu Hera menghiburku.
"Ah, iya, Bu. Saya cari toilet sebentar dulu, Bu." pamitku.
Aku segera meninggalkan aula tempat perjamuan itu dan mencari toilet.
Rumah Sakit Ibu dan Anak Satya Medika. Satu lagi rumah sakit impian yang dibangun oleh Professor Ayyub untuk mengenang almarhumah istrinya plus sekarang untuk mengenang cucunya Tya yang meninggal karena andilku sebagai tenaga medis juga. Rumah sakit ini berdiri dengan bekerja sama dengan pemerintah kota. Dan hari ini kami berada di sini selain untuk perjamuan tentu untuk membahas beberapa hal penting dengan mitra KSO (Kerja Sama Operasional).
Ali pastinya datang ke sini bukan sebagai perwakilan departemen penyakit dalam, melainkan sebagai pengganti Professor Ayyub yang tiba- tiba sakit. Dan sebagai perwakilan Rumah Sakit Siaga Medika sebagai induk dari RSIA Satya Medika, tentu saja bukan Sp.OG yang diperlukan kehadirannya melainkan dokter spesialis anak juga. Makanya dr. Fery ada di sini. Ali pun pasti tau itu. Harusnya kami semua datang bersama. Tapi dia meninggalkan dr. Fery, dan pergi berangkat hanya berdua denganku? Apa maksudnya itu? Dia sengaja?
Aku menatap bayanganku di cermin toilet. Tanpa ku sadar aku menyentuh bibirku. Bibir itu harusnya hanya milik Mahfudz. Brengsek itu! Kenapa dia menciumku?
Seberapa keras pun usahaku untuk mengabaikan hal ini, aku tidak bisa melupakan detik- detik saat bibir Ali menyentuh bibirku, mengulum dan ********** seperti aku ini adalah istrinya.
Ah .... Ini benar- benar menjijikkan. Bagaimana aku akan menghadapi Mahfudz? Apakah aku harus menceritakan ini pada Mahfudz? Bagaimana kalau dia marah dan menganggap aku telah berselingkuh? Kenapa aku bisa sampai kecolongan seperti itu?
Aku rasanya depresi memikirkan semua ini.
Dan tiba- tiba aku mengingat lagi laki- laki mirip Mahfudz yang menyeberang jalan dan menghampiri Tiwi? Jadi Tiwi benar- benar memiliki hubungan dengan seorang laki- laki yang dikiranya Mahfudz? Tapi siapa dia? Apa dia benar Fuad?
Bagaimana caraku agar tau apa Fuad memiliki tahi lalat di kelaminnya? Nyatanya 2 minggu telah berlalu, Ayuni bahkan belum berhasil mencari tau. Kedua anak itu, apa sebodoh itu dalam berhubungan pasutri?
Aku keluar dari toilet dan terkejut melihat siapa yang telah menungguku.
"Aku dengar kau membuat Rini berhenti dari rumah sakit?"
Waridi dengan tampilannya yang nampak bersahaja telah menungguku di perbatasan toilet wanita dan pria.
"Apa pedulimu? Dia anakmu? Atau dia kekasihmu?" tanyaku sinis.
"Kau jangan macam- macam padaku. Aku tidak akan segan- segan menghancurkanmu," ancamnya.
Aku manggut- manggut.
"Mungkin maksudmu kau akan membuat trik- trik murahan, seperti menjebak aku dan mahfudz dulu? Atau seperti kemarin kau menjebak suamiku dengan Tiwi? Wah, kau hebat bapak wakil walikota! Bagaimana bisa kau memanfaatkan gadis di bawah umur untuk membuat vidio porno semacam itu? Kau tidak takut hukum? Kau sungguh kebal hukum? Ckck aku salut padamu! Sungguh! Bagaimana kau melakukannya?"
Waridi tersenyum meremehkanku. "Hukum? Menyentuhku? Kau bercanda? Soal vidio itu khawatirkan saja suamimu! Bagaimana pun dia pasti terlibat!"
__ADS_1
"Jangan khawatirkan suamiku. Aku punya cara sendiri membuktikan kalau dia tidak bersalah. Apa Rini tidak menceritakannya padamu? Aaaaahh, pasti dia tidak berani. Dia pasti benar- benar takut tentang dugaan kau ada di balik ini semua. Atau mungkin juga dia takut, adiknya adalah korban keganasan kelainan seksual seorang bapak wakil walikota ...."
Aku memperhatikan raut wajah itu. Terdengar giginya gemeretak menahan geram padaku.
"Sebanyak apa yang kau tau?"
Aku tersenyum. "Tidak banyak. Tapi aku cukup tau korbanmu tak cuma Ayuni, tapi juga Rini dan Tiwi? Atau masih ada anak panti asuhan lain? Kau menyukai gadis- gadis muda untuk kau jadikan fantasimu dalam memenuhi hasrat kelainanmu itu. Kau suruh mereka memanggilmu ayah saat melakukan hubungan seksual denganmu? Kau menyukai hubungan incest, tapi sayangnya kau tidak punya anak perempuan! Andai punya, naudzubillahiminzalik, entah apa yang akan kau lakukan padanya!"
Waridi terkekeh. "Kau hebat dalam menganalisa dr. Raya. Pantas sebagai seorang dokter kau cukup sukses. Tapi analisamu sepertinya kurang satu."
Waridi tersenyum nakal padaku. Dia membuatku merinding saat menatapku dari ujung kaki ke ujung rambut.
"Selain semua yang kau sebutkan, aku juga suka melakukannya dengan wanita hamil, kau tau?" katanya sambil melangkahkan kakinya selangkah mendekatiku.
Aku mundur kebelakang selangkah. Nyaliku mulai menciut mendengar kata-katanya.
"Dulu, waktu aku menculikmu di rumah gudang sejujurnya aku tidak tertarik wanita dewasa sepertimu. Tapi melihatmu sedang hamil seperti ini membuatku ahhh ...."
Aku kembali mundur mendengar kata- kaatanya. Pria ini, apa dia sudah gila? Dia terus melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Raya! Kau di sini?"
Tiba- tiba Ali datang menghampiriku. Membuat Waridi kembali dalam mode pencitraannya.
"Bapak Waridi? Bapak ada di sini?" tanya Ali.
Waridi tersenyum ramah pada Ali. "Oh, iya saya baru dari toilet dan bertemu dr. Raya di sini. Ada sedikit yang harus kita bahas. Putriku Ayuni menikah dengan adik iparnya dr. Raya, kamu tau? Aku cuma ingin menanyakan kabarnya."
Ali mengangguk- angguk.
"Kau sudah selesai? Ibu Hera mencarimu."
"Kalau begitu aku duluan," pamit Waridi tak lupa memandangku. "Dr. Raya pembicaraan kita, bisa kita lanjutkan lain waktu."
Dan Waridi pun berlalu pergi.
Aku benar- benar merinding sekarang.
"Ayo!" ajak Ali sambil berusaha menari tanganku yang segera kutepis.
"Kau benar- benar tak ingin minta maaf padaku?" tanyaku marah. "Kau sengaja meninggalkan dr. Fery agar bisa berangkat berdua denganku dan agar kau bisa melakukan hal yang tadi padaku, kan?"
Ali menatapku dalam sekarang. Kini dia memasukkan tangannya ke kantong celananya.
"Aku sudah bilang aku tidak menyesal. Harusnya kulakukan dari dulu. Andai dulu kau tidak terlalu ketat menerapkan prinsipmu dalam bersentuhan dengan yang bukan muhrim, dan kau mengijinkan aku menciummu sekali saja, mungkin aku tidak akan pernah menikah dengan Tya. Mungkin di masa sekarang, aku akan sering menciummu sebagai istriku sendiri, bukan istri orang!"
Aku mengangguk- angguk. Air mataku menetes sekarang.
"Jadi dulu kau meninggalkanku, hanya demi sebuah ciuman yang tak kamu dapatkan di atap itu? Dan kau mengambilnya sekarang? Bagaimana rasanya? Menyenangkan mencium istri orang lain? Aku semurahan itu bagimu?"
"Raya ...."
Ali berusaha membujukku.
"Semuanya tak akan pernah sama lagi, Li! Aku jijik padamu dan pada diriku sendiri. Aku menyesal pernah pacaran denganmu. Aku bahkan menyesal kita pernah kenal. Harusnya aku mempercayakan pada Allah jodohku tanpa perlu pacaran dengan siapa pun sehingga membuat hidupku buruk di masa depan. Sekarang kau sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Tepati janjimu! Lupakan aku! Anggap kita nggak pernah saling kenal!"
Pov Mahfudz
"A-pa yang ka-mu pi-kir-kan sa-yang?
Raya menoleh padaku. Sedari tadi aku datang dia sama sekali tidak mendengar pintu kamar yang kubuka dan sekarang dia bahkan tak sadar aku telah duduk di pinggir tempat tidur.
"Oh .... Kamu sudah pulang?" tanyanya.
Dia mendekat padaku dan membantuku membuka kancing kemejaku.
"I-ya, ka-mu se-dang me-mi-kir-kan a-pa?" tanyaku kembali.
Dia tersenyum dan menggeleng.
"Kamu mandilah dulu, mau mandi air hangat?" tanyanya.
"A-ku man-di di si-ni sa-ja," kataku.
Tentu yang dimaksudnya adalah kalau mandi air hangat aku harus ke kamar mandi belakang, soalnya heater water yang kubeli beberap bulan lalu mang sengaja di pasang di situ agar Ummik juga bisa memakainya. Dan sekarang juga bisa dipakai oleh Ayuni dan Rahmat.
"Ya, sudah. Mandilah dulu," suruhnya.
Aku menarik tangannya yang sudah selesai melepas kancing bajuku.
"A-ku man-di se-ben-tar la-gi, ka-lau su-dah me-ngam-bil ja-tah ma-lam-ku," bisikku menggodanya.
Raya menghela napas dalam dan mengangguk. Apa itu? Biasanya kalau aku menggodanya soal meminta jatah dia akan merengut dan mencubitku.
Aku mendekatkan bibirku ingin menciumnya tapi dia memalingkan wajahnya. Kenapa dia? Apa ini masih ada hubungannya dengan masalah Tiwi?
Aku tidak suka ditolak. Aku mencoba menciumnya lagi dan kali ini Raya hanya bisa pasrah menerima ciumanku. Tapi dia kaku sekali, dia sama sekali tak membalas ciumanku.
"Ka-u sa-ri-a-wan? A-tau a-ku pu-nya ke-sa-la-han la-gi? Ma-sih cu-riga a-ku se-ling-kuh?" tanyaku yang kini telah berada di atas tubuhnya.
Terlihat rasa bersalah di wajah itu saat melihatku. Mungkin dia merasa bersalah karena sempat tidak percaya padaku.
Raya menggeleng, "Aku cuma sedikit merasa lelah sayang, tadi aku menghadiri acara perjamuan di RSIA Satya Medika yang sedang dibangun oleh Professor. Aku kira menyenangkan, ternyata cukup melelahkan."
"Ya su-dah, ka-lau be-gi-tu, ka-mu is-ti-ra-hat-lah," kataku sedikit kecewa karena akan sedikit sulit meng-offkan alat reproduksiku yang terlanjur On ini.
Raya menahanku yang akan segera berpindah posisi dari atas tubuhnya.
"Lanjutkan saja, sayang! Aku tidak apa- apa."
Karena Raya bilang tidak apa- apa, aku segera melanjutkan apa yang sudah kumulai. Tetapi malam ini Raya memang terasa dingin dan kaku. Apalagi kalau aku mencoba mencium bibirnya. Kenapa ini?
Sampai akhirnya permainan ranjang itu selesai dengan hanya didominasi olehku sendiri. Ini agak mengecewakan tapi tak apalah. Setidaknya hasratku tersalurkan tetap pada tempatnya, yaitu istri sahku sendiri.
__ADS_1
"Ra-ya, a-ku ma-u ta-nya pen-da-pat-mu," kataku.
Raya yang sudah berpakaian kembali menoleh padaku.
"Pendapat apa?"
"Ka-lau a-ku bi-sa ber-bi-cara nor-mal la-gi se-per-ti-mu, se-per-ti o-rang la-in? A-pa pen-da-pat-mu?"
Raya terlihat serius sekali menanggapi pertanyaanku. Dia mendekat padaku.
"Apa ada harapan kamu bisa berbicara normal lagi, sayang?"
Aku tersenyum. Sepertinya wajah Raya jadi berbinar- binar. Wajah murung tadi tiba- tiba menguap dari dirinya.
"I-ni be-lum pas-ti ta-pi kon-su-len-ku di Ha-ra-pan Ki-ta ta-di me-nge-nal speech pa-tho-lo-gyst lu-lu-san lu-ar yang te-lah ba-nyak me-na-nga-ni ka-sus gangguan wi-ca-ra se-per-ti-ku. Dan sudah banyak yang sem-buh dan bi-sa bi-ca-ra nor-mal kem-ba-li," jawabku.
"Kalau begitu nggak ada salahnya kalau kita coba terapi di situ untukmu," kata Raya.
"Ka-mu se-nang?" tanyaku.
Raya mengangguk. Tapi kemudian dia menunduk sedih.
"Aku senang, meskipun aku juga sedih," katanya.
"Se-dih? Ke-na-pa?" tanyaku bingung.
"Sebenarnya aku jatuh cinta pada suamiku karena kamu memiliki kebutuhan khusus itu. Aku jatuh cinta saat belajar bahasa isyarat denganmu, saat kamu mengungkapkan cintamu dengan bahasa isyarat, mengucapkan maaf dan berbohong soal arti isyaratnya terima kasih yang ternyata artinya aku sayang padamu!" katanya mengakui perasaanya.
Itu membuatku tersenyum geli. Membuatku teringat hal- hal konyol saat aku menipunya soal bahasa isyarat ucapan terima kasih yang ternyata artinya 'aku sayang padamu'. Hal itu kulakukan dulu sangking berharapnya dia benar- benar mengucapkan kata- kata itu padaku. Berharap dia sungguh- sungguh punya perasaan sayang padaku. Dan saat dia mengucapkan terimakasih dengan bahasa isyarat 'aku sayang padamu', saat itu pula akan kujawab 'sama- sama' yang berarti aku juga mengatakan kalau aku juga sayang padanya.
Aku manggut- manggut.
"Ba-ik-lah, ka-lau be-gi-tu a-ku ti-dak a-kan i-kut te-ra-pi i-tu. Ka-lau de-ngan kon-di-si-ku yang se-per-ti i-ni bi-sa mem-bu-at-mu ba-ha-gia dan te-tap men-cin-***-ku, a-ku ikh-las se-la-ma-nya pu-nya gang-guan wi-ca-ra, mes-ki a-da pe-luang un-tuk me-nyem-buh-kan-nya, Ray ..." kataku sungguh- sungguh.
Raya menggeleng.
"Meski kau ada gangguan wicara atau tidak, rasa cintaku padamu akan tetap sama, sayang. Kamu ikutlah terapi dengan kenalan konsulenmu itu, aku mendukungmu. Bagaimana pun, masa depan kita masih panjang. Perjalananmu jadi dokter pasti akan lebih mudah kalau semisalnya gangguan wicaramu itu bisa disembuhkan. Tapi semisalnya pun itu tidak berhasil, kau harus tau itu tidak akan mempengaruhi rasa sayang dan cintaku padamu, kau dengar sayang?" kata Raya seraya memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Aku mengangguk dan mengambil kesempatan itu untuk menciumnya. Ciuman yang dalam yang kulakukan dengan mengulum dan ******* bibir manisnya. Sampai aku sadar saat tanganku merasakan basah di pipinya. Aku membuka mataku dan melihat mata terpejamnya mengeluarkan air mata. Kau kenapa Raya?
\*\*\*\*\*\*\*
Pov Ayuni
Aku memindahkan Rahmat ke baby box di sebelah tempat tidurku. Malam ini aku harus berhasil dengan misiku mencari tau apakah ada tahi lalat pada alat kelamin Fuad. Gila memang! Bayangkan, aku sedang mencari tau hal pribadi suamiku untuk kuberi tau pada wanita lain. Meski aku tidak tau apa alasannya tapi toh nanti Kak Raya sudah janji akan menjelaskannya nanti padaku.
Kalau bukan Kak Raya yang meminta, aku tak mungkin rela melakukan ini untuk wanita lain. Tapi Kak Raya sudah banyak membantuku, dan sekarang aku juga tinggal di rumahnya dan bahkan aku disayangi Ummik seperti putrinya sendiri. Dan Rahmat pun disayangi bagai cucu sendiri begitu pun Kak Raya, meski dia musuh bebuyutan dengan Waridi dan tau kalau Rahmat anak biologisnya Waridi, dia menyayangi Rahmat seperti keponakannya sendiri. Semua barang- barang keperluan Rahmat Kak Raya yang belikan.
Setelah menderita selama kurang lebih sepuluh tahun sebagai anak angkat wakil walikota gila itu, akhirnya aku mendapatkan keluarga baru yang benar- benar menyayangiku seperti keluarga sendiri, meski pun aku belum berhasil mendapatkan kasih sayang mertuaku.
Pelan- pelan aku mendekati Fuad dan melambaikan tanganku di depan matanya. Sepertinya dia sudah tidur. Malam ini dia cuma memakai baju kaos dan celana boxer. Ini mungkin akan membuatku sedikit mudah dalam melaksanakan misiku.
Dengan takut- takut, aku membuka simpul tali boxer itu. Sesekali aku melihat pada Fuad. Sepertinya dia masih terlelap. Perlahan aku menyingkap boxer itu dan melihat apa yang ingin ku cari tau. Dan akhirnya, aku mendapat jawaban dari apa yang ingin Kak Raya tau. Tidak ada tahi lalat di situ. Buru- buru aku merapikan kembali boxer yang sedang dipakai Fuad saat aku menyadari kalau isi dalam boxer itu telah berubah ukuran. Ah, ini bahaya.
Aku harus pura- pura tidur. Aku segera ingin kembali tidur di bantalku. Namun Fuad tiba- tiba menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Hey, Ayuni! Kau harus tanggung jawab sekarang. Enak aja sudah berani membangunkanku mau main tidur aja. Kau tidak lihat ulahmu?"
Fuad melirik ke arah boxernya.
"Ma- maaf. Aku nggak sengaja." kataku bingung.
"Nggak sengaja? Nggak sengaja apa maksudnya? Kamu kira aku nggak tau udah semingguan ini kamu selalu cari- cari kesempatan mendekatiku. Suka ngintipin aku mandi, lirik- lirik aku lagi pakai baju. Kamu sepenasaran itu?" tanyanya.
Aku meringis. Siapa juga yang penasaran pada tubuhmu itu, dasar narsis!
"Hahaha, iya. Aku memang penasaran makanya aku pengen lihat," jawabku sebal.
"Kalau begitu kenapa cuma dilihat?"
"Habis mau diapain lagi?" tanyaku pura- pura tidak tau.
Fuad yang tidak sabaran mengubah posisi dengan menindihku.
"Hey, Ayuni. Kamu kira aku nggak tau kalau kamu sudah selesai nifas?" bisiknya.
Aku terdiam. Wajahku terasa panas. Di posisi seintim ini aku tau dia mau apa. Aku gemetar sekarang. Rasa- rasanya aku takut, seolah- olah ini seperti akan melayani Waridi. Ah, kenapa aku jadi membayangkan psikopat itu di malam pertamaku dengan Fuad?
Fuad sepertinya menyadari tubuhku yang menegang dan tanganku yang berubah dingin dalam genggamannya. Sepertinya dia tau trauma yang kurasakan.
"Kamu percaya padaku kan, Ayuni?"
Aku mengangguk sambil menelan ludahku kelu. Bagaimana pun ini pertama bagiku berhubungan intim dengan orang yang benar- benar normal dan kuinginkan. Dia suamiku Fuad yang kucintai.
"Jangan kau bayangkan dia, cukup aku saja, sayang. Panggil namaku!" Suruhnya.
y
"Fuad ...."
Fuad mulai menciumku dari kening, hidung hingga bibirku.
"Panggil aku lagi!"
"Fuad ...."
"Lagi ...."
Aku membiarkannya beraksi atas tubuhku sambil aku memejamkan mataku dan mengucapkan namanya berkali- kali. Ini agak menenangkanku. Aku yang tak pernah mendapatkan perlakuan istimewa dari siapa pun, merasa tersanjung dengan perlakuan Fuad ini. Aku bahkan lupa kalau dulu aku sering dipaksa Waridi untuk memanggilnya Ayah saat berhubungan dengannya. Sepanjang malam, hanya nama Fuad yang terucap di bibirku. Hingga kami menuntaskan malam pertama itu dengan lelah dan bercampur rasa yang bahagia.
"Fuad ...." panggilku.
"Hmmmm ...." sahutnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, terimakasih telah menghilangkan dia dan traumaku," ucapku tulus.
Fuad mengangguk dan menarikku lagi dalam pelukannya.