I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Memanjakanmu


__ADS_3

"Kamu suruh aku berhenti kerja?"


Raya mengedipkan matanya berkali- kali tak percaya pada apa yang dia dengar. Aku harus hati- hati mengatakannya atau dia akan ngambek lagi padaku.


"A-ku nggak su-ruh kamu ber-hen-ti, sa-yang! A-ku cu-ma me-nya-ran-kan-mu is-ti-ra-hat se-men-ta-ra ka-mu ha'mil. Nan'ti ha-bis la-hi-ran, de-dek-nya su-dah bi-sa di-ting-gal ka-mu bi-sa ker-ja la-gi," kataku menjelaskan.


"Ini masih trisemester pertama, aku lahiran masih lama, Fud! Nunggu anak bisa ditinggal, setidaknya sampai 6 bulan. Itu lama Fud, kamu pikir bisa cuti dari rumah sakit selama itu?"


Aku memikirkan kata- katanya. Iya, benar juga.


"A-ku a-kan co-ba ngo-mong ke pro-fes-sor,"


"Nggak." bantahnya. "Kamu akan bikin aku malu, kalau kamu minta cuti selama itu. Iya kali cuti 1,5 tahun. Paling lama juga paling 3 bulan. Lagipula, selama itu di rumah aku mau ngapain?"


"Me- nik- ma- ti wak- tu dan ma- sa- ma- sa ke- ha- mi- lan, ber- se- nang- se- nang dan ja- di is- tri yang ba- ik nung- gu- in su- a- mi pu- lang ker- ja eh ko- as," kataku


"Nggak!" tolaknya tegas.


Tapi saat dia melihat wajahku mungkin dia merasa berdosa telah membantah suaminya.


"Ya sudah, ya sudah. Akan kupikirkan nanti," katanya dengan wajah merengut.


Aku tersenyum melihat sikapnya. Dia wanita yang keras kepala sebenarnya, namun kalau menyangkut soal urusan suami istri Raya sepertinya sangat takut kalau jadi istri pembangkang.


"Ya, sudah buka bajumu sekarang!"


Sudah kuduga Raya langsung melotot padaku dan mencubitku.


"Ini masih pagi, Fud! Ayah ini nggak tau malu! Bentar lagi Ummik selesai masak terus nyuruh kita makan, gimana?"


Aku tertawa kecil.


"Iss, me- sum a-mat i-tu pi-ki-ran-nya." kataku sambil membuka jaket dan bajunya hingga yang tersisa hanya dalamannya saja.


"Habis aku mau diapain kalau bukan mau begituan?" protesnya.


Aku membantunya berbaring dalam posisi telungkup.


"Ma-u di-ser-vice, Bu dok-ter!"


"Service apaan?" Dia berusaha untuk mengganti posisi tubuhnya dengan telantang namun aku tetap menyuruhnya telungkup.


"Tung- gu se-ben-tar," kataku sambil berjalan menuju lemari.


Aku mengambil selembar kain sarung dan kemudian minyak zaitun di meja riasnya Raya.


"Ki- ta ma- u pi- jat plus- plus ha- ri i-ni, ka-mu ca- pek dan pe- gal- pe- gal kan?"


Raya langsung duduk mendengar aku akan memijatnya.


"Beneran?" tanyanya girang. "Sayang, kau baik sekali ...." katanya sambil mencubit pipiku dengan gemas.


Aku tersenyum. "A- ku me- mang ba- ik, ma- ka- nya a- da Bu dok- ter yang ja- tuh cin- ta be- rat pa- da- ku."


"Ih, pedenya ...."


Aku tertawa mendengar responnya. "Ya, su- dah ka- mu pa- kai sa- rung- nya. Ma- lu ka- lau Um- mik ti- ba- ti-ba ke si-ni nan-ti."


Aku memang sudah mempersiapkan ini dari tadi malam saat melihat Raya punya minyak zaitun di meja riasnya. Hari ini pokoknya aku ingin memanjakannya.


Aku segera melakukan pijatan pada bahu punggungnya, leher, kaki dan seluruh tubuhnya.


"E- nak?" tanyaku

__ADS_1


Raya mengangguk. Sepertinya dia memang betul- betul kelelahan. Dan terlihat terkantuk- kantuk.


Aku hampir selesai saat Ummik datang untuk memanggil kami makan. Ummik tertegun melihat aku yang sedang memijat Raya. Aku bisa melihat jelas wajah Ummik yang menyunggingkan senyum dan terlihat haru di matanya melihat pemandangan ini. Ah, kenapa Ummik? Ummik kira hanya Ummik yang menyayangi Raya? Aku juga menyayangi Raya, donk ....


"Ayo, makan!" bisik Ummik dan menyertakan bahasa isyarat juga. Mungkin beliau tidak mau membangunkan Raya yang tertidur.


"Se-ben-tar, Mik. Mah-fudz cu-ci ta- ngan du-lu!" jawabku sambil berbisik juga.


Lalu aku dan Ummik makan hanya berdua sementara Raya kami biarkan tidur di kamar.


"Terima kasih sudah menjaga Raya dengan baik, Fud. Rasanya keputusan terbaik yang pernah Ummik ambil dalam hidup, selain menikah dengan Abahnya Raya adalah menikahkan kamu dengan Raya."


Aku tersenyum.


"Te- ri- ma- ka- sih ju- ga, Mik. Um- mik su- dah me- la- hir- kan dan mem- be- sar kan is- tri Mah- fudz dan men-ja-ga-nya sam-pai Mah- fudz dan Ra- ya ber- te- mu kem- ba- li di du- nia i- ni," kataku sambil mengusap punggung tangan Ummik.


Ummik ikut tersenyum mendengar jawabanku.


"Ummik beruntung punya menantu kamu, Fud."


Entah bagaimana aku harus mengungkapkannya, aku pun merasa beruntung memiliki ibu mertua seperti Ummik. Ummik adalah sosok seorang ibu yang pengertian bahkan terhadap aku yang banyak kekurangan ini. Aku berharap aku bisa menjaga Ummik dan Raya sampai kapan pun sebagaimana aku aku menjaga Mama. Oh, ya ampun bagaimana kabar Mama? Aku harus meneleponnya nanti. Dia pasti masih sangat pusing soal Fuad yang tidak ada kabar beritanya. Apa aku harus tanya pada Raya dimana Fuad sekarang? Dia pasti tau kan?


Seusai makan dan membantu Ummik membereskan piring, aku mengambilkan Raya makanan dan membawanya ke kamar.


"Sa-yang, ba-ngun ...."


Aku memeluk tubuh telungkup yang tertutup sarung itu dengan sayang sambil mengecup rambutnya.


Raya menggeliat dan berbalik sehingga posisinya menyamping dan berhadapan denganku.


"Aku ketiduran lagi, ya?"


Aku tersenyum dan mengangguk.


Dan itu membuat sarungnya melorot sehingga menampakkan separuh tubuhnya yang membuat darahku langsung berdesir. Raya langsung menutup kembali tubuhnya dengan sarung itu dan mendelik waspada padaku.


"Ya, am- pun. Ta-kut a-mat." kataku sambil mencubit pipinya. "Ha-ri i-ni tu-gas is-tri pa-da su-a-mi di-li-bur-kan," kataku.


"Beneran?" tanyanya tak percaya.


"I-ya. Ha-ri i-ni ha-ri-mu ber-se-nang- se-nang, a- yo ki- ta la- ku- kan a- pa yang mem- bu- at- mu se- nang!"


"Tidur."


Oh my God. Tidur adalah hal yang paling dia suka. Apa- apaan itu?


"Nggak. Ti-dur-nya cu-kup se- ki- an du- lu. Se-ka-rang ka-mu gan-ti ba-ju du-lu, ma-kan, dan nan-ti si-ang ki-ta ke mall."


"Ngapain?" tanyanya sambil memakai bajunya


"Ja- lan. Be- li ba- ju bu- mil, su- su bu- mil dan be- li wa- ter hea-ter, bu-ah-bu- ah dan ma- ka- nan ber-gi-zi la-in-nya. Ha- bis i- tu ki- ta ke ru- mah Ma- ma"


"Water heater? Maksudnya pemanas air?"


Aku mengangguk dan berjalan ke meja riasnya. Mengambil sisir dan ikat rambut.


"Ja- ngan su- ruh Um- mik re- bu-sin a- ir pa- nas la- gi un-tuk man-di."


"Aku nggak nyuruh Ummik," sangkalnya.


Aku tidak lagi membalas sangkalannya. Aku menyuruh Raya berbalik membelakangiku agar aku bisa menyisir rambut Raya. Setelah ku sisir, aku pun menggulung dan mengikat gulungan rambut itu di atas kepalanya.


"Ok, can- tik," pujiku. "Se-ka-rang ka-mu ma-kan, a-ku sua-pin!"

__ADS_1


Aku mengambil makanan yang kuambil tadi dari meja.


"Aaaaa ....." Aku mengangakan mulutku agar dia membuka mulutnya.


Raya tertawa geli melihat sikapku yang sepertinya hari ini agak berlebihan menghiburnya. Namun dia tetap membuka mulutnya, memakan sesuap demi sesuap nasi yang kusendokkan ke mulutnya.


\*\*\*\*\*\*\*


Pov Raya


Mimpi apa aku semalam ya, rasanya hari ini aku bahagia sekali. Mahfudz sangat memanjakanku hari ini. Dari mulai menyiapkan air untuk mandi, mengajakku jalan pagi, memijat tubuhku, menyuapiku makan hingga saat ini kami sedang berjalan- jalan di mall karena dia ingin membelikan semua kebutuhanku saat hamil. Suami yang sangat siaga. Aku merasa sangat tersanjung mendapat perlakuan begini hari ini.


Hal pertama yang ingin dilakukan Mahfudz adalah membelikanku water heater.


"Sayang, sepertinya kita nggak perlu deh, beli ini," kataku.


Bukannya apa- apa. Aku tau harga water heater untung kantong Mahfudz pasti tergolong mahal. Dan dia pasti membelanjakannya kali ini dengan uang transferan hasil sarang walet dari Mama. Sementara memakai uangku aku rasa tidak akan mungkin bisa kulakukan, selain Mahfudz tidak akan mau, aku juga tidak mau membuat dia tersinggung. Aku tau salah satu hal yang paling sensitif dalam rumah tangga selain masalah ranjang adalah masalah ekonomi. Kalau sampai aku dan Mahfudz berada dalam pertengkaran yang diakibatkan masalah keuangan, aku yakin hal itu akan jadi masalah pelik yang sulit untuk diselesaikan.


"Per- lu se-ka-li," bantah Mahfudz. "Yang per-ta-ma a-ku ti-dak ma-u ja-tah ma-lam-ku di-ku-ra-ngi. A-ku a-kan te-tap me-la-ku-kan-nya ti-ap ma-lam se-per-ti bi-a-sa."


"Ya, ya, ya. Kau kan hyper," bisikku.


Mahfudz mencubitku sampai aku mengaduh. Sebenarnya dia tidak hyper dalam artian kata yang sebenarnya. Aku hanya suka kesal karena dia sama sekali tidak pernah membiarkanku libur dengan tugasku yang itu biar hanya semalam pun.


"Yang ke- du- a a- ku ti- dak ma- u ka- mu dan Um- mik di- repot- kan da- lam u- ru- san me- re- bus a-ir. Um- mik su- dah tu- a dan ka- mu se- dang ha- mil. Aku kha- wa- tir sa- at Um- mik a- tau ka- mu me- ngang- kat pan- ci be- ri- si a- ir men- di- dih itu, ti- ba- ti- ba ja- tuh, i- tu be- rat. A- ku ti- dak ma- u mem- ba- yang- kan- nya."


Meski Mahfudz bilang tidak mau membayangkannya, tapi aku bisa melihat dia jelas membayangkannya. Terlihat di raut wajahnya gelisah saat mengatakan itu.


"Ta- pi mes- ki be- gi- tu, a- ku ti- dak ma- u ka- mu sam- pai la- lai ti- dak sho- lat su- buh ka- re- na i- ngin me- nu- nai- kan ke- wa- ji- ban- mu pa- da- ku. A- ku ju' ga ti- dak ma- u ka- mu sam- pai ke- di' ngi- nan dan me- ra- sa ter- sik- sa ka- re' na man- di ter- la- lu su- buh. Ja- di be-:li pe- ma- nas a- ir a- da- lah so- lu- si yang ter- ba- ik. Nan- ti di- pa- sang di ka- mar man- di be- la- kang sa- ja, bi- ar Um- mik ju- ga bi- sa pa- kai." kata Mahfudz.


Kalau sudah begitu aku tak bisa berkata apa- apa lagi. Dia peduli sampai sedemikiannya padaku dan juga Ummik. Itu menandakan kalau dia tidak egois.


Setelah memilah milih antara water heater gas atau elektrik, akhirnya pilihan kami jatuh pada water heater elektrik yang tidak terlalu mahal namun sepertinya lebih efisien juga dibandingkan yang pakai gas. Water heater itu rencananya akan mereka kirim sekaligus instalasi nanti sore di rumah.


Usai urusan dengan water heater, Mahfudz membawaku ke lantai dua untuk mencari baju- baju untuk ibu hamil. Aku tidak tau apa ini sebenarnya sudah diperlukan mengingat perutku belumlah terlalu besar. Tapi kalau aku protes, Mahfudz selalu punya alasan. Dia bilang mumpung kami punya waktu libur berdua.


"Ra-ya, ka-mu ma-u co-ba yang i-ni?"


Mahfudz menunjukkan padaku satu dress hamil berwarna navy dengan kombinasi warna coklat. Ah, dia tau sekali warna kesukaanku. Mahfudz memilihkan beberapa untuk kucoba di ruang ganti.


Saat aku mencobanya di ruang ganti, ponselku berdering. Itu nomor baru. Siapa ini? Aku tidak pernah memberi nomor ponselku ke sembarang orang. Aku rasa nomor Fuad yang baru bukan ini. Apa dia ganti nomor lagi? Dengan ragu- ragu aku mengangkatnya.


"Hallo ...." sapaku.


Beberapa detik orang yang menelepon itu tak segera menjawab sapaanku.


"Hal ...."


"Dr. Raya ...." Akhirnya orang yang meneleponku bersuara juga.


Sepertinya aku kenal suara itu.


"Bisa kita bertemu? Aku ingin menagih janjimu."


\*\*\*\*\*\*


Aku keluar dari ruangan ganti dan mencari Mahfudz. Aku akan mengambil semua baju yang dipilihkannya padaku agar dia senang. Aku mencarinya namun dia tidak ada ditempat dimana dia kutinggalkan tadi. Apa dia jalan- jalan mencari barang yang lain?


Aku mencarinya sampai akhirnya aku melihatnya sedang berada di tempat perlengkapan bayi seperti baju dan sepatu dipajang. Mahfudz terlihat asyik memperhatikan satu persatu sepatu bayi itu. Ya ampun, ini manis sekali. Apa dia sangat ingin sekali memiliki bayi ini? Aku seumurannya bahkan belum punya keinginan momong anak.


Aku akan menghampirinya dan tiba- tiba saja menghentikan langkahku ketika aku melihat seorang perempuan muda berambut panjang menghampirinya tanpa Mahfudz tau kehadirannya. Gadis cantik itu menutup matanya dari belakang. Aku sempat mendengar Mahfudz menebak siapa yang menutup matanya. Mahfudz menyebut namaku.


"Ra- ya?"

__ADS_1


Aku terpaku melihatnya. Siapa gadis itu? Kenapa dia terlihat sangat mengenal dekat Mahfudz. Terlihat akrab. Darahku tiba- tiba mendidih saat gadis itu melepas tangannya dari mata Mahfudz dan Mahfudz menyebut satu nama. Gadis itu langsung tersenyum sangat bahagia dan memeluknya. Hatiku tiba- tiba remuk melihatnya.


__ADS_2