
Keesokan harinya seperti yang diinginkan oleh Raya, Mahfudz dan istrinya itu bahkan Ummi ikut juga pergi mengunjungi pasien terduga kasus mal praktik itu. Bahkan, Laila dan Haikal turut dibawa oleh Raya. Orang tua pasien ibu dari Afri Maharani di panggil ke ruang kerja Pak Prabu.
Mahfudz menanti dengan gelisah kedatangan orang tua pasiennya itu, bersiap akan segala kemungkinan yang akan dihadapinya jika sang ibu marah atau mungkin sampai nekad bertindak kasar padanya.
"Ayah, tenanglah," pinta Raya saat melihat suaminya yang terlihat tegang duduk di sofa.
Mahfudz mengangguk.
Pak Prabu sendiri nampak sedikit kesal karena kedatangan Mahfudz dan keluarganya yang bertujuan ingin menyelesaikan ini secara kekeluargaan.
"Saya kan sudah bilang, Fud! Biarkan saya yang urus masalah ini sampai selesai. Kenapa kamu nggak percaya pada saya? Sekarang kamu malah dengan terang-terangan datang dan bertemu orang tua pasien!" kata Pak Prabu mencoba mencari-cari kesalahan Mahfudz.
Raya ingin menjawab sebenarnya, tapi demi ingin menjaga nama nama baik Mahfudz agar tidak dianggap sebagai suami yang takut pada istri, Raya membiarkan Mahfudz untuk menyelesaikan masalah itu sendiri walaupun sebenarnya dia jengah.
"Saya sudah memikirkan masalah ini, Pak. Dan saya sudah berembuk dengan istri dan keluarga saya. Saya tidak bisa lari dari kasus ini. Kalau memang saya salah pada akhirnya meski saya melarikan diri sejauh apa pun pasti akan tertangkap juga, kan? Bapak harap mengerti. Sayalah orang yang harus bertanggung-jawab dalam kasus ini. Saya operator operasi saat itu. Jadi bagaimana ke depannya saya akan bertanggungjawab," kata Mahfudz.
Pak Prabu tersenyum sinis.
"Kamu yakin?"
Mahfudz menatap Raya seolah butuh dukungan kalau tidak salah dalam mengambil tindakan ini. Wanita itu mengangguk pelan paham kalau Mahfudz butuh suport darinya. Begitu pun Ummi. Menganggukan kepalanya pada Mahfud.
Meski kamu tahu siapa yang kamu hadapi kali ini?" tanya Pak Prabu.
Kali ini Raya yang mengernyitkan keningnya. Siapa yang dimaksud oleh Pak Prabu? Masalah ini dia belum tahu. Mahfudz belum menceritakannya padanya.
__ADS_1
"Apa maksud Bapak?" kali ini Raya mengajukan pertanyaan mendahului Mahfudz yang ingin menjawab pertanyaan pada Pak Prabu.
"Kamu belum menceritakannya pada dr. Raya, Mahfudz?" tanya Pak Prabu dengan nada meremehkan keputusan Mahfudz yang begitu yakin ingin bertemu keluarga pasien.
"Masalah itu ..."
Tok!Tok!Tok!!
Pintu ruang kerja Pak Prabu diketuk oleh salah seorang perawat.
"Pak ini Ibunya. Ibu, silahkan masuk!" kata perawat itu mempersilahkan sang ibu orang tua pasien masuk ke dalam ruangan Pak Prabu.
Pak Prabu mendengus kesal pada Mahfudz. Sorot matanya seakan-akan berkata, "Baiklah hadapi masalahmu sendiri!"
"Silahkan, Bu! Silahkan masuk" Pak Prabu bangkit dari duduknya menyambut Ibu itu. "Silahkan duduk dulu," katanya ramah.
"Dokter bajin*n!!! Kau masih berani menunjukkan mukamu ke sini, haaah???!!! Apa yang kamu mau sekarang?!! Apa yang ingin kau lakukan?!!"
Si Ibu tanpa basa-basi langsung menghampiri dan menyerang Mahfudz. Dengan membabi-buta wanita separuh baya itu langsung memukuli, menjambak bahkan mencakar Mahfudz sekuat tenaga yang dia bisa untuk membuat lelaki itu terluka.
Raya yang sudah tahu akan seperti ini tak kalah sigap berusaha melerai dan menghalangi Mahfidz dari serangan orang tua pasien itu.
"Sabar, sabar Ibu!!! Kami datang ke sini dengan baik. Tolong Ibu dengarkan kami dulu ... akhhh ... Ibu!!!" jerit Raya.
Tetapi tidak semudah itu untuk menghentikan sang ibu yang anaknya dilukai oleh orang lain. Semakin seseorang ingin melerai dan melindungi orang yang dia ingin serang semakin bernafsu wanita itu ingin melancarkan serangan-serangannya.
__ADS_1
"Kau dokter apa, brengs*k!!! Baj*ngan!!! Kau bahkan bukan manusia, mana mungkin seseorang sepertimu bisa menjadi dokter!Kau hanya dokter sampah!!! Kau orang yang ingin membunuh putriku!!! Mati saja kau, haram J*dah!!!" Sumpah serapah pun berkeluaran dari mulut sang Ibu.
Dia sungguh tak mudah dihentikan. Mahfudz sendiri hanya bisa menghindar seadanya. Bukan karena dia tidak sanggup mendorong wanita yang tengah menggila karena kekhawatirannya kehilangan sang anak. Tetapi Mahfud sadar ibu itu butuh pelampiasan yang membuat batu besar di hatinya itu bisa sedikit melongggar.
Tak hanya mencakar dan memukuli Mahfudz dibagian wajah dan tubuh, kini kepala Mahfudz pun tak luput dari serangannya. Berkali-kali Mahfudz berusaha menghindar. Sampai pada satu ketika, sang Ibu melihat sebuah vas keramik berada di meja sudut, wanita itu pun berniat mengambilnya dan ingin memukulkannya pada Mahfudz, sehingga semua orang membelalak khawatir terhadap apa yang ingin dilakukannya. Namun kali ini Raya sigap dan menahan sang ibu untuk berbuat apa yang ada di pikirannnya.
"Ibu, sudahhh!! Sadar Ibu!!" teriak Raya sambil menahan sang Ibu.
Kali ini Pak Prabu juga berusaha memegangi vas keramik mahalnya agar tidak dilempar begitu saja oleh orang tua pasien itu.
Tetapi sang Ibu sudah seperti orang kesetanan.
"Lepaskan!!!Lepaskan saya!!! Akan kubuat dokter gadungan ini celaka hingga kritis sehingga dia dapat merasakan apa yang anak saya rasakan di ICU sana. Kau ini, mati saja!!!"
Ibu itu memberontak dan maju hingga posisinya semakin dekat dengan Mahfudz. Tak sabar akan hal itu lagi, Raya kemudian mendorong keras-keras sang Ibu ke samping hingga Ibu itu jatuh terjerembab. Tak hanya wanita itu yang jatuh. Pak Prabu pun gagal menyelamatkan gucinya. Guci itu jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
Suara pecahan guci dan hingar bingar tangis Laila terdengar dari ruangan owner rumah sakit Pahlawan Medical itu mengundang perhatian orang-orang dan staf rumah sakit yang ada di sana untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Cukup!!!Cukup, Ibu!!! Kami datang ke sini dengan niat baik-baik, tolong hargai itikad baik kami. Dengarkan kami dulu!!!" teriak Raya tak bisa menahan lagi emosinya.
Orang tua pasien itu bangun dan balik menatap Raya penuh kemarahan bak harimau yang mangsanya lepas akibat ulah orang di depannya itu.
"Itikad baik katamu?"
****
__ADS_1
Hai, hai, hai jangan lupa like dan komentarnya donk dan jangan lupa mampir ke karya author lainnya ya