
POV Raya,
Malam berlalu digantikan oleh pagi. Rutinitas harian masing-masing orang pun berjalan sebagai mana biasanya. Anywhere, di belahan bumi mana pun, jika pagi menjelang, pada umumnya semua akan kembali ke rutinitas hariannya masing-masing. Pekerja, para siswa, mahasiswa atau ibu rumah tangga, semuanya akan kembali beraktivitas. Beda lagi dengan yang bekerja di malam hari, jika pagi menjelang maka mereka akan manfaatkan untuk istirahat agar fit kembali untuk bekerja di malam hari.
Tak ada yang berbeda denganku, begitu adzan berkumandang di mesjid, aku pun segera membuka mataku. Terasa ada yang berat membebani perutku. Ahh, tentu saja. Apa lagi yang sedang memberati itu kalau bukan tangan Mahfudz yang memeluk perutku.
Aku berusaha melepaskan pelukannya itu, tetapi Mahfudz malah semakin mengeratkan pelukannya dan terasa semakin menyusupkan kepalanya di punggungku.
"Mmmm ... ayah?" panggilku sembari tetap berusaha mengangkat tangan besarnya dari perutku. Ternyata tak hanya tangan, kakinya juga terasa memberati paha dan kakiku, seolah aku adalah bantal guling.
"Ayah! Bangun, udah adzan!" panggilku lagi. "Bunda mau pipis nih, lepasin dulu!"
Mahfudz melenguh, dan perlahan membuka kelopak matanya.
"Udah adzan, bangun, Yah! Udah kesiangan, bunda belum mandi ini. Ayah juga, kan? Bisa terlambat sholatnya nanti," keluhku.
Mahfudz akhirnya melepaskan pelukannya padaku, menguap beberapa kali hingga kemudian bangkit dari tempat tidur. Ia menyeret kakinya terseok-seok ke kamar mandi.
"Yah! Bunda duluan, ya! Kebelet pipis ini," rengekku.
Aku segera menyalip langkah kakinya dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Saat aku ingin menutup pintu kamar mandi, Mahfudz buru-buru menahannya.
"Barengan!" katanya.
Tak membantah, aku akhirnya membiarkan saja pintu itu terbuka dan segera menuntaskan hajat buang air kecilku. Mahfudz juga masuk ke dalam, menungguku selesai dengan urusan buang air kecil dan ganti menggunakan toilet.
"Mau kemana, Bun?" tanyanya saat melihat aku hendak keluar dari kamar.
"Ambil handuk dulu, Yah. Lupa ambil tadi, karena kebelet pipis," kataku menjelaskan.
Mahfudz yang sudah selesai buang air kecil juga, buru-buru menyusulku kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
"Sayang ..." panggilnya.
Aku berbalik badan menghadapnya dan tak punya persiapan apa pun aku sampai harus berpegangan pada lengannya saat dia menciumku dengan menggebu-gebu. Ahh, Mahfudz memang seperti ini kalau sedang berada di rumah. Beberapa tahun terakhir ini kami memang tak selalu bisa menikmati kegiatan pasutri seperti ini setiap hari. Tak sama dengan dulu di saat tahun-tahun pertama kami menikah.
Kesibukan dan jam terbang Mahfudz yang tinggi membuat kami selalu menghargai waktu sekecil apa pun karena jarang bertemu. Bahkan jika pun dia sedang tidak ada siaran program acara dr. Handsome, dan sedang berada di kota ini, seringkali kami tidak bisa bertemu di rumah karena berbentrokan dengan jam kerjanya di tiga rumah sakit sekaligus. Terkadang saat di rumah pun kami tak bisa selalu melakukan hal-hal seperti itu karena harus mempertimbangkan keberadaan Ummik dan anak-anak. Jadi aku sangat mengerti ketika dia menganggur seperti ini, apalagi yang mengisi otaknya saat hanya berdua denganku seperti ini selain memenuhi hasrat kelelakiannya? Ya, tentu saja hal-hal seperti yang kalian pikirkan.
"Sa-sayang, a-ayah ...." panggilku, berusaha ingin menyadarkankannya bahwa waktu subuh sudah lewat. Namun sepertinya percuma karena dia sudah mulai lupa diri dan mungkin sudah berhasil juga membuatku lupa diri.
"Sebentar saja, aku janji. Quickly, biar nggak mandi dua kali," katanya.
Pasrah. Apa yang bisa kulakukan lagi memangnya? Selain berharap dia segera mencapai klimaksnya dan melepaskanku. Rasanya percintaan tadi malam pun meski dijatah double tetap tak cukup untuknya. Never enough! Atau mungkin efek ingin melepaskan diri dari stress yang menderanya? Entahlah.
Tak lama seperti janjinya, namun saat dia selesai, dia mengatakan sesuatu yang mungkin membuatku menjadi parno akan sesuatu.
"Bun, kamu periksain deh IUD-mu," katanya.
"Kenapa memangnya?" tanyaku sambil meraih handuk yang jatuh di lantai karena terlepas saat Mahfudz mendorongku ke ranjang tadi.
"Masa sih?" tanyaku tak percaya.
"He em. Dari tadi malam sih aku ngerasainnya. Periksain ke dr. Gayatri coba? Takutnya aja geser di dalam, Ray!" katanya.
"Iiiih ... Ayah! Kenapa nakut-nakutin Bunda sih ...," protesnya.
"Bukan nakutin. Ayah cuma khawatir kalau nggak dicek bisa jadi ektopik nanti," katanya.
"Jangan nakutin ihhh," balasku sebal.
"Buruan mandi, udah mau setengah enam ni. Kita sholatnya kesiangan nanti," katanya tanpa menghiraukan rasa jengkelku.
"Gara-gara siapa kesiangan?" gerutuku jengkel.
__ADS_1
Enak aja udah dia yang melakukan, dia juga yang nakut-nakutin aku. Egois sekali.
Hingga kami selesai mandi dan sholat, aku pun keluar dari kamar untuk mengecek anak-anak apa sudah bangun atau belum.
"Haikal udah sholat?" tanyaku pada sulungku itu.
"Udah donk sama nenek. Haikal yang jadi imam. Bunda sih, lama keluar kamarnya. Kesiangan ya, Bund?" tanyanya polos.
"Hmm begitulah. Bunda kecapean, Kal," kataku mencari alasan. Andai dia tahu kalau bundanya kelelahan karena ulah ayahnya.
"Coba Bunda libur dulu kayak ayah, biar hilang capeknya, Bun," usulnya.
Aku menggeleng.
"Bunda mau, tapi nggak ada yang bisa gantiin Bunda kerja di rumah sakit," kataku mencoba memberi pengertian.
"Yaaa, terus masa bunda mau kerja terus? Kapan donk kita sama ayah, nenek sama Laila bisa pergi liburan? Haikal kan juga pengen kayak teman-teman yang lain, Bun ..." keluhnya.
"Nanti ya, Kal, bunda atur lagi kapan Bunda bisa cuti," jawabku memberi harapan padanya. "Ngomong-ngomong, Yaya belum bangun?"
Laila, Haikal dan Ummik memang tidur bersama. Ummik tidak lagi membiarkan anak-anak tidur denganku dan Mahfudz. Mungkin karena Ummik mengerti bahwa aku dan Mahfudz membutuhkan tempat yang privat bahkan dari anak sendiri. Ummik bilang jika dirinya masih memungkinkan menjaga Laila dan Haikal, anak-anak tidur dengannya akan jauh lebih aman dibandingkan kalau mereka harus tidur denganku dan Mahfud. Ini lebih ke menghindari resiko anak-anak memergoki ayah bundanya sedang melakukan hal-hal menyenangkan versi dewasa. Apalagi Laila dan Haikal sudah cukup besar dan kritis. Oleh karena itu Ummik menarik anak-anak untuk tidur bersamanya meski pun sebenarnya masih ada kamar lain untuk bisa ditempati oleh Haikal.
"Yaya masih tidur," Kali ini Ummi yang menjawab.
Aktivitas pagi kali ini aku pun menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Awalnya semua baik-baik saja tak ada yang mengkhawatirkan, tetapi sesuatu yang bergejolak dalam perutku seakan mendesak keluar ketika aku mencium bau telur yang kugoreng sendiri untuk sarapan Haikal sebelum berangkat ke sekolah. Itu sangat menyiksaku. Lalu aku pun segera berlari ke kamar mandi di dekat dapur setelah mematikan kompor.
"Hueeeghh!! Hueegg!!!
****
Nah Lo? Kenapa tuh si Raya? Jangan lupa like dan komennya ya reader...
__ADS_1