
"Paket dari siapa, Ray?" tanya Mama.
Aku tak menjawab Mama melainkan memeriksa amplop besar berwarna coklat itu. Pada amplop itu tertera huruf- huruf kapital bertuliskan RUMAH SAKIT SIAGA MEDIKA beserta alamat dan nomor teleponnya. Aku membaca nama penerimanya. Mahfudz Alzhafran. Dipojok amplop itu juga tertera tulisan "dokumen rahasia".
"Ini bukan buat Raya, Ma. Tapi buat Mahfud," jawabku bingung.
Mama melihat amplop itu.
"Oh, iya benar. Apa isinya, ya? Buka aja, Ray." suruh Mama.
"Emmm, nanti Raya tanya Mahfudz dulu, ya Ma. Bukannya apa- apa. Raya nggak enak aja Ma, buka duluan tanpa sepengetahuan Mahfudz. Bagaimana pun ini miliknya." jawabku.
Sebenarnya aku pun penasaran dengan isi amplop itu. Rasanya isinya tak cuma surat dan lembaran kertas. Selain itu sepertinya ada juga seperti sebuah kepingan bundar di dalam.
"Ya, sudah kalau gitu. Tunggu dia pulang aja, Ray. Sekarang kamu mau makan apa? Mama bikinin ya?"
"Raya aja nanti yang ambil sendiri, Ma. Raya makan apa yang ada aja."
"Eh, nggak boleh. Pokoknya kamu harus ditempat tidur. Mama yang akan ambilin kalau begitu," kata Mama meninggalkan aku yang terpaku sendiri di atas ranjang ini.
Mahfudz dapat paket surat dari rumah sakit Siaga Medika berupa dokumen rahasia. Isinya apa ya? Kenapa aku tak tau?pikirku.
\*\*\*\*\*
Author POV
Mama celingak-celinguk mencari sesuatu, sehingga membuat Ayuni yang tengah memasak di dapur mau tak mau harus menyapa mama mertuanya itu lebih dahulu.
"Mama cari apa, Ma?" tanya Ayuni.
"Tempat penyimpanan beras di mana?" tanya Mama balik tanpa melihat pada Ayuni.
Mama terlihat acuh pada Ayuni membuat wanita itu merasa perih dalam hatinya.
"Ayuni sudah masak nasi, Ma. Ada di magic com, kalau Mama mau makan," jawabnya.
"Mama nggak mau makan. Mama cuma mau buatin Raya bubur. Dia suka makan bubur buatan Mama."
"Oh ...." hanya itu kata- kata yang bisa diucapkan oleh Ayuni.
Dia sadar betapa Raya banyak dicurahi kasih sayang, tak cuma dari Ummik dan suaminya, bahkan dari Mama mertua mereka.
"Dimana?" desak Mama lagi.
"Oh, disitu."
Ayuni menunjukkan tempat penyimpanan beras. Lalu tanpa bertanya lagi, Mama lalu mengambilkan beras secukupnya. Setelah mencuci dan menjerang beras itu di atas kompor, Mama lanjut memasakkan sayur sop untuk Raya.
Ayuni hanya bisa memperhatikan dan menahan perasaan pahit dalam hatinya. Betapa berbedanya perlakuan Mama terhadap dirinya.
"Aduuuh, kamu mau ngapain ke dapur?"
Suara Mama membuyarkan lamunan Ayuni.
"Raya cuma mau ngambilin minum, Ma. Raya haus."
"Duduk aja, sayang. Kamu harusnya di kamar aja. Nanti biar Mama aja yang ambilin minumnya."
Mama langsung mendudukkan Raya di kursi makan.
"Ya elah, Ma, timbang ngambil air minum ke dapur aja masa nggak boleh? Dapurnya juga dekat kok nggak sampe 10 meter juga." bantah Raya.
"Pokoknya nggak boleh, Ray. Dokter bilang kamu harus bedrest total."
"Raya juga dokter, Ma," gumam Raya pelan seolah takut orang lain salah mengartikan kata-katanya dengan rasa ingin menyombongkan diri.
Mama menyerahkan segelas air putih pada Raya dan mengelus punggung menantunya itu dengan sayang.
"Itu benar. Tapi sekarang kamu juga seorang pasien dari dokter lain. Dan kamu juga sudah janji pada Mahfudz kan, kalau kamu bakal menurut apa pun yang demi kebaikan kamu?"
Raya pasrah kalau Mama sudah membawa nama Mahfudz. Bagaimana pun dia telah berjanji pada Mahfudz bakal jadi istri penurut kali ini.
"Ya sudah, Ma. Nanti Raya balik ke kamar deh. Tapi ijinkan Raya makan di sini, ya. Sekali aja, please ...." rengek Raya.
Setelah mempertimbangkannya lagi, akhirnya Mama menyanggupi.
"Ya sudah, kita makan sama- sama deh. Ummikmu mana ya?"
__ADS_1
"Mungkin di teras, Ma. Jagain Rahmat" jawab Raya.
Mama segera mencari Ummik ke teras untuk diajak makan bersama. Tidak lama mereka kembali, Ummik mengambil kursi untuk duduk di dekat Ayuni sambil memangku Rahmat.
"Mik, Raya pengen deh makan bubur ketan hitam buatan Ummik," rengek Raya.
"Nanti siang Ummik bikinkan, ya!" kata Ummik.
"Hmmm" gumam Raya.
Suasana di ruang makan itu tidak ada yang istimewa kecuali perhatian Mama terhadap Raya. Sepertinya ibu dari Mahfud itu amat teramat sayang pada Raya. Ayuni bisa melihat itu semua. Perhatian dan kasih sayang seperti itu yang tidak mungkin bisa dia dapatkan dari ibu mertuanya, bahkan berharap setengah dari itu pun Ayuni tidak berani.
"Raya, kamu mau apa lagi, Nak? Kamu mau tambah sayur sopnya lagi?" tanya Mama menawarkan.
"Udah, Ma. Segini aja cukup. Raya akan habiskan ini saja dulu," jawab Raya.
"Tapi kamu harus makan banyak sayang, Mama loh sengaja bikinkan banyak biar kebutuhan gizi kamu dan cucu Mama tercukupi. Apalagi kamu kurus banget deh Mama lihat, tambah dikit lagi, ya ...." bujuk Mama.
Lalu tanpa persetujuan Raya, Mama menambahkan sayur itu ke piring Raya.
Raya melirik pada Ayuni dengan rasa tak enak hati. Sangat terlihat wajah penuh kesedihan di mata ibu muda itu melihat perlakuan yang berbeda oleh mertuanya terhadap dirinya dan istri dari kakak iparnya.
"Kamu juga, Ayuni. Ke sinikan piringmu!"
"Nggak usah, Kak!
Tanpa menunggu Ayuni, Raya lalu menyendokkan sayur itu ke piring Ayuni.
"Kamu juga harus banyak makan sayur dan makanan bergizi lainnya. Kamu juga lagi hamil, bukan cuma aku doank. Lagi pula Mama bikinnya banyak, ya kan, Ma?"
"Hmmm .... Iya." Mama menjawab acuh.
Semua orang di meja makan itu bisa melihat betapa lahapnya Ayuni memakan sayur sop buatan Mama. Namun saat makanan itu sudah hampir habis, tiba- tiba Ayuni merasakan dorongan yang teramat sangat pada perutnya. Ayuni mual dan akan segera muntah. Segera dia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di sana.
"Huekkk!!! Huekkkk!!"
"Aduuh, Mama, Ayuni kayaknya morning sickness lagi deh, sebentar Raya cek dulu."
"Nggak. Nggak usah. Kamu di sini!" perintah Mama. " Nanti kepleset di kamar mandi gimana?"
"Huekkk!!! Huekkkk!
Masih terdengar suara muntah dari kamar mandi.
Raya mencoba berdiri. Namun Mama melarang.
"Udah, Raya di sini aja. Biar Mama aja yang lihat."
Mama mendudukkan Raya kembali.
"Biar saya yang ...."
" ..... Ummik! Tolong ambilkan Raya tissue, Mik! Tangan Raya nggak sampai."
Raya mencoba memotong kata- kata Ummik untuk mengalihkan perhatian Ummik yang ingin membantu Ayuni. Dengan satu kedipan mata, Raya mencoba memberi isyarat agar membiarkan Mama yang mendatangi Ayuni ke kamar mandi. Dan Ummik sepertinya paham.
Raya bukan tidak punya tujuan melakukan itu. Raya ingin mertuanya memiliki hubungan yang baik dengan Ayuni. Dengan melakukan itu, Raya berharap ibu mertuanya itu punya sedikit belas kasihan pada wanita yang sedang mengandung cucunya itu.
Dan benar saja, Mama yang melihat Ayuni termuntah- muntah tanpa henti hampir kurang lebih 15 menit itu, seketika menjadi iba. Ayuni memuntahkan seluruh makanan yang telah dimakannya.
"Kamu muntah- muntah hampir setiap hari begini?" tanya Mama sambil memijat- mijaat tengkuk Ayuni.
"Hmmmm ...." Ayuni mengangguk. Dan ....
"Huekkkk!!!! Hueekkkk!!!
Ayuni muntah lagi, namun kali ini tak keluar apa pun sebab seluruh isi lambungnya sudah keluar sedari tadi. Namun ia masih tetap merasa mual.
Ayuni merasa lemas saat perutnya sudah berhenti mual. Mama langsung membimbingnya ke kamar. Sementara Raya sudah berada di kamarnya diantar oleh Ummik sambil tetap menggendong Rahmat.
Mama langsung membaringkan Ayuni ke ranjang dan menutup badan Ayuni dengan selimut hingga setengah dada. Melihat Ayuni yang terlihat lemas dan kelelahan karena mengeluarkan semua isi perutnya membuat Mama merasa kasihan dan iba pada wanita yang tengah mengandung cucunya itu. Biar bagaimana pun janin dalam tubuh perempuan ini adalah darah dagingnya dan keturunannya.
"Kamu muntah- muntah begini pasti ada pemicunya. Ada yang kamu nggak suka di meja makan tadi?" tanya Mama.
Ayuni dengan ragu mengangguk.
"Iya, Ayuni nggak suka aroma ikan goreng. Itu membuat Ayuni mual," jawabnya jujur.
__ADS_1
"Terus kalau nggak suka kenapa masih terus dimakan? Kamu juga yang masak ikan itu tadi kan? Pas menggoreng tadi kamu nggak mual? Atau memang sudah mual sebelum Mama ke dapur tadi?"
Ayuni mengangguk.
"Ummik pengen makan ikan goreng. Ayuni nggak enak ngasih tau Ummik kalau sebenarnya Ayuni sejak hamil ini nggak suka sama bau ikan." jawabnya polos.
Mama mendesah.
"Kenapa harus merasa nggak enak sih? Ummik pasti ngerti kok kesulitan kamu. Ya sudah, Mama yang ngomong nanti ke Ummik agar jangan nyuruh kamu masak dan dekat- dekat dulu dengan yang berbau ikan- ikanan." kata Mama.
Ayuni langsung menggeleng.
"Nggak usah, Ma. Ayuni nggak apa- apa kok. Ayuni bisa menahannya. Ayuni nggak enak sama Ummik." tolak Ayuni.
"Ayuni, kamu jangan keras kepala donk. Di perut kamu itu ada cucu Mama, darah daging Mama. Mama nggak mau terjadi apa- apa dengan kalian!" kata Mama setengah kesal.
Ayuni yang mendengar hanya terdiam. Dalam hatinya dia tersentuh mendengar kata- kata Mama. Apa itu berarti Mama mulai peduli padanya?
Lama Mama dan Ayuni terdiam dalam ruangan itu. Hingga Mama ingin pamit keluar, karena merasa tak enak dengan suasana canggung itu.
"Ya sudah, kalau gitu Mama ...."
"Mama sayang banget ya, sama Kak Raya?"
Kata- kata itu spontan meluncur dari mulut Ayuni memotong perkataan Mama.
Mama yang sudah hendak bangkit berdiri dari ranjang kembali duduk mendengar pertanyaan menantu bungsunya itu. Sepertinya dia tau kenapa Ayuni mengajukan pertanyaan seperti itu padanya. Ini saat yang tepat untuk menjelaskan apa yang dirasakannya. Begitulah menurut pemikiran Mama.
"Ya, Mama sayang pada Raya." jawabnya singkat.
"Karena Kak Raya Dokter?"
Mama menghela napas.
"Mama sayang padanya, karena Raya banyak mengubah kehidupan kami. Raya juga pernah menyelamatkan Nadya saat tenggelam, dia menerima kondisi anak Mama Mahfudz dengan segala keterbatasannya. Hubungan Mahfudz dan Fuad yang dulu tidak akur, kurang lebih bisa baik seperti sekarang berkat Raya juga. Mama bersyukur Raya masuk ke dalam kehidupan kami. Mama sayang padanya dan Mama tidak berharap kamu membandingkan dirimu dengan dia."
Ayuni mengangguk dan air matanya mulai menetes sekarang.
"Andai Ayuni terlahir menjadi seorang yang seperti Raya, mungkinkah Mama bisa sayang pada Ayuni sama seperti Mama menyayangi Kak Raya? Mungkinkah Mama bisa memperlakukan Ayuni sebagai menantu sama seperti Mama memperlakukan Kak Raya sebagai menantu kesayangan Mama? Andai aku bisa terlahir seperti Kak Raya .... Hiks .... Sayangnya aku hanya terlahir jadi orang yang seperti ini, Ma. Aku ini benar- benar tak berguna. Aku nggak layak disayangi ...."
Mama terperangah mendengar kata- kata Ayuni. Tak menyangka Ayuni akan merespon seperti itu. Apakah itu akibat hormon kehamilannya sehingga dia menjadi lebih sensitif sekarang?
Sementara Ayuni semakin mencucurkan air matanya. Sesak itulah yang dirasakannya. Dan kini dia merasa bodoh karena berani mengatakan hal seperti itu pada Mama.
"Ma- maaf, Ma. Ayuni nggak ada maksud apa- apa ngomong begitu ke Mama. Aduuh mulut ini, " ringisnya.
Sekarang dia gemas sendiri pada kelancangan mulutnya sendiri.
Tak diduga Mama malah mengelus rambut Ayuni.
"Ayuni, Mama bukannya ingin bersikap jahat padamu dan membanding- bandingkan kamu dengan Raya. Biar bagaimana pun, kalian berdua menantu Mama. Sama seperti Mama sayang pada Mahfudz dan Fuad, Mama juga nggak ingin membeda- bedakan kamu dan Raya. Mama paham dan kasihan atas perjalanan hidupmu yang sulit dan menyedihkan itu. Mama ingin menerima kamu apa adanya sebagai menantu Mama. Tapi kalau melihat anakmu, rasanya Mama nggak kuat. Mama selalu memikirkan lelaki itu, lelaki yang telah kurang ajar padamu. Dan Mama jadi kasihan pada Fuad. Bisa kamu mengerti apa yang Mama rasakan?" kata Mama mencurahkan semua perasaannya.
Ayuni mengangguk sedih. Yah, tak bisa dipungkiri, menerima Rahmat sebagai anggota keluarganya pasti bukanlah hal yang mudah bagi Mama. Ayuni memahami Mama.
Ayuni larut dalam kesedihannya dan semakin sedih saat Mama meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa dia penuhi.
"Ayuni, kamu serahkan saja anakmu pada lelaki itu. Setelah itu kamu bisa datang ke Mama. Kita bisa tinggal bersama dengan bahagia bersama Fuad, Nadya dan cucu yang sedang kamu kandung ini," ucap Mama.
\*\*\*\*\*\*
RSIA Satya Medika
Hari ini walikota dan wakil walikota melakukan sidak ke RSIA Satya Medika. Sidak ini seperti biasa dilakukan secara mendadak tanpa sepengetahuan pihak mana pun. Tak ada yang tau, bahkan Fuad pun tidak tau akan rencana sidak ini, sebab pencetus idenya adalah Waridi. Dengan misi terselubung ingin menjatuhkan Raya, Waridi mencetuskan ide ini dengan alasan untuk mendapatkan evaluasi awal atas kinerja para staf medis maupun non medis di RSIA Satya Medika. Walikota Darwis pun menyetujui.
Semua staff sudah kocar kacir panik akan kedatangan mendadak pasangan nomor 1 di kota itu yang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Semua berdebar- debar takut kalau akan dapat teguran dari walikota dan wakilnya.
"Silahkan lanjutkan pekerjaannya! Jangan sampai terganggu akan kedatangan kami." ujar walikota Darwis.
Semua yang mengepalai masing- masing departemen disuruh untuk menghadap Walikota dan wakilnya agar bisa memimpin wakil dan walikota untuk sidak ke masing- masing ruangan. Selain itu, staf lain boleh melanjutkan pekerjaannya.
Semua dokter kepala telah berkumpul di situ. Namun rasanya kurang satu orang.
"Kemana Dokter Kepala Departemen Obgyn kita?" tanya walikota Darwis.
Sebelum pertanyaan itu ada yang menjawab, Waridi telah mengembangkan senyum tipisnya.
Dr. Raya, tamat kau sekarang! Batinnya dalam hati.
__ADS_1